
Pada hari Senin, 3 Januari 2022, Auren akan masuk ke SMA untuk pertama kalinya, ia sangat menantikan hal itu, dan satu hari sebelum hari itu, ia sampai tidak bisa tidur dan begadang hampir seharian.
"Nona, hari ini adalah hari pertama anda masuk SMA, anda sangat menantikan hari ini kan? maka mari bangun nona." Ujar bibi pembantu yang membangunkan Auren.
"Iya bi aku segera bangun." Balas Auren sambil mengucak-ngucak matanya karena baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak.
"Saya sudah menyiapkan seragam nona dan sekarang saya akan menyiapkan makanan dan bekal yang akan nona bawa." Ucap bibi pembantu.
"Terimakasih bi." Balas Auren berterimakasih pada bibi nya yang sudah membantu dirinya.
"Sama-sama nona." Jawab sang bibi.
Auren pun mandi dan mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
"Aku sangat tidak sabar! semoga saja aku sekelas dengan Gendra!" Ujar nya dengan nada sangat bersemangat.
"Auren! makan dulu nak, sini bareng sama Ibu dan Ayah di ruang makan." Ucap Ibu Auren dengan suara yang sedikit keras karena Auren berada di lantai 2 rumah.
"Baik Maa! Auren datangg." Jawabnya diiringi dengan suara larian langkah kaki turun dari tangga yang adalah dia.
"Hati-Hati Auren! nanti kalau jatuh tidak jadi makan bersama loh!" Ucap sang Ayah saat melihat putri satu-satunya yang ia miliki berlari turun dari tangga dengan sangat cepat.
"Maaf Pa, aku terlalu bersemangat untuk hal ini." Jawab Auren saat mendengar ucapan Ayahnya.
"Kamu ini, pasti tidak sabar bertemu dengan Gendra ya?" Tanya sang Ibu kepada Auren.
"Mamaa! jangan begitu!" Marah Auren ketika mendengar Ibunya mnggoda nya dan bertanya hal tentang Gendra padanya.
"Kenapa memangnya Auren? yasudah nanti kita bahas lagi, sekarang makan dulu, nanti telat kalo makannya lama." Ujar Ibu Auren.
"Baik Maa!" Jawab Auren kepada sang Ibu.
Mereka sekeluarga pun mulai makan pagi dan Ayah Auren memberi nasihat pada Auren bahwa ia harus mencari teman. Karena ia tidak boleh bergantung pada pacar saja, ia juga butuh teman.
"Auren, Ayah mau bilang kalau kamu harus cari teman. Dari SMP temanmu hanya Addeline saja kan? dia sekarang sudah beerbeda sekolah denganmu, jadi kamu harus bisa bergaul ya! jangan bergantung pada pacarmu terus!" Ucap sang Ayah yang sangat khawatir dengan putrinya yang terlalu pendiam itu bila tidak dengan pacarnya.
"Iya Pa, Auren akan menjadi orang normal yang tidak terlalu pendiam dan tidak terlalu aktif." Jawab Auren untuk nasihat sang Ayah.
__ADS_1
"Lebih baik kamu aktif Auren, tapi sikapmu mewarisi Mama, jadi yaa mau bagaimana lagi, Mama juga pernah berada di posisi mu saat ini." Ujar sang Ibu untuk putrinya itu.
"Baik Ma, Pa, terimakasih karena telah mengerti Auren." Jawab Auren atas perhatian yang diberikan oleh kedua orang tuanya, ia juga tidak pernah menyangka bahwa Tuhan memberinya keluarga yang selalu memberikan hal positif pada Auren di saat teman-temannya memiliki masalah dan keretakan hubungan keluarga.
"Itu sudah menjadi kewajiban seorang orang tua Auren, sekarang mari kita berangkat." Jawab sang Ayah pada putri kesayangannya.
"Iya Pa!" Saut Auren dengan nada kegembiraan.
Auren dan sang Ayah yang adalah pemilik Perusahaan bernama PT. Antara Jaya yang juga menaungi yayasan SMA Muda Jaya pun keluar dari pintu rumah dan berpamitan kepada sang Ibu.
"Mamaa! Auren dan Papa berangkat ya!" Teriak Auren kepada sang Ibu.
"Sayang! Aku berangkat dulu ya!" Teriak sang Ayah yang juga berpamitan kepada sang Istri.
"Iya! hati-hati ya kalian!" Jawab sang Ibunda.
Auren dan Ayahnya mulai berangkat menuju sekolah Auren.
Setelah kurang lebih 15 menit perjalanan dari rumah menuju sekolah, mereka pun akhirnya sampai di SMA Muda Jaya yang juga milik sang Ayah, tetapi sang Ayah tidak turun dikarenakan masih ada urusan kerjaan lainnya.
"Pa, Auren sekolah dulu, Papa nyetirnya hati-hati ya!" Pamit Auren kepada sang Ayah.
"Iya Pa." Jawab Auren.
Auren pun keluar dari mobil dan mulai berjalan memasuki area bagian dalam SMA itu. Ia dibuat kagum karena SMA itu bukan hanya luarnya saja yang megah, tetapi dalamnya juga sangat megah.
"Wow, SMA ini lebih megah daripada SMP nya." Kagum Auren membandingkan SMA dan SMP Muda Jaya.
"Aku ingin bertemu Gendra, dia tadi bilang kalau dia akan menungguku di aula sekolah." Ucap Auren dengan suara pelan.
"Baiklah, mana ya aula sekolahnya?" Tanya nya sambil melihat-lihat sekitar.
"Aku menyerah! aku akan tanya kepada orang-orang yang ada disni saja!" Marahnya karena setelah dilihat lagi, SMA itu terlalu besar dan megah, ia sampai menyerah sebelum mencoba.
Dia pun akhirnya memilih salah satu dari banyak orang untuk ditanyainya.
"Permisi." Ucapnya saat ingin bertanya kepada murid dibelakangnya yang sedang berkumpul dan berbincang dengan temannya.
__ADS_1
"iya? ada apa?" Jawab salah satu murid di kumpulan yang berisikan 4 anggota berjenis kelamin perempuan semua.
"Saya mau tanya, aula sekolah ada dimana ya kak?" Tanya Auren kepada murid itu.
"Oh aula? disitu, nanti kamu lurus, dan setelah itu belok ke kanan ya." Jawab orang yang ditanyai oleh Auren.
"Oh baik, terimakasih, maaf kalau saya menggangu pembicaraan kalian." Ucap Auren meminta maaf karena telah menggangu pembicaraan mereka.
"Oh tidak kok!" Jawab semua anggota tidak enak kepada Auren.
"Ba-baiklah, saya pamit." Ucapnya dengan membungkuk sebagai tanda sopan santun.
"Iya." Jawab orang yang ditanyai Auren tadi.
Auren pun keluar dari perkumpulan orang itu dan pergi menuju aula yang katanya ia harus lurus dan belok kearah kanan.
"Baiklah, setelah lurus aku belok ke kanan, dan katanya aku akan langsung menemukan aula." Ucapnya sambil berjalan.
"Nah ini ada belokan kanan dan seharusnya aku menemukan aula disitu!" Ujarnya lagi dengan nada sedikit semangat.
"Itu dia aula nya! sekarang aku harus mencari Gendra." Saut dirinya lagi dengan semangat.
"Itu Gendra! dan kenapa dia di kerumuni oleh banyak perempuan?" Gumamnya cemburu saat sang pacar di kerumuni oleh banyak perempuan yang mengajaknya berfoto dan bertukar nomor.
Gendra melihat Auren sedang memperhatikannya, lalu ia memberi isyarat kepada sang kekasih, karena jika diucapkan langsung, ia takut Auren merasa terganggu oleh orang-orang yang 'suka' pada Gendra.
Isyarat itu seperti mengatakan "Aku terjebak di kerumunan ini Auren, mereka semua mengerumuniku. Tapi kamu jangan cemburu, aku selalu sayang padamu."
Auren seakan-akan mengerti apa yang diisyaratkan oleh sang kekasih, ia pun tersenyum dan menjawab dengan isyarat seperti "Nanti istirahat kamu temui aku di aula tempat aku berdiri ini ya!"
Lalu Gendra juga menjawab dengan isyarat "Baik sayangg!" seperti itu.
Orang-orang yang berada di dekat Gendra pun curiga karena ia daritadi seakan memberi isyarat yang aslinya memang sedang memberi isyarat.
"Gendra? kamu sedang berbicara dengan siapa?" Ucap salah satu gadis di kerumunan itu.
"Oh ti-tidak, aku sedang tidak berbicara dengan siapapun." Ucap Gendra, ia belum berani mengucapkan bahwa ia memiliki kekasih karena keinginan Auren yang tidak ingin hidupnya terganggu oleh orang yang kagum dengan dirinya dan orang yang cemburu karena ia adalah kekasih dari Gendra.
__ADS_1
"Oh begitu, kamu lihat disini dong, jangan lihat disana terus!." Marah salah satu gadis di perkumpulan itu.