
tokkk...tokkk...tokkk!!!!
Pintu kost yang bertengker di depan sana berbunyi nyaring. Aku mulai melangkahkan kaki menuju kesana, karena siapapun tamu itu tetap saja harus aku yang menyambutnya, kedua kakak kost ini sangat sibuk dengan mimpi masing-masing, begitu terlelap di siang bolong yang panas ini.
“Iya sebentar!” teriakku sedikit keras agar gerangan yang di luar sana sedikit bersabar.
“Assalamualaikum Adzkynaya Seiza?” sambut gerangan tadi yang tak lain adalah Lia sahabatku. Gadis berdarah Aceh ini entah memiliki maksud apa datang di siang bolong dan hari libur begini, baiklah aku dengar dulu apa yang ingin dia katakan.
“Waalaikumussalam, ada apa li?” lirihku sembari menarik tangan Lia dengan lembut untuk masuk.
“Yukss, jalan-jalan ke Hutan Mangrove. ada Dirga dan ada Yudha juga. Segera bersiap Aya, 10 menit lagi aku kembali kamu harus sudah siap ya” pinta Lia menunjukkan arloji di lingkaran tangannya.
“Ada acara apa Li, panas gini kita keluar, Lia yakin?” tanyaku dengan sopan padanya, aku tidak ingin melunturkan senyum manis yang ia suguhkan padaku.
“Sudah jangan banyak alasan, aku ke kost Dirgha dlu. Nanti aku jemput lagi. Dandan yang cantik ya, daaaa Ayyy” Lia berlalu tanpa memperdulikkan nasib hatiku yang mulai risau.
Harus berdandan seperti apa agar bisa di kategorikan sebagai cantik? ah entahlah. Aku langsung berhamburan dengan detak waktu, saling berlomba untuk mampu menyesuaikan langkah siapa yang lebih dulu dipersiapkan. Jemariku dengan sigap langsung menyambar sesuatu yang ada di tempat tidurnya, seperti mandi adalah ritual yang harus lebih dulu di selesaikan.
“Eh mau dibawa kemana selimut itu?” tiba-tiba suara kak Nia menghentikan langkahku. Sedikit aneh rasanya, sejak kapan anak ini bangun dan berhasil menangkap tingkahku.
“Ay mau mandi kak, kenapa?” jawabku dengan wajah yang penuh kebingungan.
“Iya kakak tau, tapi itu selimut mau kamu bawak mandi juga Ay, kakak yang baru bangun, koq kamu yang jadi ngigo!” Lanjut kak Nia dengan tampang kesal karena aku ternyata salah tingkah.
“Heheh, mau ambil handuk, rupanya ini selimut ya. heheheh” aku terpaksa tertawa cengegesan sembari mengembalikan selimut tersebut dan memastikan kali ini sudah handuk yang ia pegang.
Ritual mandi hingga menuju kata selesai sudahku lalui. Langkah selanjutnya adalah menghubungi Lia, mana tahu gadis ini sengaja menunggu kabar ku lebih dulu sebelum ia harus bergelut dalam menunggu. Aku mengscroll layar handphone, mencari nama Lia dan mulai ketik. mengirimkan pesan singkat untuk sahabatnya itu. Baiklah, aku menuju ke lantai bawah saja agar ketika Lia datang bisa langsung otw.
Minggu, di Penghujung Oktober ini sangat panas. padahal jarum jam sudah menujukkan angka yang tidak muda lagi. Pukul 17:00 Wib. Sangkin panasnya, langit seolah sedang tertidur lelap padahal sebentar lagi senja akan berpamitan untuk pulang dan malam bersambut untuk tiba. Mungkin langit lelah, atau sedang menuai amarah sampai menyisakan panas begini, hatipun bisa saja seolah lebih mendidih jika di landa kegalauan dan pelukan hawa yang sedang tidak baik-baik saja.
Kedua bola mataku meraba setiap insan yang sedang lalu lalang tanpa henti sesuai dengan tujuannya masing-masing, hingga ia tersenyum saat menemui sosok Lia dan lelaki yang bernama Dirgha. Mereka saling melempar tatap. Kemudian Lia memberi kode yang mengisyaratkan untuk mengajak dengan sekali anggukan langsung ku sanggupi dan menaiki jok kereta Lia.
“Kemana kita Lia?” sapaku sedikit menaikkan volume suara ini karena ruas jalan sedang tidak memungkinkan untuk berbisik.
“Coba panggil Dirgha, Lia juga ga tau mau kemana Ay” jawab Lia. Dengan segera ku putar tubuhku dan melambaikan tangan ke arah Dirgha untuk sedikit mendekat.
“Kenapa Li. Kemana Kita.?” samar-samar suara anak ini terdengar.
“Terserah sih, kemana kita Aya.?” kini Lia melempar teka-teki itu padaku. Manaku tahu kemana tujuannya. Mereka berdualah yang memiliki rencana, aku hanya penikmat setiap perjalanan ini.
“Aku tahu, kita ke hutan mangrove saja.” gumam Lia selanjutnya, semua saling tertawa melihat tingkah sahabat kami ini. Bagaimana tidak, tadinya ia kebingungan sendiri harus kemana, kini ia pula yang mengarahkan harus gimana. Dasar Lia untung kamu sahabatku.
Aku tidak tahu, ufuk manakah yang membawa angin untuk berhembus sore ini. Semuanya terasa menyejukkan, apalagi hiruk-piruk suara kendaraan bermotor menyerupai merdunya suara burung yang bernyanyi setiap saat. Setiap sentuhan angin berhasil memanjakanku pada suatu titik yang disebut kenyamanan. Waktu, tolonglah jangan ceat berlalu, aku terasa hidup dalam dunia ini. Aku begitu menikmati apa saja yang di jalanan, semuanya terasa memanjakan mata, kecuali dengan manusia yang sibuk menggenggam erat kekasihnya, menebarkan kemesraan dimana-mana.
Mereka fikir, dunia ini punya mereka? Ingin ku siram saja kekasihnya agar terlepas dari sikapnya yang begitu manja, apa dia tidak tahu bagaimana mataku terasa sakit dengan pemandangan demikian? Atau aku tarik paksa saja kekasihnya ini. Jika ia berhasil terjatuh, maka jatuhlah pada pelukan orang lain!
“Turun Aya, sudah sampai nih. Dari tadi wajahmu terlihat kusyut seperti benang tanpa sulaman, padahal ini adalah sore yang berbahagia bukan?” suara Lia berhasil membubarkan setiap rutinitasku di jalanan
“Eh?”
Aku tertawa cengegesan, membiarkan Lia mengerutkan keningnya sedangkan Dirgha menggeleng tanpa masalah. Baiklah, sikapku sama sekali tidak mampu aku sembunyikan, padahal sedang dalam dunia kehaluan. Kami melangkah memasuki pintu masuk tempat wisata ini. sebenarnya bukan wisata, hanya saja habitat yang dilestarikan.
Segala jenis pohon ada disana, bahkan aku baru memperkaya ilmuku setelah menemui tempat ini, tidak hanya pinus dan pohon jati, masih banyak pohon lainnya. Dimana tanaman magrove mampu bertetangga dengan anak sungai, dengan begitu banyak mangrove yang berhasil hidup di antara air yang mengalir tanpa ada satupun yang akan tersingkir dan itulah salah satu yang menjadikan Hutan ini sangat indah.
__ADS_1
Lia menggenggam jemariku dan saat melangkah masuk, sedangkan Dirgha berjalan di depan seolah menjadi pemandu wisata, padahal posisinya disitu yang membuatku terganggu. Untuk melihat pemandangan ke depan saja, aku harus melihat pundaknya dahulu.
“Dirgha, kamu jalan di belakang gih. Badanmu itu loh setinggi tiang listrik, ga bisa aku luas memandang!.” ketus Lia secara tiba-tiba, aku saja tidak percaya perkataan Lia ini mampu mewakili argumen hatiku.
“Silahkan- silahkan” jawabnya datar dan membiarkan aku dan Lia menjadi yang terdepan.
“Tadi katanya Yudha ikut. Nah, mana dia?” tanyaku saat tersadar dengan perkataan Lia siang tadi. Aku memandang keduanya, Namun mereka saling memandang pula.
“Dia ga jadi ikut Ay” jawab Lia kemudian.
“Iya tau, kenapa emangnya?” aku melemparkan pertanyaan kembali, tidak puas rasanya tanpa diberikan suatu bukti.
“Pokoknya ga ikut deh, tuh tanya Dirgha saja” tepis Lia, sedangkan Dirgha ku lihat biasa saja.
Aku sedikit menyipit ke arahnya, jangan bilang ia juga mengatakan tidak ikut dan menyuruhku kembali menanyakan ini pada Lia, bisa ku lempar buah yang ia berika pada monyet disini untuk di masukkan ke dalam mulutnya. Ayo Dirgha, jawab pertanyaanku.
“Sebenarnya dia tidak ikut, dia pindahan hari ini Ay. Tadinya memang mau ikut, mendadak dia batalin begitu saja.” jelas Dirgha dengan tetap tidak memandangku malah terfokus menyulangi teman barunya, monyet-monyet nakal.
“Terlalu berbelit!” lirihku, namun ia abaikan dengan melangkah beberapa langkah ke depan. Lia juga mengikutinya.
Aku menghembaskan dedaunan yang ada di genggaman, sesekali ku bairkan Lia menarik tanganku, namun saat ia lengah ku ulangi kembali menarik dedaunan pohon yang ada di kanan dan kami. Mood kita tiba-tiba tidak membaik, entah rasa bernama apa yang kini singga di hatiku, awan tidak lagi indah dan kecupan angin tidak terasa mesra, aku merasakan sendiri dalam keramaian. Aku tertinggal jauh dari kekompakan langkah mereka di depan. Hanya terdengar Tawa Lia, kata-kata Dirgha yang ketus juga semakin menggangguku, apa mereka tidak sadar bagaimanakah keadaanku saat ini. Tidak di hiraukan adalah suatu permasalahan, apalagi di tanya seorang Kienaya mau apa juga tidak ku dengar. Baiklah, inilah rasanya jadi orang ketiga.
Sampai tiba saatnya kala aku mencoba menarik daun kembali, ada sesuatu yang menyambar tanganku secara tiba-tiba.
“Akhhh, Liaaaaaaaaaaa!!!!!!”
Aku berteriak sekencangnya saat melihat jemariku yang sudah banjir dengan tetesan darah dan tatapan seorang Monyet yang ternyata penyebab lukaku ini semakin membuatku histeris. Aku berlari mengejar Lia dan Dirgha meninggalkan Monyet yang mungkin sudah tertawa dan merasa bebas karena tidak ku mintai pertanggungjawaban. Dasar jahat! Tanpa melihat sekeliling, aku terus melaju memompah kekuatan yang tersisa. Bisa ku lihat dari sini jembatan yang agak meninggi dengan tidak memperdulikan apapun aku berusaha memanjatnya, bismillah.
“Gubrrrraaaakkkkkkkkk!!!!!!”
Aku kembali mendarat dengan mulus melewati jembatan itu, namun bukan kakiku yang berhasil lebih dulu mendarat ke tanah, melainkan punggungku yang mengambil alih dan menanggung beban beratnya tubuh ini. Aku terjatuh, bahkan ini lebih sakit dari yang tadi. Lia membantuku berdiri sedangkan Dirgha tidak melakukan apa-apa, Malah tadi ku lihat ia seperti tersenyum tak jelas sepertinya menahan tawa melihat aksiku barusan. Lihat saja, jika ku dengar dia tertawa, maka tidak segan-segan ku tarik kacamatanya agar dia semakin mirip dengan china balekkong.
“Ya ampun Aya, koq bisa begini.?” seru Lia membantuku berdiri namun sepertinya ia tidak sanggup sendiri.
Aku sudah sangat mirip dengan tumpukan kayu yang begitu berat sehingga harus 2 orang yang menanganinya. Dasar sial, senyumku bahkan mendadak hilang. Aku sendiri lupa bagaimana cara membentuknya. Kami berjalan keluar, belum sempat mengelilingi Mangrove ini aku sudah celaka. Lia tetap membantuku berjalan sedangkan Dirgha membawa sandalku yang ternyata sudah putus namun aku tidak tahu saat kapan, entah bersama dengan temannya yang suka bergantungan itu atau ketika aksi melompat tebingku.
“Ay bisa pegang plastik ini, saya dibuang jambunya?” Tanya Lia padaku dengan menyerahkan plastik sedang berisi jambu semua.
“Dirgha saja yang pegang Li, tangan Aya sakit” gerutuku menyadarkan mereka bahwa lukaku masih berdarah.
“Tidak bisa, bagasiku penuh. kalau di stag ini juga tidak bisa. Stagnya agak goyang dan sedikit macet” jelas Dirgha kemudian.
“Di bagasi Lia saja, tadi aya lihat kosong bagasinya” saranku mencari jalan keluar dan mengingat saat ia membuka bagasinya pada pengisian bensin 1 jam yang lalu.
“Bagasi Lia juga penuh, ah sudah. Biar Lia letakkan di depan. Naik Aya, pelan-pelan ya” suara Lia menangkap jalan keluar itu sendiri.
Kami berburu dengan ruas jalan kembali, angin sore mengusap lembut lukaku, terasa ngilu namun tidak bisa ku pungkiri ini sangat menyejukkan. Sebenarnya ini tidak terlalu parah, hanya karena aku takut darah membuatku kesulitan menutupi bahwa aku tidak baik-baik saja. Entah mengapa saat melihat darah aku menjadi ciut dan jijik sendiri, seolah meski tak sakit aku merasa tetap terluka karena melihat keadaannya. Tetapi itu tentang keadaan fisik, belum ku tahu rasanya bila mana hatiku yang dibuat terluka dan apabila sampai berdarah harus dirimu pula yang menjadi obatnya.
“Terimakasih banyak Lia” tuturku saat melihat Lia menyelesaikan kebaikannya yang mengobati lukaku.
Rupanya suara adzan magrib mampu membuat kami tetap sampai disini, salah satu tempat yang ada di pinggir jalan. Bentuknya seperti restaurant apung, karena berada di atas air. Aku yakin, air yang mengalir di atasnya adalah bagian dari sungai di magrove tadi, karena jarak mangrove tidak jauh dari sini. Entahpun ini adalah air yang mengalir dari laut yang berkisar satu kilometer jaraknya dari keberadaan kami sekarang.
Sembari menunggu Dirgha yang sedang sholat aku dan Lia berbincang keadaan kampus. Raut wajahku pasti bisa Lia baca sama sekali tidak menunjukkan sisi semangat saat harus membahasa masalah perkuliahan, apalagi dengan kelas kami. Masalahku dan Wahyu masih sedikit runyam meskipun tidak separah awal kejadiannya. Alhasil teman-teman membenciku dan mulai menghilang satu-persatu. Hanya ada Dirgha, Yudha dan Lia teman perempuanku satu-satunya.
“Sudah Ay, mungkin teman-teman yang lain mau minta maaf cuma ga berani karena uda ngeledekin deluan. Aya tenang, masih ada Lia, Dirgha dan Yudha yang bisa benar-benar ngerti bagaimana keadaan dan kebenaran cerita Aya. Udah ah, jangan sedih terus. Lia yakin nih ya pasti nanti bakal kembali membaik koq. Semangat Adzkynaya Seiza” lia seperti berpidato padahal langit sudah gelap, sahabatku ini memberikanku terang bahwa hari esok masih penuh harapan baru.
Sembari membalas pelukannya, aku menitipkan harap pada Allah agar doa Lia di dengarkan. Kita tidak tahu doa mana yang Allah kabulkan, bisa dari orang lain yang membenci kita apalagi aku bisa menyaksikan terang-terangan ketulusan doa dari orang yang menyayangiku. Untuk langit, semoga aku bisa mengantungkan kembali gambaran dan anganku tentang indahnya perjuangan anak pertama. Wahai angin, katakan pada semesta untuk membantuku mengaminkannya.
Dirgha datang bersamaan dengan pelayan restaurant ini. Aku merapatkan tubuhku dengan Lia untuk melihat menu makanan apa yang ingin aku nikmati.
__ADS_1
“Indomie seafood satu ya kak. Minumnya teh manis dingin saja” jelasku pada petugas yang ramah betul tutur katanya.
“Aku juga kak, tapi minumnya nutri sari ya” sambung Dirgha cepat, aku hanya tersenyum tipis saat ia berusaha melempar pandangannya.
“Kalau Lia nasi goreng ayam kak, minumnya coklat panas” argumen Lia menjadi penutup pesanan ini.
Kami saling menatap mencoba menunggu lebih dulu siapakah yang ingin bercerita dan aku bisa menangkap lensa matanya menatap ke arah Lia, lalu Lia memberikan kunci keretanya pada Dirgha. Kemudian entah mengapa Lia langsung menarikku untuk di temani ke toilet. Kami menelusuri jalan yang terbuat dari papan, tidak semulus aspal tapi aku yakin ini sangat kuat. Lampu tumbler yang penuh kerlap-kerlip memberikan nuansa sendiri pada keadaan. Sedangkan bunga dan dekorasi lainnya sangat begitu indah, sederhana namun tetap terlihat mahal.
“Ayo kembali, Lia tidak jadi ke toilet” suara Lia mengagetkan lamunanku tentang indahnya tempat ini.
“Lho, Kenapa li?” tanyaku kemudian, namun gadis ini tidak menghiraukannya.
Lia menyuruhku untuk berjalan lebih cepat di depan. Ia sibuk menerima panggilan di ponselnya, aku turuti kemauan sahabatku yang memiliki nama lengkap Lia Maulida ini. Aku membuka tali pansusku untuk masuk ke dalam ruang tempat makan kami ini, lesehan yang digunakan benar-benar menyerupai bentuk rumah, suasana makan dengan keluarga sedikit memainkan matanya padaku, aku seperti sedang merindukan rumah.
Aku hampiri Dirgha yang juga sibuk dengan layar ponselnya, namun tiba-tiba...
“Ini dariku yang selalu tidak pernah peka menurutmu” suara pemuda ini tidak mampu aku gauli, sedikit lembut dan agak dibuat-buat sepertinya.
Dirgha memasang tampang tersenyum dan tatapannya yang berbinar entah itu rasa malu atau perasaan yang saat ini ia wakilkan padaku. Bunga buket dari plastik dan itu berwarna merah berhasil ia genggam dengan sempurna, kedua tangan. Belum sempat aku mendaratkan tubuh ini di lantai sudah ku tarik kembali karena terkejut melihat tingkahnya barusan. Aku terpaku, Dirgha juga. sedangkan hati kami saling berburu.
“Apa ini Dirgha?” aku membuka suara akhirnya.
“Lia....sini....liaaaaaaa” teriakku salah tingkah memanggil nama Lia
Lia tidak mengubris dan akupun semakin gelagapan saja saat Dirgha menarik lembut lenganku untuk tunduk dan berposisi tepat dihadapannya. Keringatku mendadak mendidih padahal ini ada angin malam dan juga sentuhan air pantai. Jantungku juga tidak stabil seperti tidak mau bekerja seperti mana semestinya padahal sebelumnya aku tidak mempunya riwayat menyakit yang mematikan seperti yang aku rasakan sekarang. Apalagi aku mengalami sesak di bagian dada, apa ini asma atau perasaan yang tak bernama.
“Kynaya, ini buat kamu”. Tegas Dirgha bahwa yang aku lihat ini tak salah, seperti penawaran cinta.
“Aku juga mencintaimu, maukah Kynaya jadi pacarku?” suara Dirgha semakin memperjelas keadaan.
“Hahahah, Ya ampun Dirgha. Tapi aku tuh cumaaa......
“Maafin aku yang selama ini ga peka” sambungnya lagi dan memotong apa yang ingin aku katakan.
Kemudian Lia datang dan tersenyum genit ke arah kami berdua, wajah Dirgha memerah sedangkan tatapanku entah harus bagaimana. Kami saling tertawa setiap perbincangan yang mereka utarakan, ternyata hari ini adalah rencana Dirgha semua, ia sengaja mengajak Lia untuk menemaninya membawaku jalan-jalan. Kemudian, acara minta ditemani ke kamar mandi tadi mengalihkan pandanganku saat Dirgha mengambil bunga itu di bagasi keretanya.
“Jadi Lia ga mau buka bagasi karena ada buket di dalamnya ya?” tanyaku kesal, pasti benar tidak mungkin salah.
“Hahah, iya Ay. Itu semua rencana Dirgha ya, aku Cuma membantu. hahaha” suara Lia benar-benar membuatku ingin menepuk jidat sendiri.
Aku ternyata tidak menyadari semua rencana mereka hari ini, apalagi di hari pekan pada Minggu ini tidak ada jam pekerjaan apapun di dunia, Lia rela datang saat matahari sangat panas dan alasan mengajak Yudha padahal ini hanya ada kami bertiga, dan Aku paling bisa mengatakan Dirgha tak peka, padahal aku sendiri tidak bisa membaca teka-teki di sekitar. Dasar Kynaya, kamu payah.
“Si Dirgha ga berani Ay nembak kamu sendiri, takut dia. Nanti kamu kik dia habis-habisan nah takutnya niat dia mau nembak ga jadi. hahaha, woooo payah dasar ga berani” suara Lia meledek Dirgha namun aku sambut dengan tawa sedangkan anak itu hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Tadi berani kok Li, buktinya pandai juga di romantis. hehehe” jelasku kembali menggodanya, nah ia hadiahkan pipi yang merah kembali.
Kami tertawa subringan melewati malam ini, jam yang memeluk lengan masing-masing saling kami lirik, pukul 20:22 sudah malam ternyata. Dirgha sudah membayar makanan kami tadi, aku mengandeng lengan Lia dan ikutan tertawa apabila Lia menceritakan tentang niat Dirgha yang sudah jauh-jauh hari ia rencanakan.
“Aya sama Dirgha saja. Nanti Dirgha yang antar Aya pulang ya. Rumah Lia kan lain arah, jadi Lia balik duluan ya.” Argumen Lia mengakhiri perjumpahan kami hari ini.
Aku dan Dirgha sudah menitipkan kata hati-hati padanya, semoga ia selamat sampai tujuan. Akan ada esok hari kembali yang pastinya Lia akan menjadi orang yang harus ku wanti-wanti karena mana aku tahu ia bisa saja membocorkan kejadian malam ini kepada The Geng, apalagi mulut mereka satu persatu tidak bisa aku jaga, terlalu banyak ada 6 orang, belum lagi gerak-gerik kami yang akan mencurigakan setelah itu, atau paling tidak aku akan mengajak Dirgha untuk menyumpal mulutnya. memberinya rupiah bila perlu.
Sebanarnya aku tidak takut jika 1 unit nanti akan mengetahui tentang aku dan Dirgha. tetapi ada Rizqan disana, anak ini selalu ribut denganku lalu kemudian Dirgha selalu membelaku. namun jiwa keegoisan ini merontah-rontah apabila di katakan punya orang dalam, semacam ada saja pembelaan yang aku dapatkan apabila aku ribut dengannya. Pembelaan itu dari Dirgha dan itulah selalu ucapan Rizqan setiap kali adu argumen dengannya. Katanya Dirgha ini pacarku, ia suka aku dan bodohnya aku bersikeras saat itu aku tidak memiliki pacar, aku tidak suka pembelaan dan tidak menyukai siapa-siapa di kota ini.
Sederhana saja, jika ia ingin melawanku aku persilahkan, aku bisa berdiri di kakiku sendiri, tidak peduli ini kotanya sementara aku hanyalah anak perantauan yang mengandalkan Langsa adalah milik siapapun yang berstatus sebagai mahasiswa di Universitas yang sama. Rizqan fikir aku takut apa, tidak! bukan Kynaya kalau begitu. Tapi itu kemarin, sekitaran 1 bulan belakangan ini. Dan malam ini Dirgha sudah membuktikan ucapan Rizqan bahwa aku pacaran dengannya dan dalam pacaran itu karena suka sama suka dan kotanya ini berhasil membuatku seolah berhasil jatuh cinta juga.
Bukan begitu, aku sama sekali tidak menyukai Dirgha, tidak juga berniat untuk memulai cinta kembali setelah 4 tahun belakangan aku fakum dari virus merah jambu itu. Sejauh ini, aku mengatakan tidak peka karena ia sama sekali tidak mengerti kode-kodean. Kata Dirgha ia tidak pernah pacaran meskipun waktu SMA dulu sahabatnya sendiri menyukainya dan memendam perasaan selama masa pertemanan dan ketika sampai pada perpisahan, kemudian gadis itu berterus terang tentang perasaannya, namun jarak sudah memisahkan mereka.
Dirgha di Aceh sedangkan gadis itu di Jakarta. Aku sama sekali tidak pernah mempercayai ucapan seorang lelaki yang mengatakan tidak pernah jatuh cinta atau tidak pernah menjalin kasih kasmaraan. Hingga tidak salah ku juga yang suka menjahilinya untuk membuktikan ucapannya dan lagi ini diluar nalarku, ternyata sesuatu yang tidak pernah ia alami akhirnya terwujud juga, yaknik jatuh cinta dan memiliki pasangan.
__ADS_1
Sunggu ruwet, aku adalah tipikal perempuan yang sulit jatuh cinta. meskipun lawan mainku itu sudah hanyut dalam buaian asmara dan itu belum juga membuatku bisa merasakan hal yang sama dengannya diwaktu yang bersamaan pula. Namun, aku juga paling tidak bisa menolak, entah mengapa bisa begitu. Aku takut ia marah, aku takut ia kecewa, dan aku takut mengalami kejadian yang sama dengannya di suatu hari, yakni di sia-siakannya hatiku saat semuanya sudah berhasil aku berikan.
Sangat hina, aku tidak bisa seegois itu. Seperti malam ini, Dirgha ada di depanku ini adalah saat kali pertama aku berada begitu dekat dengannya, duduk di jok belakang kereta Varionya dan mendengarkan apapun yang ia katakan, yang aku tahu Dirgha sudah menganggapku sebagai kekasihnya meskipun aku belum mengatakan persetujuan untuk membangun hubungan ini dengannya. Yang juga Dirgha tahu aku sudah menerimanya dan anggapannya sebagai kekasihku ia benarkan juga dalam hatinya. Entalahlah, aku tidak bisa menafsirkan harus bagaimana aku sekarang.