
“Umumnya setiap makhluk yang cukup kuat yang berada di sekitar desa tidak akan mudah dipengaruhi kekuatan iblis karena keberadaan segel. Slime adalah makhluk yang terlemah sehingga kesadarannya cukup terganggu dengan aura naga iblis yang menyebar di setiap penjuru” Elysia memandu Faelan ke dalam hutan yang gelap.
“Para Goblin ini sedikit berbeda” terang Elysia. “Mereka tidak sedang dirasuki kekuatan iblis. Tapi, di situlah letak kesulitannya. Mereka jadi bisa berpikir. Sekadar informasi, Goblin adalah makhluk yang licik. Mereka selalu berburu secara berkelompok. Mereka adalah pemburu yang handal dan tak kenal ampun. Sudah lama mereka memangsa orang-orang di desamu”
Sambil terus menyimak, Faelan masuk lebih dalam ke kegelapan hutan yang rimbun.
Elysia tiba-tiba berjongkok dan memberi isyarat untuk jangan bergerak. Dengan isyarat lainnya, Elysia meminta agar Faelan mulai membuka insting dan telinganya lebar-lebar. Untuk mengawasi semak-semak dan pepohonan yang lebat, memerhatikan setiap suara dan gerakan di sekitarnya.
Tiba-tiba, sekelompok goblin muncul dari semak-semak. Mereka berkulit hijau, dengan berbagai senjata dari batu yang berkilap di tangan-tangan kecil mereka, dan mata mereka berkilat dengan kecerdikan jahat. Mereka terlihat mengendus-endus udara. Mereka sadar bahwa ada tamu yang tak diundang. Dengan segera, para makhluk hijau itu kini mengepung Faelan. Dengan formasi siaga, mereka mendekat sambil mengeluarkan suara tawa yang kasar.
Sekilas Faelan tampak terkejut. Ia hendak menanyakan sesuatu pada Elysia.
Tapi, Elysia sudah tidak ada di sana. Ia tiba-tiba menghilang.
Salah satu Goblin dengan wajah gepeng menyibak semak-semak tempat Faelan bersembunyi, "Lihat apa yang kita punya di sini, teman-teman. Seorang manusia yang tersesat di hutan kita."
Goblin lain dengan mata yang buta sebelah lalu datang. Suaranya seolah bergemerincing mengejek, "Apa yang kau pikirkan, manusia? Kau berani masuk ke wilayah kami? King lihatlah ini! Malam ini kita akan makan enak! Kikikikikikik"
Sesosok Goblin bertubuh gempal dengan topeng dari kepala musang tiba-tiba muncul. Ia menghempaskan sekumpulan prajurit Goblin yang menghalangi jalannya. “Dasar kalian otak tikus! Apa kalian tidak menyadarinya? Ada aroma yang menarik darinya. Tangkap bocah itu untukku!”
Faelan merasa jantungnya berdebar kencang, tetapi dia tidak panik. Dia mengingat pelatihan fisik dan pertarungan melawan Slime yang dia lalui dengan apik. Dia memegang pedangnya dengan erat. Siap atau tidak, ia harus menghadapi Goblin-goblin ini.
Pertarungan pun dimulai. Pasukan Goblin itu meluncur menuju Faelan dengan sangat cepat, mencoba menyerangnya dengan pedang dan kapak dari berbagai arah. Faelan melompat menghindar dengan lincah, menghindari setiap serangan dengan cermat. Dia menggunakan pedangnya untuk menyayat dada Goblin-goblin tersebut saat mereka merengsek mendekat. Darah Goblin yang hijau mengalir deras di atas rerumputan. Beberapa Goblin sudah mulai tumbang. Beberapa yang masih selamat meringis kesakitan dan memilih untuk mundur.
King Goblin murka. Dengan pentungan besar berduri, ia lalu menghantam kepala beberapa prajuritnya yang mundur tadi. Darah hijau segar berhamburan dan terciprat di pepohonan sekitar. “Dasar para keroco! Kalian tak pantas berada di sisiku kalau kalian selemah ini”
King Goblin kini berdiri di depan Faelan. Memperlihatkan otot-ototnya yang kekar. Tubuhnya lebih tinggi dari Faelan. “Hei, manusia! Katakan siapa namamu!”
“Faelan! Untuk apa kau menanyakannya?” jawab Faelan.
“Kau hebat juga, manusia muda bernama Faelan”
“Lalu apa aku harus bangga?”
“Tentu saja! Setidaknya kau akan mati dengan terhormat, karena aku Rakko Si King Goblin telah mengakui kemampuanmu”
Rakko meloncat ke arah Faelan dengan kecepatan yang tak terduga. Ia mengangkat pentungannya tinggi-tinggi, bersiap untuk menghantam kepala Faelan.
Faelan berguling, menghindar ke samping.
Belum juga Faelan bangkit, tiba-tiba Goblin berwajah gepeng menghantamnya dengan kapak besar.
Faelan menahannya dengan pedang. Lalu satu dorongan kuat membuat wajah gepeng itu terpental.
Dari kejauhan, beberapa prajurit yang dipimpin Goblin bermata satu melesatkan begitu banyak anak panah dengan cepat.
__ADS_1
Faelan langsung berkelit ke belakang pohon.
Batang pohon yang tertancap anak panah itu kini terlihat dialiri cairan hitam yang merambat. Bagian btang pohon yang terkena itu mengeluarkan asap.
Panah racun, rupanya! Aku harus mengalahkan pasukan pemanah terlebih dahulu! Batin Faelan.
Dengan langkah secepat kilat, Faelan berlari mengitari kawanan Goblin itu. Lalu dengan lincahnya, Faelan menusuk leher dua prajurit Goblin dalam satu tusukan. Ia lantas merebut dua belati batu obsidian dari mayat keduanya.
Para prajurit Goblin telat bereaksi. Faelan sudah melompat ke atas pohon.
Sambil melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, ia menyarungkan pedangnya di pundak, aku butuh senjata yang lebih praktis kalau ingin mengalahkan musuh sebanyak ini. Pemburu yang biasa berkelompok harus dikalahkan dengan strategi assasin, pikirnya.
Lalu satu demi satu prajurit pemanah itu tumbang. Faelan benar-benar mengincar titik butanya. Kedua belati itu selalu mengincar bagian tengkuk prajurit Goblin.
Ini Goblin pemanah yang terakhir!
Setelah beberapa gerakan zig-zag di atas pepohonan, Faelan melompat turun dan mendarat dengan dua belati yang tertancap di mata Goblin yang buta sebelah itu.
Suara berdebam yang keras terdengar begitu dahsyat di atas tanah hutan yang dingin.
“Begini baru adil” ucap Faelan sambil menyeringai.
Para prajurit Goblin yang tersisa bergidik ngeri ketika menatap mata Faelan yang seakan haus darah.
"Dia tidak boleh mengalahkan kita! Serang dia bersama-sama!" Sang King Goblin memerintahkan setiap prajuritnya untuk menyerang secara bersamaan.
Goblin-goblin itu mencoba menyerang Faelan dengan formasi yang lebih terkoordinasi . Mereka terus menyerang, dan Faelan harus mengandalkan ketangkasan dan kecepatannya untuk menjaga jarak dari serangan mereka. Setiap kali ada serangan yang dia hindari, ia selalu membalas dengan sayatan kecil di setiap persendian para prajurit Goblin.
Prajurit Goblin meringis kesakitan.
Lalu satu demi satu para prajurit Goblin tumbang dan tak bisa berdiri. Setiap sendi penopang tubuhnya telah terkoyak.
Satu lagi!
Faelan berlari ke arah si muka gepeng.
Si muka gepeng tengah bersiap-siap. Ia menggenggam kapaknya erat-erat.
Saat Faelan sudah berada pada jarak serang, tiba-tiba Faelan lenyap dari pandangan.
Tahu-tahu Faelan sudah berada di belakang Goblin itu.
Si wajah gepeng lalu tumbang dan terjatuh ke depan. Di punggungnya telah tertancap dua belati.
Faelan kini berjalan menuju Rakko.
__ADS_1
“Baik, sekarang tinggal hidangan utamanya” Faelan tersenyum jahat sambil menarik pedang putih yang diberikan Elysia dari punggungnya. Dengan kuda-kuda yang mantap, Faelan mengarahkan ujung pedangnya pada King Goblin. “Kau bilang namamu Rakko ya tadi. Majulah! Namamu akan kuingat baik-baik. Sekarang kau tak perlu kuatir, kematianmu akan menjadi berharga!”
Rakko bergetar hebat. Sekujur tubuhnya tak henti-hentinya menggigil ketakutan.
“Ada apa dengan Rakko Sang King Goblin ini? Bukankah kau sangat bersemangat tadi?” Faelan menebas-nebaskan pedangnya di udara malam yang dingin. Segenap debu terhempas dan menghasilkan suara seperti badai. “Ayolah! Maju sini! Bukankah kau tak ingin dikenang sebagai raja yang pengecut? Aku butuh lawan yang layak!” Suara Faelan terdengar mengintimidasi dan menghina secara bersamaan.
Rakko masih tak bergeming. Kini air matanya mulai menetes. Atau entah itu adalah keringatnya yang bercucuran karena ketakutan.
Kedua lutut Rakko berdebam menghantam tanah. Pentungan besarnya terlepas seakan ia sudah tak punya tenaga lagi.
“Tuan Faelan yang hebat, tolong ampuni nyawaku!” Rakko kini bersujud dan menangis tersedu.
Rakko tak henti-hentinya menggigil.
Faelan mendekat.
Rakko semakin bergetar.
Jlebb!
Faelan menancapkan pedangnya di tanah, tepat di depan wajah Rakko.
“Kiiiiieek” pekik Rakko.
Faelan kini duduk di punggung besar Rakko. “Lalu apa yang kudapatkan dengan mengampuni nyawa tidak berhargamu itu?”
“Apapun tuan! Apapun!”
“Kau harus jadi jongosku seumur hidup kalau kau ingin selamat!”
“Tentu saja tuan! Tentu saja!” Mata penuh ketakutan Rakko kini berubah menjadi pengharapan dan rasa syukur.
“Baiklah! Kau harus setia kepadaku. Ingat bahwa aku bisa membunuhmu kapanpun aku mau. Sekarang bawa pasukanmu yang masih selamat dan bersihkan hutan ini. Mayat-mayat Goblin ini membuatku muak!”
Dengan segera Rakko mulai mengumpulkan mayat-mayat prajuritnya.
Elysia yangdari tadi mengawasinya dari kejauhan, datang dan tersenyum dengan bangga. “Jadi, kenapa kau mengampuninya?”
Faelan mengeluarkan seekor Slime kecil berwarna emas berkilau dari kantungnya. Slime itu tampak tenang. Ia tak terpengaruh oleh kekuatan iblis.
Faelan menggaruk-garuk tubuh Slime unik itu.
si Slime emas mendengkur dan tampak nyaman.
“Bukankah kita butuh banyak bantuan untuk mengalahkan Naga Iblis?” ujar Faelan sambil tersenyum.
__ADS_1