
Dihari yang cerah di musim panas di Jepang, Panas matahari begitu terik hingga seorang Pemuda yang bernama Viel Ardhana berteduh di halte bus.
Dia saat ini sedang menunggu bus, "Huh.. Panasnya kalau bukan karena ada acara sesi tanda tangan masasih kishimiti hari ini, Mana mau Aku keluar mending bobo aja ya kan."
Wush..
Suara angin berhembus membuat pohon pohon seperti menari, Serta kicauan burung yang mengiringi begitu menenangkan hati.
Tak terasa 30 menit berlalu tapi bus yang ditunggu tidak kunjung datang membuat Viel kesal.
"Hm.. Harusnya 10 menit lalu itu jadwal bus kok masih belum lewat?" Ucap Viel sembari menghela nafas panjang.
"Apa Aku tunggu 5 menit lagi ya? Kali aja dateng 5 menit lagi kalau ga lebih baik pulang ajalah."
5 Menit kemudian
"Hadeh pulang aja lah." Viel segera beranjak pergi dari halte menuju rumahnya dengan suasana hati yang buruk.
Apalagi jarak halte bus dengan rumahnya Viel cukup jauh karena terpisah hutan, rumah Viel berada di pinggiran desa karena itu perlu waktu sekitar 30 menit kalau berjalan kaki dari halte bus ke rumahnya.
5 menit lebih 6,7 detik setelah Viel berjalan sebuah keanehan muncul.
Dari yang tadinya pohon - pohon bergoyang karena angin tiba - tiba semuanya berhenti bergerak dan juga muncul simbol - simbol dibawah kaki Viel membentuk lingkaran.
"Apa - apaan ini." Sontak Viel berusaha keluar dari lingkaran tersebut, tapi sepertinya sudah terlambat.
Tepat saat Viel mau bergerak tiba - tiba ada cahaya terang berasal dari simbol dibawah kakinya.
"Hadeh kena masalah nih." Viel mengambil ponsel yang berada disaku celananya lalu melemparkan ponsel tersebut keluar lingkaran.
"Huh.. Untung aku udah tau bakal kena masalah, tunggu Abangmu ini ya Yuki." Ucap sedih Viel karena harus berpisah dengan Adiknya.
Note : Viel tidak lari karena luas lingkaran tersebut cukup luas yaitu berdiameter sekitar 100 meter.
Wush..
Bersamaan angin berhembus Viel menghilang dari Bumi, Dan keadaan sekitar Viel tadi kembali seperti keadaan semula.
......................
Disuatu Planet bernama Arctirus, Lebih tepatnya di sebuah Kekaisaran di Arctirus. Yang berada di Benua Rietum atau bisa dibilang bagian barat Planet Arctirus.
Kekaisaran Astonia merupakan salah satu dari 3 Penguasa yang menguasai wilayah di Benua Rietum.
Dan saat ini didalam salah satu istana Kekaisaran Astonia, Akan diadakan sebuah ritual pemanggilan Pahlawan.
"Paduka Kaisar persiapan pemanggilan Pahlawan telah selesai, Dan ritual pemanggilan akan siap dilaksanakan kapan saja Yang Mulia Marcus Aurelius V Astonia." Ucap seorang Penyihir Agung yang bernama Merga Bien.
__ADS_1
"Bagus, Kalau begitu semua bersiap diposisi masing - masing dan Aku perintahkan semua prajurit agar bersiap untuk keadaan terburuk dan utamakan keselamatan apabila ritual gagal." Ucap tegas Kaisar Marcus Aurelius V Astonia.
"Ayahanda apakah ritual ini akan berhasil?" Tanya Seorang gadis cantik berusia 17 tahun yang sedang duduk disamping Kaisar Marcus.
"Tenang saja Elis semua akan baik - baik saja." Ucap Kaisar Marcus kepada Putrinya yang bernama Elisa Aurelius V Astonia.
"Baik Ayahanda" Balas Elisa dengan tersenyum.
"Baik mulai ritual pemanggilan Pahlawan sekarang." Perintah Kaisar Marcus kepada para Penyihir.
Mendengar perintah sang Kaisar, Para Penyihir mulai merapalkan mantra - mantra.
Wush..
Walaupun dalam ruangan tapi Angin mulai berputar disekitar lingkaran pemanggilan Pahlawan.
1 Jam lebih kemudian..
Lingkaran pemanggilan Pahlawan mulai bersinar dan wush..
Asap putih mengelilingi lingkaran pemanggilan Pahlawan.
......................
"Ugh dimana ini." Ucap Viel sembari mengamati sekitar.
"Apa? Dimana ini? Siapa kalian?" Ucap Viel saat melihat bahwa dia dikelilingi banyak orang serta pemandangan yang tidak dikenal, Ya wajar saja karena Arsitektur bangunan mirip dengan peradapan Abad 15.
"Tenangkan dirimu wahai Pahlawan." Ucap Seorang pria tua yang duduk di sebuah Singgasana.
Note : Singgasana adalah tempat duduk Seorang Raja.
Mendengar Pria tua itu bisa berbicara dengannya Viel berusaha menenangkan diri lalu mulai berbicara.
"Hm.. Baiklah sekarang aku sudah tenang maka mohon jawab pertanyaan yang akan Aku ajukan." Ucap Viel kepada Pria tua tersebut.
"Baik Diriku akan menjawab semua pertanyaan yang akan kau ajukan, Sebelum itu biarkan diriku memperkenalkan diri." Pria tua tersebut lalu berdiri.
"Diriku merupakan Seorang Kaisar dari Kekaisaran Astonia, Marcus Aurelius V Astonia." Ucap pria tua tersebut yang tidak lain Kaisar Marcus.
"Nama saya adalah Viel Ardhana Yang Mulia Kaisar Marcus Aurelius V Astonia." Balas Viel dengan sedikit menganggukkan kepala.
"LANCANG." Ucap seorang Pria dengan baju zirah berwarna perak dengan menggenggam sebuah pedang di lengan kanan yang di acungkan ke arah Viel.
"DIAM." Teriak Kaisar Marcus kepada Pria tersebut yang tidak lain merupakan salah satu Jendral Besar Kekaisaran Astonia.
"Turunkan pedangmu sekarang juga Douglas." Perintah Kaisar Marcus kepada Jendral Besarnya yang bernama Douglas Macrh.
__ADS_1
"Paduka hamba memohon pengampunanmu, Hanya saja Hamba tidak tahan melihat dia begitu arogan didepan Paduka." Ucap Douglas dalam posisi hormat menunduk kepada Kaisar Marcus.
"Diam Douglas, Diriku paham tindakanmu menunjukkan kesetiaan kepada diriku." Ucap Kaisar Marcus kepada Douglas.
"Walau begitu dia ini Pahlawan yang baru saja dipanggil dia pasti belum mengenal dengan baik apa yang harus dia lakukan saat bertemu diriku, Lagi pula walau diriku seorang Kaisar bukan berarti semua Orang harus tunduk padaku." Sambung Kaisar Marcus dengan lembut kepada Douglas.
"Hamba menuruti perintah Paduka Kaisar." Jawab Douglas sembari kembali ke tempatnya semula.
Sedangkan Viel yang mendengar percakapan Kaisar Marcus dengan Jendralnya, Viel paham bahwa watak Kaisar Marcus itu Bijaksana dan bukan Orang jahat.
"Permisi.." Sela Viel saat melihat keduanya sibuk berbicara sendiri hingga Dirinya terabaikan.
"Ah.. Maafkan ketidaksopanan Jendralku wahai Pahlawan." Permintaan maaf Kaisar Marcus yang merasa bersalah mengabaikan Pahlawan padahal Dia yang memanggil Pahlawan kesini.
"Ya tidak apa - apa, Paduka Kaisar." Balas Viel
"Kalau begitu Saya ingin langsung bertanya kenapa Saya dipanggil kemari? Dan apakah ada cara untuk Saya dapat kembali ke Dunia saya?." Tanya Viel kepada sang Kaisar Marcus.
"Sebelum itu biarkan Diriku meminta maaf kepadamu wahai Pahlawan, Kami melakukan pemanggilan Pahlawan untuk mencegah invansi dari bangsa Iblis." Balas Kaisar Marcus.
"Dan soal Dirimu dapat kembali ke Duniamu sebelumnya bisa dilakukan atau tidak, Dengan berat hati Kami tidak memiliki cara mengembalikan Dirimu." Sambung Kaisar Marcus.
"Baiklah Saya paham, Jadi walau Anda tidak memiliki cara untuk mengembalikan saya." Ucap Viel.
"Tapi sepertinya masih ada kemungkinan Saya dapat kembali ke Dunia Saya, Dan soal itu dimana Saya dapat menemukan cara kembali ke Dunia Saya." Sambung Viel dan menatap lurus kepada Kaisar Marcus.
"Seperti yang diharapkan dari Pahlawan Dirimu dapat menangkap maksud Diriku dari ucapanku tadi." Balas Kaisar Marcus sambil menganggukkan kepala.
"Memang Kami tidak memiliki cara mengembalikan Dirimu ke Duniamu, Tapi Pahlawan Pertama mungkin memiliki petunjuk yang Dirimu butuhkan untuk kembali." Sambung Kaisar Marcus dengan serius.
Mendengar perkataan Kaisar Marcus, Viel mulai paham kondisinya saat ini dan juga apa yang harus dilakukan saat ini yaitu menyelesaikan permintaan Kaisar Marcus lalu mencari petunjuk kembali ke Bumi.
"Kalau begitu sebelum Saya melakukan permintaan Paduka, Saya harap diberikan waktu Setidaknya 2 tahun untuk persiapan menghadapi bangsa Iblis." Ucap Viel kepada Kaisar Marcus.
"Ya untuk itu sudah Diriku persiapkan Pelatih yang akan mengajari Dirimu mulai dari dasar, Dan Diriku akan sebaik mungkin menahan invasi Iblis dalam 2 tahun pelatihan Dirimu." Jawab Kaisar Marcus kepada Viel.
"Baiklah Kita sudahi saja pembicaraan ini, Elis antarkan Pahlawan ke kamar yang sudah di siapkan." Perintah Kaisar Marcus kepada Putrinya.
"Baik Ayahanda." Balas Elisa sembari menghampiri Viel.
"Mari Pahlawan Viel." Ajakan Elisa agar Viel mengikuti.
"Hm." Balas singkat Viel.
Dan begitulah Awal kisah perjalanan Viel Ardhana untuk kembali ke Bumi.
......................
__ADS_1