
Sebelumnya -
"Ya." Jawab Auren singkat, padat, dan jelas.
Ya, disini Gendra tau bahwa Auren sudah sangat marah, jadi dia tidak berani untuk bercanda.
"Maafkan aku." Ucapnya lagi.
Tidak ada jawaban atau tanggapan dari Auren. Auren hanya mengabaikanya dan dia sedang sibuk menyantap menu makan siangnya itu.
- Terbaru -
"Habiskan Auren. Aku tau kamu suka nasi goreng, jadi tadi aku pesan nasinya dibanyakin." Ucap Gendra.
Auren yang mendengar hal itu pun langsung tersipu malu karena nasi goreng itu habis dalam sekejap.
"Ngga usah malu, jika kamu suka, maka katakan suka." Ucap Gendra agar Auren tidak malu.
"Kamu ngga makan?" Tanya Auren kepada Gendra.
"Tidak. Aku sudah kenyang." Jawab Gendra mendengar pertanyaan Auren.
"Terakhir makan jam berapa?" Tanya Auren lagi.
"Jam enam pagi." Jawab Gendra.
"Astaga Gendra! itumah sarapan pagi! sekarang sudah jam 12! makan! sini aku suapin aja!" Ucap Auren marah karena bisa-bisanya Gendra mengaku sudah kenyang padahal ia terakhir makan jam 6 pagi.
"Aaaa" Ucap Auren mengode Gendra untuk membuka mulutnya.
Hap!
"Enak kan?" Tanya Auren.
"Iya." Jawab Gendra.
"Makan yang banyak! aku gamau punya pacar kurus kering!" Ujar Auren khawatir.
"Iyaa sayangg." Jawab Gendra.
"Jangan cuma iya sayang iya sayang doang! ini makan sendiri!" Sentak Auren marah kepada Gendra.
"Suapinn, nanti kalo ngga di suapin aku mau mogok makan aja deh." Ucap Gendra dengan nada manja.
"Dasar bayi gede!" Sentak Auren yang kesal namun juga salting.
"Ya iya dong bayi gede! kalo bayi kecil kamu belum waktunya." Ujar Gendra membuat Auren terkejut akan apa yang dia ucapkan.
"Heh! tapi ya semoga kita jodoh sih." Jawab Auren.
__ADS_1
"Semoga, kita juga harus berjuang biar bisa berjodoh." Ucap Gendra.
"Tentu sajaa! sekarang sudah jam satu, aku boleh pulang. Sebentar, aku mau mengurus administrasi Rumah Sakit terlebih dahulu." Ujar Auren kegirangan.
"Iya sayang, mari kita pulang kerumah dan berbicara tentang keadaanmu dengan Papa dan Mama." Ucap Gendra.
"Tidak, jangan dirumah, biar aku saja yang mengatakannya di telepon." Jawab Auren.
"Jika itu yang kamu mau."
Auren pun memberanikan diri untuk menelfon orang tuanya dan memberi kabar bahwa panick attack yang dia idap kembali kambuh.
"Ada apa Auren?" Tanya sang Ayah yang sedikit heran kepada putrinya yang tiba-tiba saja melpon dirinya.
"Pa, Auren mau bilang sesuatu ke Papa, tapi Papa jangan bilang ke Mama dulu ya!" Jawab Auren sedikit takut.
"Tentang apa dulu?" Tanya Ayah Auren lagi dibalik telepon.
"Tentang Auren Pa." Jawabnya.
"Kalau itu tentang dirimu Ayah tidak bisa merahasiakannya Auren." Ucap Ayah Auren. Ayah Auren menolak dikarenakan saat sang Ayah menikah dengan Ibunda Auren, janji pernikahan tersebut berbunyi 'Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dengan pasanganmu, dan jangan pernah membohonginya'.
"Ayah!" Teriak Auren karena Ayahnya tidak bisa diajak bekerja sama.
"Yang dikatakan Papa benar sayang, seorang lelaki yang telah menjadi suami tidak boleh berbohong atau menyembunyikan sesuatu dari Istrinya." Ucap Gendra ketika mendengar jawaban mulia seorang lelaki sejati dari Ayah Auren.
Gendra mendengar apa yang diucapkan oleh Ayah Auren karena saat itu, panggilan Auren dengan Ayahnya di speaker dan volume hp Auren di full akan agar mereka bisa mendengar dengan jelas.
"I-itu benar, tapi nanti Ibu akan sangat khawatir!." Jawab Auren berbisik-bisik kepada Gendra agar Ayahnya tidak mendengar percakapan mereka.
"Tidak, Papa sekarang ada di rumah." Jawab Ayah Auren membuat Auren sangat terkejut.
"Loh?! Papa tidak bekerja?" Tanya Auren lagi, dia bingung kenapa Ayahnya bisa ada dirumah. Walaupun dia bertanya untuk memastikan tapi dia masih saja sangat terkejut.
"Papa pulang lebih awal, karena Papa masih ingin dirumah." Jawab sang Ayah membuat Auren saaaangat terharu.
Karena Ayah Auren adalah CEO sekaligus pemilik Perusahaan, jadi tidak terlalu mengejutkan jika Beliau bisa pulang lebih awal dibandingkan karyawannya.
"Mama ada dimana Pa?" Tanya Auren yang mulai memberanikan dirinya untuk bicara yang sebenarnya kepada Ayah dan Ibunya.
"Mamamu ada di dapur, Beliau sedang memasak."' Jawab Ayah Auren.
"Bisakah Papa memberikan handphone Papa kepada Mama?" Tanya Auren sekali lagi.
"Tentu saja." Jawab sang Ayah dengan senang hati.
Ayah Auren pun langsung menghampiri Ibunda Auren untuk memberikan telfonnya kepada Ibunya. Karena Auren ingin berbicara sejenak dengan sang Ibu.
"Halo? Auren?" Panggil sang Ibu ketika Ayah Auren memberikan telefon itu kepadanya.
"Mama! Auren ingin mengatakan sesuatu Ma."' Jawab Auren.
"Mengatakan apa nak?" Tanya Ibunda Auren penasaran akan apa yang ingin disampaikan oleh putrinya itu.
__ADS_1
"Tapi Mama harus berjanji dulu kepada Auren untuk tidak marah saat Auren mengatakannya ya Ma?" Tanya Auren sekaligus menjawab pertanyaan sang Ibu
"Mama tidak berjanji, tetapi Mama akan berusaha untuk tidak marah." Jawab Ibunda Auren.
"Mamaa! yasudahlah....Panick attack Auren tadi sempat kambuh Ma." Ujarnya dengan nada ketakutan.
"?!, APA?! Bagaimana bisa! apakah ada sesuatu hal buruk yang terjadi padamu?!!" Sentak Ibunda Auren panik takut kondisi putrinya semakin parah.
"Iya Ma, tapi keadaan Auren sekarang audah membaik ko Ma, Mama tidak perlu khawatir. Dan Auren akan menjelaskan tragedinya dirumah nanti." Jawabnya menenangkan Ibunya yang sedang panik.
"Hahhh....Baiklah nak, hati-hati saat perjalanan pulang ke rumah!" Ucap Ibu Auren dengan menghela nafas.
Ibu Auren yang sangat terkejut akan apa yang telah terjadi pada anaknya pun menelfon pihak sekolah untuk menanyakan apa yang baru saja terjadi di sekolah.
Karena Ibunda Auren tahu bahwa disekolah yang mengenali Auren sebagai putri pemilik sekolah sangat minim. Bisa saja dia di jahili.
"Ada apa Nyonya?" Tanya kepala sekolah dengan sopan kepada Ibunda Auren dibalik panggilan telepon.
"Saya mau menanyakan tentang apa yang terjadi dengan anak saya ini berkaitan dengan sekolah?" Jawab Ibunda Auren yang juga bertanya untuk memastikan.
"Ohh tentang Nona Auren? itu berkaitan dengan sekolah, Nyonya, maaf, itu kesalahan saya." Ucap kepala sekolah menyesal karena tidak memperhatikan Auren.
"Bisa tolong jelaskan apa tragedi yang terjadi?" Tanya Ibunda Auren.
"Baik saya akan menjelaskannya. Jadi sewaktu mau berbaris dilapangan untuk upacara, Nona Auren terlibat pertengkaran yang awalnya hanya cekcok tetapi semakin lama terjadi adu fisik. Teman Nona, yaitu Gendra sudah berusaha untuk mengehentikan pertengkaran itu tetapi Nona membantah. Sehingga akhirnya beliau sesak nafas dan diduga panick attack beliau kambuh Nyonya." Jawab kepala sekolah menjelaskan dengan terperinci apa yang terjadi.
"Begitu ya, oh dan... Apakah Anda tau orang yang cekcok dengan putri saya?" Tanya Ibunda Auren.
"Saya tahu, Nyonya. Namanya adalah Angelina Lee. Putri dari Direktur Lee Group. Yaitu Johannes Lee." Jawab kepala sekolah.
"Baik, Terimakasih."
Setelah berterimakasih, Ibu Auren menutup panggilan telepon dan lanjut menghubungi CEO Lee untuk meminta pertanggung jawaban.
"Halo? Nyonya Antara? ada apa anda menelfon saya?" Tanya Johannes Lee yang adalah Ayah dari Angelina, orang yang telah membuat panick attack Auren kambuh dan yang tadi di sekolah sempat cekcok dengan Auren.
"Saya mau meminta pertanggung jawaban Anda tentang kondisi anak saya Pak." Jawab Ibu Auren dengan tegas.
"Saya mau meminta pertanggung jawaban Anda tentang kondisi anak saya Pak." Tanya Johannes kebingungan dengan apa yang Ibu Auren ucapkan pada dirinya.
"Putri Anda, Angelina Lee, sudah membuat kondisi anak saya sempat drop. Saya tidak terima dengan perlakuan anak bapak kepada anak saya!" Tegas Ibu Auren membentak Direktur Lee.
"Apa? tidak mungkin anak saya melakukan hal seperti itu." Jawab Johannes membantah pernyataan Ibu Auren.
"Apakah saya perlu menambahkan seorang saksi di telepon ini?" Ucap Ibu Auren yang sengaja 'menyinggung' Johannes.
"Silahkan." Jawab singkat Johannes.
Ibunda Auren pun menambahkan kepala sekolah kedalam room telfon mereka dan meminta kepala sekolah untuk menjelaskan tragedi yang sempat terjadi di sekolah.
"Kepala sekolah, silahkan jelaskan dengan RINCI tentang tragedi yang tadi sempat terjadi di sekolah." Tegas Ibunda Auren yang emosinya sudah meluap-luap namun tetap berusaha bersabar demi martabat.
"Baik Nyonya. Jadi Angelina Lee terlibat perkelahian dengan Nona Auren. Itu perkelahian yang entah dari awal ada permasalahan apa dengan mereka tapi yang jelas putri Andalah yang memulai perkelahian itu. Perkelahian antara mulut dengan mulut yang saat dibiarkan malah menjalar menjadi adu fisik. Itu membuat panick attack Nona Auren kambuh dan ia dilarikan kerumah sakit terdekat." Ucap kepala sekolah dengan tenang di room telepon itu.
__ADS_1
"Apakah itu masih kurang? nanti akan saya carikan bukti lebih lanjut." Ujar Ibu Auren dalam panggilan telepon yang masih berlanjut.