OKTOBER BeRABU

OKTOBER BeRABU
~Kamu dan Gelang Itu~


__ADS_3

Hayuk kita keluar


Aku baru dapat kiriman,


Bersiap ya Kynaya selepas Magrib Dirgha jemput.


Aku tersenyum kecut kearah layar hp yang sudah buram ini. Membaca berulang-ulang pesan dari Dirgha yang mengajakku jalan, apalagi ini malam minggu, aku sedikit takut. Bagaimana tidak, seorang Adzkynaya Seiza tidak pernah melalukan hal demikian. Belum pernah sama sekali. Aku mondar-mandir mengelilingi kamar kost yang berukuran 5x5 tersebut. Kadang ke sudut lemari kadang pula ke belakang pintu, mana tahu aku mendapatkan jawabannya di salah satu tempat kost ini.


“Kenapa mondar-mandir begitu Kynaya. Nanti kalau kakimu sakit jangan minta kakak mengusuknya1!” suara kak Nia berhasil


menghentikan langkahku yang entah keberapa.


“Ehm anu kak. Dirgha ngajak keluar. hmmm.” jelasku dengan akar permasalahan sesungguhnya.


“Cie, malam mingguan ah. Kakak rasa Dirgha suka sama kamu deh Ay.” Kak Nia mendadak genit apalagi mengatasnamakan malam minggu yang terjadi.



“Kakak apa’an sih. Uda ah, Kynaya harus gimana?” tanyaku yang harus bagaimana seharusnya.



“Yasudah pergilah, pulang jam 21:30 wib ya, jangan lewat.” pecah kak Nia itulah jalan keluar menurutnya.


“Ah enggak ah kak, kakak saja ga keluar. Malu, takut ketahuan sama teman-teman.” sesalku yang mulai mengada-ngadakan efeknya nanti.


“Kakak bentar lagi juga pergi. Sini kakak pilihkan baju Kynaya” lanjutnya


Aku terpaku entah harus bagaimana sekarang, hanya bisa terdiam dan mengikuti setiap acuan dari tata costum ini, ia begitu cekatan dengan mendandaniku. Bukan wajahku yang dia ubah, tetapi pakaianku saja. Tidak setuju rasanya harus berlaku pengantin dengan bedak berlapis dan gincu yang begitu merah. Ah tidak, aku juga belum pernah memakai lisptik sekalipun padahal usiaku sudah merujuk kepala 2, angka 20 tahun.


Saat acara purnasiswa sekolah, pesta ulangtahunan maupun musim lebaran aku tidak juga memakainya. Sejauh ini hanya mengandalkan bedak my baby saja sudah lebih dari cukup.


Kak Nia mendandaniku dengan celana kulot berwarna coksu begitupun selaras dengan jilbabnya, baju yang ia berikan bermotif kebatikan warna keabu-abuan dengan lengkungan manja di setiap ujung bajunya. Entah ini maching atau aku salah kostum, cocoknya ini menghadiri undangan bukan indahnya malam mingguan. Ini semua pakaian kak Nia, aku berjanji akan menyucinya dan memberi pengawangi juga.

__ADS_1


“Cantik kak?” tanyaku saat ia berhasil mengikat rambut yang panjang ini.


“Sok cantik kali ini Kynaya. hahah.” jawabnya dengan bibir yang mulai di merengkan, mengejekku.


“Memang cantik dari lahir, hahahah.” balasku dengan puas dan seolah aku sedang meneguk air laut yang katanya asin sendiri.


Sudah selesai, sudah ku ucapkan juga terimakasih. Aku melirik jam dinding yang ada di pojok tempat tidur kak Nia, pukul 19.35. Ini sudah hampir Isya malahan, rasanya bimbang entah harus menelpon Dirga menanyakan jadi atau tidaknya. Aku harap jadi, aku sudah siap Dirgha. Seolah gayung bersambut, layar hp ku langsung memunculkan pesan panggilan darinya, bisa kebetulan sekali.


“Kynaya sudah selesai?” tanyanya


“Sudah barusan, Dirga sudah dimana? Depan kost ya?” balasku berusaha menyibakkan tirai ini memastikan keberadaannya disana.


“Ehmm, begini Kynaya. Maaf ya, sepertinya ga jadi. Karena abang kostku tiba-tiba pergi, kereta dibawa. Gimana dong. Kamu marah ya, iya gapapa aku minta maaf sekali, tidak ada maksud ingkar janji.” jelasnya membawa berita yang saat itu langsung memaksa moodku menggulung tikarnya, kecewa.


Ku tarik nafas yang dalam, berusaha bersikap biasa saja.


“Oh iya, tidak mengapa Dirgha.” lirihku, aku harap suara kekecewaan itu tidak mampu ia temukan.


“Maaf ya.” sambungnya kembali lalu mengakhiri perbincangan kami.


Selain hatinya baik, kak Nia juga pandai bernyanyi, suaranya merdu dengan genre apapun. Aku bisa bayangkan saat ia menikah nanti, tidak perlu menyewa biduan karena semua akan kalah dengan indah suaranya. Aku cuma manggut-manggut setiap mengikuti irama lagu bang jono yang dibawakannya, ikutan tertawa dan berusaha membaur bahwa dunia adalah milik aku dan kak Nia. Tiba-tiba handphoneku berdering kembali, suaranya yang lebih keras mampu mengalahkan segalanya.


“Kenapa Dirgha?” tanyaku pada seseorang itu yang ternyata adalah Dirgha.


“Aku sudah di depan Ay, sini turun.” jawabnya kemudian.


Ku raih jilbab dan memakainya kembali, untung belum ku ganti pakaian ini. Jika tidak, waktu akan mendurasi lebih lama lagi. Benar, Dirgha sudah disana aku bisa melihatnya. Setelah berpamitan dengan kak Nia kakiku langsung membawaku berhasil menemuinya. Kamu tau apa yang terjadi setelah itu? Baju kami sama, batik abu-abu dan celana yang dia pakai berwarna coksu juga, aneh. Sepertinya malam ini seolah di rencanakan oleh bumi sendiri.


“Kita jadi jalan-jalannya Ay?” tanyanya setelah mengakhiri tawa terhadap ide bumi tersebut.


“Terserah kamu, aku ikut saja.” jawabku simpel.


“Kita ga bedua Ay, ada Amrue dan Farhan juga. Tadi orang itu ngajak aku duduk, tadi juga tiba-tiba abang kostku pulang dia ngasih kereta balek, ya jadi gini. Gimana Ay, kamu mau gabung ga?” Jelasnya sedangkan aku mengikut saja.

__ADS_1


Aku mengangguk setuju, biarlah tidak berdua meskipun ada temanku yang lain. Kami sampai di parkiran, sudah bisa langsung ku temukan Amrue dan Farhan disana. Mereka meledek Dirgha sedangkan aku hanya berusaha bersembunyi di belakangnya, malu rasanya harus bersikap yang bagaimana.


“Ehem-ehem” suara genit Amrue berhasil menyapaku saat ia mendapati persembunyianku.


“Sepertinya akan ada couple unit 02 ya, Amrue?” lirih Farhan sambil menatap aku dan Dirgha secara bergantian.


“Hahah, usa bacot, diam ko!” rampas Dirgha kemudian dan menarik tangan keduanya memasuki warkop ini.


Aku mengikuti mereka dari belakang. Seisi warkop ini banyak dihuni oleh kaum lelaki. Ada yang bermain game, Sali bertukar cerita, mengerjakan tugas atau seperti kami sekarang apa ya namanya, menemani teman yang sedang ngedate dengan pacarnya lalu di jaga oleh 2 orang pemukul nyamuk. Oh tidak, aku tidak berpacaran dengan siapapun, meski orang gila ditanya sekalipun akan menafsirkan aku adalah pasangan Dirga apalagi dengan penampilan kami ini dan suara Amrue dan Farhan yang mulai tidak bisa dijaga. Sungguh ruwet, selalu menatap genit. Dirgha ada di sampingku sedangkan temanku berada di hadapan kami sambil bermain laptop.


Entah berusaha fokus pada apa yang mereka lihat seolah tidak menyadari ulah Dirgha yang menyodorkanku kembali sesuatu yang berbau couple, gelang kembaran. Bisa ku lihat dari sini, mereka hanya pura-pura bermain hp, entahpun mereka sudah memotret aku dan Dirgha dan menyebarkannya di grup kelas, aduh aku lupa membawa hp ku.


Dirgha juga sedang tidak memainkan hp nya. Ia sudah sibuk memasangkan gelang itu padaku, berusaha mengulungnya agar gelang yang kebesaran itu terlihat muat. Jantungku tidak karuan, Dirgha ini tidak sadar kami sedang jadi bahan tontonan mereka, aku juga tidak bisa mengalihkan pandanganku dari keduanya, sesekali ke Dirgha dan juga pada mereka. Sudah seperti satpam saja tidak boleh melewatkan sedetikpun.


“Maaf Ay kebesaran.” lirihnya dan berhasil membuat penjaga nyamuk itu bersuara genit kembali.


“Ehem-ehem....dari tadi tangan dibawah, rupanya ngasih sesuatu sama Kynaya.” ledek Amrue dan Farhan mengiyakannya.


“Mana ada, apa sih sibuk kali. hahahah.” semprot Dirgha menutupi raut wajahnya yang sudah tidak bisa ia sembunyikan.


“Uda sini Dirgha biar aku foto. Tadikan kau chat aku biar fotokan sama si Kynaya. Iyakan, alah iya.” jelas Farhan, aku tidak tahu ini kebohongan apa kelicikan mereka.


“Nampakinlah tangannya, aduh kembar semua . Bingung aku mana Kynaya mana Dirgha ya kan Han?” lanjut Amrue, rasa malu kami semakin menjadi-jadi.


Dirgha berdiri dan memukul canda kedua temannya, aku cuma senyam-senyum di kursi. Pertemanan lelaki memang seperti itu. pukulan, hinaan, cacian bahkan gunjingan sekalipun bagi mereka yang sudah mengenal satu sama lain itu hanyalah bahan bercandaan. Tidak seperti perempuan, ngomong sikit salah apalagi sampai main tangan, sudahlah bisa berujung pihak berwajib bila perlu. Tidak jarang pepatah terkadang benar. Jika kamu berteman dengan lelaki, maka kamu akan menjadi ratu. Namun jika kamu berteman sesama perempuan, maka kamu akan menjadi musuh. Perempuan sesama perempuan tidak bisa saling disalahkan.


Dirgha merapatkan kursinya denganku, anak ini mau juga berfoto rupanya. Amrue sebagai juru kamera sedangkan Farhan bergaya penata mimik wajah. Sesekali kami mengikuti saran mereka, kadang juga Dirgha yang menolak. Anak ini sudah salting tingkat tinggi sampai suaranya terdengar receh, banyak bicara. Kami semakin berbaur dengan apapun cerita malam ini. Sesekali mereka tak segan-segan membongkar betapa seringnya Dirgha bercerita tentangku kepada keduanya, dan betapa banyaknya juga ide dia agar berusaha membiarkan kami berdekatan saat di kelas.


Dengan begitu Dirgha terus saja berkata bohong lalu mengulang memukul pundak keduanya, namun mereka yang menjadi korbannya ini seolah tidak ada kapoknya, tetap saja melanjutkan cerita berikutnya.


Makan malam usai, Dirgha mengantarku pulang.


“Terimakasih Kynaya untuk malam ini.” lirihnya

__ADS_1


Aku mengangguk dan melambaikan tangan lalu pergi masuk meninggalkannya. Bersama pintu kost yang ku tutup, begitu hari segera aku akhiri. Tidak bisa ku jawab jika logika meminta penjelasan apakah kabar hatiku dengan semua yang terjadi. Adakah bahagia, biasa saja, atau paling tidak hidupkah secuil harapanku pada seorang Dirgha. Sama sekali belum bisa ku perjelas, aku masih bersikap senetralnya karena memang aku menganggapnya sama dengan yang lain, temanku. Belum tahu hari esok membawa alur yang bagaimana tentang kami berdua. Masih seperti aturan naskah pertemanan, atau mendadak berubah karena menangnya rasa perasaan.


Namun, untuk hari ini dan malam minggu pertama ini aku bahagia, Terimakasih kembali Dirgha.


__ADS_2