
Aku Cinta Teknik, Umah!!!
Begitulah yel-yel kami,
aku menjadi salah satu anak teknik yang bermayoritaskan laki-laki, dengan tampilan senior yang tidak ada menariknya. rambut gondrong, celana robek, badan bau dan satu lagi bajunya kusut. ah, dimanakah pria tampan yang katanya banyak di bangku perkuliahan?
"Ya Allah capeknya!!"
Aku menggerutu tetapi bahagia karena masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus sudah selesai, minggu depan aku sudah sah menjadi mahasiswa. aku sudah tidak sabar dengan pemandangan yang akan aku hadapi di bangku perkuliahan ini.
Kaya di sinetron, masuk kampus buru-buru eh tabrakan, jadian. tamat apakah seindah itu?
"Kynaya kita harus bicara". suara Asiah tiba-tiba membubarkan lamunanku.
__ADS_1
Aku mengangguk dan Nadia juga ku lihat sudah serius wajahnya.
" Rumah kita sudah mau selesai, aku ga jd sekamar samamu, aku mau sama Nadia. kalau kau mau sama kami, kau cari temanmu sendiri untuk teman satu kamarmu " jelas Asiah to the point tanpa memikirkan betapa terkejutnya aku mendengarnya.
" kok gitu, kan kita ud janji Sia sekamar. aku bukan masalah uang, aku ga berani tidur sendiri karena trauma uda pernah nampak pocong, kok gitu sih kau"!. jawabku dengan ketidakterimaan hati.
"kalau aku ga ikut campurlah Ay, si Asiah yang ngajak aku jadi aku mau-mau aja". sambung Nadia yang menambah bebanku dengan jawabannya.
Aku marah dengan mereka berdua, ku ambil HP lalu menuju loteng, aku harus memberi tahu Mama. Sebelumnya, kost kami ini memang hanya tempat sementara sebelum rumah sewa kami selesai. awalnya aku sekamar sama Asiah dan Nadia sendiri tetapi ketidakadilan terjadi dengan seenak jidatnya mengambil keputusan.
"Ma, tolong Kynaya Ma". suara tangisku mendarat dengan mulus ketika telepon itu tersambung.
" Kenapa, kok nangis"? tanya Mama dengan begitu terkejutnya.
__ADS_1
Aku ceritakan semuanya dengan disertai tangisan yang tiada hentinya. Mamaku juga marah, beliau menelpon Bapak kost ku saat itu juga untuk membantuku mencari kostan yang lain. Benar kata hadist itu, yang paling sakit adalah mengharap pada manusia.
Aku sibuk dengan barang-barang yang naik turun tangga ku bawa bersama Bapak kost sedangkan Nadia dan Asiah mereka seperti tidak memperdulikan keberadaanku dan keadaanku. Mereka tertawa, bercerita bahkan niat untuk membantuku saja mereka tidak mau.
Ucapan Mama terniang dalam fikiranku bahwa orang yang terdzolimi akan selalu mendapatkan bantuan Allah. aku menjadi semangat kembali, dendam juga tidak ada gunanya. ku seka air mata yang terkadang masih tersisa untuk menetes, rasa lelah 3 hari ini tidak ada bandingnya dengan rusaknya mood ku sore ini, padahal aku masih memaki baju ospek hitam putih namun air mataku sudah basah saja.
Tanpa berpamitan, ku tinggalkan kost yang ku pastikan tidak akan pernah ku datangin kembali.
sedihnya hidup di kota orang dengan mengibaratkan kawan sekampung adalah saudara sendiri malah menjadi musuh paling nyata.
Bapak kost juga memberi semangat bahwa hidup di kota orang begitu keras apalagi aku hanya sebatang kara tidak ada satupun yang ku kenal, mereka juga hanya kawan satu kabupaten. kost ku kali ini agak jauh dari kampus, besar harapan semoga ini menberi kenyamanan agar air mataku tidak selalu dibuang dengan sia-sia.
Malam yang larut serupa dengan wajahku yang kusut, HP sangat panas karena terhubung dengan telpon Mama, aku ingin Mama menemaniku malam ini karena banyak orang-orang jahat didalamnya.
__ADS_1