
"Ini Rumahmukan?" Motor Septa berhenti tepat di sebuah rumah yang tampak lusuh, seolah sudah terbengkalai bertahun-tahun. Padahal, Kaia dan orang tua gadis cantik itu sering membersihkannya. Mungkin, jika memang benda mati itu bisa mempunyai jiwa, rumah itu juga sedang berduka, mengetahui orang tua Kaia telah tiada. Selain auranya yang murung, rumah itu adalah rumah normal bertingkat satu dengan ukuran tidak terlalu besar. Karena Kaia adalah anak tunggal, keluarga mereka tidak perlu mempunyai rumah besar. Bahkan, dibanding rumah Kakek Sanjaya dan Septa, rumah mereka bisa dikatakan lebih besar dibanding rumah Kaia, saat gadis itu baru sadar setelah melihat rumahnya kembali.
"I- Iya...." Kaia mengangguk lalu turun dari motor. Ini canggung. Sepanjang jalan, mereka berdua tidak mengobrol sama sekali. Kaia sebenarnya ingin angkat bicara, tapi sepertinya, Septa tidak menyukai gadis itu makanya merengut sepanjang jalan, bahkan sampai sekarang. Kaia pun jadi segan untuk memulai pembicaraan.
Hah... Kaia menarik dan menghembuskan nafas panjang, masih berdiri di samping motor Septa menatap rumahnya dari depan. Bibir gadis itu mengkerut ketika ia berpikir untuk kembali ke dalam lagi. Bayang-bayang setan mengerikan yang kemarin menindihinya masih jelas terpampang, seolah-olah sekarang setan itu sedang mengoloknya tepat di depan wajah. Atau apa mungkin memang sekarang sedang terjadi begitu!? Gulp... Kaia menelan ludah dan membenarkan posisi kacamatanya.
"Kenapa enggak masuk? Ini Rumahmu bukan?" Septa mengkerutkan alis melihat Kaia tidak masuk-masuk ke dalam. Gadis itu terdiam dan berbalik menatap teman sekelasnya itu. Kaia tidak tahu kalau ternyata Septa yang apatis dan pendiam itu bisa semenyebalkan ini. Namun, Kaia juga mengerti kenapa dia bersikap seperti itu. Kaia mengerti jika sekarang dia merepotkannya.
"A- Aku..." Aduh... Bagaimana bilangnya? Kaia takut untuk masuk sendirian. Gadis itu menatap Septa dengan tatapan anak anjing yang minta diadopsi, berharap Septa mengerti 'kode' darinya itu. Tapi sepertinya, cowok itu tak bakal mengerti hanya dengan tatapan. "Ehehe..." Kaia cengengesan sejenak. "Bi- Bisa temanin aku ke dalam enggak? Aku... Takut." Gadis itu memerah dan menunduk, tapi matanya masih mengintip ke arah Septa.
Cowok itu menyipitkan mata dan melipat tangan. "Asal kau tahu, yang berjanji melindungimu itu adalah Kakek, bukan aku. Yang dititipi wasiat orang tuamu itu Kakek, bukan aku." Hah... Kaia menelan ludah. Ia pun mengangguk mengerti dan balik badan dengan kekecewaan. Gadis itu kemudian berjalan masuk dan membuka pintu rumahnya. Krek.... Tubuh Kaia langsung merinding. Entah mengapa, rasanya rumahnya itu terasa berbeda. Bukan hanya karena sepi dan gelap dipandang karena tidak ada orang. Tapi justru... Mata yang melihat tidak ada apa-apa itu bertolak belakang dengan sesuatu di punggung Kaia yang merasa dirinya sedang diawasi, padahal tak ada siapa-siapa di sana.
Kaia juga sengaja membiarkan pintu rumahnya tetap terbuka, bukan apa-apa, kalau misalkan ia melihat sesuatu yang aneh-aneh, ia bisa langsung berlari keluar. Hah.... Masih banyak yang tidak dimengerti gadis itu soal ini. Meskipun sekarang masih siang, dan matahari sedang terang-terangnya, begitu ia masuk ke dalam rumah, rasanya dingin. Suasana rumah yang menghalangi cahaya matahari seolah memberi kekuatan para makhluk yang menghuni bayangan agar bisa mengawasinya. Gulp... Dan Kaia tidak menyukai hal ini.
Dengan cepat, gadis itu segera pergi ke kamarnya dan mengambil koper serta tas besar. Ia ingat nasihat Kakek Sanjaya untuk hanya mengambil barang-barang penting saja, khususnya keperluan sekolah. Kaia juga berpikir, rumahnya dan rumah Kakek Sanjaya tidak terlalu jauh, jadi kalau misalkan dia ketinggalan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting, ia bisa kembali untuk mengambilnya lagi. Buku-buku jelas yang diutamakan. Charger Hp, laptop juga tak ketinggalan. Terakhir, Kaia membuka lemari pakaiannya.
Gadis itu terlihat bingung setelah memasukkan semua baju seragam sekolahnya. Sekarang, ia baru sadar, ia akan tinggal bersama salah satu teman sekelasnya itu, tidak mungkin ia akan memakai seragam sekolah sepanjang hari. Ia mesti mempunyai baju bebas juga. Srek... Srek... Kaia mengacak lemari pakaiannya. "Aaaaaa!!!" Gadis itu berteriak sambil membenarkan kacamatanya yang melonggar. "Mau bawa baju yang mana!?" Kaia kebingungan. "Ba- Bagaimana kalau yang ini?" Kaia mengambil kaosnya yang sudah bolong-bolong dan lewer. Kaos itu enak dipakai untuk tidur karena longgar dan banyak rongga-rongga. "Eh tapi..." Kaia yang ingat sekarang ia bakal tinggal di rumah orang sadar, ia tidak bisa seenaknya memakai baju begitu. "Aaaaaghhh!!" Kaia mengacak rambutnya yang terasa kusam, mengingatkannya kalau ia sampai sekarang masih belum mandi dari kemarin, sudah lebih dari 24 jam.
__ADS_1
"Bodo amatlah!" Gerutu Kaia sambil mengingat ekspresi Septa yang membuatnya kesal di depan rumahnya tadi. Gadis itu pun mengambil mana saja pakaian yang menurutnya nyaman untuk dipakai. Lalu... "Oh iya...." Kaia menunduk menatap selangkangannya. Gadis itu baru ingat kalau ia barusan mengompol saat di rumah Kakek Sanjaya. "Eughh!!" Ia tidak menyangka dirinya sejorok ini. Daritadi, berkeliaran memakai pakaian bekas air seni yang sudah mengering. Srek.... Kaiapun memutuskan untuk sekalian berganti baju. Gadis itu melucuti semua pakaiannya sampai tak ada yang tersisa.
Drrrtt... Tiba-tiba terdengar bunyi-bunyi bergetar dari cermin yang ada di lemari. "Huh!?" Tubuh Kaia seketika merinding, entah karena dingin tidak memakai apa-apa, atau memang ada sesuatu yang lain. Gulp... Kaia menelan ludah. Tadi itu bukan khayalannya. Ia benar-benar mendengar cermin di lemarinya bergetar saat ia sedang melucuti diri.
Hah... Hah... Nafas Kaia terhembus keluar masuk mengembangkan dadanya pelan. Gadis itu lalu menatap pantulan bayangannya yang ada di cermin. Sunyi, hingga Kaia bisa mendengar bunyi nafasnya sendiri dengan jelas. Hah... Hah... Perlahan, Kaia mendekati cermin, melihat pantulan bayangannya semakin dekat. Ada sesuatu yang berbisik dan sayup-sayup memanggilnya, "Kaia...." Suara desis itu datang entah dari mana, langsung masuk ke telinga Kaia. "Kaia...."
Tuk... Kaia menyentuh cermin dan tentu saja pantulan bayangan dirinya juga mengikuti. Seluruh bulu kuduk di tangan Kaia sudah berdiri tegak tapi entah kenapa gadis itu tak bisa menolak untuk merespon suara wanita yang mendesis memanggilnya itu. "Kaia...." Mata Kaia berkedip pelan, lalu, ketika kedipannya berakhir dan matanya kembali terbuka, gadis itu bisa melihat ada sesuatu yang berbeda di belakang pantulan bayangannya.
"La- Laut?" Kaia terdiam. Dia melirik ke kiri dan kanan, dirinya masih ada di kamarnya, tapi kenapa pantulan bayangannya yang ada di cermin itu berada di depan sebuah laut!? Gulp... Kaia menelan ludah. Tangan dan kakinya gemetar ingin berlari dari sana, tetapi, suara itu kembali memanggil. "Kaia.... Lihat aku..."
Mulut Kaia terbuka menganga. Gadis itu ingin berteriak meminta tolong kepada siapa saja yang bisa mendengarnya, tapi pita suaranya seakan berubah menjadi batu yang tidak bisa digetarkan. Lalu, sesuatu yang membuat mata Kaia terbelalak terjadi. Pantulan bayangan dirinya yang dicermin itu tersenyum ke arahnya, padahal Kaia saat ini sedang menganga membatu. Tangan bayangan Kaia itu kemudian mulai meremas dadanya, "Mmmhhh..." Kaia yang asli yang tidak bergerak sama sekali juga ikut merasakan ada sesuatu yang meremas dadanya. "Huh!!? A... Apa..." Kaia berkeringat dingin dan melirik ke bawah, tak ada apa-apa yang sedang meremas dadanya, tapi rasa itu benar-benar nyata.
"A.... A..." Suara Kaia tercekat. Kacamata yang saat ini ia kenakan mulai bergerak sendiri, melepaskan diri dari wajahnya yang pucat basi. Kaia yang ingat ucapan Kakek Sanjayapun berteriak, tapi hanya bisa di dalam benaknya sendiri. Ti- Tidak!! Ja- Jangan!!! Kalau kulepas na- nanti aku melihat mereka!!!!
"Kaia! Lama banget sih!" Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya, tapi kali ini berasal dari luar kamar dan bukan suara wanita yang mendesis. Septa, masuk menyusul ke dalam rumah Kaia karena cowok itu kesal menunggu terlalu lama.
"Hahaha!" Bayangan Kaia di cermin tertawa, lalu bayangan itu kembali memasang kacamata dan kemudian melambaikan tangan.
__ADS_1
"HAAAAHH!!!" Hah! Hah! Hah! Nafas Kaia langsung menggebu-gebu keluar masuk. Rasanya, gadis itu baru saja sehabis menahan nafas yang sangat lama. Seluruh badannya berkeringat basah kuyup, seolah habis menyelam di lautan gaib yang ia lihat di cermin tadi. Hah... Hah... Kaia menatap pantulan bayangannya di cermin, tapi semua sudah kembali normal.
"Mmmhh!!" Kaia langsung balik badan tak mau berlama-lama menatap cermin itu lagi.
"Ugh!" Kemudian, terdengar suara cowok menggerutu yang sampai ke depan pintu kamar Kaia yang memang sengaja dibuka.
"Se- Septa!?" Kaia yang balik badan bisa melihat sosok Septa tampak menyusulnya ke kamar. Lalu, perlahan, mata Septa itu tak lagi menatap mata Kaia, tapi semakin turun ke bawah, membuat wajah cowok itu memerah. Kaia pun seperti disengat ketika ia sadar, "A.... Aaaa!!!!" Kaia berteriak nyaring dan sontak menutupi diri seadanya dengan kedua tangan. Pahanya merapat menutupi area ***********, dan dengan bantuan tangan, bulu-bulu halus di atasnya juga cepat tertutup, sama seperti kedua ****** dadanya.
"E- Eh?" Septa yang terdiam terpesona langsung balik badan. "Ngapain kamu lama banget! Cepetan!" Cowok itu melangkah menjauh sambil menggerutu.
"Mmmmm...." Bibir Kaia mengkerut ke dalam. Wajah gadis itu memerah malu, baru saja, dalam pertama kali seumur hidupnya ada seorang cowok yang melihatnya dalam kondisi seperti dilahirkan begitu. "Septa!!! Tunggu!!! Jangan pergi!!!" Kaia tiba-tiba berteriak. Ia tidak ingin ditinggal sendiri lagi di kamar setelah kejadian cermin tadi. Mau malu sudah terlihat tak berbusana pun, rasa takutnya lebih besar.
"Kamu mau aku masuk?" Sahut Septa berteriak yang tampaknya masih ada di lorong di luar kamar Kaia.
"Ja- Jangan!!! Tunggu di situ!" Seru Kaia melihat ke kiri dan ke kanan, mencari pakaian. Srek! Srek! Dengan cepat Kaia memasang pakaian dalam dan melapisinya dengan kaos dan celana pendek yang ada.
Setelah berpakaian dan merapikan barang-barang bawaannya, gadis itu melangkah keluar kamar dengan semuanya. Kaia yang melihat Septa sedang berdiri menyender di dinding luar kamarnya itu pun sontak kembali memerah masih terbawa situasi tadi. "Sudah belum?" Tanya Septa masih dengan nada menggerutu dan alis mengkerut. Cowok itu masih memasang wajah kesalnya kepada Kaia, seolah tadi tak terjadi apa-apa. Padahal, Kaia sempat melihat Septa berwajah tersipu tadi, walaupun hanya sekilas.
__ADS_1
"I- Iya..." Sahut Kaia menunduk. Meskipun jawaban Septa terdengar masih ketus seperti sebelumnya, tapi Kaia sedikit bersyukur cowok itu bersikap seperti itu dan tidak mengungkit masalah tadi. Malahan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Hah.... Yang penting sekarang, Kaia tidak sendirian, begitu pikirnya saat ini, ketika dia dan Septa berjalan menuju pintu keluar.
Brum! Septa menghidupkan motornya kembali. Sebelum naik, Kaia balik badan, menatap rumahnya. Matanya menurun sayu menatap bangunan yang akan segera ia tinggalkan untuk sementara waktu itu. Kenangan orang tuanya serasa masih melekat di sana. Mau bagaimana pun, itulah rumah Kaia. Berat baginya pergi dari sana, apalagi setelah kedua orang tuanya pergi. Bibir gadis itu juga mengkerut terhisap ke dalam. Hah... Nafas gadis itu kembali berhembus berat dan ia pun memantapkan niat. Jika kejadian tadi akan terus menerus terjadi, memang benar dirinya tidak boleh sendirian. Brum!!! Kaia naik di jok belakang, dan merekapun berangkat kembali ke rumah Kakek Sanjaya dilatari langit senja.