Pembalasan Sang Naga: Rise Of The Unbroken

Pembalasan Sang Naga: Rise Of The Unbroken
Portal Menuju Dunia Lain


__ADS_3

Faelan bangkit perlahan. Sekujur tubuhnya terasa remuk. Rakko membantunya duduk.


“Elysia, apa kau baik-baik sja?” tanya Faelan.


“Ya, aku tidak apa-apa” Elysia mengusap air matanya. Walaupun tampak lemas, tapi itu tak mengurangi kecantikannya. “Rakko banyak membantuku kemarin. Setelah dua hari, energi sihirku pelan-pelan kembali. Aku jadi bisa menggunakan sihir penyembuhan”


“Apa?!” Faelan tampak kaget.


“Iya, selain menyembuhkan lukaku, aku juga melakukan hal yang sama padamu dan Rakko”


“Maksudku, sudah berapa lama aku pingsan?”


“Kau pingsan sejak sehari yang lalu”


“Lalu apa maksudmu dengan energi sihirmu telah kembali setelah dua hari?”


Elysia menatap Rakko.


Rakko mengangguk, setuju.


“Fae” Elysia tampak kuatir, “kejadian kau mengalahkan Minotaur itu sudah dua hari yang lalu”


“Tu.. tunggu! Bagaimana bisa?” Faelan kini tampak bingung.


“Tuan” ucap Rakko, “setelah kau mengalahkan Minotaur, kau tak terlihat seperti tuan yang aku kenal. Kau sama sekali terlihat seperti orang yang berbeda. Kau tertawa sepanjang hari dan memukul-mukulku dan menyebutku makhluk rendahan yang menjijikkan. Kau juga menghina si telinga runcing dengan menyebutnya ras angkuh yang lemah” Rakko kini memegangi kepalanya seakan mengingat kejadian tidak mengenakkan yang menimpanya, “Kau juga bergumam tentang pembalasan kepada seseorang karena telah menipumu, menjebak lalu mengurungmu selama ratusan ribu tahun”


“Awalnya kami mengira bahwa kau hanya sedang terlalu senang karena akhirnya bisa mengalahkan Minotaur” Elysia menyela, “Kau juga menyebut kami pengikut setia, dan berjanji akan memberikan hadiah karena telah mau melayani dan menjagamu selama ini”


“Aa.. Apa?” Faelan masih tidak percaya, “Aku tidak ingat apa-apa. Aku kira kejadian Minotaur itu hanya beberapa jam yang lalu”


Elysia dan Rakko saling tatap. Mereka sama bingungnya dengan Faelan.


“Sudahlah, Fae. Yang jelas sekarang semuanya baik-baik saja” Elysia berusaha tersenyum. Padahal sebenarnya ia sedang cemas.


Elysia memperhatikan mata Faelan yang kini telah kembali terlihat coklat dan seperti mata anak laki-laki polos yang ia kenal.


Ia benar-benar Faelan yang aku kenal. Tapi apa-apaan kemarin itu? Tingkah Faelan yang aneh itu pasti berhubungan dengan kegagalan sihir Essence of Self-Preservation-ku, batin Elysia.


“Maafkan aku, Elysia, Rakko” ucap Faelan dengan tatapan menyesal.


“Tidak apa-apa, tuan” ujar Rakko sambil menyeringai, berusaha tersenyum.


“Iya, Fae. Siapa yang berani menyalahkan orang yang telah menyelamatkan nyawa kami” Elysia tersenyum manis. “Aku yang seharusnya meminta maaf, kalau seandainya aku tahu dari awal bahwa Minotaur itu memiliki energi sihir hitam sebesar itu, aku tak akan mengizinkanmu untuk bertarung dengannya”


Terlebih lagi mengisi daya tabir pelindung desa Valornia telah cukup banyak menguras energiku selama bertahun-tahun. Batin Elysia.


“Tidak apa-apa. Sungguh!”, Faelan membalas dengan senyuman kecut, “Oh ya Elysia, pedang apa yang kau berikan padaku itu?” Faelan menunjuk pedang putih di pinggang Elysia.


“Ini adalah pedang suci pemberian nenekku” Elysia tampak bertanya-tanya.


“Apa pedang itu mengeluarkan sensasi terbakar saat dipegang?”

__ADS_1


“Tentu tidak. Kecuali kalau yang memegangnya adalah seseorang dengan sihir iblis. Emang kenapa?”


Lalu kenapa pedang suci itu seperti menolak untuk kupegang waktu itu? batin Faelan sambil menatapi tangannya yang kini tak lagi terlihat gosong. “Tidak ada. Aku hanya penasaran”. Faelan tersenyum sambil menggenggam tangan kirinya dengan kuat. “Oh ya, Elysia. Kau belum mengatakan kenapa kita perlu ke gua ini?”


“Apa kau bisa berjalan?”


“Tent..” Faelan berusaha berdiri, tetapi sekujur tebuhnya masih lemah, “Ugh!” erangnya sambil terduduk lagi.


Elysia menatapi Rakko, “Ayo lakukan dengan cara itu”


Rakko mengangguk. “Tunggu sebentar, Tuan” ucapnya lalu berlari menuju kegelapan gua.


Sesaat kemudian, Rakko kembali. “Kendarai ini, tuan. Si telinga runcing biar aku yang menggendongnya”


Rakko datang bersama anak kerbau yang terlihat sangat ketakutan.


“Dari mana kau dapat anak kerbau itu, Rakko?” tanya Faelan.


“Ini adalah Minotaur yang kau kalahkan, tuan. Setelah kau mengalahkannya, ia sepertinya telah kehilangan sihirnya dan berubah menjadi begini. Ia sampai lari terbirit-birit saat kau seperti kerasukan kemarin, sebab kau selalu ingin memakannya”


Faelan menatap anak kerbau itu dengan tatapan yang aneh, “Yah.Itu memang bukan ide yang buruk. Setidaknya aku butuh protein dari daging segar, soalnya selama ini yang aku makan bersama Elysia hanya sayur-sayuran dan buah”


“Kiiieeeek” Anak kerbau itu kini bergetar ketakutan.


“Kau memang benar-benar tuanku. Dari kemarin aku juga memikirkan hal yang sama. Bagian paha kanan adalah yang terlezat dari seekor hewan mimikeri” Rakko meneteskan liur.


“Bukan itu yang terpenting” Sela Elysia. “Kita punya pekerjaan lain yang harus diselesaikan”.


Lalu Elysia yang digendong Rakko dan Faelan yang mengendarai anak kerbau itu kini berjalan menuju kedalaman gua. Jauh masuk ke dalam kegelapan gua yang terasa sunyi dan dingin.


Elysia mulai membuka suara, “Gua ini adalah satu-satunya akses menuju portal yang disebut Dragon Grotto, sebuah portal tersembunyi yang dikhususkan bagi beberapa kalangan saja. Dulunya gua ini dikuasai oleh para pengikut setia naga langit, mereka menjadikannya sebagai tempat berlatih bela diri dan sihir. Tapi, stelah kekacauan besar ribuan tahun lalu, gua ini seolah mati, dan portal naga hanya menjadi


sebuah mitos. Tidak ada lagi orang yang datang kesini. Tapi, karena ada kau, Fae. Maka mungkin saja Grotto itu bisa terbuka sekarang. Dan di sana kau perlu membentuk wadah sihirmu”


Faelan tampak bingung, “Tapi, mengapa tidak disebut gua saja, kenapa Grotto?” (Grotto berarti gua kecil).


Elysia tersenyum, “Kau akan lihat sendiri nanti”


Mereka sudah sampai di penghujung gua. Terdapat dinding batu besar.


“Lumos!” rapal Elysia.


Lalu seketika titik-titik cahaya bermunculan, menyinari sekitar dinding batu. Terlihat jelas setiap lukisan-lukisan zaman dahulu yang berupa ukiran dengan pewarnaan menggunakan oksidasi besi dan tembaga. Begitu lukisan itu terkena paparan sihir penerangan Elysia, seolah-olah lukisan itu menjadi hidup.


Faelan dan yang lain, mereka merasakan getaran magis yang kuat seolah menyelimuti udara. Seiring mereka mendekati dinding batu yang kasar, mata Faelan tertuju pada sebuah lukisan yang menghiasi seluruh permukaan batu tersebut. Lukisan itu begitu luar biasa, seakan-akan berasal dari imajinasi seorang dewa seni. Di depan matanya terbentang gambar-gambar yang memukau, mengisahkan cerita yang sudah terlupakan dalam catatan waktu.


Di tengah dinding, sesosok naga besar yang gagah perkasa tergambar dengan rincian yang begitu tajam, dari sisik biru berkilau di tubuhnya hingga mata tajam yang memandang keluar dari lukisan, seolah-olah naga itu akan hidup kapan saja. Naga itu memegang kendali, sebagai pemimpin yang agung. Namun, yang lebih memukau lagi adalah kerumunan makhluk-makhluk yang berada di sekitarnya.


Berbagai macam ras, mungkin dari zaman yang berbeda, tampak berkumpul di sekitar naga tersebut. Ada manusia dengan busana zaman kuno, dan makhluk-makhluk berwujud seperti peri dengan sayap berkilauan. Beberapa dari mereka adalah makhluk legendaris yang jarang terlihat di dunia nyata, seperti makhluk bertubuh setengah manusia setengah kambing dan makhluk berkepala burung, dan entah banyak lagi. Mereka semua sepertinya bersatu dalam pemujaan kepada sang naga, seolah-olah naga itu adalah dewa pelindung mereka.


Lukisan itu dipenuhi dengan warna-warna alami yang masih memancarkan kejayaan meskipun ribuan tahun telah berlalu. Setiap detail, setiap ekspresi, tampak hidup. Faelan merasa seakan-akan dia telah terhanyut ke dalam sejarah yang hidup, menyaksikan peradaban yang sudah lama punah.

__ADS_1


“Fae, letakkan tangamu di situ!” Elysia menunjuk ke arah sebuah lekukan yang membentuk pola telapak tangan yang berada di dinding gua.


Faelan turun dari anak kerbau itu dengan perlahan, lalu menempelkan telapak tangannya. Liontin Faelan tampak berpendar.


Sebuah cahaya biru keemasan yang menyilaukan keluar dari kedua mata relik naga di dalam lukisan, memenuhi dinding gua dengan kemilau yang terasa begitu hangat dan menenangkan. Dinding batu di depan Faelan terlihat seperti lenyap seiring dengan menyebarnya cahaya tadi. Tahu-tahu di depan Faelan sudah ada pemandangan langit dan lautan yang biru.


Faelan dan kawan-kawan melangkah maju dengan penuh takjub.


Faelan kini berada di atas tebing bebatuan yang menjulang, di bawahnya ada lautan luas yang ujungnya terlihat seperti penghujung air terjun, sebuah titik akhir dimana airnya menerjang jatuh ke awan putih yang terlihat menggumpal seperti kumpulan kapas bersih, lalu di atasnya ada langit biru yang sangat cerah.


Elysia mendekat dan menepuk pundak Faelan, “Nenekku bilang laut ini tidaklah asin, melainkan tawar. Air laut yang jatuh itu adalah hujan yang menyiram dunia kita, sebuah berkah dari langit”


Elysia pun menatapnya dengan penuh takjub. Ini adalah pertama kalinya ia melihat langsung apa yang selalu diceritakan neneknya dulu. Bahkan neneknya pun tak pernah seberuntung dirinya yang sekarang.


Faelan menghadap belakang. Kini jalur masuknya tadi tampak seperti gua kecil yang dangkal, yang bertengger di atas sebuah tebing. “Jadi, ini alasannya disebut Grotto?” gumamnya.


“Ayo, kita harus mencari altar naga. Di dunia ini, waktu berjalan tak seperti di dunia kita” ucap Elysia sambil menaiki Rakko.


Faelan menaiki anak kerbau lalu mengikuti Elysia.


“Ternyata banyak hal yang belum aku ketahui di dunia ini” gumam Rakko yang masih terbelalak kagum.


“Kau boleh mengatakan itu kalau umurmu sudah ratusan tahun sepertiku” ucap Elysia.


“Hah?! Apa?! Setua apa umurmu, nenek-nenek telinga runcing?!”


Takk!!


Elysia menjitak kepala Rakko keras sekali.


“Aku masih muda, tahu!!” Elysia tampak cemberut.


“Aaaaaaargh!!” Pekik Rakko, “Bukankah kau bilang kalau energimu hampir habis?”


“Energiku tidak akan habis kalau hanya untuk membunuh seekor Goblin tidak tahu tata krama sepertimu”


“Hahahahahaha” Faelan tertawa keras sekali.


Anak kerbau yang dikendarai Faelan juga mengendus dan menghambuskan nafas berat, seolah sedang


ikut cekikikan.


“Diam kau kerbau, kalau tak mau kumakan hidup-hidup!!” bentak Rakko.


Anak kerbau itu langsung bergidik ngeri.


“Hahahaha. Rakko, jangan sekali-kali menyinggung umur di depan seorang wanita. Aku juga pernah


kena jitakan mautnya” ujar Faelan sambil memegangi perut.


Mereka lalu berjalan di atas tanah agung yang terasa asing. Menuju awal dari sebuah perjalanan menciptakan peluang yang lebih besar untuk mengembalikan ketentraman dunia.

__ADS_1


__ADS_2