Panggilan Ratu Laut Selatan

Panggilan Ratu Laut Selatan
Episode 2 (Terlahir Spesial)


__ADS_3

Kaia



Septa



 


Kakek Sanjaya



.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Canda, Hehehe


Kakek Sanjaya



 


"Ka- Kamu... Septa?" Kaia tercekat melihat cowok berhidung mancung dengan sorot mata tajam yang sekarang membukakan pintu yang menurut alamat dari surat wasiat orang tuanya, merupakan alamat Kakek Sanjaya. Kenapa Septa jadi ada di sini!? Pandangan dingin cowok bernama Septa itu pun mulai terangkat, mengarah ke belakang Kaia. Entah apa yang dilihatnya di belakang gadis cantik berkaca mata itu, yang jelas, itu membuatnya mendesis kesal. Seolah-olah, Kaia sudah datang membawa beribu masalah ke rumahnya.


 

__ADS_1


Septa sendiri adalah teman sekelas Kaia di Sekolah. Anak itu pendiam dan jarang bergaul dengan yang lain. Satu-satunya momen Kaia pernah melihat Septa berbicara adalah ketika cowok itu terpaksa presentasi dalam tugas sejarah semester lalu. Setelah itu, karena Septa yang selalu diam dan menarik diri dari pertemanan kelasnya, Kaia jadi tidak pernah memperhatikan tingkah cowok itu di kelas, dan hanya sekedar ingat kalau ia mempunyai teman sekelas bernama Septa yang sekarang secara mengejutkan membukakan pintu rumah Kakek Sanjaya. "Masuk. Kakek sudah nunggu." Septa menyingkir sedikit, membukakan jalan agar Kaia bisa masuk.


Ka- Kakek sudah menunggu!? Jadi beneran ini rumah Kakek Sanjaya!? Dan.... Kakek itu juga tahu aku bakal datang!? Gulp... Kaia menelan ludah. Gadis itu lantas melepas sepatu sambil melihat ke belakang, sedikit penasaran dengan arah mata tajam Septa yang dari tadi terkadang seperti terdistraksi melihat sesuatu di belakangnya. Tapi... Kaia tidak melihat ada apapun. Hanya ada jalan gang sempit yang kosong di belakang pantatnya yang sedang menungging melepas sepatu.


Tap... Tap... Kaia berjalan masuk. Di luar dugaanya, rumah kayu itu ternyata sangat luas. Tadi itu ternyata hanya pintu utama tempat menaruh sepatu, setelah itu, di dalamnya ada sebuah halaman kosong di tengah-tengah. Kaia berjalan di lantai kayu yang mengelilingi halaman kosong itu sambil melihat-lihat. Aneh memang. Biasanya halaman ada di depan. Tapi, rumah Kakek Sanjaya ini ada pintu depan terlebih dahulu, barulah halamannya ada di tengah rumah.


Gulp... Kaia sekali lagi menelan ludah dan gadis cantik berkacamata itu pun mengelus lehernya yang merinding. Mau bagaimanapun, Kaia masih ketakutan sisa dampak semalam. Beruntung, ia bertemu Septa, teman sekelasnya, setidaknya ada seseorang yang ia kenal. Ditambah, rumah Kakek Sanjaya, meskipun terlihat terbuat dari kayu-kayu yang sudah tua, tapi tak ada yang aneh di dalam. Hanya seperti rumah biasa dengan perabotan biasa saja.


Kaia lalu berhenti, mengikuti Septa yang berhenti di depan sebuah pintu yang letaknya paling ujung di rumah itu. Tok... Tok... Cowok itu mengetuk pintunya. "Ya... Masuk." Suara seorang pria yang bergetar dan serak menyahut. Krek.... Pintu pun dibuka, dan Kaia akhirnya melihat sosok yang disebut Kakek Sanjaya itu. Mata gadis cantik itu berkedip-kedip melihat pria tua yang sekarang tampak tersenyum menatapnya. Hangat. Itulah perasaan yang dirasakan Kaia ketika ia menatap Kakek itu. Tubuhnya langsung berhenti merinding, dan gadis itu langsung merasa aman berada di sana bersama Kakek Sanjaya dan Septa yang sekarang menutup pintu.


Dilihat-lihat, ini adalah kamar pria yang disebut Kakek Sanjaya itu. Kakek itu sedang duduk di atas kasurnya yang berkelambu. Ada banyak guci-guci di pinggiran, dan juga ada sebuah lemari. Benar-benar seperti kamar seorang Kakek lansia biasa. Padahal, ekspektasi Kaia bakal ada dupa-dupa atau semacamnya. "Hmm...." Kakek itu tersenyum melihat Kaia yang tampak masih bingung dan jelalatan melihat kamarnya. "Kamu mencari apa, Kaia?"


"E- Enggak apa-apa Kek!?" Kaia yang kepergok langsung menggeleng. Gadis itu pun menghisap bibir dan kali ini fokus menatap lurus ke arah Kakek Sanjaya.


Kakek itu masih tersenyum. "Silahkan duduk.... Maaf tidak ada kursi di kamar ini. Harusnya Kakek menyambutmu dari depan, tapi Kakek terlalu capek habis membersihkan rumput di halaman. Ahaha..." Kakek itu tertawa dan tampak beberapa giginya sudah hilang.


"I- Iya...." Kaia lalu mengangguk dan mengikuti ucapan Kakek itu untuk duduk di lantai. Gadis cantik berkaca mata itu juga sempat melihat ke belakang, mencari Septa yang berdiri di depan pintu. Cowok itu tak berekspresi, hanya diam memandang dengan tatapannya yang tak berubah ke arah Kaia. Gadis itupun kembali berbalik menatap Kakek Sanjaya.


"Kakek turut berduka cita atas kabar yang menimpa Ayah dan Ibumu.... Mereka berdua orang baik yang tentunya sangat menyayangimu." Kakek Sanjaya mengelus janggutnya.


Kaia berkedip-kedip dan membuka matanya lebar. "Ka- Kakek tahu!?"


"Ahaha..." Kakek Sanjaya tertawa melihat reaksi lucu kagetnya Kaia. "Tentu saja Kakek tahu. Bukannya Septa ikut melayat ke rumahmu kemarin?" Kaiapun menepuk jidatnya.


"Oh iya juga... Ehehe..." Kaia cengengesan menatap Septa di belakang yang wajahnya masih tak berubah begitu-begitu saja. Kaia tidak menyadari kehadiran Septa kemarin di rumahnya karena gadis itu masih begitu terpukul dengan kabar duka itu. Ditambah... Hawa keberadaan Septa yang jarang ngomong di kelas membuat Kaia juga tidak sadar cowok itu juga ikut melayat. Bahkan, Kaia sendiri sempat tidak percaya Septa ada di sana melihat sifat Septa yang menarik diri dari pergaulan dan biasanya cuek dengan sekitar.


"Lalu... Kamu pasti tidak sembarang pergi ke sini bukan, Kaia?" Kaia pun mengangguk lalu mengeluarkan surat wasiat dari orang tuanya dan menyerahkannya ke Kakek Sanjaya. Kakek itu menyipitkan matanya yang telah sedikit rabun untuk membaca isi surat wasiat itu. "Hmmm..." Kakek itu bergumam sambil mengelus janggutnya.


"Ke- Kek... Apa yang terjadi?" Kaia menatap dengan tatapan bingung dan meminta penjelasan agar dirinya merasa tenang dan aman kepada Kakek Sanjaya yang sekarang meletakkan surat wasiat Kaia di atas kasur.


Hah... Kakek itu menarik nafas panjang. "Pertanyaan itu justru yang mau Kakek tanyakan ke Kaia. Hal aneh apa yang sudah terjadi sehingga kamu terburu-buru ke sini sampai-sampai gadis cantik sepertimu berambut kusut?"


"Hmmm..." Kakek itu mengangguk. "Apakah wujudnya hitam besar dan wajahnya ada nanahnya?" Ucap Kakek Sanjaya sambil menatap ke belakang Kaia. Gadis cantik berkacamata itupun terbelalak mendengar itu. Dengan tangan yang kembali merinding, gadis itu mengangguki hal itu.


"Kaia... Usiamu sekarang berapa? Masih 17 tahun?"


"I- Iya Kek..." Kaia mengangguk sambil menelan ludah. "Beberapa bulan lagi jadi 18 tahun... Memangnya kenapa Kek?" Keringat menetes dari dahi Kaia ke wajah cantiknya yang penuh tanya. Kakek Sanjaya yang mendengar itu mengangguk lalu perlahan berdiri dari kasurnya. Dengan sedikit kesusahan dan bunyi persendian yang mengkretek, Kakek itu berjalan mendekati Kaia yang tampak dipenuhi berjuta pertanyaan. Pat... Kakek itu mengelus kepala Kaia. Senyumannya sekali lagi membuat Kaia merasa hangat.


"Hmmmh.." Kakek Sanjaya mendengus menahan tawanya. "Dulu, Kakek masih ingat, waktu terakhir kita bertemu, tinggimu masih segini." Ucap Kakek Sanjaya mengelus kepala Kaia yang saat ini duduk. Gadis itu hanya berkedip-kedip dan sedikit menganga bingung.


Dulu!? Memangnya aku pernah bertemu dengan Kakek Sanjaya sebelumnya? Kaia mencoba menggali ingatannya, tapi gadis itu tak sanggup menemukan apapun. Sepertinya, hal itu sudah terjadi lama sekali sehingga ingatannya sudah kadaluwarsa pada saat itu. "Kaia... Kamu baru saja terpukul dengan kabar meninggalnya kedua orang tuamu. Kakek tidak bisa cerita semuanya sekarang, karena kondisi mentalmu yang begini."


Kaia langsung menggeleng tidak terima. "Enggak! Kaia ingin tahu semuanya sekarang! Kaia enggak bakal bisa tidur tenang lagi setelah kejadian semalam...." Gadis itu menggigit bibir dan menatap lurus penuh keyakinan. "Kaia baik-baik saja! Ceritakan saja semuanya Kek!"


Kakek Sanjaya menatapnya sayu dan kemudian balik badan. Hah.... Setelah melihat wajah serius Kaia sekali lagi, membuat Kakek Sanjaya mulai menarik sedikit ucapannya. Kakek itupun memutuskan untuk sedikit bicara, "Kaia... Sejak kapan kamu memakai kacamata?"


"Huh!?" Kaia tidak mengerti kenapa tiba-tiba arahnya menjadi ke sana!? Gadis itu menelan ludah lalu mencoba mengingat. Sejak kapan? Kaia sendiri sampai lupa sejak kapan ia memakai kacamatanya yang tidak pernah diganti entah sejak kapan ini.


"Kenapa kamu memakai kacamata sedangkan penglihatanmu sebenarnya baik-baik saja?" Kakek Sanjaya kemudian duduk bersila di lantai, tepat di hadapan Kaia.


Gadis cantik itu tertegun. Penglihatanku normal-normal saja? Kaia berkedip bingung dengan pernyataan itu. Gadis itu pun tertunduk. Normal? Selama ini Kaia selalu memakai kacamatanya, sehingga hampir tak pernah melihat tanpa benda itu. Setelah mendapat pertanyaan Kakek Sanjaya ia sendiri mulai ragu kenapa ia memakai kacamatanya ini!? Ia tidak bisa mengingatnya... Kenapa? Sejak kecil ia terus disuruh Orang tuanya untuk memakai kacamata itu sehingga sudah menjadi kebiasaan sampai-sampai rasanya kacamatanya itu sudah menjadi bagian dari tubuhnya. Kaia kecil sampai sekarang tak pernah bertanya mengapa ia mesti memakai kacamata. Gadis itu mengira ada masalah di penglihatannya... Tapi... Setelah ucapan Kakek Sanjaya barusan, Kaia baru sadar ia sendiri hampir belum pernah merasakan melihat tanpa bantuan kacamatanya.


"Sekarang, coba lepas perlahan kacamatamu itu." Perintah Kakek Sanjaya yang duduk di depannya. Gulp... Kaia mengangguk dan menunduk melepasnya. Lalu, ketika gadis itu kembali mengangkat kepala, matanya langsung terbelalak dan mulutnya menganga gemetar.


"A... A.... Apa... APA ITU!!!?" Kaia berteriak histeris melihat sosok wanita buruk rupa berambut kusut sedang menjulurkan lidah, mengolok Kakek Sanjaya. Gadis itu langsung merinding sekujur tubuh. Kaia membatu benar-benar ketakutan melihat penampakan itu. Tap... Kakek Sanjaya kembali memasangkan kacamata Kaia di depan mata gadis cantik itu. "A... Aa..." Kaia masih gemetar ketakutan sampai-sampai sekali lagi ia mengompol. Meskipun sekarang, setelah kembali memasang kacamatanya, Kaia sudah tidak melihat pemandangan mengerikan itu lagi.


"Kaia... Kamu itu terlahir spesial. Kamu itu.... Bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat manusia biasa. Hanya saja, untuk melindungimu, kedua orang tuamu memasang mantra di kacamatamu itu agar kamu tidak bisa melihat.... Sosok-sosok bergentayangan tak kasat mata." Tap... Kakek Sanjaya menggenggam tangan Kaia yang gemetaran, mencoba menenangkan gadis itu. Kakek itu juga melihat lantai kamarnya basah akibat Kaia yang ngompol. "Maaf... Apa itu tadi terlalu menakutkan?" Kakek Sanjaya mengeratkan genggaman tangannya.

__ADS_1


"A... A... Apa yang... Apa maksud Kakek....??" Kaia tampak bergidik masih terguncang. Pemandangan kuntilanak yang sedang mengolok Kakek Sanjaya tadi begitu menyeramkan. Padahal, kuntilanak tadi bukan menatapnya.


Pat... Kakek Sanjaya mengelus kepala Kaia. Hangat. Rasanya tidak asing. Ini seperti tangan Sang Ayah yang dulu sering mengelus kepala Kaia ketika gadis itu menangis. "Tenang... Tarik nafasmu, Kaia."


Hah! Hah! Ha.... Hah.... Jantung Kaia yang dedegan mulai melambat ketika gadis itu terus memperlambat nafasnya, ditambah elusan tangan Kakek Sanjaya yang ampuh menenangkannya. "Sudah tenang?"


"I- Iya Kek...." Kaia mengangguk sambil menelan ludah.


"Coba, minum dulu." Kakek Sanjaya menyuruh Septa mengambil segelas air putih dan kemudian menyerahkannya ke Kaia. Gluk... Gluk... Gadis itu menelannya tanpa ragu, dan saat itu juga Kaia merasakan bagian bawahnya basah. Mata gadis cantik itu terbelalak melihat dirinya sampai mengompol.


Bwah!!! Maluuuuuu!!!! Wajah Kaia memerah merona. Untung saja Kakek Sanjaya yang jelas mengetahui hal itu tidak membahasnya. "Mmmm!!!" Kaia mengangkat tangan menutupi wajah. Setelah menarik nafas panjang, gadis itu lalu menatap Kakek Sanjaya kembali.


Kakek itupun tersenyum. "Seperti yang Kakek bilang, kamu itu terlahir spesial. Kamu bisa melihat sosok tak kasat mata yang tidak bisa dilihat manusia lain. Hanya saja, selama ini, kamu tidak menyadarinya karena terus memakai kacamata itu." Tunjuk Kakek Sanjaya.


Hah... Kaia menghembuskan nafas panjang. Ia tak punya pilihan lain selain percaya dengan ucapan Kakek Sanjaya. Selain itu, jika itu benar, Kaia benar-benar bersyukur selama ini tidak melihat mereka. Andai ia melihat pemandangan seperti tadi setiap saat, Kaia mungkin bisa gila.


"A- Apa Kakek juga bisa melihat mereka?" Tanya Kaia dengan mata berbinar-binar.


"Iya. Tentu saja." Kakek Sanjaya mengangguk. "Tapi Kakek tidak terlahir dengan kemampuan itu. Berbeda denganmu, Kakek mendapatkannya setelah menjalani ritual tertenu." Kakek itu tersenyum.


"Te- Terus apa Kakek tahu ka- kalau ada yang.... Mengolok Kakek di samping Kakek!?" Kakek Sanjaya kemudian menggeleng.


"Kakek bisa mengontrolnya, kapan Kakek mau melihat mereka dan kapan tidak. Setelah kamu melihat mereka, tentu saja kamu enggak mau melihat mereka terus-terusankan?"


"Mm!! Mmm!!!!" Kaia mengangguk setuju dengan penuh semangat.


Hah... Kakek Sanjaya lantas menghembuskan nafas panjang sambil mengelus janggutnya. "Berbeda dengan Kakek, Kaia masih belum bisa mengontrol bakat Kaia. Makanya Kaia butuh kacamata itu. Apapun yang terjadi, kalau tidak ingin melihat mereka, jangan sampai kacamata Kaia itu dilepas."


"Iya Kek..." Kaia mengangguk mengerti sambil menggigit bibir. "Te- Terus.... Mengenai surat wasiat itu... Katanya kalau ada sesuatu yang aneh terjadi, dan kemarin malam sudah terjadi... Aku harus bagaimana Kek?" Kaia menatap Kakek Sanjaya dengan tatapan penuh harapan. Gadis cantik itu benar-benar bingung harus melakukan apa dengan semua kejadian mistis yang ia alami sekarang. Fakta kalau ternyata ia bisa melihat mereka bukannya membantu, malah memperburuk. Gadis itu juga ingat, ketika ia ketindihan malam tadi. Ia baru bisa melihat sosok setan yang menindihinya ketika setan itu melepas kacamatanya. Gulp... Kaia menelan ludah.


"Akan sangat berbahaya kalau Kaia tinggal sendirian. Kejadian ketindihan yang kemarin malam terjadi bisa saja terjadi setiap hari, ditambah kejadian lain yang kita tidak tahu bakal seperti apa." Bibir Kaia langsung mengkerut. Benar. Mengingat kengerian malam tadi, gadis itu tidak ingin tinggal sendirian di rumahnya lagi. "Karena itu, sesuai wasiat ini, Kakek dan Septa akan melindungimu. Kamu bisa tinggal di sini sampai masalah ini selesai."


"Kek!" Septa tiba-tiba menyeru angkat bicara. Baru kali ini Kaia mendengar nada bicara cowok itu begitu tinggi seperti itu. Tampaknya, terdengar dari reaksi suara dan raut mukanya, Septa tidak setuju dengan ucapan Kakeknya barusan. Septa menggeleng. "Dia cuma bawa masalah ke sini!" Seru Septa. Benar.... Aku akan merepotkan mereka yang tidak kukenal ini, gumam batin Kaia.


"Jangan begitu, Septa...." Kakek Sanjaya menggenggam tangan Kaia yang sempat menunduk lesu. "Kakek sudah berjanji dengan orang tua Kaia untuk menjaga Kaia kalau saat ini tiba." Saat ini tiba? Saat apa? Kaia mengkerutkan alis dan memiringkan kepala tidak tahu maksudnya. "Bagaimana? Apa Kaia mau tinggal di sini? Kakek mengerti kalau Kaia akan menolak karena berpikir kita tidak saling mengenal sebelumnya. Orang waras pasti pikir-pikir kalau mau tinggal di rumah orang asing." Kakek Sanjaya tersenyum. Ngh! Septa membuang mukanya, tidak menyukai hal ini.


Kaia menunduk. Mama... Papa.... Kenapa hal ini terjadi padanya? Kaia memejamkan mata. Tinggal di rumahnya sendirian setelah semua yang terjadi ini benar-benar hal gila yang tidak sanggup dilakukan Kaia. Benar. Satu-satunya pilihannya hanyalah tinggal bersama Kakek Sanjaya yang berjanji akan melindunginya. Kaia lalu mengangkat wajah dan menatap Kakek Sanjaya. Senyuman dan tangan Kakek itu terasa hangat, menenangkannya. Kaia tidak merasakan ada firasat buruk apapun terhadap Kakek Sanjaya. Ia bisa mempercayai Kakek ini, seperti isi surat wasiat orang tuanya yang juga mempercayakan Kaia kepada Kakek Sanjaya. "Mmm..." Kaia mengangguk menerima tawaran Kakek Sanjaya. Akan lebih baik kalau dia tinggal bersama seseorang setelah kejadian mengerikan itu.


Kakek Sanjayapun tersenyum. "Kamu pasti enggak bawa apa-apakan ke sini?" Kakek Sanjaya menatap Kaia dari atas hingga ke bawah. Gadis itu hanya membawa badan dan pakaiannya saja.


"I- Iya Kek... Hehe." Kaia yang buru-buru pas berangkat tadi juga tidak menyangka bakal tinggal di sini selanjutnya.


"Septa bakal mengantarmu pulang buat berkemas. Ingat, bawa yang penting-penting saja. Seperti kebutuhan sekolahmu buat besok." Nasihat Kakek Sanjaya sambil tersenyum. Sekolah!? Benar juga! Kaia hampir lupa kalau besok ia mesti tetap bersekolah. Sudah beberapa hari ia tidak masuk, dan kalau lanjut tidak masuk lebih lama lagi, itu bakal menimbulkan masalah. "Dan setelah kamu aman di sini, perlahan akan Kakek beritahu semuanya."


Kaiapun mengangguk dan mau berdiri tapi ia sadar kalau celananya basah gara-gara mengompol tadi. Wajahnyapun memerah. Meskipun Kakek Sanjaya tidak berkomentar apa-apa, gadis itu bakal malu bukan kepayang kalau Septa, teman sekelasnya itu tahu kejadian memalukan itu! "Mmmm..." Kaia menggigit bibir dan merapatkan paha. Kakek Sanjaya yang melihat itupun tertawa sedikit. Gluk... Kakek itu sedikit meminum air yang tadi juga dibawakan Septa untuknya. "Ohok!" Tiba-tiba, Kakek Sanjaya pura-pura tersedak dan menyiram celana Kaia. Kakek itu tersenyum dan mengangguk ke arah Kaia. "Ah maaf! Maklum Kakek sudah tua... Celanamu jadi basah." Kaia sempat terdiam sebelum akhirnya gadis itu mengerti kalau barusan Kakek Sanjaya membantunya menyembunyikan aib. Dengan wajah memerah, Kaia menghisap bibir dan menundukkan kepala berterima kasih. Gadis cantik itu pun berdiri mendatangi Septa yang mengkerutkan alis melihat celana Kaia basah. Tapi, sepertinya tindakan Kakek Sanjaya tadi berhasil mengelabui Septa.


"O- Oh iya Kek..." Kaia balik badan lagi, kembali menghadap Kakek Sanjaya. Masih ada kejadian aneh yang membuat pita suranya gatal untuk angkat bicara.


"Iya Kaia?"


"Selain ketindihan... Kaia juga dengar ada suara wanita memanggil begitu... Tapi Kaia enggak tahu siapa...." Kaia menunduk dan menggigit bibir. Gadis itu memeluk diri. Hanya mengingat bagaimana suara bisikan itu saja sudah membuatnya merinding di sekujur tubuh.


Mata Kakek Sanjaya yang mendengar itu terbelalak. Mulutnya terbuka dan tangannya jadi ikut sedikit gemetar. Keringat mengucur dan nafasnya menjadi sedikit terbata-bata, ketika ia merasakan ada sesuatu yang mengawasi mereka dari belakang punggungnya.


Krek... Pintu kamar Kakek Sanjaya terbuka, Kaia dan Septapun melangkah keluar. "Septa pergi dulu Kek." Kakek Sanjaya mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Sang Cucu dan Kaia yang mulai beranjak pergi dan menutup pintu kamar. Ngh! Septa tampak mendesis merasa direpotkan dengan kehadiran Kaia yang bakal menumpang di rumahnya ini. "Ehehe..." Kaia pun cengengesan, tak tahu harus bersikap bagaimana karena ia memang jarang berbincang dengan cowok di sampingnya ini.


"Sanjaya...." Suara bisik halus dari wanita yang mendesis tiba membelai dan menusuk daun telinga Kakek Sanjaya yang terbelalak mendengar suara itu.

__ADS_1


"Diam kau Iblis! Kau tidak akan bisa menyakiti Kaia! Mengerti!?" Gertak Kakek Sanjaya melirik ke belakang.


"HAHAHAHAHA!!!" Sosok bayangan hitam tipis yang tadi berbisik itupun perlahan menjauh dengan tawanya yang menggelegar.


__ADS_2