
Jakarta, Indonesia.
Author POV
Sudah dua minggu Jhon Hyun So berada di Jakarta. Ia tinggal di sebuah apartemen yg disewanya. Jhon melarikan diri dari negaranya karena patah hati ditinggal pasangannya yg seorang Biseksual yg lebih memilih menikah dengan seorang wanita daripada memiliki sebuah hubungan dengannya.
Ia kecewa berat. Ia terluka. Namun, apa mau dikata. Itu sudah menjadi nasibnya. Dua minggu tidak keluar dari apartemen. Kerjanya hanya melamun terus. Kalau pun keluar dari apartemen ia hanya mencari makanan saja. Lalu, setelahnya ia masuk kembali ke dalam apartemen yg ia sewa untuk beberapa bulan ke depan selama ia tinggal di Jakarta. Namun, ia merasa bosan juga berada di dalam apartemen terus menerus. Akhirnya, ia keluar untuk mencari udara segar.
Jhon POV
"Ah, segar sekali! Udara malam disini begitu sejuk. Meski, polusi udara disini memang sangat tebal."
Yah, begitulah yg kurasakan sekarang. Karena, aku sedang berjalan sendirian menyusuri jalanan di Jakarta. Lalu, entah bagaimana akhirnya aku berjalan hingga sampai di tempat yg asing bagiku. Dan, tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita datang dari arah berlawanan. Ia sedang meminta, tolong lalu....
"Bruuk"
Ia menabrakku....
"Akh" pekiku dan suara pekikannya juga.
Ternyata, kami saling bertabrakan. Setelah, itu kami pun bangkit. Wanita itu tidak minta maaf padaku. Tapi, ia malah minta tolong padaku.
"Oppa, ganteng? Tolong, aku? Hik....hik....aku dikejar orang jahat." ucapnya sambil menangis di hadapanku.
Aku bingung harus bagaimana. Aku hanya melihat semak-semak disana. Dan, aku menyuruhnya untuk bersembunyi disana. Ia menurutiku, lalu ia sembunyi disana. Di semak-semak yg aku tunjuk tadi. Aku melihat kopernya ketinggalan. Jadi, aku melemparnya begitu saja di semak-semak tempat wanita itu bersembunyi.
"Hei, kopermu!" ucapku sambil melempar koper itu padanya.
"Bruk"
Dan, aku tidak tahu apakah koper itu akan mengenainya atau tidak.
"Ahh" pekik seorang wanita dari dalam semak-semak.
Tapi, aku mendengar suara pekikannya. Semoga, saja ia tidak terluka. Tak lama kemudian, setelah wanita itu bersembunyi lewatlah segerombolan penjahat yg sedang mencari-cari wanita tadi.
"Hei, anak muda! Apa, kau melihat seorang wanita lewat sini?" tanyanya.
"Wanita?" ucapku.
"Ya, kau melihatnya tidak?" tanyanya lagi.
"Aku melihatnya, dia lari ke arah sana." jawabku sambil menunjukkan arah yg salah.
"Kesana?"
"Iya, dia kesana!" ucapku lagi.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih! Omong-omong, bahasa Indonesiamu bagus juga!" ucap penjahat itu memujiku.
Kemudian, para penjahat itu pergi dari sini. Menuju, arah yg salah yg ku tunjukkan tadi padanya. Setelah, penjahat itu pergi. Aku menyuruh wanita tadi keluar dari tempat persembunyiannya. Dia pun keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi, dia tidak mengucapkan terima kasih padaku. Ia malah marah padaku sambil menunjukkan jidatnya yg memar karena ulahku.
"Duhh, sakit sekali jidatku ini. Semua ini, gara-gara oppa ganteng sialan itu! Humph!" ucapnya mengumpat padaku dan aku mendengarnya.
"Penjahatnya, sudah pergi. Kau sudah aman. Aku pergi!" ucapku kemudian melangkah pergi.
"Tunggu! Enak, saja mau pergi! Kau tidak lihat. Jidatku memar karena ulahmu! Dasar, sialan!" ucapnya kepadaku dan aku menghentikan langkahku.
"Nona? Itu semua, bukan salahku. Itu semua adalah salah anda sendiri? Kenapa, sembunyi tapi malah meninggalkan koper?" balasku.
"Huh? Kamu ini, sudah membuat jidatku memar dan tidak mau tanggung jawab? Hah?" katanya lagi dan lama-lama ucapannya semakin membuatku kesal.
"Ck, hanya masalah jidat saja kau perpanjang seperti ini. Itu kan cuma memar? Ah, sudahlah! Kau merepotkanku saja." ucapku kasar padanya.
"Kurang ajarr! Lihat saja! Aku akan berteriak minta tolong supaya kamu di pukulin orang!" ucapnya kesal.
"Hm? Terserah!" kataku sepele.
Lalu, ia kemudian berteriak minta tolong. Memang, tidak ada orang yg datang menolong. Tapi, sebuah mobil patroli polisi tiba-tiba saja berhenti. Aku panik.
"Selamat malam, tuan?
"Selamat malam, pak!" jawabku.
"Pak, begini pak...."
("Anjrit! Nih, cewe bisa buat masalah! Huh! Benar-benar deh....!" ucapku dalam hati.)
Aku pun langsung membekap mulutnya agar wanita itu tidak bicara apa-apa pada kedua pak polisi tersebut.
"Ah, tidak apa-apa pak! Hanya saja, adik sepupuku ini tidak mau pulang ke rumah!" ucapku berbohong.
"Oh, hanya masalah itu saja? Kami kirain, ada apa. Ya sudah, kalau begitu? Segera selesaikan urusan kalian. Dan, kembali pulang ke rumah kalian. Tidak baik, berlama-lama di tempat ini."
"Baiklah, pak!" ucapku.
Lalu, dua polisi itu pun pergi. Aku merasa lega. Kemudian, aku melepaskan bekapan tanganku pada mulutnya. Lagi, aku harus mendengarkan suara ocehannya yg menyebalkan itu.
"Sialan! Kurang ajarr! Beraninya kau menyentuhku Christina Andreana seorang putri pemilik perusahaan Jaya Group?" ucapnya dengan emosi yg tinggi.
Wah, aku tak percaya jika ternyata dia adalah putri dari seorang pemilik perusahaan besar di Jakarta, perusahaan Jaya Group.
"Nona, tunggu nona. Sabarr, jangan marah-marah. Aku minta maaf, oke. Please." ucapku.
"Huh! Baik! Tapi, aku tetap minta kompensasi atas jidatku ini."
__ADS_1
"Baiklah, uang? Aku bisa memberikannya padamu! Ini....." ucapku sambil mengeluarkan lembaran uang dari dompetku.
Akan tetapi ia tidak terima. Ia malah memcampakkan semua uang itu pada wajahku.
"Aku tidak butuh uangmu!"
Aku terkejut tidak percaya dengan apa yg dikatakannya.
"Baiklah, jadi kau mau kompensasi dalam bentuk apa?"
"Aku mau tinggal di rumahmu sampai luka di jidatku sembuh!"
Aku terkejut lagi.
"Apa😲😲😲
"Tidak mau? Baiklah, aku akan melaporkanmu kepada polisi."
"Hei, jangan-jangan! Baiklah. Kau boleh tinggal di rumahku."
("Aduh, habislah aku. Masa, aku harus tinggal dengannya sih???" batinku.)
Mendengar jawabanku, ia pun melompat kegirangan dan memelukku. Ini, nih aku takut pada tipe wanita yg begini. Suka main sentuh sembarangan. Aku kan gay. Aku tidak suka. Tapi, beda ceritanya kalau cowo yg sentuh duhh....jadi pengen.
"Wah, makasih ya oppa ganteng?" katanya.
"Hei...hei....lepas dulu. Jangan, main peluk-peluk. Geli tahu!" ucapku padanya sambil melepaskan diri dari pelukannya.
Ia pun melepas pelukannya dari tubuhku. Kemudian, aku pun membawnya pulang bersamaku ke apartemen. Jujur, aku benar-benar takut pada wanita. Apalagi, wanita yg agresif seperti wanita ini. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Aku takut dipenjara. Apalagi, ini bukan di Seoul. Jadi, aku akan biarkan saja dia tinggal bersamaku. Selama dia tidak menggangguku. Lagipula, hanya sampai memar di jidatnya sembuh.
Aku tahu itu adalah hasil perbuatanku. Semoga saja ini cepat berlalu dan dia cepat sembuh dan segera pergi dari kehidupanku. Karena, sepertinya akan gawat jika aku terus bersama dengan wanita seperti dia. Bila kupikir-pikir dia memang wanita yg agresif. Terlihat dari caranya dia memelukku tadi. Ah..., aku benar-benar takut.
Bersambung.....
OPPA GANTENG KU
Nama pemeran pembantu
Chae Yeol Woo
Tampan, seorang Biseksual
Nakal dan suka sekali menggoda Christina
Visual
__ADS_1