Pacar Nakal Murid Pendiam

Pacar Nakal Murid Pendiam
Kekhawatiran tak Terbatas (I)


__ADS_3


Sebelumnya -



"Ge-Gendra, nafasku Gen." Ucap Auren kepada Gendra yang sedang memegangi tubuhnya itu.


"Panick attack kamu kambuh? aku akan bawa kamu ke UKS, bertahan sayang." Ucapnya kepada Auren dengan posisi berlari menuju UKS dengan menggendong Auren.


Pihak UKS yang sedang berjaga di UKS pun dengan sigap membantu Auren dengan membuatnya tiduran setengah duduk, dan segera memberinya oksigen.


"Hirup dan buang secara perlahan." Ucap pihak UKS kepada Auren.


- Terbaru -


Nafas Auren bukannya makin membaik, malah semakin tersenggal-senggal, itu membuat Gendra yang tadinya sudah panik malah semakin panik.


Pihak UKS yang menyadari bahwa Auren sudah dalam keadaan kritis pun langsung memanggil supir ambulans dan membawa Auren ke Rumah Sakit terdekat.


"Saya ikut bu." Ucap Gendra dengan memegang lengan baju pihak UKS.


"Silahkan, kamu masuk ke ambulans terlebih dahulu, dan kamu pasti pacar dari Auren kan?" Tanya Ibu-Ibu pihak UKS.


"Benar, saya pacarnya, ada apa Bu?" Tanya Gendra balik kepada ibu-ibu itu.


"Silahkan telfon orang tua Auren. Kamu pasti sudah tau siapa orang tua Auren disini kan?" Jawab Ibu-Ibu pihak UKS.


"Saya tahu, saya akan segera menelfonkannya." Ujar Gendra.


Auren yang tau bahwa Gendra akan menelfon orang tuanya pun menahan tangan Gendra yang kala itu hampir saja akan menekan tanda telpon.


"Jangan Gen. Papa sama Mama pasti akan panik. Mereka sekarang sedang sibuk, jangan ganggu mereka." Ucap Auren dengan nafas yang masih tersenggal-senggal.


"Jika itu mau kamu." Jawab Gendra, ia pun langsung mematikan handphonenya dan memasukannya ke saku celana.


"Sekarang kita harus segera pergi ke Rumah Sakit." Ucap Gendra dengan mendorong tempat tidur UGD/IGD yang ditiduri oleh Auren.


Setelah masuk ke dalam ambulans, supir ambulans langsung bergegas mengendarai ambulans itu untuk menuju ke Rumah Sakit terdekat.


Di dekat sekolah, terdapat Rumah Sakit yang jaraknya lumayan dekat, hanya memakan waktu 15 menit dari sekolah. Ambulans itu pun menuju ke Rumah Sakit itu.


Setelah sampai, Gendra dan ibu-ibu pihak UKS pun langsung menurunkan tempat tidur IGD yang di tiduri itu dan langsung masuk kedalam Rumah Sakit.


Di dalam, tidak ada yang boleh masuk, semuanya hanya boleh menunggu di depan pintur ruang IGD.


"Maaf, tidak ada yang boleh masuk." Ucap suster yang menangani Auren.


"Tapi... " Saat Gendra mau melanjutkan perkataannya, suster itu segera membawa masuk Auren kedalam ruangan.


"Suster!" Sentak Gendra kepada sang suster.

__ADS_1


Suster tidak menanggapi sentakan Gendra dan langsung menutup pintu IGD.


"Sial!" Sentak Gendra yang kala itu sedang diselimuti oleh rasa khawatir.


"Gendra, duduklah disini." Ajak Ibu-Ibu UKS itu kepada Gendra.


"Jangan khawatir, Auren memiliki tubuh yang kuat walaupun penyakit selalu saja menyerangnya." Ujar ibu-ibu UKS untuk menenangkan Gendra.


"Saya tau Bu, dia memang tidak lemah, tapi saya tetap saja khawatir dengan dirinya." Jawab Gendra.


"Saya nanti akan memarahi gadis yang bertengkar dengan Auren." Ujar Gendra dengan nada penuh amarah.


"Tidak. Itu hanya akan menambah masalah." Jawab Ibu-Ibu UKS untuk menyadarkan Gendra bahwa solusi dari jalan ini bukanlah balas dendam.


Saat Gendra akan membalas perkataan Ibu-Ibu UKS itu, suster membuka pintu IGD dan menyampaikan tentang kondisi Auren.


"Permisi, apakah Anda keluarga dari pasien ini?" Tanya suster itu.


"Saya kekasihnya, bagaimana kondisi kekasih saya?" Tanya Gendra.


"Anda kekasihnya? kondisi kekasih Anda sudah mendingan, dan sekitar satu jam lagi sudah boleh pulang." Jawab suster kepada Gendra.


"Saya boleh masuk kan sus?" Tanya Gendra lagi.


"Tentu." Jawab suster.


Gendra pun langsung masuk kedalam ruangan dan mendapati Auren yang hidungnya terdapat alat bantu bernafas.


Gendra yang tahu bahwa Auren memaksakan dirinya untuk beranjak dari tempat tidur pun akhirnya menahan Auren untuk tidak beranjak.


"Tidak, jangan beranjak dari tempat tidur dulu, kondisimu belum memungkinkan untuk hal itu." Ujar Gendra melaranng Auren untuk tidak beranjak dari tempat tidur.


"Aku ingin bangun Gen." Ucap Auren kepada Gendra agar Gendra membantuny untuk bangun.


"Tidak. Tidurlah, istirahat agar kondisimu lebih membaik lagi." Jawab Gendra ketik mendengar Auren ingin bangun.


"Tapi aku sudah membaik, nafasku sudah mendingan." Ujarnya.


"Aku sudah mengatakan tidak, Auren." Jawab tegas Gendra agar kekasihnya itu istirahat lagi.


"Nanti setelah istirahat, kamu sudah boleh pulang." Ucap Gendra.


"Aku tahu, suster sudah mengatakannya padaku." Jawabnya.


"Dan?... Ibu UKS?" Ucap Auren.


"Terimakasih sudah mau membantu Auren." Ujar Auren berterimakasih kepada Ibu-Ibu UKS.


"Itu sudah menjadi bagian dari tugas Ibu." Ucap Ibu-Ibu petugas UKS.


"Sekali lagi terimakasih Bu, sudah menolong Auren." Jawab Auren berterimakasih lagi.

__ADS_1


"Sama-sama nak, bagaimana kondisimu sekarang? sudah membaik kan?" Tanya ibu-ibu petugas UKS kepada Auren.


"Sudah Bu, sudah membaik." Jawab Auren.


"Dan apakah kamu jadi menelfon Ayah dan Ibuku Gendra?" Tanya Auren kepada Gendra, Auren berharap Gendra belum menelfon orang tuanya.


"Tentu belum, aku menunggu persetujuan darimu." Jawab Gendra jujur.


"Terimakasih." Ucap Auren.


"Sekarang, kenapa kita tidak pulang saja?" Tanya Auren.


"Tunggu setengah jam lagi Auren. Suster berkata kau boleh pulang setelah beristirahat 1 jam." Ucap Gendra.


"Yaaa baiklah, bagaimana jika kita keluar? aku lapar." Ujar Auren mengajak Gendra dan ibu-ibu petugas UKS.


"Aku akan membelikannya untukmu, kamu disini saja. Biarkan aku yang keluar mencari makanan." Ucapnya.


"Aku akan disini bersama dengan Ibu petugas UKS saja." Jawab Auren kepada ucapan Gendra tadi.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Gendra.


"Nasi goreng, kalau Ibu mau makan apa?" Tanya Auren kepada Ibu petugas UKS.


"Tidak usah. Ibu tadi sudah makan." Jawab Ibu petugas dengan senyum dan nada yang lembut.


"Benarkah Bu?" Tanya Auren lagi untuk memastikan.


"Tentu saja Auren, masa Ibu berbohong." Ucap Ibu petugas.


"Aku tidak akan memaksa Ibu, tapi Gendra, tolong berikan Ibu nasi goreng juga." Ujar Auren.


Ibu petugas UKS pun terkejut dengan perkataan Auren yang jauh dari ekspektasi dirinya.


"Kamu mau nasi goreng apa?, dan Ibu?" Tanya Gendra.


"Nasi goreng spesial 2 saja." Jawab Auren.


"Baiklah, tunggu sebentar, aku akan mencarinya." Ucap Gendra dengan mengelus kepala Auren.


"Ada Ibu petugas Gen!" Marah Auren karena Gendra mengelus kepalanya di depan Ibu petugas.


"Ibu tidak keberatan kan Bu?" Tanya Gendra kepada Ibu petugas UKS.


"Tentu tidak." Jawab Ibu petugas dengan senyum yang terukir di wajahnya.


"Tuh! Ibu petugas saja tidak keberatan! apa jangan-jangan kamu yang keberatan?" Tanya gurau Gendra kepada Auren.


"Tentu tidak! aku hanya tidak enak kepada Ibu petugas!" Jawab Auren.


"Omong-omong Bu, maaf jika saya tidak sopan, tapi bolehkah saya tahu nama Ibu? akan lebih tidak sopan jika saya terus memanggil Ibu dengan sebutan Ibu petugas." Ucap Auren.

__ADS_1


"Oh tentu saja! nama Ibu Hartini, biasa dipanggil Bu Har."


__ADS_2