Panggilan Ratu Laut Selatan

Panggilan Ratu Laut Selatan
Episode 10 (Mimpi atau bukan)


__ADS_3

"Mmmmmmm!!!! Mama!!!" Kaia kecil bersembunyi di balik tubuh Sang Mama. Gadis bertubuh kecil yang memiliki rasio kepala sebesar badan seperti anak-anak balita pada umumnya itu terlihat menggemaskan ketika pupil matanya yang malu dan takut itu terlihat melebar membulat. "Mmmm..." Kaia kecil mengintip dan makin erat memegang celana Sang Mama. Gadis itu melihat ada sepasang pria dan wanita yang tampak keriput sedang berbincang dengan kedua orang tuanya dan berniat menyapanya. Tapi... Bukan kedua orang itu yang membuat Kaia jadi bersembunyi di balik tubuh Sang Mama... Namun, sesuatu yang mengikuti mereka di belakang. Sesuatu yang tampaknya tidak bisa dilihat oleh kedua orang tuanya dan teman mereka itu.


Sosok wanita berjubah putih berwajah mengerikan tampak mengikuti seorang pria keriput yang daritadi terlihat bercanda dengan Sang Ayah. Kuntilanak berwajah nanah dan bermata merah itu tampak mengolok pria itu sejak tadi, ketika Kaia melihatnya. "Mmmmmm.... Mamaaa...." Rengek Kaia memanggil Sang Mama.


"Kenapa Kaia?" Tanya Sang Mama sambil mengelus-ngelus rambut Kaia kecil di bawah tubuhnya. Bibir Kaia mengkerut. Gadis itu takut kalau-kalau sosok kuntilanak yang dia intip bakal berbalik dan tiba-tiba menatapnya. "Mama.... Ada itu...." Baik orang tua Kaia dan kedua temannya sama-sama terdiam dengan ucapan Kaia kecil yang tampak ketakutan menatap sesuatu yang kosong.


"Sudah Kaia... Enggak apa-apa.... Sekarang, pejamkan mata Kaia." Mama Kaia menjongkok agar sejajar dengan Sang Putri. Tangan hangatnya datang membelai lembut kepala Kaia yang harum bunga-bunga... Sret... Sret...


"Mmmm...." Kaia menurut dengan ucapan Sang Mama untuk memejamkan erat matanya. Saking eratnya, sampai tangannya ikut mengepal seerat kelopak matanya yang tertutup.


"Tarik nafas...." Hah... Bahu Kaia kecil menaik. "Lalu fokus lihat mata Mama... Ok?" Kaia mengangguk dan perlahan membuka matanya. Tatapan hangat dari bola mata indah Sang Mama menatapnya memberi ketenangan dan rasa aman. "Enggak ada yang akan menyakiti Kaia... Kalau Kaia melihat sesuatu yang aneh-aneh..." Tuk... Mama Kaia menunjuk dan menekan dada Kaia. "Fokus di sana dan ingat Mama dan Papa selalu ada buat Kaia." Wanita cantik berkacamata itu tersenyum menatap wajah Kaia kecil. Sang Mama kemudian melepas kacamatanya, lalu memasangnya di wajah Kaia, dan kembali berdiri setelah mengelus kepala Kaia.


"Sekarang giliran kalian berdua untuk melakukan ritualnya." Seorang wanita berusia 40 tahunan tampak berbicara. Pakaiannya begitu anggun, layaknya anggota sebuah kerajaan. Bahkan, sampai rambutnya ikut ditata seperti bangsawan.


"Ya...." Ayah Kaia menggangguk lalu menatap wajah Sang Istri.


"Kaia... Mama dan Papa pergi dulu sebentar ya. Kaia tunggu di sini sama Kakek Sanjaya dan Mbah Kasmirah ya..." Mama Kaia menarik pelan tangan Kaia kecil, membawa gadis cilik itu menuju teman kedua orang tuanya yang daritadi tampak berbicara serius tanpa Kaia mengerti.


"Mmmm... Mama mau ke mana???" Kaia kecil menggeleng-geleng, seperti anak kecil pada umumnya, tak mau berpisah dengan orang tuanya apa pun yang terjadi walau sebentar saja. Sret... Sret... Tangan hangat Sang Mama mengelus-ngelus pipi Kaia. Sang Papa juga ikut mendekat dan mengelus kepala Kaia yang tingginya hanya selutut pria itu. "Papa dan Mama mau ketemu orang... Ketemunya lama, nanti Kaia capek. Makanya Kaia tunggu di sini saja ya sama Kakek Sanjaya dan Mbah Kasmirah." Sang Papa menyingkir sedikit, agar putri kesayangannya itu bisa melihat dua sosok yang ia maksud.


"Hai Kaia...." Sapa Kakek Sanjaya dengan senyuman hangat, dan wanita di sebelahnya yang dipanggil Mbah Kasmirah itu juga sama-sama tersenyum.


"Mmmmm...." Kaia tidak menyahut. Bibirnya manyun karena ini sudah kesekian kalinya ia di bawa ke tempat aneh ini dan sekarang, ia ditinggal bersama dua orang asing yang tidak ia kenal.


"Anak pintar..." Cup... Mama dan Papa Kaia bergantian mencium pipinya lalu kedua orang tua Kaia itu pergi menghilang ke balik tirai.


Kaia kecil pun menunduk. Saat ini, ketika tubuhnya masih kecil, seluruh dunia seakan begitu luas dan besar. Ia tidak tahu ia ada di mana. Yang jelas, ia ingat sudah sering menempuh perjalanan bolak-balik menaiki kereta untuk tiba ke tempat ini. Ke tempat di mana semua terlihat hijau, dari dindingnya, pintu, hingga jendela. Banyak perabotan-perabotan berkilau yang ketika Kaia mau menyentuhnya selalu dimarahi Sang Papa. Bwusshh.... Angin laut berhembus masuk melalui jendela. Benar... Ia ada di sebuah tempat aneh yang lokasinya ada di sebuah pantai.


"Kaia...." Seorang pria membungkuk agar sejajar dengan gadis kecil lawan bicaranya ini. Kaia yang malu-malu, mengintip dan bolak-balik tak berani lama-lama memandang pandangannya. Tetapi.... Hangat. Tatapan pria yang dipanggil Sang Papa, Kakek Sanjaya ini sama hangatnya seperti tatapan kedua orang tuanya... Membuat Kaia merasa aman. "Sambil menunggu Papa Mama Kaia pergi, Kaia mau makan?"

__ADS_1


Krug.... Pas sekali pertanyaan itu disahut suara perut Kaia yang langsung memerah malu dan cengengesan. "Hahaha... Kaia lapar ya? Ayo kita makan kepiting. Di pantai ini ada yang jual kepiting enak lo..." Kakek Sanjaya menjulurkan tangannya. Kaia terdiam menatap telapak tangan yang sudah mulai keriput itu. Masih sedikit ragu untuk menerimanya.


"Enggak apa-apa Kaia...." Sahut Mbah Kasmirah yang mengerti kalau Kaia tak mau pergi dari sana karena menunggu orang tuanya kembali. Daritadi, gadis itu terus menatap ke arah tirai hijau tempat kedua orang tuanya tadi pergi menghilang. "Kita enggak pergi jauh kok. Kepitingnya cuma di luar sana..." Mbah Kasmirah menunjuk sebuah pendopo yang memang letaknya tak jauh dari mereka sekarang.


Setelah menunduk dan karena memang lapar, Kaia pun mengangguk lalu menyambut tangan Kakek Sanjaya. Walau masih malu-malu, Kaia kecil itu ditenteng Kakek Sanjaya mengikuti Mbah Kasmirah yang berjalan di depan. Sama-sama berniat menuju pendopo tempat orang memasak kepiting yang dimaksud Kakek Sanjaya tadi. "Kaia sekarang berapa umurnya?"


"Empat..." Jawab Kaia dengan nada pelan.


"Hmmm..." Kakek Sanjaya manggut-manggut. "Kakek juga punya cucu seumuran Kaia buat jadi teman Kaia... Nah! Itu dia!" Angguk Kakek Sanjaya ke sosok seorang bocah lelaki kecil yang sedang duduk di pendopo sendirian.


"Kek!" Seru bocah lelaki itu tampak riang melihat Sang Kakek sudah datang, tetapi, alisnya mengkerut dan langkahnya terdiam ketika Sang Kakek datang sambil membawa seorang gadis kecil seukuran tubuhnya, menggandeng erat tangan Sang Kakek.


"Siapa dia Kek?" Tanya bocah lelaki kecil itu mendekat sambil memiringkan kepala.


"Mmmm..." Kaia yang malu dan takut, bersembunyi di balik kaki Kakek Sanjaya.


"Ini namanya Kaia... Nah ini cucu Kakek, namanya...."


Hah... Bahu Kakek Sanjaya menurun dan lelaki itu sedikit mendengus tersenyum melihat apa yang ada di depannya. Saat ini, Kakek Sanjaya sedang duduk di kursi makan menunggu makan malam yang sedang disiapkan Kaia di dapur. Lelaki keriput itu lantas mengarahkan matanya ke Septa di depannya yang sedang duduk dengan wajah cemas, takut Kaia membuat kehancuran di dapur. "Hahaha..." Kakek Sanjaya terkekeh melihat pemandangan keduanya. Sudah lama sekali ya? Waktu itu mereka berdua masih kecil, jelas tidak ingat kalau pernah bertemu waktu sama-sama di sana....


Prang! Kaia menjatuhkan piring. Untung saja piring itu piring plastik, sehingga tidak pecah berkeping-keping dan bisa menjadi ranjau untuk melukai kaki. "Ehehe..." Gadis itu cengengesan menatap Septa yang daritadi berwajah galak. Jelas sekali, Kaia bisa merasakan di belakang punggungnya kalau Septa benar-benar mengawasi setiap pergerakannya di dapur. Tampaknya, cowok itu tidak bisa mempercayakan dapur kepada Kaia. Fuh.... Kaia menghembuskan nafas menenangkan diri. Hari ini, ada yang spesial. Kaia berniat membantu sedikit kegiatan rumah tangga di rumah Kakek Sanjaya, makanya gadis itu hari ini memutuskan kalau ialah yang akan memasak makan malam.


Sempat terjadi perdebatan karena Septa tak mau dapur diacak-acak Kaia, tapi, setelah Kakek Sanjaya memperbolehkan, apa boleh buat. Cowok itu sekarang hanya bisa duduk dan melihat Kaia memasak. Trek... Kaia menaruh piring di depan kursi mereka masing-masing. Lalu, sebuah piring besar berisi sayur dan lauk ditaruh di tengah-tengah. Kaia yang selesai memasak kemudian ikut duduk di kursi makan. "Hmmmm..." Kakek Sanjaya menyuap ayam asam manis bikininan Kaia. Gadis cantik itu pun terdiam berkonsentrasi, melihat bagaimana respon Kakek Sanjaya setelah menyantap masakan buatannya. "Hmmm!! Enak! Kamu harus nyoba Septa!" Seru Kakek Sanjaya terlihat riang memandang Sang Cucu.


"Ehehehe..." Kaia terkekeh melihat Kakek Sanjaya menyukainya. Sekarang, gadis itu kemudian melihat ke arah Septa, ingin tahu bagaimana tanggapan Septa terhadap masakannya. Septa terlihat menyipitkan mata, tampak ragu. Biasanya, memang selalu dia yang memasak di rumah itu, dan sekarang Kaia sudah mengambil perannya. Gulp... Kaia menelan ludah, ketika Septa memutuskan untuk menyudahi pengamatannya dan mulai menyuap.


"Aam..." Cowok itu membuka mulut dan wajahnya tampak datar seperti biasanya. Hah... Kaiapun menghembuskan nafas panjang, kecewa. Yah... Mau bagaimanapun, skill memasak Kaia masih di bawah Septa, mungkin.... Wajar jika selera Septa tinggi, gumam Kaia dalam hati dan mulai menyuap makan.


"Septa...." Panggil Kakek Sanjaya. Septapun mengerti kenapa ia dipanggil. Trek... Cowok itu lantas sekali lagi menyuap masakan Kaia.

__ADS_1


"Ya... Lumayan." Ucap Septa yang lanjut menyuap untuk ketiga kalinya. Kaia yang sudah mulai menguyah sempat terdiam lalu tersenyum merona manggut-manggut, diikuti Kakek Sanyaja yang juga mendengus menahan tawa kecil.


"Oh iya Kek... Belum ada balasan ya?" Suara Kaia terdengar bulat karena mulut gadis itu penuh belum selesai mengunyah makanan. Sudah beberapa hari berlalu sejak mereka mengirimkan surat ke seseorang yang dipanggil Mbah Kasmirah.


"Belum...." Kakek Sanjaya menggelengkan kepala, terlihat jelas juga sedang menanti-nanti balasan surat dari wanita itu. "Mungkin suratnya belum diterima, makanya belum ada balasan. Kakek yakin, segera setelah menerimanya, kita pasti mendapat jawaban."


"Mmm!" Kaia tersenyum mengangguk.


"Lalu? Bagaimana Kaia sekarang? Tidak diganggukan?" Tanya Kakek Sanjaya yang melihat Kaia tidak berkaca mata. Sudah beberapa hari ini juga gadis cantik itu tidak memakai kacamatanya.


"Enggak sih Kek..." Kaia menggeleng. "Karena akhir pekan, Kaia di rumah terus. Tapi waktu di sekolah juga enggak ada apa-apa kok..." Bola mata Kaia naik ke atas, mencoba mengingat momen hari Jumat kemarin. Tak ada yang terjadi, dan tak ada yang mengganggunya, walaupun Lulu terlihat sedikit aneh, begitu pikir Kaia. Septa yang ada di sampingnya melirik dalam diam dan lanjut menyantap makanan.


Setelah makan, Kaia juga berinisiatif untuk mencuci piring. Pokoknya, aku enggak mau jadi beban! Aku harus membantu! Begitu pikir gadis itu. Bruk... Dan, setelah makan, karena sudah malam, Kaia langsung rebahan di atas kasur dan tepat di sebelahnya ada Septa yang sedang memainkan Hpnya. Meski ada jarak guling di tengah-tengah, tapi, bunyi-bunyi dari Hp Septa itu begitu jelas terdengar ke telinga Kaia. "Sep...." Panggil Kaia tiba-tiba sambil rebahan menatap langit-langit.


"Mm..." Sahut cowok itu masih sibuk memainkan game di Hpnya.


"Akhir-akhir ini aku sering mimpi jadi kecil lalu main-main sama seorang anak cowok di... semacam istana serba hijau begitu..." Ucap Kaia sambil menggaruk pelipisnya.


"Mm... Terus?"


Kaia lalu memiringkan badan, menatap Septa yang ada di sebelahnya. Perhatian cowok itu masih terpusat di Hpnya yang dipegang miring. "Apa jangan-jangan kita pernah ketemu sebelumnya?" Tuk! Tuk! Tuk! Jemari Septa sibuk menekan layar untuk mengeluarkan kemampuan karakternya di dalam game. Cowok itu terus terdiam tak menjawab pertanyaan Kaia. Entah karena terlalu sibuk dengan game di tangannya, atau memang dia sedang berpikir untuk menjawab. "Soalnya... Anak kecil yang jadi temanku di mimpi itu mirip kamu."


"Ngh!" Septa mengkerutkan alis lalu mematikan Hpnya. Sepertinya, permainannya sudah berakhir, dan karena itu, Septa memiringkan badan menatap Kaia yang terbaring di sebelahnya menyerahkan seluruh perhatiannya ke gadis itu. "Aku... Tidak tahu." Jawab Septa menatap Kaia tepat di matanya yang sudah mulai terbiasa dilihat Septa tanpa kacamata khasnya. "Aku enggak ingat apa-apa."


Mendengar itu, bibir Kaia pun merengut dan pipinya sedikit mengembung. Gadis itu benar-benar ingin tahu, apa mungkin waktu kecil dia sudah bertemu Septa lalu berteman dengannya? Terlebih, karena Kakek Sanjaya dan kedua orang tua Kaia sama-sama jemaat penyembah Ratu, setidaknya ada kemungkinan kalau Kaia dan Septa pernah bertemu sebelumnya. Itupun.... Kalau mimpi yang dilihat Kaia nyata dan bukan hanya sekedar mimpi. "Padahal, kalau Kakek dan orang tuaku ketemu pas sama-sama jadi jemaat Ratu, bisa jadi kita pernah ketemu sebelumnya." Septa tak menanggapi apa-apa akan ucapan Kaia barusan. Cowok itu juga tampak mengalihkan pandangannya, terlihat mencoba mengingat tapi karena itu sudah lama sekali, ingatan di dalam kepalanya buram seperti foto lama. "Oh iya!" Badan Kaia bergidik semangat, ketika gadis itu tiba-tiba entah mendapatkan sebuah ilham apa.


"Kalau orang tuaku gabung jadi jemaat Ratu buat memperpanjang umurku.... Alasan Kakek bergabung karena apa?" Diam. Septa menatap Kaia dan dalam hening malam, di dalam kamar yang sudah menggelap remang-remang karena lampu sudah dimatikan, nafas keduanya yang keluar masuk secara serasi dan seirama itu saling bersahutan. Srek... Septa memalingkan badan.


"Tanya Kakek kalau itu." Jawab Septa membelakangi Kaia.

__ADS_1


"Iiiiihhhhh!!!" Kaia yang kesal rasanya mau menerkam dan menindihi Septa sekarang.


__ADS_2