Pacar Nakal Murid Pendiam

Pacar Nakal Murid Pendiam
Kekhawatiran tak Terbatas (II)


__ADS_3


Sebelumnya -



"Tuh! Ibu petugas saja tidak keberatan! apa jangan-jangan kamu yang keberatan?" Tanya gurau Gendra kepada Auren.


"Tentu tidak! aku hanya tidak enak kepada Ibu petugas!" Jawab Auren.


"Omong-omong Bu, maaf jika saya tidak sopan, tapi bolehkah saya tahu nama Ibu? akan lebih tidak sopan jika saya terus memanggil Ibu dengan sebutan Ibu petugas." Ucap Auren.


"Oh tentu saja! nama Ibu Hartini, biasa dipanggil Bu Har."


- Terbaru -


"Baiklah, saya mulai hari ini akan memanggil Ibu Bu Har." Ucap Auren sambil tersenyum menghadap Bu Har.


"Tentu." Balas Bu Hartini.


"Oh iya Bu, saya mau tanya, soal Ayah saya, apakah beliau memang tidak pernah datang ke sekolah?" Tanya Auren kepada Bu Hartini.


"Pak Ferdinand? bapak Ferdinand sering ke sekolah ko, beliau terkadang ke sekolah untuk mengecek tentang bagaimana fasilitas disana dan tentang bagaimana perkembangan murid-muridnya." Jawab Bu Hartini menjelaskan.


"Ohh begitukah Bu? terimakasih sudah menjawab pertanyaan saya." Ucap Auren berterimakasih kepada Bu Hartini.


"Memangnya ada apa Auren?" Tanya Bu Hartini.


"Tidak ada apa-apa Bu, saya hanya ingin tahu tentang seberapa sibuknya Ayah." Jawab Auren.


"Oh begitukah? pak Ferdinand itu orang yang sangat sibuk, tapi dia beruntung karena dia berada di keluarga yang tepat." Jelas Bu Hartini.


"Iya Bu, Ayah memang sangat beruntung." Ucap Auren yang mengakui bahwa memang Ayahnya itu adalah orang yang sangat beruntung, karena Ayahnya mendapat istri sebaik Ibunya, dan keluarga yang kaya akan harta dan kasih sayang.


"Oh iya nak Auren. Bukannya ini sudah lebih dari lima puluh menit semenjak Gendra pergi keluar untuk membeli Nasi goreng ya?" Tanya Bu Hartini yang mulai khawatir.


"Betul Bu, ini sudah lebih dari 50 menit, tapi kenapa Gendra belum kembali juga?" Ucap Auren yang ikut khawatir.


"Aku akan mencoba menelfonnya terlebih dulu." Ucapnya lagi.


Auren pun langsung membuka ponselnya dan mencoba untuk menelfon Gendra menggunakan nomornya, tetapi tidak ada respon dari Gendra. Auren juga sudah memberinya pesan chat namun juga belum terkirim.


Auren yang saat itu belum 100% sembuh dari panick attack nya itu pun perlahan-lahan mulai merasakan sesak nafas karena ia terlalu khawatir pada Gendra.


"Huh hah huh hah huh hah." Nafas Auren mulai tersenggal-senggal karena rasa kekhawatiran mulai menyelimuti dirinya.


"Nak Auren?!" Sontak Bu Hartini saat melihat Auren kesusahan bernafas.


"Bu Ha-Hartini, to-tolong pa-pang-gilkan dok---ter." Lirih Auren meminta bantuan Bu Hartini.


"Dokter!! dokter!!" Teriak Bu Hartini memanggil suster dan dokter.

__ADS_1


Tidak lama, suster dan dokter pun akhirnya datang ke ruang IGD tempat Auren beristirahat.


"Nafasnya sesak dokter." Ucap Bu Hartini memberi keluhan yang di derita Auren.


"Dia hanya butuh ketenangan sedikit lebih lama." Ujar Dokter yang menangani Auren.


"Baik, saya yang akan menenangkannya." Ucap Bu Hartini.


"Adinda Auren baru boleh pulang setelah 1,5 jam di Rumah Sakit." Ujar Dokter.


"Baik Dok." Jawab Bu Hartini.


Auren setelah alat bantu nafasnya dibenarkan oleh dokter langsung menjadi sedikit tenang, karena tadi posisi alat bantu nafasnya salah.


Tidak lama setelah dokter keluar datanglah Gendra membawa Nasi goreng pesanan Auren.


"Aku sampai! ini nasi gorengmu sayang." Ucap Gendra merayu Auren.


Auren yang jengkel kenapa tadi Gendra tidak bisa dihubungi pun akhirnya mengabaikan Gendra yang ada di hadapannya itu.


Gendra pun menjadi kebingungan, kenapa tiba-tiba Auren menjadi ketus? itu yang dipertanyakan oleh dirinya di dalam otaknya.


"Sayang?! ada apa?!" Tanya Gendra khawatir kepada Auren.


Tidak ada jawaban dari Auren. Auren hanya diam saja mengabaikan pertanyaan Gendra.


"Sayang?!" Tanya Gendra sekali lagi.


Tetap tidak ada jawaban dari Auren, akhirnya Bu Hartini turun tangan untuk mengatakan alasan mengapa Auren mengabaikan Gendra padahal dia ada di hadapannya.


"Begitukah Auren? maafkan aku, handphoneku mati karena aku tidak membawa power bank ataupun cas, maaf." Ujar Gendra menyesal.


"Aku tidak memaafkanmu." Ucap Auren yang akhirnya mau berbicara.


"Auren? kenapaa?" Tanya Gendra terheran-heran.


"Kau tahu?! aku hampir saja mati karena khawatir akan keadaanmu!! tadi nafasku sesak lagi, jadi aku ditahan disini selama 1,5 jam. AKU INGIN PULANG SEKARANG GEN!" Ucap Auren marah semarah-marahnya pada Gendra.


"Maaf, maafkan akuu Auren! aku salah! aku salah! maafkan aku!" Ujar Gendra berusaha agar Auren memaafkannya.


"Kali ini aku akan memaafkanmu karena aku masih menyayangimu! Gunakan kesempatan ini untuk hal baik! terimakasih nasi gorengnya!" Ucap Auren.


"Bolehkah aku menyuapimu?" Tanya Gendra agar Auren tidak marah lagi.


"Sedikit saja." Jawab Auren menerima tawaran Gendra.


"Aaaaa." Ucap Gendra menyuruh Auren untuk ikut mengatakan aaaa.


Hap!


"Enak?" Tanya Gendra kepada Auren yang tampak menikmatinya.

__ADS_1


"Enak." Jawab Auren.


"Bu Hartini silahkan makan Bu." Ucap Auren mempersilahkan Bu Hartini untuk makan.


"Terimakasih." Balas Bu Hartini karena sudah dibelikan.


"Sama-sama Bu." Jawab Auren dengan nada manis.


"Kamu sangat cantik." Ucap Gendra dengan mendongakan dagu Auren pelan.


"Terimakasih." Jawab Auren.


"Kamu tahu Auren? nanti pukul satu kita akan pulang, dan aku akan berdiam diri di rumahmu selama satu jam." Ucap Gendra kepada Auren.


"Kenapa memangnya?" Tanya Auren bingung.


"Ko kamu malah bertanya? bukannya itu seharusnya menyenangkan?" Jawab Gendra terheran-heran kepada Auren.


"aku tau itu menyenangkan, tapi apa alasannya? kamu tidak sibuk dengan tugasmu yang lain?" Ucap Auren.


"Jika itu untukmu tidak ada kata sibuk Auren." Ujarnya.


"Sudah! aku mau makan." Jawab Auren yang kala itu sedang 'sangat' salting oleh perkataan Gendra.


"Mau makan atau memang salting?" Tanya Gendra menggoda Auren agar tertawa.


"Hiissh! aku laperr!!" Sentak Auren kepada Gendra.


"Iya iya sayang, sabarr." Jawab Gendra yang sedikit mempermainkan Auren karena dia lucu.


"Aku sudah sangat lapar! kamu terus saja mempermainkanku." Ucap Auren dengan nada merajuk.


"Kamu sangat lucu saat marah." Balas Gendra.


"Aku tidak peduli apakah aku lucu atau tidak dimatamu! tapi untuk sekarang aku lapar!" Ujar Auren jengkel kepada Gendra.


"Sini! biar aku makan sendiri saja!" Marahnya, berusaha mengambil piring berisikan nasi goreng yang sedang Gendra pegang.


"Eiiitss! tidak bisa!" Goda Gendra agar suasana hati Auren dan kesehatannya meningkat.


"GEN!" Sentak Auren yang bukannya tertawa malah makin marah kepada Gendra.


Gendra yang tau bahwa ini bukan saatnya bercanda pun memberikan piring itu kepada Auren yang dahinya sudah sangat mengkerut.


Jika Gendra tidak memberikan piring itu kepada Auren, Auren pasti akan lebih marah dan tidak akan memaafkannya.


"Ini sayang, makanlah." Ucapnya.


"Hm."


Disini Gendra tau bahwa Auren sudah sangat marah, jadi dia tidak berani untuk bercanda.

__ADS_1


"Maafkan aku." Ucapnya lagi takut Auren marah dengannya.


Tidak ada jawaban atau tanggapan dari Auren. Auren hanya mengabaikanya dan dia sedang sibuk menyantap menu makan siangnya itu.


__ADS_2