OKTOBER BeRABU

OKTOBER BeRABU
~Informatika, dan Orang-orang didalamnya~


__ADS_3

"Kynaya tolong angkat telfonnya, jangan begini”. suaranya dari seberang sana memanggilku berusaha menengkan keadaan dan berulang kali mengatakan apa saja namun hanya suara tangis yang aku berikan.


“Abang tunggu di warkop Gahwa ya, Kynaya datang ya. Asaalamualaikum” samar-samar suara itu tidak terdengar lagi.


Kak Nia adalah teman kost baruku, ia membantu meluruskan jilbab yang sangut dengan lemari bajunya, sembari mengusap lembut lenganku seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku harus kuat karena ia ada disini dan tetap berpihak padaku. Aku tidak bisa menutupi masalah yang sedang menimpahku ini, mulai dari dering telfon Bang Rizki hingga aku yang menangis sejadi-jadinya selepas ashar tadi.


Gadis ini mengantarku kebawah, tadinya ia berniat ingin mengantarnya sampai ke warkop gahwa tapi aku larang karena tidak usa merepotkan. Apalagi jarak gahwa dan kostku tinggal menyebrang aspal dan berjalan sedikit lagi sudah sampai.


Sesekali ku seka sisa air mata yang tertinggal, berusaha berdamai dahulu dengan hatiku karena sangat tidak lucu jika aku berjalan seperti ini disertai tangisan, bisa-bisa orang akan menangkapku untuk diberi kejelasan tentang keadaan hati yang aku sendiri tidak suka jika banyak orang mengetahui. Lensa mataku langsung tepat pada sasarannya, aku sudah melihat Bang Rizki namun sedang berkumpul dengan abang letingku yang lain. Senyuman di wajah berusaha ku lukis meskipun tidak akan menemukan titik indah di penghujung lekuknya, mana sempurna pura-pura bahagia di saat ranumnya hatiku terluka.


“Sini Kynaya.” panggil Bang Rizki lalu segera ku hampiri.


“Kynaya uda makan?” sapanya selanjutnya, aku hanya mengangguk mengiyakan.


“Sama siapa tadi Kynaya kesini, dek?” lanjutnya dan menatap pintu masuk apakah ada seseorang di belakangku.


“Sendiri bang” sahutku pula dengan suara parau yang tidak bisa aku sembunyikan, sangat jelek.


“Dirgha, Lia sama siapa itu kawan kalian 1 lagi yang naik kereta N-Max merah” Terang bang Rizki.


“Si Yudha bang?” tebakku, pasti benar karena cuma anak itu yang memiliki ciri demikian di kelas.


“Iya-iya. Yudhalah namanya. Bentar lagi orang itu sampek dek” lanjut beliau kemudian.

__ADS_1


Otakku memutar mencoba mencari alasan apa sehingga mereka begitu kompak datang kesini disaat aku sedang begini. Bang Rizki menawarkanku untuk minum teh manis yang sedari tadi sudah ia pesan, sangat dingin namun belum juga bisa menguasai hatiku yang dilanda kepanasan.


“Lihat ini pesan si Dirgha, Bang tolong jaga Kynaya baik-baik. Rangkul dia bang, hatinya lagi syok itu. Jangan abang biarkan dia sedih.” Jelas bang Rizki menyampaikan pesan Dirgha yang membuat cacing di perutku menciptakan tembok untuk menutupi rasa malu pada sosok bernama bang Rizki ini.


Dasar anak bodoh, ia apa tidak tahu bang Rizki ini adalah orang yang sangat di percayai mamaku, apalagi ia sudah menganggapku adik sepupunya lalu panggilan abang padanya yang aku berikan itu artinya aku menganggap dia abangku sendiri. Malah Dirgha menafsirkan kami ini bukan siapa-siapa. Aku sempat membuang wajahku berkali-kali saat bang Rizki mencoba untuk memulai kata, bisa mati berdiri aku saat mendengar apapun yang ia ucapkan nantinya. Memberi tahu mama, atau menasehatiku sepanjang malam, tolong aku Tuhan.


“Assalamualikum bang” jawab ketiganya begitu kompak, memberi salam ala anak teknik kepada bang Rizki kemudian padaku juga.


“Waalikumussalam” lirih bang rizki kembali.


Lia langsung memposisikan tempatnya di sampingku, lalu Yudha di sebelah kanan bang Rizki sedangkan Dirgha di sebelah kirinya. Lebih tepatnya Dirgha berhadapan denganku, ingin ku semprot saja anak bodoh ini atas pesannya yang ruwet membuatku menahan malu sejadi-jadinya. Mereka saling memesan minum saat pelayan itu datang, aku setengah berbisik-bisik dengan Lia saat sahabatku ini menanyakan mengapa abang leting yang lain ada di waktu yang sama, aku tidak bisa menjawabnya Lia.


Akar permasalahan sudah aku jelaskan mulai dari awal hingga akhir tanpa melewatkan satu katapun yang menjadi bagian dari cobaan ini, ya aku menyebutnya cobaan. Bagaimana tidak, karena pembelaanku atas bang Rizki langsung saja dihadiahkan dengan berbagai hinaan, ejekan, dan kata-kata pedas teman lainnya yang berpihak pada wahyu. Aku bisa di kucilkan di kelas setelah ini, satu persatu teman akan pergi hingga aku yakin hanya tersisa mereka bertiga saja.


“Iya Kynaya biar yang lain juga tahu mana yang salah mana yang benar” sambung Yudha, anak ini kadang otaknya encer juga.


“Bukan masalah benar atau salahnya. Tapi 1 kelas uda ga mau berteman sama Kynaya lagi bang” sesalku kemudian hati ini mendadak berhujan kembali.


“Kynaya benar bang, dia pasti ga nyaman kalau di kelas bakalan di sindir atau ga di anggap sama yang lain. Apalagi dia anak perantauan bang, cewek pula. Abang tahu sendirilah gimana konsekuensinya” Bela Dirgha dengan pembenaan keadaanku.


“Masih ada Lia, Dirgha, Yudha sama yang lain. Kita berteman sama abang leting saja Ay, karena ilmunya jauh lebih luas. Uda jangan sedih” sambung Lia selanjutnya.


“Kynaya ngasih tau abang karena ga mau abang itu terlalu dekat sama kawan-kawan kynaya kalau akhirnya abang itu dilecehkan, di anggap gila atau sok kenal, sok akrab. abang lihatkan, niat kita baik tapi ga semua orang bisa ngerti apa itu kebaikan. Jadi tolong mulai sekarang abang ga usa pedulikan mereka ya. Tapi abang janji masalah ini sampai sini saja, jangan sampai di dudukkan. Kasihan juga Wahyu, biar dia bisa belajar sendiri dari kesalahannya bang.!” bentakku dengan suara yang terkadang hanyut dalam kebencian dan terkadang pula semakin kesal karena berani-beraninya dia melakukan hal demikian kepada idolaku itu.

__ADS_1


“Iya Kynaya iya, tapi ga usa takut kalau mereka ga mau berteman. Tapi kalau mereka jahatin Kynaya lagi abang ada disini, bersama anak BEM juga” sambungnya lalu para abang leting yang lain memberi anggukan setuju.


Aku mendengarkan penuh setiap arahan yang akhirnya berujung jadi motivasi oleh ketua BEM kami, dia tetap berpihak pada Bang Rizki. Jika ditanya maunya, ketua BEM ini tetap menginginkan agar Wahyu di panggil dan menjelaskan akar masalah dari kelancangan ucapannya, kalau perlu ia juga harus diberikan sanksi yang tegas atas perbuatannya. Namun aku tahan, tidak. Jangan lagi.


Aku takut terlalu runyam dengan apapun yang nantinya bisa menjauhkan kami selamanya, bagaimanapun Wahyu teman sekelasku, sama-sama dari Medan dan terakhir, mungkin dia belum dewasa atau aku yang terlalu manja sampai harus mengatakan ini kepada bang Rizki. Baiklah, sudah selesai waktu pastinya akan memberi aba-aba terbaik untuk lebih memperbaiki diri.


“Jadi mama tau soal ini Kynaya?” tiba-tiba bang Rizki melemparkan tanya itu padaku saat renyahnya tawa yang berhasil aku cipta dengan berbincang bersama Lia.


“Ga tau bang” lirihku membaca matanya apakah ia akan memberitahu hal ini pada mama.


“Eh, abang kenal sama mama Kynaya?” Dirgha menyergap mengeluarkan pertanyaannya.


“Kenal, karena Bang tolong jaga Kynaya baik-baik. Rangkul dia bang, hatinya lagi syok itu. Jangan abang biarkan dia sedih. Gitu Dirgha” aku hampir menampar waktu mengapa cepat kali memulihkan ingatan lelaki ini, mengungkit pesan Dirgha yang membuatku mati berdiri malah ia sampaikan pada kami semua.


“Hahahahah!!!!!” tawa Dirgha berhasil membuat mata yang lain melirik kearah kami, terutama kearahnya. Ia bagai di sengat lebah dengan spontan menampar lengan Bang Rizki saat mengetahui kata-katanya yang di daur ulang lelaki ini.


Kami tertawa, Yudha sudah ikut-ikutan juga mengimbangi tawa si Dirgha. Apalagi berbaur dengan abang leting yang memiliki jiwa humor yang besar, jangan di tanya si Yudha paling suka bertingkah bodoh asalkan ucapannya selalu didengar dan ditanggapi dengan tawa yang lebar.


Belum lagi cerita yang ia suguhkan entah benar atau bohong yang penting ia happy dengan apapun yang ia lakukan, Yudha bisa berlalu semakin bodoh bahkan mengalahkan anak idiot sekalipun. Aku merasa hatiku perlahan semakin membaik dengan kepingan tawa yang berhasil mereka kembalikan satu-persatu.


Hatiku berhasil merabai satu persatu tangis tadi, aku kumpulkan menjadikannya sebuah kekuatan. Terkadang hidup memang begitu, semakin kamu dewasa semakin banyak pula rintangan yang harus di lewati. Baik itu dunia diri sendiri maupun dengan kelompok manusia yang mampu menjadikanku layak dipertaruhkan atau pantas untuk ditinggalkan. Sebenarnya, apapun masalahnya kamu kuat dengan cara yang kamu punya, mampukah melewatinya atau semakin larut di dalamnya. Terimakasih telah tersenyum kembali diriku.


“Jangan begitu Kynaya, kamu gadis yang kuat dalam keadaan apapun. Menangis itu biasa asal jangan merugikan semangatmu kelak” lirihku dalam hati yang paling lubuk.

__ADS_1


__ADS_2