Pasukan Angin Ribut

Pasukan Angin Ribut
PAR|06|


__ADS_3

"Nia?! Lo didalem gak kenapa-napa kan? Buka Nia!." Seru Yovie sibuk mendobrak pintu kamar Kania, tapi sekuat apapun dia dan Riyan berusaha mendobrak nya pintu itu tidak terbuka sama sekali.


Dan aneh nya, disaat terjadi keributan lumayan besar seperti ini tidak ada satu orangpun yang keluar untuk melihat atau membantu, hanya ada mereka bertujuh. Bahkan putri juga mendadak tertidur saat Deina tadi berlari keluar untuk menghampiri Kania.


Sedangkan didalam sana Kania nampak mengerang sakit merasakan sesuatu mencengkram leher nya, tubuh gadis itu perlahan terangkat sampai kedua kaki nya tidak lagi menapak dilantai. Suara ribut diluar jelas Kania dengar, tapi dia tidak bisa apapun selain mengerang sakit.


"Nia buka! Nia!." Seru Icha panik.


"Gak bisa." Ujar Riyan terengah.


Deina yang semula terdiam langsung bergerak maju mendekati pintu, kemudian gadis itu memegang engsel pintu."itu Lo kan?." Suara Deina terdengar lirih dan pelan, tapi Kania dapat mendengar nya dengan jelas.


Siapa yang Deina maksud?.


"Dei—"


"Itu Lo kan, hantu yang tadi gangguin gue dikamar mandi? Lo mau apa? Minta bantuan sama kita? Ayo, gue bantuin tapi jangan coba-coba buat keributan apalagi celakain temen gue."


"Dengan Lo celakain salah satu dari kita, memang nya Lo pikir itu bakal bisa nyelesain masalah dunia Lo yang belum kelar? Engga, justru dengan Lo celakain salah satu diantara kita, kita gak bakal pernah Sudi buat nolongin Lo." Tambah Sasa mantap.


Tepat setelah itu, pintu menjeblak terbuka dengan kencang.


Brakk


"Nia!." Seru Chelsea berlari menghampiri Kania yang sudah tergeletak dilantai dengan nafas yang tidak beraturan.


Semua nya spontan masuk dengan cepat kedalam kamar, Deina yang paling terakhir. Baru saja gadis itu melangkah hendak masuk tiba-tiba pintu kembali tertutup dengan kencang.


Dia terdiam memandang pintu dihadapan nya, rasa dingin dan panas perlahan mulai terasa disekeliling tubuh nya. Detik berikut nya, tubuh gadis itu melayang dan kemudian terlempar sampai menabrak dinding.


BRUKK


Deina meringis pelan, susah payah gadis itu mendudukan tubuh nya. Rasa sakit dipunggung nya tidak main-main.


Sedangkan itu, didalam kamar mereka kembali dilanda panik. Riyan dan Yovie bergerak cepat berusaha membuka pintu tapi hasil nya sia-sia saja.


"Ini gimana? Deina gimana?." Tanya Fiya panik, gadis yang biasa nya tenang itu benar-benar terlihat panik. Wajar saja mengingat ini adalah kejadian pertama yang berbahaya bagi mereka.


BRUGHH


PRANGG


Deina mengerang kencang saat tubuh nya kembali dilempar, kali ini tubuh gadis itu mengenai lemari hias yang berada diruang keluarga dirumah Kania yang berada dilantai 2.


Kaca-kaca yang pecah Nampak berhamburan dilantai dihiasi darah Deina. Buru-buru gadis itu berdiri tanpa memperdulikan rasa sakit ditubuh nya.


"Mau Lo apa sih? Lo mau gue bantuin? ayo sini kita bicarain baik-baik, jangan suka main hakim sendiri Lo!." Seru nya kesal.


Tiba-tiba saja tubuh Deina melayang, gadis itu tercekat saat sesuatu mencengkram leher nya dengan erat. Detik berikut nya tubuh Deina terlempar keluar jendela balkon.


Srett


PRANGGG


Sasa berjengit, mereka semua jelas mendengar suara pecahan kaca itu. Buru-buru gadis itu berlari kearah balkon kamar Kania, aneh nya pintu balkon dapat terbuka. Selanjut nya Sasa merasa jantung nya hampir saja copot begitu melihat Deina bergelantungan dengan keadaan yang terlihat mengenaskan, tangan nya yang penuh dengan luka berusaha keras memegang pagar balkon dengan kencang.

__ADS_1


"Lo mau kemana?!." Seru Fiya menahan Yovie.


"Gue mau lompat kebalkon sana." Jawab Yovie mantap.


"yov-"


"Lo mau gue diem aja? Kalo gak cepet ditolong Deina bisa aja jatuh." Poto Yovie cepat.


Mungkin, Deina memang akan jatuh dari lantai 2 saja, tidak akan membuat gadis itu mati. Tapi tetap saja, lantai 2 dirumah Kania itu tinggi, hampir setara dengan lantai 3, jika jatuh mungkin akan mengalami luka serius.


"Tapi bahaya." Sasa ikut berbicara begitu Yovie naik keatas pagar balkon kamar Kania , jarak kedua balkon tersebut lumayan jauh.


Yovie mengabaikan peringatan teman-teman nya, pemuda itu menoleh pada Riyan yang hendak mengikuti nya."jangan ikut, Lo disini aja takut nya kenapa-napa dan pintu kamar masih belum bisa dibuka." Setelah mengatakan itu Yovie benar-benar melompat membuat Icha refleks memejamkan mata.


Brughh


Terdapat kelegaan diwajah pucat Kania saat Yovie berhasil sampai dibalkon sebelah. Buru-buru pemuda itu menarik Deina keatas.


Chelsea yang sedaritadi diam tiba-tiba meringis sembari memegangi kepala nya, spontan mereka menoleh panik.


"Chel, Lo kenapa?." Tanya Riyan menahan tubuh gadis itu saat hendak limbung.


Suara-suara teman-teman nya terdengar sama dan bercampur dengan suara-suara lain didalam kepala nya. Gadis itu semakin mengerang kencang saat sekilas kejadian terekam didalam kepala nya.


"Bu tanti, sekolah, pohon besar ditaman belakang perpus, darah, ritual, anak-anak cewek." Tanpa sadar Chelsea menggunakan kata-kata itu membuat yang lain nya bingung.


Berbeda dengan Icha, gadis itu nampak berpikir sampai kemudian kedua mata nya membelalak terkejut."genderuwo di pohon beringin yang ada ditaman belakang perpus itu, kalian inget?!." Seru nya kencang.


"Kenapa?." Tanya Fiya berjongkok mengusap dahi Chelsea pelan, gadis itu sudah berhenti meringis sakit dan nampak lebih tenang.


"Gue gatau kalian inget atau engga, tapi dulu pernah ada siswi hilang setelah masuk kesana. Kasus nya memang gak banyak yang tau, tapi kita tau gue jelas inget waktu itu kita nguping pembicaraan Bu tanti sama pak Yudha. Apa mungkin ini ada hubungan nya sama itu? Coba kalian pikir, hantu cewek itu datengin kita setelah kita pergi ketaman belakang itu kan? Mungkin aja asal nya dia dari sana, dan dia kesini buat minta tolong sama kita."


Kania mengedarkan mata nya menatap sekeliling."kita bisa bantu Lo, jadi berhenti nyelakain temen gue. Dan ayo, tunjukin wujud Lo, ceritain semua nya kita bakal bantu Lo."


Tepat setelah mengatakan itu, pintu kamar terbuka dengan perlahan diiringi hembusan angin. Dengan cepat mereka keluar menghampiri Deina dan Yovie yang nampak terduduk diruang keluarga yang terlihat berantakan.


"Ini kok lemari bisa pecah?." Tanya Kania bingung.


"Kena gue hhe." Jawab Deina menyengir lebar.


"Gila, hebat juga Lo masih hidup." Seru Sasa langsung ditabok Riyan.


Deina berdecak pelan."sini, gue mau cerita sesuatu sama kalian." Ujar nya menyuruh mereka duduk melingkar.


"Apa?."


"Pasti kalian udah tahu setengah nya kan?."


"Hah?."


"Ish, yang tadi gue jelasin." Sembur Icha tiba-tiba.


Deina mengangguk."itu emang bener, dan gue baru inget dulu kak Jef pernah kasih gue data-data siswi yang hilang itu. Kata nya siapa tau gue kenal, terus nanti kalo dijalan gak sengaja liat buru-buru bawa pulang gitu kan."


"Hooh kan." Respon Kania membuat Riyan tersenyum geli.

__ADS_1


"Sebener nya, mereka semua udah mati. Gak ada satupun yang masih hidup."


"Kok Lo tau?." Tanya Yovie cepat.


"Hantu cewek tadi yang ngasih tau gue, dia


Tadi nunjukin wujud nya. Dan kalo gak salah, nama nya Anindya, kakak kelas kita." Jawab Deina mengingat-ingat.


"Mereka mati kenapa? Dan kalau iya mati, mayat mereka kemana?." Tanya Riyan bingung.


"Taman belakang perpus itu, disana. Kata Anindya, jawaban nya ada disana."


"Disekolah ada Orang yang ngelakuin perjanjian sama setan, lebih tepat nya sama genderuwo yang waktu itu. Setiap 6 bulan sekali, harus ada tumbal. Iya kan?." Jelas Icha diakhiri dengan pertanyaan penuh ragu.


"Lo tau darimana?." Tanya Kania.


"Mimpi, Waktu itu sebelum kita berangkat kesekolah pas malem siang nya kan gue tidur. Gue mimpi itu, makanya gue takut pas diajak kesana takut nya mimpi gue bener. Tapi gue buru-buru tepis pikiran sama mimpi itu karna kan gak mungkin."


Riyan yang sedaritadi diam kini menoleh menatap Chelsea."Lo tadi bilang bu Tanti, kenapa?."


Chelsea mengerjap, kemudian dia menatap teman-teman nya secara bergantian."gatau kebetulan atau apa, tiba-tiba gue dapet penglihatan dan semua nya mirip sama yang diceritain kak Icha meski dipenglihatan gue sedikit patah-patah gitu. Tapi gue lihat jelas, ada Bu tanti taman belakang perpus itu, genderuwo nya ada terus banyak darah juga disana. Disana juga ada anak cewek sepantaran gue kaya nya, terus mereka kaya ngelakuin ritual gitu."


"Kita harus cari bukti."


"Gue peringatan, hati-hati Bu Tanti bisa aja nyadar dan kita dalam bahaya." Ujar Yovie memberitahu dengan serius.


"Yaudah sekarang balik yuk."


"Balik udel Lo bolong! Ayo kerumah sakit, luka Lo parah gini." Seru Sasa meneliti luka disekujur tubuh Deina.


"Ogah, gamau." Tolak Deina mentah-mentah, rumah sakit adalah tempat yang paling dihindari oleh orang indigo bukan?.


"Loh, kalian ngapain disini?."


Spontan mereka menoleh.


"Kak arsen?!."


"ITU DEINA KENAPA?!."


Dini hari itu, komplek mendadak ribut. Lebih tepat nya blok rumah mereka sebab Arsen, kakak kedua dari kania itu tiba-tiba keluar dari kamar hendak menuju dapur untuk mengambil air minum tapi dia mendadak histeris saat melihat keadaan Deina dan keadaan sekitar yang berantakan.


Berakhir heboh dirumah Deina, mama dari gadis itu bahkan langsung menangis kencang dan memaksa untuk pergi kerumah sakit tapi Deina jelas kembali menolak, akhir nya gadis itu dirawat secara mandiri dirumah dengan dokter pribadi keluarga nya.


Sedangkan Riyan dan Yovie langsung berbicara serius kepada Jeff, dan beruntung semua nya berjalan lancar karna posisi yang dimiliki Jeff. Terkadang mereka suka lupa bahwa Jeff adalah pemilik sekolah.


Pagi ini, Jeff datang kesekolah bersama pihak kepolisian dan beberapa orang ustad. Bu tanti langsung ditahan oleh Sasa dan Fiya agar tidak kabur, sedangkan itu pihak kepolisian dan beberapa ob disekolah langsung membongkar taman dibelakang perpus itu. Dan untuk ustad, tentu dia berperan besar karna genderuwo itu sudah pasti tidak akan mau pergi.


Beruntung nya semua berjalan lancar, ada 5 mayat ditemukan tepat disekitar pohon beringin itu. Keempat dari mayat itu hanya tersisa tengkorak nya saja, sedangkan satu mayat nya lagi masih terlihat utuh walaupun sudah membusuk. Itu mayat Anindya, Korba terakhir dari Bu tanti yang menghilang 3 Minggu lalu.


Yovie sampai menggeleng tidak habis pikir, hebat sekali Bu tanti main nya sampai-sampai tidak ketahuan. Usut punya usut, kenapa dia dan yang lain nya lupa, serta seluruh murid yang mendadak melupakan korban yang menghilang itu karna genderuwo tersebut mengambil ingatan tentang si korban dari setiap orang disekolah atas suruhan Bu tanti.


Memang sulit dipercaya, tapi itu nyata ada nya. Kania enggan untuk percaya ada hal yang menyeramkan seperti ini, tapi dia sudah menyaksikan semua nya dengan mata kepala nya sendiri yang membuat gadis itu terpaksa percaya.


Keluarga korban dipanggil, jerit tertahan dan Isak tangis yang pilu jelas terdengar menyayat hati.

__ADS_1


Chelsea tersenyum ditempat nya berdiri, gadis itu mendonggak menatap langit yang nampak cerah, ditengah keributan ini pikiran nya mendadak kosong.


_'nenek benar, terkadang manusia lebih kejam dan lebih menakutkan daripada iblis.'_


__ADS_2