
Sebelumnya -
Ibunda Auren pun menambahkan kepala sekolah kedalam room telfon mereka dan meminta kepala sekolah untuk menjelaskan tragedi yang sempat terjadi di sekolah.
"Kepala sekolah, silahkan jelaskan dengan RINCI tentang tragedi yang tadi sempat terjadi di sekolah." Tegas Ibunda Auren yang emosinya sudah meluap-luap namun tetap berusaha bersabar demi martabat.
"Baik Nyonya. Jadi Angelina Lee terlibat perkelahian dengan Nona Auren. Itu perkelahian yang entah dari awal ada permasalahan apa dengan mereka tapi yang jelas putri Andalah yang memulai perkelahian itu. Perkelahian antara mulut dengan mulut yang saat dibiarkan malah menjalar menjadi adu fisik. Itu membuat panick attack Nona Auren kambuh dan ia dilarikan kerumah sakit terdekat." Ucap kepala sekolah dengan tenang di room telepon itu.
"Apakah itu masih kurang? nanti akan saya carikan bukti lebih lanjut." Ujar Ibu Auren dalam panggilan telepon yang masih berlanjut.
- Terbaru -
"Tidak Nyonya, saya sudah cukup mendengar penjelasan terkait apa yang telah diperbuat oleh putri saya. Jadi, apa yang Nyonya ingin saya lakukan sebagai permintaan maaf?" Tanya Johannes Lee kepada Ibu Auren dengan sopan & tenang.
"Saya tidak meminta pertanggung jawaban terkait kondisi anak saya, tapi, saya ingin Anda memberi putri Anda nasihat yang dirasa benar dan masuk kedalam hatinya. Sekian, saya akan tutup panggilan teleponnya." Jawab Ibu Auren dengan tegas karena kesal dengan perlakuan yang telah di terima oleh anaknya itu.^^^
Setelah menutup panggilan telepon, Ibu Auren mendatangi rumah sakit dimana Auren sempat dilarikan. Beliau datang dengan tujuan membawa Auren pulang ke rumah mereka.
"George, siapkan mobil, kita akan berangkat ke rumah sakit dimana putriku dilarikan." Ucap Ibu Auren kepada George, kepala pelayan dirumah mereka.
"Baik, Nyonya." Jawab George tanpa basa-basi.
George pun menyiapkan mobil sesuai yang dikatakan oleh Nyonya rumah dimana ia bekerja.
"Terimakasi George." Ucap Ibu Auren tidak lupa berterimakasih oleh George karena ia telah menuruti perkataannya.
"Tidak apa-apa Nyonya." Jawab George.
"Supir, tolong antarkan aku ke rumah sakit Cahaya Permata." Ucap Ibu Auren kepada supir yang akan mengantarkan dirinya.
"Baik Nyonya."
(Ibu Auren tahu bahwa Auren berada di rumah sakit Cahaya Permata karena kepala sekolah yang menyampaikan informasi bahwa Auren dilarikan kesana oleh pihak UKS).
****Untuk sampai ke rumah sakit Cahaya Permata membutuhkan waktu perjalanan sekitar 20 menit dari kediaman keluarga mereka****
Selama di perjalanan, Ibu Auren menelepon Auren menggunakan nomor Handphone Gendra.
"Gendra?! Auren! apakah dia baik-baik saja?!" Tanya Ibu Auren kepada Gendra di panggilan telepon mereka.
__ADS_1
"Auren baik-baik saja Tan, dia sekarang sedang istirahat, dia juga sudah makan." Ucap Gendra menjawab pertanyaan Ibu Auren dengan tenang.
Ibu Auren yang mendengar hal itu pun langsung ikut tenang karena nada bicara Gendra yang juga membantunya untuk tenang.
"Gendra tutup dulu ya Tan, Tante juga pasti sedang dalam perjalanan kan?" Tanya Gendra sedikit risih jika menggunakan telepon.
"Baiklah, akan Tante tutup." Jawab Ibu Auren mengerti dengan perasaan Gendra.
Setelah berkata seperti itu, Ibu Auren pun menutup panggilan dan segera bergegas menuju rumah sakit.
"Supir, bisa tolong lebih cepat?" Tanya Ibu Auren yang sudah sangat panik.
"Sudah Nyonya, sebentar lagi kita akan sampai." Jawab sang supir.
Setelah itu, sang supir pun langsung menaikan kecepatan mobil dan tidak lama akhirnya mereka tiba dirumah sakit.
"Nyonya, kita sudah sampai." Ucap supir itu memberitahu Ibu Auren bahwa mereka sudah sampai.
"Terimakasih." Jawab Ibu Auren.
Ibu Auren segera masuk ke rumah sakit, setelah diperbolehkan masuk, ia langsung bergegas menuju kamar dimana Auren berada.
"Sus, pasien dengan nama Auren Aurendra?" Tanya Ibu Auren kepada suster yang berjaga di administrasi.
"Saya Ibunya, bisa tolong segera beritahu kamarnya ada dimana?" Ucap Ibu Auren meminta untuk segera diberitahu.
"Ada di lantai dua, kamar nomor satu." Jawab suster yang menjawab dengan segera.
"Baik, terimakasih."
Ibunda Auren segera naik ke lantai dua dan menuju ke kamar nomo satu dimana letaknya paling dekat dengan lift.
"Ting"
Bunyi dari lift yang menandakan ia sudah tiba di lantai dua.
Ibu Auren langsung bergegas untuk menuju ke kamar nomor satu, dimana putrinya terbaring.
"Auren!" Panggil Ibu Auren terengah-engah.
"Mama?!" Saut Auren terkejut melihat kedatangan Ibunya yang dirasa sangat cepat.
"Auren! bagaimana kondisimu nak?! Mama sangat khawatir pada dirimu!" Jawab Ibu Auren dengan suara khawatir, sangat khawatir akan kondisi putri tercintanya.
__ADS_1
"Auren sekarang sudah baik-baik saja Ma, Auren sudah kembali sehat! bagaimana jika kita pulang? Auren ingin pulang... " Ujar Auren sangat menginginkan pulang, karena baginya, rumah adalah tempat ternyaman yang ada di hidupnya.
"Tunggu ya sayang? tunggu dokter mengecek kondisimu sekali lagi." Ucap Ibu Auren masih khawatir akan kondisi putrinya, walau putrinya sudah berkata bahwa dirinya baik-baik saja.
"Tapi Ma! Auren mau pulang sekarang... "
"Tunggu sayang, dokter akan segera tiba untuk memeriksa dirimu." Jawab Ibu Auren sabar walau Auren memberontak.
Sesuai dengan apa yang dikatakan Ibu Auren, dokter pun tiba dan segera memeriksa kondisi Auren.
"Bagaimana kondisi putri saya dok?" Tanya Ibu Auren khawatir.
"Anak Ibu sudah diperbolehkan untuk pulang." Jawab dokter.
"Syukurlah... " Ucap Ibu Auren lega mendengar jawaban dokter.
"Bagaimana Ma? ayo kita pulang sekarang!" Saut Auren gembira setelah dokter bilang dirinya boleh pulang.
"Ba-baiklah sayang, mari kita pulang." Jawab Ibu Auren.
"Akhirnya... Ayo Ma! Auren sangat ingin beristirahat dirumah." Ucap Auren sangat gembira.
"Baik, mari Gendra, kita pulang." Ujar sang Ibu.
Mereka pun akhirnya keluar dari kamar dan sebelum pulang tidak lupa mengurus administrasi rumah sakit.
"Sus, berapa total administrasi anak saya?" Tanya Ibu Auren kepada suster.
"Totalnya sekitar satu juta lima ratus ribu Bu." Jawab sang suster. *Biaya rumah sakit mahal karena Auren menggunakan kamar sementara VIP.
"Baik." Ucap Ibunda Auren yang tidak terkejut, karena yaa... Uangnya sudah menumpuk.
Setelah itu, Ibu Auren mengeluarkan uang cash dan segera membayarnya. Sesudah membayar, mereka segera pergi keluar untuk pulang.
"Mari Auren, mobil Mama ada disana." Ucap Ibu Auren mengarahkan Auren ke mobil milik Ibunya.
"Baik Ma! ayo Gendra! dan... Bu Har? Ibu akan saya antar kerumah Ibu." Ujar Auren kepada Bu Hartini yang sudah menolongnya.
"Tidak usah Auren, Ibu pulang naik ojek saja." Jawab Bu Har merasa tidak enak kepada Auren.
"Ibu yang sudah membantu anak saya kan? akan saya antar dengan senang hati Bu, Anda tenang saja." Saut Ibu Auren dengan senyuman, ia dengan sennag hati memberi tumpangan kepada Bu Hartini yang telah menolong putri kesayangannya.
"Ta-tapi Nyonya, saya bisa naik ojek, Anda tidak perlu repot-repot mengantar saya kerumah saya." Ujar Bu Hartini yang terus saja menolak tawaran Auren dan Ibunya.
__ADS_1
"Saya tidak merasa direpotkan, dan... Jangan panggil saya Nyonya, Anda lah yang sudah membantu anak saya, sudah seharusnya saya melakukan ini untuk membalas hutang hudi saya pada Anda bukan?" Tanya Ibu Auren menyudutkan Bu Hartini.