Pasukan Angin Ribut

Pasukan Angin Ribut
PAR|01|


__ADS_3









_Chp 01_


'buruan setan!.'


"Sabar Babi gue lagi jalan."


'lama lo.'


Yovie berdecak, tanpa mengucapkan apapun lagi pemuda itu memutuskan sambungan telpon dan segera beranjak keluar kamar dengan peci diatas kepala dan sarung yang ditenggerkan dibahu.


"Bund, Yovie ke masjid ya mau ikut tadarusan."


"Wih, rajin ya anak kamu."


Yovie lantas mendonggak, pemuda itu tersenyum tipis saat melihat banyak orang diruang tamu. Rupa nya sang bunda kedatangan tamu.


Linka terkekeh pelan."Alhamdulillah."


"Yovie kan? Kamu udah juz berapa nak?." Tanya salah satu wanita paruh baya seumuran linka sang ibu itu.


Yovie langsung menyunggingkan senyum lebar nya."5 Bu." Jawab nya ramah.


"anak kamu Lin udah cakep, pinter, Soleh lagi. Bener-bener mantu idaman."


Mendengar pujian tersebut linka spontan meringis pelan. Sedangkan Yovie sudah menyengir lebar."maksud saya iqro 5 Bu." Ujar nya langsung ngibrit keluar.


Pemuda itu berlari ketaman komplek dimana yang lain nya sudah menunggu untuk ke masj— rumah kosong dibelakang komplek perumahan mereka. Dia memang sengaja berbohong sebab jika sang bunda tahu bahwa dia bukan pergi untuk mengaji melainkan bermain pasti tidak akan diizinkan. Lagipun kalau bukan bulan puasa Yovie mana mau ngaji.


"Lama banget Lo, pasti dandan dulu ya?." Tuding Sasa langsung begitu Yovie sudah sampai.


"Gue izin dulu sama bunda! Gue kan anak baik gak kaya kalian."


"Halah tai." Cibir Kania.


"Paling izin mau ngaji Lo." Ucap Riyan tepat sasaran membuat Yovie cengengesan.


"Yaudah yuk, udah semua kan?." Tanya Icha bangun dari duduk nya.


Kania mengangguk."udah yok, keburu malem banget." Ajak nya langsung menggandeng lengan Chelsea.


"Gue ngantuk." Celetuk Deina menguap kecil.

__ADS_1


Kania langsung mengeluarkan permen lolipop disaku nya, dengan gerakan cepat gadis itu membuka permen dan memasukan nya kedalam mulut Deina yang kembali terbuka karna menguap.


"Ohokk."


"Makan itu dan diem."


"Setan emang Lo, kalo gue mati keselek gimana?!." Sembur Deina ngegas.


"Tinggal kubur." Jawab Chelsea polos.


"Hooh, lagian bagus juga kalo manusia kaya Lo mati biar gak bikin padat bumi." Sambung Yovie.


"Aku gwechana." Ucap Deina dengan raut datar langsung nyelonong sembari menggandeng Icha.


"Ini kita mau ngapain kerumah kosong?." Tanya Fiya disela-sela perjalanan mereka menuju gerbang belakang komplek.


"Nyari setan." Jawab Riyan.


"Ngapain ngajak gue?." Sungut Fiya langsung, dia paling anti dengan kegiatan unfaedah begini. Lebih baik diam dirumah atau kemajid ikut tadarusan.


"Biar kalo ada apa-apa ada Lo yang langsung bacain doa makan." Jawab Sasa.


"Ayat kursi, tolol." Ralat Kania disertai umpatan.


Fiya mendengus."dih ogah, gitu doang mah Riyan juga bisa."


Deina menggelengkan kepalanya."kita kan geng, dan Lo sebagai anggota geng punya posisi khusus yaitu baca ayat kursi kalo ada setan yang energi jahat nya gede."


"Geng apaan anjirt?."Yovie mengernyitkan kening heran.


"Artis dunia ghaib?." Beo Icha menggeleng kan kepala tidak habis pikir.


"Sinting, mana ada artis dunia ghaib." Seloroh Fiya.


"Ada."


"Siapa?."


"Ya kita!" Seru Kania ngegas."Lo lupa gimana populer nya nama kita dikalangan para setan?." Tanya nya membuat Fiya berdecak.


"Timbang populer dikalangan setan doang bangga lu." Cibir Yovie yang langsung mendapat toyoran dari Sasa.


"Kita tuh kaya grup K-Pop di dunia ghaib. Fans nya juga bejibun kan apalagi Riyan, ntar kapan-kapan kita Adain pesyen sigh."


Deina mengangguk setuju."bener, Riyan dijadiin bisual aja digrup Kita biar makin populer."


"Visual kak bukan bisual." Koreksi Chelsea polos.


"Iya itu bisual."


"Visual tolol, mulut Lo typo Mulu." Ujar Yovie menggeplak kepala gadis itu. Kalau Icha cerewet, dan Chelsea latah. Sedangkan Deina mulut nya sering typo.


Jarak gerbang belakang komplek sebenar nya cukup jauh, tapi tidak terasa mereka sudah sampai karna disepanjang perjalanan sibuk mengobrol.


"Hawa nya gak enak." Celetuk Fiya menatap lurus kearah gerbang didepan nya yang menunjukan sebuah lapangan dengan rumah dibagian tengah dan hutan dibagian belakang, Kanan serta kiri.


Icha berdehem pelan, pandangan gadis itu mengedar menatap rumah kosong dibalik gerbang tersebut. Rumah besar dan mewah dengan 3 lantai berwarna putih dengan gaya keeropaan itu benar-benar terlihat angker dan tidak terurus.

__ADS_1


"Gas yok." Ajak Rania nyelenong membuka gembok gerbang dengan kunci yang dia curi diam-diam dari satpam yang berjaga didepan komplek.


"Ini dulu nya rumah siapa?." Tanya Chelsea penasaran.


"Kata emak gue sih ini dulu rumah yang punya komplek, tapi karna suatu kejadian Mereka sekeluarga pindah dan jual komplek ini yang akhir nya dibeli sama bapak nya gue. Terus karna pemilik sebelum nya minta ini rumah jangan ditempatin akhir nya dibiarin aja sama bapak gue, malahan dia malah buat tembok pembatas sama gerbang ini buat jaga-jaga." Jelas Icha panjang lebar.


Dulu saat pertama kali pindah kesini sekitar kelas 2 SMP disini memang tidak ada apapun sebagai pembatas, tapi beberapa bulan kemudian ayah nya membuat tembok pembatas setinggi 5 meter dengan gerbang besi hitam yang sama tinggi nya.


Mendengar cerita Icha, secara refleks Deina bergerak menahan Rania yang hendak membuka gerbang. Dengan gerakan cepat gadis itu langsung kembali mengunci gerbang.


"Lo apaan sih?!." Tanya Rania ngegas.


Deina menggeleng."jangan kesana, bahaya." Ucap nya. Diantara mereka, Deina memang orang yang paling peka dan kuat insting nya sama seperti Riyan. Pemuda itu sendiri pun merasakan energi jahat yang begitu besar dari sana padahal jarak mereka dan rumah kosong itu terpaut cukup jauh tapi energi jahat nya sudah terasa begitu besar.


"Tapi kita udah jauh-jauh kesini!." Protes Sasa tidak terima, padahal gadis itu sudah sangat menantikan hal seru.


"Mending jangan, perasaan gue gak enak." Ujar Fiya diangguki Icha.


"Mamah juga pernah bilang, jangan pernah sekalipun kita ngelewatin gerbang ini." Ujar Icha memberitahu apa yang diucapkan sang ibu waktu itu saat dia bertanya mengenai rumah kosong tersebut.


"Kenapa Lo baru bilang juleha?." Tanya Yovie gemas.


Icha menyengir lebar."lupa hehe."


"Yaudah yuk pul— hatcwiiii"


"Buset." Guman Sasa melotot saat Chelsea mendadak bersin.


Deina yang semula menahan tangan Kania langsung dengan sigap menegakan tubuh nya saat tidak sengaja menatap kesalah satu arah, dengan gerakan pelan dan kaku gadis itu berjalan maju menjauh dari gerbang.


"Ada setan? Mana?." Tanya Yovie santai.


Sedangkan itu Deina sudah mengenggam lengan Icha dan berancang-ancang untuk lari.


"Lo kenapa sih Dei?." Tanya Icha heran.


"LARI COK, ADA NENEK GAYUNG SAMA KAKEK CANGKUL MEREKA BAWA PASUKAN BANYAK!."


Bukan nya berlari tapi mereka malah terdiam menatap Deina yang sudah ngibrit duluan sembari menarik Icha.


Klangg


Kania tersentak, refleks menoleh kearah gerbang."anjirt." Guman Rania ngeri begitu melihat arwah nenek-nenek tengah memukuli gerbang menggunakan gayung yang dibawa nya.


"DEINA ANJENG WOI, TUNGGUIN!." Teriak Yovie ikut berlari menyusul Deina.


Klang...klang...Klang...


Suara gerbang yang dipukuli menggunakan gayung semakin terdengar kencang.


"LARI BEGO!." Seru Sasa menarik Chelsea yang malah terdiam sedangkan yang lain nya sudah lari duluan.


Akhir nya mereka berlari pontang-panting sembari berteriak dan saling memaki satu sama lain.


Disela lari nya Riyan menolehkan kepala kebelakang menatap kearah gerbang, rasa nya seperti ada sesuatu yang sedang mengawasi dari kejauhan dengan energi yang begitu besar.


Rasa nya, seperti terancam.

__ADS_1


__ADS_2