
Masuk ke sekolah tinggi sangat ia nantikan... Walaupun tinggal di rumah barunya ini sudah sangat nyaman. Tapi itu belum cukup menyenangkan untuk seorang gadis yang sudah sangat ingin menjajah keluar dari pekarangan yang di sebut rumah.
Xi Ta dulunya disebut sebagai dewi yang sangat dipuja-puja dan pula di dukung dengan latar belakang keluarga yang sangat menggiurkan dan di inginkan semua orang. Hal itu membuatnya di incar semua orang. Ya. Karena ia adalah penerus Grup Kekai. Penerus kerajaan bisnis terbesar di inggris. Begitulah ia dikenal semua orang.
Seorang Xi Ta yang biasanya selalu di kurung di sangkar emas yang semua orang inginkan. Ingin bebas layaknya burung yang terbang bebas di angkasa. Mungkin setelah ini ia juga akan mengusulkan untuk asrama di sekolah tinggi.
---
Pagi ini sepertinya matahari dan alam melengkapi keceriaan gadis asal keluarga Xiao ini. Atau mungkin seperti mengharapkan segera kepergiannya ke sekolah tinggi dan asrama yang ada di sana.
"Bu sepertinya akan lebih bagus jika aku menginap di sekolah ?". Xiao Yua mencoba membawa pembicaraan dengan sang ibu agar diizinkan untuk menginap di sekolah barunya nanti.
"Apa maksudmu. kau ingin meninggalkan keluarga Xiao kita. Kau ingin meninggalkan ibu, nak?.
"Bukan begitu bu. Aku hanya berpikir jika aku menetap di asrama sekolah, nanti itu akan mempermudah urusanku di sana. Ya. Se tidaknya. Aku akan lebih dekat dengan sekolahku juga.". Jawab Xi Ta seraya menjelaskan.
"Itu memang benar nak. Tapi kau baru saja memasuki keluarga ini, setidaknya menetap di sini lebih lama. Itulah yang lebih baik untuk dirimu. Selain untuk mempererat hubunganmu dengan saudaramu." Ibunya yang tak tega juga menjelaskan dengan sabar.
Namun Jing Xian melanjutkan katanya dengan tersendat. "Ya..."
"Ya...?. Ya apa bu?". Lanjut Xiao Yua yang di buat penasaran.
"Huft. Ya setidaknya tak hanya persetujuanku saja yang kau butuhkan untuk menginap di asrama sana."
"Apa kau melupakan keberadaan ayah mu juga nak?.". Lanjut Jing Xian menjelaskan kepada Xiao Yua, tujuannya hanya satu agar anak perempuannya ini mau menetap di sini di rumah barunya ini lebih lama.
"Begitukah. Apakah sangat kecil kemungkinanku untuk menginap di asrama sekolah nanti bu?"
Xi Ta tak putus asa untuk meyakinkan sang ibu. Ya setidaknya akan menjadi pembelanya nanti dalam menjelaskan kepada Xiao Liho.
"Hei jangan berkecil hati nak. Bagaimana jika nanti setelah sarapan kita membicarakan ini bersama mereka?."
__ADS_1
"Hm. mereka?. Maksud ibu kakak-kakak ku?"
"Ya tentu saja. Kau juga harus meminta izin pada mereka. mereka keluargamu juga. Kau harus mendapatkan izin dari keluargamu."
Ah seperti nya Xiao Yua hanya ingin meminta izin kepada ibunya yang penyayang ini dari pada para lelaki yang ada di keluarganya.
Surat pengurusan masuk ke sekolah tinggi telah ia bereskan tadi bersama Jing Xian. Namun belum jika di tanya baju karena saat ia ingin membereskannya Jing Xian mengatakan kau harus mendapatkan izin terlebih dahulu.
'Huft benar benar di buat susah tidak bisakah aku membereskan nya saja dahulu' umpatan yang hanya ia lontarkan pada diri sendiri. Atau bisa di bilang bicara dalam hati.
Biasanya jika ingin mendapatkan izin dari orang tua seseorang akan bersemangat. Namun itu tak berlaku pada Xi Ta. namun berbanding terbalik dengan Jing Xian yang ada di sampingnya.
Jing Xian tersenyum, tapi tidak tau apa itu senyum senang atau senyum penuh maksud.
Hahaha... seperti nya kau tak mendapatkan dukungan dari ibu mu Xi Ta...
Kaki Xi Ta dan Jing Xian belum mencapai lantai utama rumah. Namun senyum manis sudah mengembang di wajah Xiao Liho dan di susul dengan tiga Xiao bersaudara. Senyum cerah yang sangat nyaman dan sayang jika itu pudar hanya karena sebuah kata 'izin'. Huft ini akan berat untuk Xi Ta yang akan dengan mudah semuanya di izin namun tidak untuk keluar sangkar emasnya... seperti nya itu akan berlaku juga di sini, di keluarga barunya ini.
"Dahulu saja saat hanya aku sendiri putri di keluarga ini. kau tidak mengatakan hal tersebut. Sekarang setelah Yua'er datang ke rumah ini. kalimat manis itu langsung meluncur dari mulut mu." Cerocos Jing Xian pada sang suami hanya sebatas gurau-an.
"Hahaha...hanya ibu yang memang bisa menyalah kan ayah seorang." Tutur Xiao Sa di sela tawanya yang paling terdengar di ruang makan itu.
"Hais... sudah sudah. mari kita mulai makan lagi sebelum itu dingin."
Semua orang kembali tertawa atas kata kata Xiao Liho yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Tak terkecuali untuk Xi Ta sendiri yang juga terhanyut atas kehangatan keluarga baru nya ini.
Seperti nya ia akan mengurung niatan untuk menginap di asrama dan juga sepertinya ia juga harus terbebas dari kebiasaannya di masa lalu yang mengharuskan ia berhati hati dalam segala hal dan tindakan walaupun berada di rumah sendiri. Karena disini adalah kehidupan barunya walau tidak untuk seterusnya.
Sarapan pagi pun mulai mereka nikmati dengan lahap bahkan tak ada sungkannya untuk seorang anggota baru keluarga Xiao itu. Mungkin karena telah terbiasa menghabiskan waktu bersama mereka di rumah ini.
---
__ADS_1
Sepuluh hari itu jatuh pada hari Sabtu yang tak mengharuskan setiap anggota keluarga Xiao untuk meninggalkan keluarganya di pagi hari yang cerah ini. Ya intinya mereka dapat datang bekerja sedikit lebih telat dari hari biasa.
Xi Ta sedikit ragu untuk mengeluarkan argumennya agar bisa menginap di asrama sekolah tingginya nanti. Dan sepertinya hal yang sama berlaku juga pada Jing Xian. Wanita berkepala lima itu masih tak rela melepas anak gadis yang baru ia dapatkan itu.
"Ayah, jika aku mengajukan untuk dapat menginap di asrama sekolahku nanti. apa aku akan mendapatkan izinmu?" Kata itu akhirnya keluar juga dari mulut mungil milik Xiao Yua. Yang menjelaskan dengan lambat dan cukup tersendat akibat keraguan nya.
"Asrama?. Kau bermaksud meninggalkan keluarga Xiao Ini. Kau bermaksud meninggal kan kami? Nak ?."
'Hah.. apa-apa-an ini... Pertanyaan yang sama dengan yang di lontar kan Jing Xian. Apa mereka sudah melakukan konspirasi di belakangku sebelum aku mengutarakan pertanyaan yang sama. ?'
"Eh - eh bu, bukan begitu...". Keterkejutan yang ia dapatkan dari pertanyaan yang sama masih belum sepenuhnya pulih.
"Tidak". Kata itu terlontar dari mulut si kakak tertuanya. Xiao Yao.
'Heh lihatlah aku belum memberikan pertanyaan kepadanya tadi ia telah menjawab duluan. Apa apaan pertanyaanku langsung di tolak. Begitu saja!'
'Huft aku takkan menghiraukan dirimu. Aku akan menanyakan ulang pada ayah.'
"Ayah aku..." sebelum Xi Ta melanjutkan kata-katanya. Xiao Liho langsung memotong.
"Tidak"
'Hah... lihatlah mereka. Ini benar-benar konspirasi di belakang diriku. Menjawab tidak sebelum aku menjelaskan. Benar-benar deh aku merasa di perdaya mereka. Huft!'
"Bukan, bukan begitu maksudku. Aku hanya berpikir akan lebih bagus jika aku menetap di asrama sekolahku nantinya. Itu akan mempermudah segala urusanku di sekolah. Ya seperti akan mempermudahku dalam urusan datang lebih cepat ke sekolah. Tapii..."
'Tapi jika aku tidak mendapat izin dari semuanya itu juga tidak apa-apa. Aku juga sudah merasa nyaman dengan keluarga baruku. Mungkin akan lebih baik di rumah jikaku pikir-pikir ulang'
Belum selesai Xi Ta mengutarakan alasannya secara jelas namun telah di potong kembali oleh Xiao Sa
"YuaYua aku tidak akan mengizinkanmu. Kau baru saja menjadi adikku tapi kau sudah ada rencana untuk meninggalkan diriku. Apa kau sudah memikirkan ini dari jauh hari?" Tukas Xiao Sa tanpa jeda seperti memang berniat memojokkan Xi Ta.
__ADS_1
'Lihatlah mereka semua. aku belum menyelesaikan semua kata-kataku. Tapi lihat tak hanya satu orang yang memotong kata-kataku. huft. Ingin sekaliku teriakan pada mereka biarkan diriku menyelesaikan kata-kataku dengan baik dan benar! '