
"buruan ih anjir."
"Bentar setan, nyangkut nih rok gue."
Yovie berdecak, sembari mendonggak menatap Sasa yang rempong abis."lagian ngapain pake rok sih?! Udah bagus juga pake jeans robek yang belel."
"Ih babi, rewel Lo." Maki Sasa kesal.
"Lo yang rewel bajigur!."
Icha menatap malas kedua teman nya itu, benar-benar deh mirip bocah. Saat ini mereka minus Fiya dan Chelsea tengah ada didepan sekolah. Kania, Riyan dan Yovie sudah ada didalam sekolah. Sasa masih diatas gerbang akibat rok nya yang nyangkut, Sedangkan Icha dan Deina masih ada diluar gerbang.
"Buruan anjirt." Omel Kania sebal.
"Ya sabar dong, Lo gak liat rok gue nyangkut?! Gimana kalo sobek?!." Raung Sasa memukul gerbang, tapi setelah nya gadis itu malah meringis kesakitan sendiri.
Kania berdecak sebal, kemudian gadis itu mendorong Yovie sampai menabrak gerbang.
"Anjing Nia, sampis Lo." Umpat Yovie mengusap jidat nya yang terasa nyut-nyutan.
"Naek sana, bantuin." Suruh Kania greget.
"Males."
Dan akhir nya setelah 10 menit penuh kerempongan akhir nya Sasa berhasil turun. Tinggal Icha dan Deina.
"Buruan elah, udah jam 11 malem ini." Sembur Sasa gemas."lama amat."komentar nya tidak tahu diri.
"Padahal elo yang lama." Ketus Deina berjalan mendekat kearah gembok.
"Ngapain sih lu? Buruan naik."
"Ogah." Deina menjawab datar sembari mengeluarkan sesuatu dari saku Hoodie nya.
Kunci gerbang.
"ANJIR LO PUNYA KUNCI NYA?!" Seru Kania histeris.
"Bajingan, kok gak bilang daritadi?." Tanya Yovie mendesis kesal.
Deina menjawab dengan cuek sembari membuka kunci gembok."kalian gak nanya."
"Anjing banget Lo." Kesal Sasa merasa dikhianati apalagi saat Icha menoleh sembari memeletkan lidah pada nya.
"Udah ayo, jangan ribut." Riyan yang sedaritadi diam langsung menengahi dengan kalem begitu melihat Kania hendak membuka mulut.
"Ish, yaudah buru!."
"Sabar sih." Sembur Icha yang baru saja menutup pintu gerbang tanpa mengunci nya.
"Kita mau kemana dulu ini?." Tanya Sasa sudah agak kalem.
__ADS_1
Mereka nekat pergi kesekolah malam-malam begini karna Kania memaksa untuk mengambil laptop nya yang tertinggal diruang eskul, soal nya didalam sana ada hal penting yang harus dia kerjakan dan dikumpulkan besok pada pembina eskul. Sebenar nya tidak bisa disebut memaksa juga, soal nya begitu diajak mereka langsung mau-mau saja.
Sekalian uji nyali, begitu kata nya. Padahal uji nyali apa coba, lihat setan saja sudah sering jadi tidak perlu uji nyali lagi tapi yasudah lah. Fiya dan Chelsea tidak ikut, gadis keturunan China itu tiba-tiba demam tadi sedangkan Fiya malas. Dia tidak mau melakukan hal konyol seperti kejadian Minggu lalu yang malah berakhir mereka lari pontang-panting dikejar nenek gayung, sungguh tidak elit.
"Ke taman belakang gedung perpus aja." Yovie langsung mengusulkan.
"Ih anjir kan gak boleh ada yang kesana, ditutupin pager juga tempat nya." Ujar Kania langsung.
Sekolah mereka itu sekolah elit, jadi perpus tidak menyatu dengan gedung lain nya tapi punya gedung sendiri, 3 lantai malah. Perpus terletak dibagian paling ujung dan agak jauh dengan gedung lain, sebab Pemilik sekolah memang mendesain perpus ditempat yang asri dan hening agar yang hendak belajar dan membaca merasa tenang. Dibelakang gedung perpu ada sebuah taman yang tidak boleh dimasuki siapapun, bahkan pihak sekolah sampai memasang tembok pembatas setinggi 6 meter disana dilengkapi dengan pagar besi hitam yang menjulang diujung sebagai akses masuk ketaman itu.
"Lo gak penasaran apa disana ada apaan?." Tanya Yovie memancing agar yang lain nya mau kesana, karna sungguh dia sangat penasaran.
"Ihh, Lo gatau ya tahun lalu pernah ada siswa yang kesana dan akhir nya gak balik lagi?." Tanya Icha sedikit takut.
Riyan menoleh bingung."ngigo Lo? Perasaan gak ada yang kaya begitu dah."
"Elo masa lupa sih yan? Kalian inget gak?."
Yang lain kompak menggeleng membuat Icha bingung sendiri, masa sih teman-teman nya melupakan kejadian tahun lalu?. Memang sih kejadian nya tidak banyak diketahui, hanya beberapa yang tahu dan dia serta teman-teman nya kebetulan tahu karna tidak sengaja menguping, Icha jadi heran kenapa teman-teman nya bisa lupa? Padahal seingat nya teman-teman nya itu memiliki ingatan yang kuat, terutama Yovie dan Riyan.
"Gue jadi penasaran, kesana yuk." Celetuk Sasa.
Riyan dan Deina sih ayo-ayo saja, dan Icha yang memang pada dasar nya tukang ngikut akhir nya setuju. Tinggal Kania, gadis itu awal nya menolak dan mengajak mereka untuk segera mengambil laptop nya kemudian pulang tapi pada akhir nya dia ikut. 5 lawan 1 jelas lah dia kalah.
"Buru buka Dei." Suruh Yovie.
"Males, Lo aja." Ujar Deina melempar kunci ditangan nya pada Yovie yang langsung ditangkap oleh pemuda itu.
Yovie lebih dulu masuk diikuti Sasa, kemudian Deina, Icha, Kania dan yang terakhir Riyan. Keenam remaja itu terdiam memperhatikan sekitar yang nampak gelap, sesaat sesudah melewati pagar dan masuk kedalam hawa yang tadi nya biasa saja jadi terasa mencekam dan dingin.
"Feeling gue gak enak." Guman Deina pelan.
"Pulang yuk." Cicit Icha entah kenapa merasa takut.
Yovie menoleh kebelakang sembari mendengus."Cemen Lo."
"Ish!."
'WUOGHHHAAAHAHAHA.'
"Eh anjing apaan tuh." Seru Kania refleks.
Sasa langsung mengedarkan pandangan nya sembari menyorot tajam."itu." Ucap nya nyaris berbisik lirih sembari menatap tepat kearah sudut taman.
Disana, ada sebuah pohon beringin besar dan tepat disebelah pohon itu berdiri sebuah mahluk—
"GENDERUWO ANJIR COK!." Teriak Yovie tiba-tiba begitu diri nya tidak sengaja bertatapan dengan manik merah milik genderuwo itu.
"pulang Hua, mau pulang!." Seru Kania menepuk bahu Sasa heboh.
Meskipun mereka sudah terbiasa melihat hantu dan bahkan menjahili serta mengajak hantu berantem, tetap saja kalau genderuwo beda lagi cerita nya!.
__ADS_1
"Yan, baca ayat kursi yan!." Suruh Sasa heboh, mendadak kaki mereka juga terasa lemas sampai susah untuk melangkah.
"Allahu Laila Illa huwal hayull koy—"
'HIHIHIHI ADA YANG GANTENG!.'
'mas ganteng disini toh.'
'duh suara nya bikin hati meleleh.'
'ayat kursi biasa nya bikin panas, tapi pas mas ganteng yang bacain bukan nya panas mendadak malah adem.'
"Anjing!." Umpat Yovie prustasi.
Memang sialan, sudah mah genderuwo nya tidak menghilang ini pula malah banyak hantu perempuan berdatangan karna suara Riyan yang begitu merdu dan adem ketika membaca ayat kursi.
Dari kuntilanak, sundel bolong, pokok nya hantu berjenis kelamin perempuan semakin banyak berdatangan mengerumuni mereka membuat mereka semakin ketar-ketir. Dan sial nya Riyan masih terus melanjutkan bacaan nya.
"Alohu, diem bego!." Seru Sasa membungkam mulut pemuda itu.
"Emang paling bener kata Fiya, jangan ngelakuin hal unfaedah begini." Gerutu Kania disela ketakutan nya.
"AARGHHH ANJING, BODOAMAT LAH GUE MAU BALIK!." Teriak Yovie tiba-tiba menarik lengan Deina dan berlari cepat pergi dari sana.
"YOPI ANJING TUNGGUIN!."
"DEINA IH TUNGGUIN GUE HUWAAA."
"WOI COK TOLONGIN GUE!." Seru Riyan histeris akibat tidak bisa berlari karna salah satu kuntilanak memegangi kaki nya.
"MAAF RIYAN, RASA SAYANG GUE KE ELO TERKALAHKAN OLEH RASA TAKUT!." Teriak Rania sebelum akhir nya ikut berlari pontang-panting.
"Mau kemana Lo anjirt, tolongin gue."
"HUWAA GAMAU IH LEPASIN RIYANNN." Sekarang malah Icha yang histeris sendiri akibat Riyan yang menahan lengan nya.
"DEINAAAAA, SASAAA TOLONGIN GUE HUWAAAAA."
"Punya temen anjing banget." Umpat Riyan koseh-koseh berusaha melepaskan diri.
"Riyan hueeee lepasin."
"Gak, Lo jadi temen harus solid masa gue dikerubutin Kunti begini Lo kabur sih."
"Gamau huwaa, mau balik."
"Cha—"
"Bodoamat Riyan, kita gausah temenan aja mending daripada gue harus nemenin Lo disaat Lo dikerubutin setan genit begini." Seru Icha mulai menangis.
Riyan jadi kesal, pada Icha yang menangis, pada teman-teman nya yang meninggalkan dia, lalu pada para setan ini.
__ADS_1
"ENYAH LO SEMUA ANJING!!."