
"Hmmmm...." Ngek... Ngek... Alis Septa mengkerut ketika pagi ini, saat ia benar-benar baru bangun dari tidurnya dan bahkan belum membuka matanya, tangannya terasa seperti menggenggam sesuatu yang empuk-empuk seperti bola-bola surga. Ngek... Ngek... Sekali lagi Septa meremasnya, dan pikirannyapun semakin bingung. Aneh... Memangnya sejak kapan aku punya bantal begini? Ngek... Ngek...
"Se- Septa...." Septa pun membuka matanya ketika ia tiba-tiba mendengar ada suara seorang gadis yang halus memanggilnya dari samping. Pertanyaan pun semakin banyak di dalam kepala Septa. Huh? Kenapa ada suara cewek di kamarku? Apa dia setan?
"Mmmmhh..." Septa berbalik memiringkan badan ke arah suara yang memanggilnya. Dengan mata yang masih bengkak benar-benar baru bangun dan mulut yang menguap, Septa terdiam melihat Kaia di sampingnya.
"Se- Septa...." Wajah cantik Kaia terlihat memerah. Gadis yang bahkan tidur juga berkacamata itu memandang Septa sambil menggigit bibirnya. Mata Septa yang melihat mata indah Kaia kemudian menurun dan akhirnya ia mendapati kalau sesuatu empuk-empuk yang ia kira bantal dan diremasnya daritadi ternyata adalah dada Kaia.
Hening.
Septa terdiam dan kembali menatap mata Kaia. Gadis cantik itu juga sama-sama terdiam tak bersuara. Tangan Septa masih ada di atas dada Kaia saking canggungnya situasi ini, membuat keduanya tidak tahu harus bertindak apa. Kaia menghisap bibirnya, ini baru pertama kalinya bagi gadis cantik itu ada lelaki yang menyentuh tubuhnya seperti ini.
"Aku tidak sengaja." Ucap Septa setelah menarik nafas.
"M- Mmm..." Kaia mengangguk mengerti. Ia tahu betul, saat Septa meremas dadanya tadi, cowok itu masih tertidur pulas, Kaia juga merasa tidak bisa menyalahkan Septa atas ketidak sengajaan ini. Tapi.... Kaia juga mau angkat bicara, kenapa tangan Septa masih saja ada di atas dadanya!? "Se- Septa..."
"Oh iya, Maaf." Septa yang mengerti menarik tangannya. Cowok itu kemudian bangkit duduk di atas kasur sambil menghembuskan nafas. Hah... Reaksi Septa yang datar dan biasa-biasa saja itu diluar dugaan Kaia. Tapi setidaknya, reaksi Septa yang datar itu membuat kejadian ini bisa cepat tidak dibahas lagi oleh mereka berdua. "Kamu cepetan mandi. Cewek mandinya lambat. Jangan sampai aku telat sekolah gara-gara kamu." Ucap Septa yang beranjak pergi dari kasur keluar kamar.
Blam... Pintu tertutup meninggalkan Kaia seorang diri di kamar Septa. "Aaaaaaaaaa!!!" Kaia meremas-remas dadanya. "Apa yang terjadi!!!?" Wajah gadis itu mendidih merah. Rasa malu yang membara gara-gara kejadian tadi akhirnya memecah ketika Kaia ditinggal sendiri. "Mmmmm!!!" Gadis itu membenamkan kepalanya di bantal dan mengamuk di sana. Buk! Buk! Buk! Kakinya menendang-nendang kasur mencoba melampiaskan rasa malu dan gregetannya. "Aaaaaaa!!!!" Untung saja mulutnya tertutup bantal, sehingga teriakannya tidak terdengar keluar. Hah... Hah... Kaia lalu berusaha menenangkan diri. Mencoba mengatur nafas sedemikian rupa agar pikirannya kembali tenang. "Tenang...." Gumam gadis itu dengan wajah masih terbenam di bantal.
Setelah tenang, Kaia lalu bangkit dari kasur. Gadis itu melihat jam dan memang benar, ia harus segera mandi karena hari ini ia mesti datang ke sekolah. Tak ada lagi kata bolos untuk gadis itu. Minggu lalu, ia sudah berhari-hari bolos karena menunggu kabar kedua orang tuanya. Krek... Kaia membuka pintu lalu pergi ke ruang tengah. Barang-barang dan pakaian gadis itu semuanya masih tergeletak di sana. Saat membuka tas dan mengambil handuk, Kaia pun baru sadar sesuatu. "Oh iya... Toilet dan kamar mandinya memang ada di mana?" Gadis itu pun pergi mencari Septa atau Kakek Sanjaya untuk ditanyai lokasi rumah yang sekarang ditinggalinya ini. Apa boleh buat, gadis itu belum diajak berkeliling untuk melihat lokasi-lokasi di rumah Kakek Sanjaya.
"He- Hei... Septa..." Sapa Kaia malu-malu, masih teringat kejadian bangun tidur tadi.
"Apa?" Sahut Septa datar. Cowok itu saat ini sedang memasak sarapan di dapur. Kali ini, selain untuk Kakeknya, masakan cowok itu terpaksa bertambah satu porsi lagi untuk Kaia.
"Kamar mandinya di mana ya? Ehehe..." Kaia cengengesan menggaruk pipi. Septa yang mendengar itu pun sadar kalau memang Kaia belum tahu ruangan apa saja yang ada di rumah Kakeknya ini. Trek... Alat masakpun ditaruh sebentar, dan api kompor dikecilkan. Tanpa sepatah kata, Septa berjalan, dan Kaia mengikuti ke mana cowok itu melangkah.
"Itu." Tunjuk Septa ke sebuah sumur yang ada di halaman belakang.
"Eh? S- Serius?" Kaia berkedip tidak percaya.
"Iya. Kenapa? Kamu berharap ada bathtub sama shower begitu?" Alis Septa mengkerut dan cowok itu melipat tangannya. Septa tidak berbohong. Kaia bisa melihat ada alat-alat mandi dan sabun-sabun di sana. Kakek Sanjaya dan Septa memang mandi di sumur yang ada di halaman belakang rumah mereka itu.
__ADS_1
"Ka- Kalian serius mandi di situ!?" Kaia melihat-lihat. Masalahnya bukanlah soal ada atau tidaknya bathtub dan shower, melainkan lokasi sumur itu yang ada di halaman belakang. Benar-benar outdoor. Batasnya dengan jalan kecil yang ada di belakang rumah Kakek Sanjaya hanyalah pagar-pagar kayu yang bersela-sela. Kalau ada orang mengintip sedikit saja, maka bisa melihat apa yang terjadi di dalam.
"Iya. Satu-satunya tempat mandi selain di sini hanya ada di kamar Kakek, dan karena Kakek sudah tua dan dulu pernah terpeleset, makanya kami mandi di sini biar Kakek aman dan ketahuan kalau ada apa-apa." Jawab Septa sambil mengangkat bahu, tak mengerti kenapa Kaia begitu mempermasalahkan hal ini.
"Mmmmm...." Kaia menggigit bibir dan tidak ada pergerakan dari gadis itu untuk menuju sumur. "K- Kalian enggak takut diintip!?" Tanya Kaia dengan wajah penuh kekhawatiran. Bagaimana tidak, persis di belakang pagar kayu rumah Kakek Sanjaya itu adalah jalan kecil.
"Enggak. Kamu enggak perlu takut soal itu. Enggak bakal ada yang lewat sana karena jalannya sempit dan sudah ada jalan lain. Lagipula, orang-orang sekitar sini sudah kenal Kakek dan tidak ada yang mau dekat-dekat dengan rumah ini."
Tidak ada yang mau dekat-dekat? Kalimat itu mengaung di dalam kepala Kaia sampai membuat gadis itu memiringkan kepala. "Kalau masalah takut diintip manusia, kamu enggak perlu khawatir." Ucap Septa sekali lagi yang membuat Kaia bertanya-tanya.
"Ma- Maksudmu apa!?" Seru Kaia sampai memajukan badan.
Hah... Cowok itu lantas menghembuskan nafas dan tampak sudah tidak sabar mau pergi kembali memasak di dapur karena urusannya belum beres. "Kamu mau mandi pakai kacamata?" Pertanyaan itu membuat Kaia terdiam. Iya juga! Ka- Kalau kacamataku kulepas... Aku bakal bisa melihat yang aneh-aneh.... Gulp... Kaia menelan ludah. Gi- Gimana dong!? Melihat ekspresi wajah Kaia yang panik, membuat Septa tahu apa yang ada di dalam pikiran gadis itu. "Selama ini bagaimana? Kamu enggak mungkin mandi pakai kacamatakan?"
"Mm..." Kaia mengangguk. Benar. Selama ini, ketika gadis itu masih tinggal di rumahnya, kadang ia melepas kacamatanya termasuk ketika mandi. "Tapi... Aku enggak pernah melihat setan sebelum semua ini...." Gumam Kaia menggigit bibir.
"Rumahmu itu dijaga kedua orang tuamu, makanya enggak ada makhluk halus di situ." Kaia pun berkedip-kedip mendengarnya.
"Darimana kamu tahu?"
"Iiihhh!! Tunggu dulu!!!" Seru Kaia menarik lengan Kaos Septa sampai mau sobek.
"Apa lagi sih!? Banyak tanya!" Kesabaran Septa pun sepertinya sudah di ujung tanduk.
"A- Ada yang nungguin di sini!?" Wajah Kaia tampak pucat. Septa lalu dengan santainya mengangguk. "Bisa diusir enggaaak!!!??" Seru Kaia sudah hampir putus asa.
"Enggak bisa." Septa menggeleng. "Mereka penunggu rumah ini, dan lagian, mereka juga ikut menjaga rumah ini biar enggak dimasukin pasukan Ratu Selatan yang mengincarmu." Kaia terdiam mendengar itu. Apa boleh buat.... Berarti, entah makhluk apa yang ada di sekitaran sumur itu, setidaknya mereka tidak berniat jahat. "Sudah! Kompor di dapur masih menyala! Pokoknya kalau mereka jahil, pura-pura enggak tahu saja." Septa pun pergi, kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan Kaia sendirian di halaman belakang.
"Mmmm...." Gara-gara cerita Septa barusan, Kaia jadi kepikiran dan merinding memeluk dirinya. Gadis itu melihat sekeliling. Selain sumur yang ada di tengah-tengah halaman belakang rumah itu, juga ada sebuah pohon di ujung halaman. "Hiiiii!!!" Kaia yang tak mau berlama-lama melihat pohon itu segera balik muka. Hah... Tenang... Tenang Kaia! Kalaupun mereka ada di sana, mereka enggak jahat kok kata Septa! Hah... Kaia mengatur nafas. Sudah dua hari jika ditotal dari kemarin-kemarin ia tidak mandi, dan kalau hari ini ia mau berangkat sekolah, gadis itu tak punya pilihan lain selain mandi!
"Mmmmm..." Sambil menggigit bibir, Kaia melucuti diri. Matanya juga tak luput melihat kiri kanan, mengamati pergerakan kalau-kalau ada yang mengintip. Memang, mandi di halaman terbuka membuat pikiran Kaia was-was karena belum terbiasa. Ditambah soal perkataan Septa tadi, gadis itu jadi super waspada dengan keadaan sekitar. Srek... Kaia menaruh handuk di gantungan di dekat pintu, dan ketika tubuhnya sudah tak berbusana, gadis cantik itu pun melangkah mendekati sumur. Di sebelah sumur itu ada bilik khusus toilet. "Mmmm..." Kaia menggigit bibir sambil mengangkat tangan menutupi diri. Apa benar dirinya akan mandi terus-terusan di sini selama ia tinggal di rumah Kakek Sanjaya? "Aaaaaaa..." Gadis itu menggeleng tak sanggup memikirkannya. Karena itu, tanpa berpikir, Kaia yang baru bangun pagi dan mendapat panggilan alam itu langsung menjongkok di toilet yang ada di sebelah sumur.
"Mmmm...." Csss... Hasrat buang air kecil Kaia pun terpenuhi. Meskipun ada biliknya, itu hanya menutupi sebagian bawah agar tidak menciprat. Kaia tetap harus menggayung dari sumur kalau mau membilas diri. "Mmmm..." Gadis itu membenarkan kacamatanya yang melonggar sambil terus mengejan. Tubuhnya yang menjongkok itu sekarang tepat menghadap pohon di halaman belakang rumah Kakek Sanjaya. Gulp... Kaia menelan ludah, kepikiran soal perkataan Septa tadi. A- Apa sekarang... Ada yang lagi ngeliatin aku!? "Mmmmmmm!!!!" Kaia merapatkan paha berniat menutupi diri. Ketika dirinya sudah selesai dan mau mengambil gayung, Druduk! Tiba-tiba gayung yang ada di atas sumur jatuh tanpa sebab.
__ADS_1
Mata Kaia terbelalak dan tubuhnya terdiam. Tadi itu, sangat tidak mungkin terjadi akibat angin, karena gayungnya tepat berada di tengah pinggiran sumur. Hah... Hah... Tenang Kaia... Anggap saja tidak ada apa-apa seperti sebelum-sebelum ini... Gadis itu pun mengambil gayung dan membilas diri. Byur! Byur! "Aaaaahhhh..." Nikmat dan segar. Akhirnya, setelah dua hari berturut-turut tidak mandi, begitu tubuhnya terkena air sumur yang begitu dingin, rasanya tubuhnya langsung segar bukan main. Gadis itu kemudian mulai menyabuni tubuh dan rambut. Masalah baru pun muncul. Memang tidak mungkin mandi sambil memakai kacamata. Kaia benar-benar ingin menyiram mukanya agar segar.
Gadis itu terdiam dengan gayung di tangan. Dia tahu, cepat atau lambat, kalaupun hari ini ia tidak membilas wajahnya, suatu saat Kaia pasti akan membilasnya. Enggak apa-apa kalau cepat-cepat! Begitu pikir Kaia yang kemudian langsung dengan cepat melepas kacamatanya dan mengguyur wajah dengan air sumur. Byurrr!!! Dingin. Segar. Rasa kantuk langsung menghilang. Setelah menyabuni muka dan membilasnya sambil menutup mata, Kaia selesai dan berniat memakai kacamatanya kembali. Di saat gadis itu ingin mengambil kacamatanya, mau tak mau ia mesti membuka mata sedikit, tetapi, setelah melihat ada sesosok bayangan dari matanya yang menyipit karena tak mau membuka lebar-lebar, gadis itu malah terkejut dan terbelalak. "Kyahhh!!" Bukannya mengambil kacamatanya, Kaia justru mengangkat tangan menutupi tubuh.
Satu, tiga, lima. Ada banyak sosok anak-anak berpakaian daerah yang tadinya tidak ada di sana seingat Kaia saat gadis itu masih berkacamata.
Mereka menyebar di pohon. Ada yang bergelantungan, ada juga yang menyender di batang. Muka mereka pucat, tetapi, mereka semua cekikikan melihat Kaia. "Mmmmm..." Bukannya merasa malu, Kaia malah merinding sekujur tubuh. Ia tahu, anak-anak itu bukan berasal dari alam yang sama. Dengan cepat, gadis itu memasang kacamatanya dan langsung bergegas handukan kembali ke dalam rumah.
"Ooh, Nak Kaia sudah mandi?" Sapa Kakek Sanjaya yang pas sekali keluar kamar, ketika Kaia yang buru-buru itu masuk ke dalam rumah. Gadis itu masih handukan dan basah merintikkan sisa-sisa air mandinya. Wajah Kaia yang sedikit pucat membuat Kakek Sanjaya tahu apa yang sudah dialami gadis itu. "Kamu dijahili penunggu pohon di belakang?" Tanya Kakek Sanjaya menghampiri Kaia.
"E- Enggak Kek..." Kaia menggeleng, "Cu- Cuma ditonton..." Gadis itu menunduk merah. Ketika ia sudah sampai di dalam rumah, barulah ia sadar, bisa jadi, bukan cuma pas mandi saja ia ditonton. Saat kencing, Kaia ingat betul menjongkok menghadap pohon, yang otomatis menghadap mereka semua. "Mmm..." Kaia memerah sekaligus merinding.
"Yah... Mau bagaimana pun, mereka ada di sekitar kita, jadi segala sesuatu yang kita lakukan sudah pasti ada yang melihat. Asalkan mereka tidak berniat jahat, walaupun kadang jahil, itu tak masalah." Kakek Sanjaya tersenyum. Kaia pun menunduk dan menggigit bibir. Iya memang... Makhluk-makhluk tadi tidak melakukan apapun. Tapi tetap saja, gara-gara Kaia sekarang bisa melihat mereka, gadis itu merasa sudah mandi dan kencing ditonton banyak orang... Bibir merah muda merona Kaiapun memanyun. Kalau sudah begini... Mau tidak mau Kaia harus membiasakan diri. "Oooh..." Kakek Sanjaya tiba-tiba manggut-manggut tanpa alasan yang jelas sambil menatap sesuatu di belakang Kaia. Gadis itu pun bengong sejenak memperhatikan tingkah Kakek Sanjaya yang ia kira tadi berceloteh kepadanya.
"Ke- Kek?" Panggil Kaia, Kakek Sanjaya pun menoleh kembali ke arahnya sambil tersenyum.
"Mereka menyukaimu Kaia. Kata mereka, enggak perlu khawatir dan takut begitu kalau mandi di sana."
"Hiiii!!!" Kaia merinding dan lanjut melangkah. Gadis itu masih bisa merasakan tatapan-tatapan makhluk-makhluk tadi masih mengarah padanya saat ini.
Setelah mandi, Kaia berpakaian dengan cepat di ruang tengah. Gadis itu lalu duduk di meja makan, dan sarapan yang dibuat Septa sudah siap masih panas-panas. Cowok itu barusan sudah selesai mandi dan sekarang sedang berpakain di kamarnya. "Am..." Kaia menyantap roti bakar telur itu dan matanya terbuka lebar. "Mmm... Enak.." Gumam gadis itu dengan suara membulat karena mulut terisi penuh belum selesai mengunyah. Dari kemarin, makanan buatan Septa enak-enak terus. "Eh!? Bentar Kek!" Kaia lalu menaruh rotinya sejenak di atas piring, membantu menggeser kursi makan agar Kakek Sanjaya yang datang bisa duduk.
"Terima kasih..." Ucap Kakek itu hangat. Tak lama setelah itu, Septa datang sudah siap dengan tasnya dan langsung ikut duduk menyantap sarapan. Roti bakar telur di piring masing-masing itu pun perlahan habis.
"Oh iya...." Kakek Sanjaya berceletuk. "Septa, jangan lupa nanti beli barang-barang yang Kakek bilang ya."
Alis Septa mengkerut mendengarnya dan kemudian matanya beralih memandang Kaia. "Kita serius mau melakukannya Kek?"
"Eh? A- Apa?" Kaia berkedip-kedip, toleh-toleh ke Septa dan Kakek Sanjaya bergantian. Jelas sekali, mereka berdua sedang membicarakan sesuatu yang ada hubungannya dengan Kaia.
"Kita akan melakukan ritual agar setidaknya dirimu mendapat sedikit perlindungan. Setelah kedua orang tuamu meninggal, kamu itu ibarat berjalan di alam mereka tanpa pengawalan. Dengan adanya pasukan Ratu Laut Selatan yang memburumu, itu sangat berbahaya." Gulp... Kaia langsung semangat mengangguki ucapan Kakek Sanjaya barusan. Tanpa protes, Kaia setuju akan melakukan apa saja agar bisa selamat. "Yah, meskipun itu tidak akan menghentikan perjanjian dengan Ratu itu, tapi setidaknya kamu mempunyai perlindungan dari gangguan kecil."
"Iya Kek!" Kaia mengangguk dan mengepalkan tangan kuat. "Tapi, Kaia mesti ngapain Kek!?" Semangat Kaia pagi ini membara-bara, mungkin efek segar setelah mandi.
__ADS_1
"Kaia bisa menemani Septa berbelanja bahan-bahannya dulu. Ritualnya masih lama, mesti nunggu malam Jumat dulu." Kakek Sanjaya tersenyum, dan Kaia mengangguki hal itu.