OKTOBER BeRABU

OKTOBER BeRABU
~Cinta Seunit~


__ADS_3

Sudah senin, artinya aku harus kuliah.


Jadwal ngampus kami berkisar seperti anak SMA umumnya, mulai senin sampai sabtu. Mungkin karena masih baru sehinggah jadwal sedang padat-padatnya. Aku sempat merijek telpon Dirgha sejak subuh tadi, anak ini selalu menelponku dan membahas topik yang sama, aku harus kuliah.


Kemarin, aku benar-benar absen 1 minggu karena masalah itu, aku hanya sibuk bersembunyi di kamar kost dan terus bersiaga membaca setiap hinaan teman-teman sekelas yang terus menjugleku. Keadaan yang berlarut dalam kesedihan itu membuatku semakin depresi saja, pernah juga terlintas ingin kembali ke kampung. Membulatkan tekatku untuk pulang dan tidak ingin kembali, jika aku harus di paksa kuliah, aku harus pindah kampus.


Namun pagi ini berbeda, Lia malah sudah menjemputku 1 jam yang lalu, aku juga sudah menjelaskan tidak ingin kuliah, tamu bulanan ini juga ku jadikan alasannya. Tetapi Lia tidak peduli, ia malah menyuruh Dirgha sepagi itu juga untuk membelikkanku obat. Aku sempat bingung, apotek mana yang sudah buka sepagi ini.


“Itu tidak perlu, ini obatmu ayo di minum. Kita harus kuliah.” kata-kata Lia 1 jam yang lalu memaksaku meminumnya tapi pahitnya obat itu masih terasa.


Baru kali ini aku rasakan langkah kaki yang begitu berat, seolah ucapan dan hinaan mereka berubah menjadi besarnya bumi dan itulah yang kini menimpahku. Terus saja ku kaji kata yang bagaimana terlontar setiap kali aku berhasil mendapati wajah mereka satu-persatu. Menatapku sinis dan penuh emosi, padahal wahyu sendiri tidak berlebihan seperti itu.


“Silahkan duduk Ay, Lia temani dia selalu ya.” lirih Dirgha sambil merapikan kursiku yang ia tarik dari belakang tadi.


Aku mengangguk dan Lia mengacungkan jempolnya. Bisa ku lihat mata mereka terus saja memperhatikan ke arah kami bertiga, seumpama menonton drakor sampai tidak ada mata yang ku dapati mampu berkedip. Rupanya wahyu ada di sampingku, barisan depan dari kelompok lelaki. Aku memandangnya, tidak ada lagi kemarahan yang aku perlihatkan melainkan rasa belas kasih atas ulahnya yang aku nikmati sendiri. Akibat masalah yang hanya kami berdua mengalaminya, mereka menyerangku satu-persatu. Memang bukan main fisik tapi seolah mentalku mendadak kritis dibuatnya.


Seorang Adzkynaya Seiza menjadi bulan-bulanan disini topik paling tranding yang terus saja dibicarakan. Haters mulai bermunculan sehingga kini gerak-gerikku saja sudah banyak yang memperhatikan.


Belum semenit aku duduk disini, sudah ku dengar bisik tetangga sebelah sana, Kaum wanita ini memang tidak bisa lepas dari namanya Ghibah, aku di depan matanya saja mampu ia bicarakan apalagi saat aku tidak ada. Ah entahlah, ku buka binder ini mencari kegiatan yang lain saat Lia sibuk dengan ponselnya.


Pak Rozil datang, alhamdulillah pengghibah itu mengakhiri kesibukannya. Pak Dosen langsung saja menerangkan tanggungjawabnya, menjelaskan materi selanjutnya, aku mencoba memutar otakku. Ayolah bangun ini saatnya kuliah, otak ini rupanya ikutan terlelap setelah 1 minggu penuh aku fakumkan sehinggah apapun yang beliau katakan tidak bisa ku pahami sepenuhnya. Dasar Kynaya yang lemot.


“Silahkan sekretaris tulis ke depan, ini nama-nama kelompoknya ya.” perintah Pak Rozil tiba-tiba.


Aku menggangguk setuju, mulai menuliskan apapun yang ada pada kertas ini. Kelas mendadak sunyi, tidak ada bisikan sedikitpun yang aku tangkap. Ingin rasanya aku menoleh ke belakang dan melihat apakah yang sedang mereka lakukan, namun tidak, itu akan menjadi bahan selanjutnya yang akan mereka bicarakan.


“Ada yang couple’an nih, ya ga guysss.?????” lirih Alfin akhirnya dan suara keributan itu seolah terlahir kembali.

__ADS_1


“Iya ah couple, sepertinya ada yang lagi kasmaran deh.” sambung Rizqan.


“Ah, ngapain sama-sama orang Medan , cewek Aceh cantik-cantik lho. Tinggi-tinggi, hidungnya mancung-mancung lagi!.” lanjut yang lain, nah aku tau ini pasti si Rizal, ia selalu ceplas-ceplos wataknya.


Ingin ku tarik lenganku dan menyembunyikannya dari siapapun, bila perlu aku lawan saja mereka semua, apa urusannya tentang gelang ini. Itu milikku dan aku bebas mempergunakannya, tetapi itu tidak mungkin, mereka terlalu banyak. Ucapan yang bermaksud untuk mencie-ciekan kami tidak akan ku balas, kami masih berseteru sehingga mereka bisa berkata seenaknya dan begitulah betapa aku tersiksanya, menelan bulat-bulat apapun yang mereka lontarkan tanpa harus aku komentari.


Baru kali ini aku mengalami demam panggung, bukan malu atau nerves, melainkan keadaanku yang dijadikan bahan bullyan. Suara Dirgha bisa aku dengar, ia pasti sibuk memukul siapa saja yang bersuara, tidak terkecuali dengan Rizal tadi. Mereka sudah sibuk ribut mencomblangi kami namun tetap mengeluarkan tawa, Dirgha yang bodoh, hubungan tidaklah untuk ditertawakan!.


Rupanya jam bergulir cepat, aku bisa sedikit menurunkan rasa cemas bahwa inilah waktunya pulang. Aku tidak lihat Dirgha dimana, seperti sedang bergabung dengan anak cowok yang lain, kepalaku rasanya hampir terjatuh untuk melewati orang-orang yang duduk disetiap emperan kelas, ada juga yang terus saja berdiri disetiap pojok fakultas ini.


Sebenarnya bukan karena sok kecantikan, aku paling risih berjalan di antara sekumpulan lelaki, apalagi sorot mata mereka ituloh tidak bisa aku artikan. Ditambah lagi masalahku dan Wahyu itu, siapa sih yang tidak tahu kejadian yang sudah menyebar luas di seluruh atap ruangan teknik ini dan belum lagi bisik tetangga yang luar biasa berbisanya, banyak manusia yang terpengaruh dengan ucapan orang lain padahal itu hanyalah sampul kebencian oknum tersendiri. Aku takut mereka mengetahui bahwa akulah Adzkynaya Seiza yang mendadak terkenal. .


Bersama Dea dan Lia kami berjalan menuju pintu gerbang utama, mereka ingin ke kostku. Angin sore memang benar manjanya, ia menggelitik pipiku dengan lembut, ingin ku membalasnya namun ia tidak membiarkanku menjamah tubuhnya, terlepas di antara sela-sela genggaman. Kami berbincang namun tidak terlalu penting, hanya sebatas drama korea. Bukan aku, tapi mereka. Aku tidak menyukai itu, puisi dan senja jauh lebih indah.


“Eh, itu Dirgha.” lirih Lia sambil melampai ke arah jalan.


Aku menangkap barisan jalan berusaha mencari dimanakah ia berada. Lia langsung menarik tanganku agar sedikit berlari. Rupanya bukan cuma Dirgha. Ada Yudha, Taufan dan Adit juga, mereka sudah sibuk melahap bakso bakar dan ada jeruk peras juga disana. Lia dan Dea langsung menghamburkan dirinya dengan mereka, aku terdiam dan ikutan tertawa saat bakso bakar Taufan mendarat mulus pada rerumputan, ia sepertinya ingin berbagi dengan alam. Dirgha menghampiriku, menatapku lalu tersenyum dengan gayanya.


“Tidak, aku sudah kenyang.” lirihku kemudian, tidak bernafsu rasanya melihat cemilan seperti itu. Lalu Dirgha melemparkan pertanyannya kepada yang lain namun sekumpulan manusia tersebut memasang acuh tak acuh pula.


Kami saling memandang, Dirgha sedikit menyenggol bahuku agar mengikutinya. Kereta milik Yudha cukup besar, aku sedikit kesusahan untuk menaikinya. Ingin ku katakan mengapa tidak meminjam kereta Lia saja, beat sangat cocok untuk kami. Seandainya Dirgha bisa membaca fikiranku ia pasti memberikanku sedikit pujian, paling tidak rasa bersyukur karena mengetahui bagaimana aku tidak mempersoalkan fisik kereta yang dimana banyak perempuan menjadikannya tolak ukur kemewahan dalam perjalanan, apalagi untuk menutupi gengsi yang tinggi. Padahal sama saja, yang terpenting aku bisa berboncengan denganmu mengelilingi kota menikmati surya perlahan menghilang, yaa. seperti potonga lagu Celengan Rindu.


Langsa semakin ramai saja ku lihat, entah karena hati sedang berbunga atau senyum Dirgha yang selalu merekah. Tidak ada perbincangan, tetapi kami saling mencuri pandang di balik sentuhan angin dan kaca spion kereta. Sesekali aku berpura-pura fokus ke depan padahal ekor mataku ingin menemui bola mata dibalik kacamata lensanya. Ketika aku berhasil ia ciduk tanganku spontan mengusap kacamataku pula, padahal aku tertawa disini. Dirgha juga sama, sentuhan angin tadi seperti berseteru dengan jilbabku sehingga aku tak kuasa menahan keduanya. Jemariku sibuk mendamaikan angin dahulu atau kibasan jilbabku dan bersamaan itu pula Dirgha mencuri waktu dan mengabadikan senyumku.


Saat mata bertemu kami saling tertawa, ternyata bahagia begitu sederhana. Aku sibuk menatap apa saja yang ku temui di jalanan. Ada yang berjalan, berbincang, berjualan dan tak jarang ada juga yang seperti kami di mabuk asmara. Aku memang paling tidak bisa melewatkan setiap tulisan yang aku lalui, apapun itu. Kadang ada pepatah, tulisan konyol ataupun nama yang berbau ambigu. Nah, kalau sudah ambigu otakku sibuk memikirkannya mencari siapakah pencipta nama tersebut.


Rupanya Dirgha memperhatikanku, fikiranku bulyar ketika Dirgha memutar balik arah, entahlah anak ini apa maunya.

__ADS_1


“Bang, beli 2 bungkus ya.” seru Dirgha pada penjual es campur ini


Setelah usai, Dirgha menyeruputnya.Es berbahan utama jagung ini berhasil memasuki tenggorokannya. Aku juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama dengan pria ini menyeruput es yang begitu segar sembari menikmati kerumunan ragam manusia, namun Allah pilihkan dialah saat ini yang bersamaku. Sesekali kami saling memandang seolah menjaga siapakah yang lebih dulu berhasil menghabiskan es ini. Biarlah Dirgha yang menang, mana mungkin aku jadi pesaingnya sedangkan hati kami sudah menjadi teman terbaik. Santailah Dirgha.


“Wah kelihatan ya siapa yang lemah.” seru Dirgha


“Kayaknya, lebih kelihatan loh, siapa yang kehausan, hehehe.” gurauku, ini adalah jawaban kebenaran itu.


“Hehe, Kynaya mau lagi.?” sambar Dirgha kemudian, lalu aku hanya mengangkat bahu terserahmu saja harus bagaimana.


Kami melanjutkan perjalanan menginatari kembali kota Langsa, tujuan utama adalah Lapangan Merdeka. Menurutku, ini adalah salah satu keunikan kota tersebut dimana beragam jajanan berada pada satu tempat. Kami tidak direpotkan harus mondar-mandir mencari jajanan yang lain. Semuanya sudah berada disana, sekarang hanya tergantung isi dompet yang banyak agar ketika aku merogohnya masih selalu ada. Tidak seperti di kotaku, Rantauprapat sana. Penjualan ada dimana-mana namun tidak sepraktis disini, aku harus mondar-mandir dulu baru berhasil mengumpulkan seluruhnya.


Jarak juga yang menurutku sangat berkuasa sehingga terkadang rasa angkuh lebih menyelimuti. Kalau bukan ajakan teman-teman aku paling malas melakukannya, lebih enak rebahan lalu ketika terbangun aku sudah berhasil melupakan inginku tadi. Kami sudah belanja banyak. Ada jasuke, bakso goreng, es kelapa, roti bakar, es serba salah seperti perasaanku pada teman-teman yang entah harus bagaimana aku tafsirkan, dan terakhir pelengkapnya adalah Dirgha yang baik yang mampu membayar semuanya. Bersama Dirgha aku telusuri kembali jalan pulang, seluruh makanan itu ada di depannya.


Dirgha tidak memberatkan aku dengan paksaan harus aku yang pegang, tidak begitu. Malah, kedua jemariku bergerak bebas membiarkan angin bersahabat denganku dengan lembutnya menyentuh kulitku, namun jangan Dirgha yang ia ganggu. Aku bisa mati cemburu, meskipun hanya angin yang berusaha ia cumbu. Dengan kebebasan ini, aku kembali menikmati alam sekitar menyaksikan apapun tanpa melewatkannya dan hal itu terjadi lagi, Dirgha memutar stag keretanya dan memisahkan aku dengan angin.


“Bang, 2 ya di bungkus.” ringkusnya lalu memberikan rupiahnya.


Aku mendongkak ke depan, untuk menemui wajahnya sembari berbisik penolakan lembut agar ia tidak perlu membelikannya juga untukku. Tapi Dirgha malah tertawa, katanya leherku seperti jerapah begitu panjang sampai bisa maju seperti ini. Tidak lucu Dirgha, lebih baik kamu katakan aku seperti kupu-kupu yang indah nan mempesona atau paling tidak seperti kucing anggora yang begitu lembut dan menggemaskan, oh tidak juga. Aku adalah Adzkienaya Seiza yang tetap sama dengan tampilan sederhana tanpa warna-warni wajah,


Mungkin Dirgha adalah lelaki yang langka karena masih mau mencintai wanita senatural aku ini. Perjalanan menuju pulang terasa snagat jauh, ada beberapa kali persinggahan yang harus menghentikan waktu agar ia sedikit mengerti arti bersabar, jangan dulu berlalu sampai langkah ini tertinggal jauh. Karena yang aku tahu, kasmaran adalah salah satu candu bahwa semuanya terasa ringan dan membahagiakan. Aku melirik Dirgha kembali, gelengan kepala pertanda penolakan rupanya tidak bisa dijadikan obat agar ia berhenti dari keputusannya dan mendengarkanku.


Anak ini terus memesan apa saja jika tatapanku berhasil di curi. Mana mungkin aku bisa menghindari sifat yang demikian, sentuhan angin juga tidak mampu disalahkan atas manjanya terhadap pemandangan yang terpapar rapi di hadapanku. Angin membawa kita pada satu titik yang disebut dengan kedamaian, menurutku begitu. Dimana sentuhannya tidak bisa diraba namun akan terasa ada. Persis seperti mencintai namun tak kunjung memiliki, ah aku teringat dengan kisah silam di bangku SMA dahulu, ku harap Dirgha adalah lelaki terakhir di hidupku.


“Nah, ayo diminum Kynaya.” seru Dirgha pada menu makanan yang lain.


Aku meraihnya, namun tidak langsung menelannya. Tidak terlalu suka jika beragam makanan memasuki perutku pada waktu bersamaan sedangkan Dirgha sudah menelannya.

__ADS_1


“Enggak enak, aku tak suka.” tuturnya ditengah-tengah jeritan suara knalpot namun suaranya masih bisa aku tangkap.


Aku hanya menikmati aksinya, makanan tadi berhasil ia buang. Dirgha ternyata begitu, ia membuang apapun yang tidak memuaskannya termasuk minuman dan makanan ini. Aku risih tapi kembali bersikap biasa saja. Semoga Allah menegur Dirgha dengan cara yang paling sopan dan tahu rasa bersyukur.


__ADS_2