Panggilan Ratu Laut Selatan

Panggilan Ratu Laut Selatan
Episode 11 (Kesurupan Masal 1)


__ADS_3

Druduk! Druduk! Bunyi petir di langit mendung bergemuruh. "Mau hujan kayaknya ya?" Druk... Kaia menaruh Hpnya setelah selesai membaca ramalan cuaca. "Hmmmm..." Gadis cantik itu lantas meregangkan badan sambil duduk di bangku sekolahnya. Sudah berapa minggu? Benak Kaia mencoba menghitung dari tanggal dirinya dan Septa mengantarkan surat Kakek Sanjaya untuk dikirim ke seseorang bernama Mbah Kasmirah, tetapi, sampai hari ini juga, mereka sama sekali belum menerima balasannya. "Kenapa orang tua tidak punya whatsapp saja sih...." Gerutu Kaia yang meregangkan tubuh hingga dadanya membusung, membuat sedikit kancing seragam sekolahnya tertarik dan memberi sedikit celah di antaranya yang sekilas menampilkan pakaian dalam gadis itu. "Nnngghh!!"


"Hei..." Lulu yang duduk di sebelah Kaia memanggil. Sahabat Kaia itu menopang dagunya dan menghadapkan wajahnya ke arah Kaia.


"Hmmmm? Apa Lu? Ngghhh..." Sahut Kaia yang sudah selesai meregangkan badan. Mereka sedang dalam sela-sela antar mata pelajaran. Guru sejarah mereka, yang sekaligus merupakan wali kelas mereka entah kenapa belum datang, padahal pelajaran beliau seharusnya dimulai 5 menit yang lalu.


"Kamu enggak sadar ya Kaia?" Lulu tampak cekikikan menatap Kaia yang kemudian memiringkan kepala dan berkedip-kedip.


"Sadar apa?" Gadis cantik yang biasanya berkacamata itu menggeleng tidak mengerti, dan melihat ekspresi Kaia yang seperti itu membuat Lulu jadi semakin cekikikan gemas.


"Gara-gara kamu lepas kacamata, jadi banyak cowok yang nanyain kamu lo!" Seru Lulu begitu semangat sampai-sampai gadis berponytail itu mau melompat dari kursinya memeluk dan mencubit Kaia.


"Apa sih Lu!" Gerutu Kaia tampak memerah malu dan memalingkan wajahnya. "Hmph!" Nafas Kaia terdengar mendengus seraya kepala cantiknya memiring memilih menghadap dinding, daripada ke arah Sang Sahabat yang menggodanya.


"Eeeehhhh!!! Ini serius Kaia! Bukan cuma cowok-cowok kelas! Tapi cowok-cowok dari kelas lain juga pada nanyain kamu ke aku! Ke aku tahu enggak!? Mereka pada nanyain kontakmu!" Bibir Kaia memanyun. Sebagai manusia, tentu wajar kalau gadis cantik itu senang ketika mengetahui banyak lawan jenis yang tertarik dengannya. Mata Kaia pun melirik ke arah cowok-cowok di kelasnya, dan beberapa tertangkap basah sedang menatapnya dan langsung memalingkan muka begitu ketahuan.


Bicara soal kontak.... Kaia ingat di aplikasi chatting Hpnya, memang akhir-akhir ini jadi banyak cowok-cowok yang mengiriminya pesan. Beberapa dari mereka adalah teman-teman sekelasnya ini yang akhir-akhir ini jadi begitu perhatian, sering mengingatkan Kaia kalau ada tugas atau semacamnya. Hah.... Kaia menghembuskan nafas panjang. Meski banyak yang menghubunginya, entah kenapa begitu Kaia masuk ke dalam rumah Kakek Sanjaya sekarang, gadis itu langsung meninggalkan Hpnya tidak seperti ketika ia masih di rumahnya. Entah, ada-ada saja yang membuatnya sibuk sekarang. Seperti membantu memasak, atau membersihkan rumah, selalu ada saja yang membuat Kaia melupakan waktu, walaupun kadang ia merasa kesal karena tingkah Septa. "Nnghhh!" Gara-gara itu, Kaia jadi teringat Septa dan tidak sengaja melihat cowok itu. Dia terlihat sedang menyendiri, dan Kaia yang sering melihat Septa di kelas jadi tahu kebiasaan cowok itu, kalau ada waktu senggang, biasanya dia memilih untuk mendengarkan musik daripada bergaul, seperti sekarang.


"Oke anak-anak!" Tiba-tiba datang seorang wanita menepuk pintu, memberi tahu kedatangannya yang dadakan kepada Kaia dan teman-temannya yang ribut. Tentu saja, kalau tak ada guru, ya jelas semuanya pasti ribut. Guru Sejarah sekaligus wali kelas Kaia itu datang sambil berdeham dan memasang wajah cekikikan, melihat murid-muridnya tampak kaget dan kelabakan karena dikagetkannya. Wanita yang disebut Ibu Heni itu berdiri di antara kursi dan meja gurunya, sambil menatap wajah anak-anak muridnya, mengabsensi kelengkapan. Sebelum memulai pelajaran, wanita itu tampak mengeluarkan sesuatu dari tas tentengnya. "Hmmmm.... Sebelum mulai, Ibu mau ngucapin selamat dulu kepada seseorang di kelas ini yang mendapatkan kesempatan untuk study tour ke situs wisata yang ada di Pantai Selatan."


Mata Kaia lantas terbelalak mendengar kata Pantai Selatan itu disebut. Sudah beberapa minggu ini semenjak mata batinnya ditutup, gadis itu jadi hampir melupakan masalah hidupnya yang satu itu. "Ibu ucapkan selamat buat Septa dan Lulu yang terpilih dari kelas kita untuk pergi ke sana." Ibu Heni tersenyum dan kemudian bertepuk tangan. Prok! Prok! Prok! Tepuk tangan pun disambut dan disahuti oleh yang lainnya, termasuk Kaia.


"Selamat ya Lu!" Seru Kaia memberi semangat kepada Sang Sahabat. Kaia memang tahu, kalau Lulu, sahabat sekaligus ketua kelasnya itu memang menyukai pelajaran sejarah, sehingga pantas untuk terpilih, tetapi kalau Septa..... Kaia yang melirik ke arah cowok itu tidak tahu kalau ternyata Septa bisa terpilih. "Meh...." Wajah Kaia lantas langsung malas, melihat reaksi Septa yang datar seperti biasanya, walaupun banyak orang menepuk tangani cowok itu. Mungkin juga, karena melihat respon Septa yang datar, orang-orang jadi malas memberinya selamat dan sekarang, semuanya bertepuk tangan untuk Lulu.


"Hehehe... Makasih-makasih." Lulu tersipu dan manggut-manggut menggaruk hidung.


"Oke, sekarang kita mulai pelajarannya ya!" Semuanya mengganguk mengikuti arahan wali kelas mereka untuk membuka buku pada halaman tertentu.


"Kali ini, kita mau membahas sejarah tentang keraton di Pantai Selatan, lokasi sejarah yang nanti akan dikunjungi Septa dan Lulu."


"Hmmmm..." Kaia menopang dagu sambil membaca buku yang ada di atas mejanya. Gadis itu melihat gambarnya terlebih dahulu. Jadi ini keraton yang dimaksud? Gumam Kaia menatap gambar sebuah istana serba hijau yang entah kenapa tidak terasa asing. "Keraton yang ada sejak beberapa ratus tahun masehi ini mempunyai koneksi dengan Pantai Selatan, dan mempunyai banyak acara adat, salah satunya pemberian sesajen ke laut." Tu- Tunggu dulu!!!! Apa.... Jangan-jangan ini tempatnya Mbah Kasmirah!? Kaia yang kaget membaca isi buku itu langsung mengangkat kepalanya menatap Septa.

__ADS_1


Tapi, ada sesuatu yang lebih mengangetkan dan membuat Kaia terdiam. Sama seperti dirinya, kepala Septa tampak tegak menatap lurus ke arah pintu kelas yang terbuka. Perlahan, kepala cowok itu bergerak seolah mengikuti pergerakan sesuatu yang masuk ke dalam kelas, tapi dengan matanya saat ini, Kaia tidak melihat apapun sosok yang diikuti pandangan Septa. "Hu- Huh!?" Yang jelas, kepala Septa semakin miring ke kiri semakin mengarah ke arah Kaia, dan hingga akhirnya berhenti tepat ke arah Kaia dan Lulu. "A- Apa....." Kaia yang tidak mengerti apa yang barusan dilihat Septa seketika merinding. Seakan-akan ada sebuah angin berhembus entah dari mana dan menerpa tubuhnya.


"Kaia........." Tiba-tiba, Lulu menoleh dengan leher yang berputar melebihi poros yang seharusnya ada, dan dengan lidah menjulur yang begitu panjang seakan ingin menggapai dan menjilati Kaia.


"A- A....." Kaia sontak terdiam terbata-bata tak mampu bersuara. Apa... Apa yang terjadi!!!!???


"Kehehehehe!!!!!" Sosok Lulu itu cekikikan dengan lidah ke sana ke mari. Dan, seperti sudah tahu bakal dipanggil, lehernya kembali menghadap lurus ke depan, ke arah Ibu Heni.


"Oke, Lulu coba maju dan tuliskan jawaban pertanyaan di buku ini." Perintah Ibu guru itu sambil membaca-baca buku sejarah di tangannya.


"Iyah... Bu...." Lulu berdiri menggeser meja. Sosok itu tampak tersenyum melihat Kaia sebelum ia pergi ke arah papan tulis di depan. Tangan Kaia gemetaran sampai ke ujung kaki. Tidak... Bukan... Itu bukan Lulu.... Itu siapa!??? Kaia yakin betul kalau itu bukanlah sosok Sang Sahabat. Mata Kaia lantas melirik ke arah Septa, dan pas sekali, cowok itu juga sedang melirik ke arahnya. Tanpa kata yang tertukar, Septa tahu pertanyaan apa yang ada di benak Kaia, dan cowok itu pun mengangguki Kaia kalau memang benar ada sesuatu yang terjadi.


"Hehehe...." Lulu melompat riang ke arah papan tulis, lalu, gadis berpony tail itu membuka spidol dan mulai menulis sesuatu. Apa yang dituliskannya membuat Kaia menggigit bibir serta terbelalak lebih merinding. Kaia lacur!!!!


"Huh!?" Semua yang lain kaget dan bingung melihat kenapa bisa-bisanya Lulu menuliskan kalimat itu di sana.


"Lu- Lulu?" Panggil Ibu Heni yang juga sama kagetnya melihat apa yang ditulis si Ketua Kelas.


"Kamu... Nulis apa?"


Alis Lulu naik, seakan bertanya tidak mengerti. Sosok gadis berpony tail itu pun kembali melihat hasil tulisannya di papan tulis dan terdiam. Gulp.... Kaia menelan ludah. Hening.... Hanya bersisa suara tiupan angin kencang yang menyusup masuk ke dalam kelas, bersama suara gerimis semakin terdengar, di langit yang semakin gelap. "Ke- Kenapa aku menulis ini!!!?" Lulu mencengkram kepala dan mengacak rambut. Gadis itu sontak balik badan mencari Sang Sahabat yang telah dilecehkannya. "Kaia!!! Maaf! A- Aku enggak tahu kenapa aku bisa menulis itu!!!!" Mata Lulu tampak berair dan pipinya memerah. Tangannya yang menggenggam spidol yang terbuka sehabis menulis begitu erat sampai gemetaran. Air mata jatuh dan Lulu langsung kembali balik badan, melompat mencari menghapus untuk menghilangkan perkataan jahat yang ada di papan tulis. Tapi, baru saja tangan Lulu mau mengayun membersihkan papan tulis, Tuk.... Penghapus spidol itu terjatuh dari genggaman tangannya.


Duar!!!! Petir menyambar dan seketika cahaya matahari kehilangan pengaruhnya di dunia, terhalang langit mendung yang membuat seakan-akan siang ini sudah menjadi malam. Duar!!! Sekali lagi petir menyambar, memberikan cahaya yang bisa membuat semuanya melihat, Lulu sedang kayang dengan kepala terputar 360 derajat.


Bola mata gadis itu menghitam. "Ya Tuhan!!! Lu- Lulu!!! Kamu kenapa!!!??" Ibu Heni panik histeris dan secara reflek melangkah mundur.


"KEHEHGAAHAHAHAHA!!!" Sosok Lulu yang kayang dengan kepala terbalik itu tertawa terbahak-bahak. Matanya yang menghitam tanpa bola mata itu terlihat mengarah ke arah Kaia yang sedang terduduk membatu. Sekujur bulu kuduk Kaia tegak dan merinding. Tangan dan kaki gadis itu gemetaran seakan berada di suhu membeku.


"Heeeeee......." Dan yang lebih parah, mengikuti arah bola mata Lulu, beberapa murid lainnya di kelas sama-sama menoleh dengan leher ke belakang hampir 360 derajat menghadap Kaia.


"A.... A...." Mulut Kaia terbata-bata tak mampu menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


"Kyaaaaaahhhhhh!!!!!" Ibu Heni berteriak nyaring dan berlari keluar kelas. Diikuti anak-anak lain yang tidak kesurupan, semuanya berhamburan berdesakan pergi dari sana.


"KAIAAAAAA!!!" Dengan tubuh kayang, sosok Lulu bermata gelap itu mendekati Kaia. Srek!!!!! Anak-anak lain dengan leher membelok ke belakang, semuanya bangkit berdiri menggeser kursi, dan kali ini kepala mereka berputar lurus menghadap Kaia.


"A... A...." Kaia masih tercekat ketakutan bukan main, sampai syaraf-syaraf tubuhnya mati tak tahu harus melakukan apa.


Tap!!! Tiba-tiba datang sebuah tangan yang menarik tangan Kaia. "Ngapain kamu masih diam! Ayo lari!" Septa mencengkram kuat lengan Kaia dan menarik gadis cantik itu berlari keluar kelas.


"KAIAAAAAA!!!!!" Sosok Lulu yang masih kayang it berteriak menggema, seperti petir yang menyambar, menggetarkan jendela-jendela kelas.


Hah! Hah!!!! Begitu mereka berdua ada di luar kelas, Blam!!!!! Septa langsung membanting pintu dan menguncinya rapat.


"Kyaaaahhh!!! A- Apa yang terjadi!!!?" Baru sejenak bernafas lega, Septa dan Kaia langsung kaget dibuat menoleh ke arah lapangan, tempat kelas lain sedang jam olahraga.


"Ggghhh... Ggggggrrrrrr!!!" Salah satu siswi di kelas yang sedang olahraga itu tampak merangkak seperti harimau dan meraung-raung. Druduk! Druduk! Langit di atas mendukung menghalangi cahaya, membuat suasana semakin mencekam ditambah dengan petirnya yang kadang menyambar.


"Se- Septa!!! Apa yang terjadi!!!!" Seru Kaia berwajah pucat. Septa yang menggenggam tangan Kaia bisa dengan jelas merasakan tangan gadis itu gemetar dan dingin panik. Hah... Septa menarik nafas dan dari wajahnya, tampak cowok itu sedang melihat ke sekeliling sekolah.


"Kamu mungkin enggak melihatnya... Tapi... Ini benar-benar mengerikan." Gulp... Septa menelan ludahnya. Wajah pucat yang sama seperti Kaia juga tampak di wajah cowok itu, tetapi dengan taraf yang lebih lanjut karena ia bisa melihat apa yang terjadi.


"Memangnya apa!!!?" Kaia menarik tangan Septa, ingin cowok itu kembali menatapnya dan menjelaskan apa yang sudah terjadi. Septa sekilas melihat mata Kaia dan pandangannya tertuju ke arah pintu kelas mereka yang barusan ia tutup.


"Ada apa ini!!?" Guru-guru tampak ribut berkeliaran, melihat anak-anak murid mereka banyak bertingkah aneh. Salah satunya Ibu Heni yang langsung berlari ke ruang guru, meminta tolong setelah melihat apa yang terjadi dengan Lulu di kelas yang ia ajar.


"Septa!!!!!" Kaia sekali lagi memanggil Septa yang seketika itu juga menggenggam tangan Kaia dan menarik gadis itu berlari mengikutinya.


Hah! Hah! Hah! Nafas keduanya terengah-engah, berlari sejauh mungkin dari kelas mereka. "Aku enggak tahu apa ini, tapi, Ratu yang mengunjungimu itu membuat marah makhluk penguasa sekolah! Sekarang lagi perang!" Seru Septa yang tampak berkeringat menarik tangan Kaia. Gadis cantik itu lantas merinding terus menerus tanpa henti. Meski matanya tak melihat apa yang terjadi, tetapi, gadis itu bisa merasakannya dengan tubuhnya, kalau memang ada yang tidak beres dengan sekolahnya sekarang! Langit mendung yang menghalangi matahari membuat seakan-akan sekarang sudah malam, dan kesurupan masal yang terjadi semakin merambat bertambah banyak seperti kebakaran hutan yang menjalar.


"Te- Terus sekarang kita mau ke mana!!?" Tanya Kaia menyeru panik.


"Ke mana saja yang penting aman!" Blam!!! Septa menarik tangan Kaia pergi ke UKS saking buru-burunya sampai membanting pintu. Lalu, dengan cepat, cowok itu mengunci pintunya dengan rapat.

__ADS_1


__ADS_2