
BRAKKK
Deina terdiam tepat dihadapan pintu kamar mandi yang tiba-tiba saja tertutup dengan kencang membuat diri nya terkurung didalam. Perlahan kedua manik gadis itu mengedar menatap seluruh sudut dikamar mandi, tidak ada apapun tapi Deina yakin disini dia tidak sendiri.
"Hawa nya nyampur." Guman Deina pelan merasakan panas dan dingin disaat yang bersamaan. Hawa dingin yang dirasakan adalah tanda dari arwah baik, sedangkan hawa panas adalah tanda dari arwah jahat dan gadis itu merasakan kedua nya disaat yang bersamaan.
Prakk
Deina menoleh dengan cepat, gadis itu terdiam menatap botol body serum milik nya yang semula tertata rapi bersama perlengkapan mandi lain nya kini tergelatak dilantai.
"Ih anying, dikira murah apa." Dumel Deina melihat setengah body serum didalam botol tersebut tumpah keatas lantai karna tutup nya yang terbuka."Lo mau apasih? Kalo mau ngajak gelut ayo keluar, tubir langsung kita. Jangan main curang begini apalagi sampe ngerusakin barang-barang gue yang berharga. gue baca doa makan mampus lo."
Coba kalau ada Sasa atau Kania, sudah pasti gadis itu langsung disembur 'AYAT KURSI ANJING, JANGAN TOLOL KAYA YOPI!.'
PRANGG
Kaca dikamar mandi nya tiba-tiba pecah, spontan gadis itu ngamuk."Ngelunjak ya Lo setan!. Keluar sini Lo bangsat!."
Srett
"Allohu Gusti, kesel aing." Deina berdecak prustasi, hantu itu tidak kunjung menampakkan diri dan kini kaca-kaca pecah yang tercecer dilantai malah terangkat dengan ujung yang tajam dan runcing mengarah pada Deina.
"Deina? Kamu kenapa?!."
Deina spontan menoleh agak linglung kearah pintu begitu mendengar suara teriakan dari luar."aku gak papa ma." Seru nya.
"Kamu ngapain didalem? Tadi mama denger ada suara pecah, apa yang pecah?!."
"Gak—ANJING, SETAN BANGSAT!." Deina refleks berteriak sembari menunduk saat kaca-kaca itu melesat kearah nya dan berujung menghantam pintu serta tembok hingga menimbulkan suara benturan, tidak kencang memang tapi suara nya cukup membuat orang-orang yang berada diluar kamar panik.
"Deina kamu ngapain? Bukan pintu nya." Kali ini suara papa nya yang terdengar.
Deina mendesis sebal sembari memegang pergelangan tangan kiri nya yang tergores sampai menimbulkan luka memanjang, darah yang keluar bisa dibilang lumayan banyak sampai menetes keatas lantai. Kemudian gadis itu mendonggak, seketika sorot nya menajam menatap bengis pada sosok hantu yang baru saja menunjukan diri nya.
"Tai Lo, dasar setan jahanam!." Sembur Deina gondok.
'tolong...'
"Dih." Seketika Deina langsung menatap hantu itu sensi."gatau diri banget ya Lo babi! Dateng gak diundang abis itu bikin rusuh, terus sekarang minta tolong. Gak punya malu Lo?!." Hardik Deina kasar.
'kamu harus menolong saya.'
Belum sempat Deina menjawab, tiba-tiba pintu menjeblak terbuka dengan kencang bersamaan dengan hilang nya arwah tersebut.
BRAKKK
Seketika Deina mendengus, gadis itu bangkit berdiri dan menoleh kearah pintu.
"Kamu kenapa? Ini kenapa? Yaampun!." Seru Riana panik sendiri melihat keadaan kamar mandi yang berantakan.
"Tangan Lo kenapa?." Pertanyaan putri sukses membuat Riana memekik tertahan melihat lengan putri bungsu nya terluka, manik wanita itu nampak bergetar.
"Aku gak papa ma." Ucap Deina pelan berusaha menenangkan.
"Gak papa gimana? Itu tangan kamu luka gitu, ayo sini mama obatin." Seru Riana langsung menarik Deina keluar dengan lembut diikuti putri.
Sedangkan Cristian langsung keluar dari kamar putri nya itu untuk memanggil asisten rumah tangga."Bi, sini."
"Iya tuan?."
"Bersihin kamar mandi Deina, sampai bersih. Jangan sampai ada satupun pecahan yang ketinggalan, takut nya nanti keinjek sama Deina."
Bi Sumni mengangguk patuh, langsung saja wanita itu tergopoh-gopoh masuk kekamar anak majikan nya.
Jeff yang baru saja pulang langsung menghampiri Cristian."kenapa pa? Tadi aku denger mama teriak-teriak."
"Gak papa, udah sana bersih-bersih abis itu makan malem."
"Dih pa, aku nanya."
"Ya kan udah papa jawab, gak papa." Cristian menyahut dengan cuek, kemudian pria itu berlalu pergi begitu saja.
Jeff spontan mendengus melihat nya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Malam ini Kania berserta yang lain nya melakukan panggilan video diaplikasi zoom meeting, sebab jika diaplikasi wa biasa tidak akan muat bersembilan.
Gadis itu duduk dikursi belajar dengan laptop yang diletakan di atas meja, gadis itu terbahak kencang bersama Yovie setelah mendengar cerita dari Deina. Cerita gadis itu memang tidak lucu sama sekali, tapi memang dasar nya teman sableng yang senang melihat teman nya menderita jadinya begitu.
'ih anjing Lo berdua." Sembur Deina sebal.
"Ya abis elo, biasa nya elo kan yang gangguin setan sekarang malah Lo yang digangguin setan." Ucap Kania dengan sisa-sisa tawa nya.
'heran gue, setan mana sih itu mau gue labrak aja rasa nya.' Deina kembali mendumel, gadis itu kalau kesal mendadak jadi cerewet.
'heh micin, Lo kok diem aja?.' seru Yovie tertuju untuk Sasa, biasa nya gadis itu cerewet tapi sedaritadi dia hanya diam menyimak.
'diem ah Pi, gue lagi males ribut.' balas Sasa sekena nya.
'tumben?.' tanya Icha heran.
Sasa menghela nafas lesu.'semenjak kejadian disekolah kemarin gatau kenapa perasaan gue gak enak mulu.' ujar nya mengingat kejadian kemarin malam.
"Perasaan Lo doang kali." Celetuk Kania.
'ya emang perasaan gue, siapa bilang perasaan lo.' sahut Sasa cuek.
"Ngelesin Lo anjing." Maki Kania langsung.
'kejadian apa?.', Chelsea yang sedaritadi diam langsung bertanya, gadis itu memang belum tahu tentang kejadian kemarin sedangkan Fiya sudah.
'riyan dikejar banci perempatan.' jawab Yovie ngawur.
Riyan yang sedaritadi diam spontan berseru.'heh anjing!.'
'RIYAN, ITU MULUTNYA MAU BUNDA JEJELIN PETE?!.'
Yovie, Kania dan Deina kompak cekikikan begitu mendengar teriakan dari bunda Riyan. Wanita cantik itu jelas mendengar semburan Riyan untuk Yovie sebab posisi Riyan memang tengah berada diruang keluarga bukan dikamar nya.
'iya Bun, maaf.' ucap Riyan dengan mimik tidak iklas, kemudian dengan cepat pemuda itu berpindah ke kamar nya agar bisa lebih leluasa jika ingin memaki Yovie.
Sasa yang sedaritadi kalem pun mendadak terbahak.'Riyan itu mulutnya mau bunda jejelin Pete?.' ucap gadis itu menirukan bunda Riyan membuat si empu nya mendelik kesal.
'rese Lo monyet.' Riyan yang kalem dan berwibawa seketika jadi blangsak kalau sudah bersama teman-teman setan nya ini.
'gue laper nih, keluar yuk cari makan." Ajak Icha tiba-tiba.
Kania spontan menoleh pada ponsel nya untuk melihat jam, 20.31 belum terlalu larut, lantas gadis itu mengangguk."ayo aja, gue juga mau makan diluar."
'gak diizinin sama papa Lo ya?.' tebak Fiya tepat sasaran.
'iya, rese banget itu kakek-kakek.' ucap nya kurang ajar.
'kakek-kakek apaan! Bapak Lo hot begitu, kaya sugar Daddy!.' Sasa sebagai penggemar sugar Daddy macam Cristian langsung protes, karna sungguh meski sudah berkepala 4 Cristian masih nampak awet muda bahkan orang awam pun sering mengira Cristian dan Jeff adalah adik-kakak padahal nyata nya mereka anak-bapak.
Deina mencibir pelan diujung sana.
"yaudah ayok, kita berdua aja Cha." Ajak Kania.
'gak seru, ayo dong ikut semuaaa.' seru Icha cemberut, alasan dia mengajak makan diluar kan biar rame sebab dirumah tidak ada siapapun, rasa nya sedih jika harus makan sendiri.
Memang dasar nya bucin Icha, Yovie dengan cepat mengiyakan._'iya Cha, kita semua ikut.'_
_'gue lagi sakit kak.'_ ucap Chelsea serak.
_'lo dirumah aja kalau gitu chel, istirahat.'_ ujar Icha penuh pengertian.
Deina yang semula terdiam langsung angkat suara._'yaudah gue ikut, bosen juga dirumah.'_
_'kata nya gak diizinin.'_ Goda Riyan.
_'gak ada pintu jendela pun jadi.'_
_'janjian di depan gerbang komplek aja, pake sepeda cug.'_ seru Sasa berdiri dari duduk nya untuk menyambar jaket.
"Boncengin gue dong sa." Kania malas kalau harus mengayuh sepedah dimalam hari begini.
_'gak, Lo banyak dosa jadi berat.'_ tolak Sasa ogah.
"Anjing."
_'sama gue aja ni, Icha sama Deina.'_ Yovie langsung menawarkan.
_'tumben Lo?.'_ Fiya langsung memicing curiga.
Yovie lantas berdecak pelan._'ah elah, gue cuman ingin berbaik hati kepada sahabat sendiri gak boleh?.'_
_'boleh, tapi aneh karna kan biasa nya Lo kaya setan.'_ ucap Riyan lempeng.
_'tai ledig. Udah Nia buruan, bentar lagi gue kerumah lo.'_
__ADS_1
Kania berdeham pelan, gadis itu langsung menutup laptop nya dan bangkit berdiri menyambar jaket diatas kasur.
"BUNDAAAAA, NIA MAU KEKUAR SAMA YANG LAIN CARI MAKAN!." Seru Kania berjalan menuruni tangga.
"BUNDAAAA." seru Kania lagi saat tidak mendengar jawaban dari sang bunda.
"Berisik Lo jamet, ini rumah bukan habitat Lo!." Arsen yang sedaritadi duduk anteng disofa sembari menonton televisi langsung menyembur galak pada adik nya itu.
Kania melengos cuek sembari berkata."bilangin bunda gue keluar bentar."
"Heh mau kemana Lo? Pasti mau gak bener kan?!" Seru Arsen melempar satu keripik kearah Kania tapi tidak kena.
"Apasih anjing, suudon Mulu Lo orang gue mau nyari makan!." Amuk Kania berbalik memandang bengis kakak nya itu.
Bersamaan dengan itu suara Yovie dari luar terdengar keras memanggil nama nya. Tatapan arsen seketika berubah jail.
"BUNDAA SI NIA MAU NGAPEL SAMA ANAK PAK IRAWAN TUH!." Teriak nya tiba-tiba membuat Kania langsung mendelik.
"Nama bapak Yovie tuh Ardhan ya anjing, bukan Irawan!." Sembur nya dongkol.
Raut wajah arsen semakin menyebalkan."cie, gak terima ya karna gue salah sebuah nama bapak mertua Lo." Goda nya.
"Kalo dia bapak mertua Lo berarti dia bapak mertua gue juga dong?." Arsen melanjutkan dengan ngawur.
"Dasar kingkong sinting!." Umpat Kania langsung berbalik pergi, malas kalau harus meladeni arsen.
"EH WOI MONYET TITIP SALAM BUAT DEINA! ALOPYU GITU." Teriak arsen diabaikan.
"Tai, punya adek durhaka banget."
.
.
.
.
.
.
.
Riyan menuruni tangga dengan cepat, pemuda itu sudah rapi dengan jaket denim nya.
"Abang mau kemana?."
Riyan seketika menoleh, wajah pemuda itu langsung sepet saat melihat adik nya."kepo Lo."
"Aku ikut ya." Amora berucap menatap Riyan dengan penuh harap.
"Ogah." Ketus Riyan kembali melanjutkan langkah nya yang sempat tertunda.
"HUWAAA BUNDA, ABANG MAU PERGI GAMAU NGAJAK AMOOO!." Seru Amora tiba-tiba histeris.
"Riyan! Adek nya diajak." Suara Lena terdengar menyahut dari dapur.
Riyan mendesis sebal, Amora itu seumuran dengan Chelsea tapi sikap mereka berbeda jauh. Kalau Dimata Riyan, Chelsea itu imut sedangkan Amora itu menyebalkan mirip chuky. Terkadang Riyan berharap bahwa adik nya adalah Chelsea, bukan Amora.
"Aduan Lo!." Seru nya melotot.
"BUNDAAAA ABANG NYA NIH."
"Riyan astaghfirullah, jangan dibikin nangis Mulu adek nya!." Seru Lana, wanita itu keluar dari dapur dengan wajah yang sedikit cemong oleh terigu.
"Aku mau keluar bund, masa bawa dia?!." Seru Riyan menatap Amora sinis.
"Bundaa." Rengek Amora dengan wajah lucu nya yang terlihat sangat menyebalkan Dimata Riyan.
"Kaya chuky Lo."
"Riyan." Tegur Lana begitu melihat putri bungsu nya itu hendak menangis."kali-kali bawa dia gak papa kan? Lagian temen-temen kamu yang lain gak masalah." Lana tahu betul betapa teman-teman Riyan selalu menyambut Amora dengan ramah terutama Kania.
"Dih, bunda gatau aja mereka pada gasuka sama Amora. Soal nya dia nyebelin." Cibir Riyan seketika membuat Amora kejer.
Lana berdecak prustasi."Riyan—"
"Maaf bunda, tapi aku gamau bawa chuky itu." Ucap Riyan langsung ngibrit mengabaikan panggilan histeris Amora.
"RIYAN JELEK KAYA ANJING."
"Amora, mulut nya!."
Riyan seketika terbahak mendengar suara teguran keras dari sang bunda untuk Amora."MAMPOS LO CHUKY!" Seru nya menutup pintu dengan keras.
"RIYANO!."
__ADS_1