Panggilan Ratu Laut Selatan

Panggilan Ratu Laut Selatan
Prolog - 1


__ADS_3


Hiks... Hiks... Gadis cantik berkaca mata itu menangis tersedu-sedu. Rumahnya sekarang dipenuhi nuansa berkabung, ketika dia tidak seorang diri menangis. Beberapa orang berpakaian hitam yang tidak ia kenal sekarang berkumpul di rumahnya dan sama-sama bersedih tersedu menatap kedua peti mati yang sekarang ada di tengah rumah dan ditaburi bunga-bunga. Kabar duka itu datang tiba-tiba, ketika Kaia masih berada di Sekolah. Siswi cantik berkaca mata kelas 12 SMA yang berusia 17 tahun itupun segera pulang ke rumah begitu seseorang yang mengaku kolega Sang Ayah menelponnya tadi siang.


"Pa.... Ma...." Kaia menyapu air matanya, tapi usahanya itu seakan percuma karena air matanya tak kunjung berhenti jatuh membasahi pipinya yang merona. Pergi. Kedua orang tuanya pergi tanpa ada firasat apapun. Tanpa ada tanda apapun. Tiba-tiba, Kaia yang sedang sekolah ditelpon dan mendengar kabar, kalau kedua orang tuanya yang sedang berada di Laut Selatan karena tugas kantornya mendapat kecelakaan. "Mmm... Mmm..." Gadis itu menangis seorang diri. Tangisannya semakin kencang, karena saat ini, yang ditangisinya hanyalah dua peti mati kosong tanpa ada jasad apapun di dalamnya. Kedua orang tua Kaia, satu-satunya keluarga gadis itu di kota ini tenggelam setelah kapal yang mereka berdua tumpangi tiba-tiba dihantam ombak yang begitu tinggi di Laut Selatan.


Jasad kedua orang tua Kaia tak pernah ditemukan, sejak 72 jam kejadian kapal terbalik itu. Yang ditemukan hanyalah bongkahan pecahan kapal, dan beberapa potongan tubuh yang diidentifikasi merupakan milik penumpang kapal yang lain. Kaia menggeleng. Gadis itu sempat menolak untuk percaya kalau dirinya sekarang sendirian di dunia, ketika ia baru awal-awal menerima kabar kecelakaan itu. Tapi, setelah membolos sekolah menunggu kabar, sekarang setelah tiga hari berlalu, sesuai prosedur pencarian korban, maka kedua orang tuanya dinyatakan telah meninggal. Hik... Hik... Gadis itu terus terisak tanpa ada seorangpun yang mendatanginya. Dia benar-benar sendirian sekarang.


Teman-teman Sekolahnya sempat datang ikut melayat, tapi setelah itu, sama seperti teman-teman kedua orang tuanya, mereka semua pada akhirnya pergi dan meninggalkan Kaia sendirian di rumah. Kedua peti mati orang tuanya itu pun dikubur. Beruntung, ada seseorang dari kolega orang tuanya yang mengurus semua hal itu. Kaia yang masih terpukul, tentu tak bisa berpikir apa-apa. Pandangan gadis itu saja masih kosong dan sesekali tubuhnya masih bergidik ketika isak tangis tak kunjung pergi. Bahkan, ketika rumahnya sudah kembali kosong dan semua yang melayat pergi.


Kaia menghisap bibir. Baru beberapa jam ia sendirian di rumah rasanya ia sudah tak sanggup memikirkan bagaimana nantinya dia hidup seorang diri. Gadis itu kemudian pergi ke kamar kedua orang tuanya. Hik... Hidungnya tersumbat tangis. Kaia juga sempat melepas kaca matanya yang mulai berembun basah akibat isak tangisnya. Bruk.... Gadis itu duduk di atas kasur orang tuanya dan kemudian perlahan berbaring di sana. Bibirnyapun mengkerut. "Papa... Mama...." Gumam Kaia masih belum bisa lepas dari kabar buruk yang memukulnya ini. Berbaring di atas kasur kedua orang tuanya membuatnya bisa mencium aroma kedua malaikat yang menjaganya tanpa pamrih sejak kecil itu. Bukan cuma aroma. Kenangannya waktu kecil, ketika mereka masih tidur bertiga juga datang menghampiri. Sekali lagi, air mata jatuh mengalir hingga membasahi bantal.


Srek... Kaia memiringkan tubuh. Tapi, saat ia melakukannya, ia merasakan ada sesuatu yang aneh di bawah bantalnya. Gadis itu merasa seperti berbaring di atas sebuah kertas. Kaia lalu beranjak duduk dan membuka sarung bantal yang barusan direbahinya. Di dalamnya, ada sebuah surat yang masih terbungkus amplop. Alis Kaia mengkerut melihatnya, dan gadis itu pun menyapu matanya dari air mata agar ia bisa melihat dengan jelas. "Surat?" Kaia terdiam. Gadis itu lantas baru saja teringat sesuatu dan ia bergegas membuka Hpnya. Benar. Ingatannya tidak salah. Sang Ayah mengiriminya pesan untuk membaca surat yang ada di kamar dan tersembunyi di bawah bantal, beberapa saat setelah kedua orang tuanya itu pergi menuju Laut Selatan.

__ADS_1


Awalnya, Kaia tidak menganggap itu terlalu serius sampai gadis itu lupa karena begitu terpukul dengan kabar duka kepergian kedua orang tuanya. Sekarang, setelah meniduri bantal yang menyembunyikan surat itu, barulah gadis itu mengingat hal yang terlewat itu. "Surat apa?" Kaia perlahan membuka amplop yang masih tersegel itu dan menarik secarik kertas di dalamnya.


"Kaia.... Jika kamu membaca surat ini, lalu Papa dan Mama sudah... Tidak ada? Huh!?" Kaia yang membaca itu kaget bukan main. Apa ini!? Apa kedua orang tuanya sudah tahu bakal meninggal sehingga meninggalkan surat ini!? "Sebelum terjadi hal yang aneh-aneh, kamu harus segera pergi ke rumah Kakek Sanjaya." Kakek Sanjaya? Siapa itu? Kaia belum pernah bertemu dengan Kakek ini sebelumnya. Lalu, hal aneh apa yang dimaksud surat Ayahnya ini!? Kaia kemudian membolak-balik surat wasiat itu. Tak ada apa-apa lagi. Setelah kalimat yang menyeru agar Kaia menemui Kakek Sanjaya, di bawahnya ada alamat Kakek Sanjaya serta kode Bank kedua orang tuanya agar Kaia masih bisa menyambung hidup dari uang mereka berdua.


Kaia berkedip-kedip dan membenarkan posisi kaca matanya. Ia kemudian menaruh surat itu di samping dan kembali rebahan di atas kasur kedua orang tuanya. Apa ini!? Surat apa!? Kenapa seolah-olah kedua orang tuanya tahu kalau ajal mereka mau tiba sehingga menulis kalimat itu!? Siapa Kakek Sanjaya!? Kenapa aku harus menemuinya sebelum kejadian aneh mulai terjadi!? Semua pertanyaan itu berputar seperti angin ribut di dalam kepala Kaia. Kondisi mentalnya yang belum sembuh dari duka tambah diperparah dengan berjuta pertanyaan yang hadir.


Hah.... Kaia menghembuskan nafas panjang. Meskipun ia ingin berpikir dan tahu betul itu percuma karena ia juga tak tahu apa-apa, tubuhnya sudah menuntut untuk beristirahat. Sudah beberapa hari ini gadis itu tak bisa tidur nyenyak karena kabar duka ini. Sekarang puncaknya. Kantung matanya sudah semakin bengkak, membuat kelopak matanya semakin sayu dan perlahan menutup. Gadis itu pun terpejam dan tertidur pulas di atas kasur kedua orang tuanya.


Malam berlalu. Angin berhembus, mengusir awan yang menutupi Bulan. Gelap mulai merajalela ketika matahari tak punya kuasa dan Bulan tak cukup untuk melawannya. "Mmmhh..." Kaia yang kecapekan masih tertidur terbaring pulas.


Srek... Satu persatu kancing piyama Kaia terbuka, dan Srek!!!! Piyama itu terbuka lebar seperti dibuka paksa, padahal, tak ada sesosok manusia pun di dalam kamar orang tua Kaia itu. Perlahan, celana piyama pendek Kaia mulai melorot, mengalir tanpa hambatan di pahanya yang mulus. Srek!!! Gadis itu sekarang hanya memakai pakaian dalam. Piayamanya sudah tercecer ke lantai di bawah kasur. "HAHAHAHAHA!!!" Suara tawa wanita itu semakin nyaring, seolah berteriak tepat di depan telinga Kaia. Saking nyaringnya, sampai-sampai Kaia terbangun membuka mata dengan tubuh yang bergidik kejang-kejang seakan seisi rumah sedang gempa.


"Mmmmm!!! Mmmm!!!" Kaia ingin berteriak membuka mulut, tapi entah kenapa lidahnya kaku membeku. Seluruh badannya juga tak menerima perintahnya. Kaki, tangan, bahkan jemarinya tak ada yang bisa digerakkan. Rasanya, seluruh tubuhnya seperti sedang ditindihi sebuah batu besar, diiringi gempa yang membuat perabotan kamar orang tuanya berjatuhan berantakan. "Mmmmmm!!!!" Gadis itu terbelalak kaget ketika perlahan ada sesuatu tak kasat mata yang menggerakkan kaca matanya menjauh dari wajahnya. "Aaaa.. Aaaa...." Ketika kacamatanya pergi, Kaia bisa melihat sebuah sosok hitam mengerikan tampak tersenyum menindihi tubuhnya. Tubuhnya menjulang besar sampai ke langit-langit. "Mmmmm!!!" Kaia ingin berteriak sampai lehernya berurat-urat, tapi tetap tak ada kata yang mau keluar. Gadis itu sampai mengompol saking takutnya.

__ADS_1


Srek!!! Terakhir, pakaian dalam Kaia dilucuti dan membuat gadis itu sadar kalau sekarang dirinya sudah tak berbusana. "Mmmmmm!! Mmmm!!" Kaia berusaha berontak, namun tetap tindihan makhluk mengerikan itu membuatnya tak bisa bergerak. "Mmmmm!!!" Matanya sampai berair menangis. Taring-taring berkarat tersenyum melihat gadis cantik tak berbusana di bawah sana ketakutan setengah mati sampai mengompol. "Mmmmmm!!!!" Bruk.... Kaia pun jatuh pingsan, ketika wajah hancur bernanah-nanah hitam itu mulai mendekatkan diri dan mengendus telinga Kaia.


Bwah!!!! Gadis itu terbangun kaget sampai langsung terduduk. Hah... Hah... Hah.... Nafasnya terbata-bata menarik udara, seakan-akan sudah menyelam dalam waktu yang lama. Tubuhnya basah penuh keringat yang belum sepenuhnya mengering. Pagi sudah tiba. Cahaya matahari yang menyusup dari jendela menyinari wajah Kaia yang kemudian melihat sekeliling. "A.... Apa yang...." Bibir gadis itu gemetaran sampai ke sekujur tubuh. Kondisi kamar orang tuanya itu sedikit kacau. Foto keluarga mereka terjatuh ke lantai dengan bingkai kaca yang telah pecah. Kaia lalu melihat ke bawah dan rasanya ingin jatuh pingsan kembali ketika mengetahui saat ini ia terbangun dalam keadaan tak berbusana. Pakaian dalam dan piyamanya berserakan di lantai dengan brutal.


"Aaaaaaaaaaa!!!!!!!!" Kaia berteriak dan langsung memeluk diri. Tubuhnya bergetar dan merinding. Ia juga bisa melihat bekas ngompolnya masih basah di atas sprei. Apa yang terjadi!? "Mama... Papa..." Kaia bergumam meminta tolong, tapi tak ada yang menjawab di rumahnya yang sepi. Rasa takut membuatnya kembali menangis dan berat untuk pergi dari kasur. Kejadian ketindihan malam tadi masih berbekas erat. "Mmmmm!!!" Kaia memejamkan mata, ketika sosok hitam mengerikan yang ia lihat kemarin malam kembali muncul dalam ingatannya. Dengan pelan, gadis itu mencari kacamata dan memakainya kembali.


"Mmmmm...." Kaia benar-benar ketakutan sampai bergidik-gidik. Hik... Nafasnya terisak. Apa lagi ini!? Tidak cukupkah kabar duka kehilangan orang tuanya itu mengguncangkan dirinya!? Dan sekarang... Apa lagi yang akan terjadi pada dirinya!? Gulp.... Kaia menelan ludah. Srek... Srek... Sepucuk kertas terakhir dari orang tuanya bergetar ditiup angin yang menyita perhatian Kaia. Gadis itu pun tertegun dan membaca sekali lagi surat wasiat itu. Kakek Sanjaya. Cuma nama orang itu yang terus muncul di dalam kepalanya.


Kaia lalu mengepalkan tangan erat. Gadis itu berusaha mengumpulkan tekad. Hah... Dadanya mengembang mengambil nafas. Dengan tubuh yang masih gemetaran, Kaia mengambil dan memasang kembali pakaian dalamnya serta piyamanya. Gadis itu lalu berkeliling memeriksa rumah. Karena sudah ada matahari, Kaia menjadi mendapat sedikit keberanian untuk berkeliling. Lalu, setelah berkeliling, tak ada tanda-tanda rumahnya telah dibobol. Semua pintu dan jendela terkunci rapat. Gulp... Kaia menelan ludah. Ia terus menolak untuk percaya ini, karena memang sejak dulu tak ada kejadian mistis yang menimpanya.


Tidak. Tidak ada yang namanya kebetulan saat ini. Kaia ingat kalimat di surat itu. Sebelum ada yang aneh terjadi, segera cari Kakek Sanjaya! Tangan Kaia gemetar. Mungkinkah malam tadi bukan mimpi? Apakah sosok mengerikan yang menindihinya tadi malam itu nyata!? Bibir Kaia terhisap. Bodoh. Ia sudah tahu jawabannya sejak bangun dan melihat kondisi kamar serta tubuhnya. Lalu.... "Mmmm..." Kaia memeluk dirinya. Apa yang dilakukan makhluk mengerikan itu kepada dirinya tadi malam!?


Kaia yang tak mau membuang waktu segera berpakaian dan berjalan keluar rumah. Berbekal GPS di Hp, Kaia memesan ojek online dan pergi ke alamat Kakek Sanjaya yang rupanya terletak tidak jauh dari Sekolahnya. Beruntung juga, hari ini adalah akhir pekan, sehingga Kaia tidak perlu membolos lagi. Brum! Tanpa sempat mandi, gadis itu langsung duduk di jok belakang motor ojek online yang dipesannya dan langsung berangkat menuju lokasi Kakek Sanjaya.

__ADS_1


Gadis cantik berkaca mata itu kemudian tiba di depan sebuah rumah kayu tua yang terletak masuk ke dalam gang-gang kecil. Ojek online saja sampai mau menyerah mengantar Kaia sampai ke depan rumah sesuai titik GPS itu. "Ini rumahnya?" Kaia melihat-lihat. Rumah kayu itu tua, namun kalau dilihat tetap terlihat kuat. Kenapa orang tuanya bisa mengenal sosok yang disebut Kakek Sanjaya ini? "Mmmmhhh!!!" Kaia menggelengkan kepala mengusir segala tanya yang percuma ditanyakan ke dirinya sendiri yang sama-sama tak tahu jawabannya.


Gulp.... Kaia menelan ludah, dan ketika gadis itu baru mau mengetuk pintu, tiba-tiba pintu kayu peot itu lebih dahulu terbuka sebelum tangannya datang menyentuh. Seorang cowok membukakan pintu dan membuat Kaia terkejut melihatnya. "Huh? Ka- Kamukan...."


__ADS_2