Pasukan Angin Ribut

Pasukan Angin Ribut
PAR|02|


__ADS_3

_Chp 02_


Ngantuk, itu yang kania rasakan sekarang. Manik gadis itu terlihat sayu sembari berusaha terus menatap untuk memperhatikan guru. Dia memang anak pintar, tapi sebenar nya Kania bukan anak yang rajin belajar, gadis itu sering sekali membolos atau tidur dikelas tapi kali ini tidak bisa sebab yang mengajar adalah Bu tanti guru muda baru yang terkenal killer dan menyebalkan.


Kata nya guru itu tidak segan-segan untuk memukul murid yang melawan atau nakal, Kania membenarkan hal itu karna dia sendiri pernah terkena tamparan bersama Sasa dan Deina. Sialan sekali memang, mana ada guru yang boleh melakukan kekerasan begitu tapi Bu tanti itu anak dari kepala sekolah jadi nya tidak mendapat teguran sedikitpun. Yang ada kalau diadukan pada guru lain pun bukan Bu tanti yang ditegur tapi malah murid yang mengadukan yang ditegur bahkan dihukum.


Kania menggeleng miris."guru sinting." Guman nya pelan membuat Chelsea yang duduk disebelah nya langsung menoleh.


"Siapa yang sinting?." Tanya gadis itu menatap Kania lugu.


"Elo." Jawab Kania langsung.


"Ih Nia, gue aduin kak Fiya ya." Ancam Chelsea cemberut.


"Dih, dikata si piya emak Lo?." Tanya Kania julid.


Chelsea semakin cemberut, mood nya daritadi pagi sudah tidak bagus dan begitu berbicara dengan Kania mood nya semakin anjlok.


"Nia nyebelin!."


"Bodoamat." Guman Kania menelungkupkan wajah nya diantara lipatan tangan, sungguh rasa kantuk nya tidak bisa ditahan lagi.


"Kania—"


Bukk


"HUWAAAA."


Kania tersentak begitu suara teriakan Chelsea terdengar, Refleks gadis itu menegakan tubuh nya."anjir, Lo kenapa heh?." Seru nya bertanya pada Chelsea yang sekarang tengah menunduk sembari menutupi hidung nya.


"Kania, Chelsea, dilarang mengobrol saat jam pelajaran ibu tengah berlangsung."


Manik Kania berubah Tajam dan langsung menatap Bu tanti, kemudian tatapan nya beralih pada Chelsea dan sebuah buku yang sudah tergelatak dilantai tepat disebelah meja Chelsea.


"Ibu lempar temen saya pake buku?!."


Tanya Kania menatap Bu tanti dengan mata melotot.


"Itu hanya sebagai bentuk teguran agar kalian tidak lagi mengobrol dikelas. Sekarang duduk dengan tenang dan perhatikan ibu."


Tanpa menghiraukan perkataan Bu tanti, Kania langsung berdiri dan menghampiri Chelsea."mana sini gue liat." Ujar nya dengan cepat menarik lengan Chelsea yang menutupi hidung.


"Kania!."


"Lo mimisan." Guman Kania terkejut begitu melihat telapak tangan Chelsea yang dilumuri darah.


"Gue gak papa." Ujar Chelsea sambil mendonggak membuat Kania semakin membulatkan mata.


"Gak papa pala Lo gelinding! Ayo buru ke Uks." Ajak nya khawatir, Kania baru ingat bahwa Chelsea tengah demam.


Daya tahan tubuh gadis itu lumayan kuat, tapi jika tengah sakit maka daya tahan tubuh nya akan melemah sekarang saja wajah nya sudah pucat membuat Kania khawatir.

__ADS_1


"Saya tidak izinkan kalian keluar dari kelas sebelum jam pelajaran saya usai."


Kania langsung menatap Bu tanti tajam."sinting, Lo gak liat temen gue lagi sakit? Dan itu gara-gara Lo! Dasar guru gila."


"Kania! Jangan lancang kamu." Sentak Bu tanti menggeram marah.


Kania berdecih, kemudian dengan gerakan pelan gadis itu membantu Chelsea berdiri.


"Gue gak papa Nia, mending duduk lagi daripada nanti Lo dimarahin Bu tanti." Bisik Chelsea lemas.


"Diem Lo."ketus Kania menyeka darah yang keluar dari hidung Chelsea dengan lengan Hoodie nya.


"Kania duduk."


Bu tanti menggeram marah saat murid nya itu malah tidak mendengarnya. Dengan gerakan cepat guru itu mengambil sebuah kotak bekal milik siswi yang duduk dibagian paling depan kemudian melemparkan nya pada Kania.


Bugh


Para siswi memekik terkejut sedangkan Kania langsung terdiam. Kotak bekal itu tepat mengenai punggung Kania dengan kencang dan setelah nya berakhir mengenaskan dilantai dengan isi nya yang berhamburan.


"Bu, itu makanan buatan ayah saya!." Siswi berkacamata pemilik bekal tersebut langsung berseru antara marah dan sedih melihat bekal yang sudah payah dibuat ayah nya hancur begitu saja.


"Diam, atau saya keluarkan kamu dari sekolah. Dasar murid beasiswa miskin."


Siswi itu tersentak mendengar bentakan ibu Tanti."emang kenapa kalau saya murid beasiswa yang miskin Bu?." Tanya nya bergetar.


Bu tanti tersenyum sinis."kamu harus sadar diri, sekarang kamu berada di Arjuan high school. Sekolah elit terbaik dijakarta, kamu harus nya bersyukur karna bisa masuk kesini dengan beasiswa. keluarga kamu yang miskin itu tidak akan mampu membayar biaya sekolah jika nanti nya beasiswa kamu dicabut."


Ditempat nya Kania terkekeh sinis."memang nya ibu punya hak apa sampai-sampai ingin mencabut beasiswa Felly?." Tanya nya berbalik menatap guru itu remeh.


"Kania, semua orang tahu bahwa ayah saya adalah kepala sekolah disini. Jadi mudah saja bagi saya untuk melakukan hal itu, bahkan untuk mengeluarkan kamu pun saya bisa."


Kania tertawa geli."papa saya pernah bilang 'musuh terbesar seseorang adalah rasa percaya diri yang terlalu tinggi.' Kata papa saya, memang bagus kalau kita percaya diri tapi buruk juga jadi nya kalau kita terlalu percaya diri sampai memandang tinggi diri sendiri dan memandang rendah orang lain. Ibu kan guru yang pinter, harus nya ibu tau dong arti dari perkataan papa saya?." Tanya Kania sembari menyunggingkan senyum tipis nya.


Setelah nya Kania memapah Chelsea menuju Uks tanpa menatap Bu tanti sedikit pun. Terserah saja guru itu mau melakukan apa hari ini, tapi besok Kania pastikan guru itu akan menyesal.


"Harus nya Lo jangan begitu Nia, kalo nanti kita dikeluarin dari sekolah gimana?."


Gadis itu terkekeh geli mendengar ucapan Chelsea."dongo, Lo lupa ini sekolah punya siapa?."


"Oh iya ya, sekolah punya suami nya kak Icha."


"Suami mata Lo siwer."


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Riyan menyandarkan punggung nya pada kursi dengan manik yang menyorot lurus pada Bu tanti yang kini mengajar dikelas nya. Kemudian manik pemuda itu beralih pada meja kosong disebelah nya.


'sttt, heh setan.' panggil Riyan dalam hati membuat hantu perempuan yang duduk disana langsung menoleh.


'kenapa ganteng?.' tanya nya mengedipkan sebelah mata milik nya yang sudah membusuk.


'bantuin gue, mau gak?.'


'pasti mau lah, bantuin apasih ganteng?.' hantu itu kegirangan sendiri sebab Riyan mau melihat dan berbicara pada nya padahal sedari dulu mau separah apapun dia menganggu pemuda itu tidak pernah sekalipun melirik nya.


'jailin itu guru, jangan parah tapi.'


Hantu itu menoleh kedepan.'guru nyebelin itu? Kamu gak suka ya sama dia? Mau aku bunuh dia nya?.'


'dasar setan, udah gue bilang jailin doang oke? Jangan parah.'


Hantu itu spontan cemberut.'yaudah iya, sebagai ganti nya nanti aku mau foto sama kamu biar bisa dipost di setangram.'


Riyan mengernyitkan kening nya.'setangram apaan?.'


'ituloh, kalo didunia manusia Instagram kalo di dunia hantu setangram nama nya.' Jelas hantu itu.


'yaudah, buruan sana.'


'oke.' dengan semangat hantu itu melayang mendekati Bu tanti, sedangkan ditempat nya Riyan hanya diam mengawasi.


'hihihi.' hantu itu cekikikan sembari berjongkok tepat disebelah kaki Bu tanti, lalu dengan gerakan cepat lengan hantu itu menarik salah satu kaki Bu tanti membuat si empu kaki berteriak dan terjatuh.


BRUKKK


Riyan menghela nafas kasar begitu melihat Bu tanti terjatuh dengan kencang, dan yang lebih parah nya wajah guru muda itu menghantam lantai. kemungkinan besar tulang hidung nya patah, Riyan jamin itu.


'anjir, gue bilang kan jangan parah jailin nya!.'


Hantu itu langsung melayang kembali mendekati riyan.'iya aku tau, makanya aku cuman jailin dikit doang kalo kaya gitumah bukan apa-apa.'


Riyan kembali menghembuskan nafas kasar. Terkadang dia lupa, bahwa sesuatu yang kejam dan keterlaluan menurut manusia adalah hal yang biasa saja bagi para hantu.


'hihihi, yaudah yuk Poto.'


'emang Lo punya hp?.'


'punya dong, hp ghaib.'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2