
Malam ini adalah malam kedua di atas kapal milik guild Silverback Gorilla.
Pada akhirnya, kecuali sang penguntit dan Faelan, semua laki-laki di kapal itu mencoba melawan Rikka. Tentu saja dengan taruhan yang jauh lebih sedikit. Para laki-laki itu sebenarnya sudah tahu mereka akan kalah, mereka menyerahkan koinnya hanya sebagai bentuk apresiasi kepada jawara baru mereka.
“Lihatlah perempuan ini. Meskipun ia sedang mabuk, ia tetap tak terkalahkan. Selain cantik, ia juga memiliki kekuatan yang luar biasa. HUAHAHAHAHA” ungkap salah seorang ketika baru saja dikalahkan Rikka. Mereka akhirnya tahu bahwa menyinggung keaslian sisi wanita Rikka sama saja bunuh diri.
Thorak sudah meminta maaf semenjak ia siuman. Ia menyalami Rikka dengan tangan kirinya, sebab kini tangan kanannya sedang diperban. Faelan dan Rikka benar-benar sudah akrab dengan mereka.
Ting! Ting! Ting! Suara gelas kaca yang dipukul.
“Hei perhatikan, semuanya!” ucap Faelan sambil berdiri di atas meja dengan gelas dan garpu di tangannya.
Semua orang tampak menyimak Faelan sambil setengah sadar.
“Malam ini, semua orang, aku yang traktir” sorak Faelan dengan penuh semangat.
“HUAHAHAHAHAHA. Lihat tuan muda kita” ujar Flakko dengan suara yang menggema, “Ia tahu cara menggunakan koin emasnya dengan benar. HUAHAHAHAHA”
Beberapa saat kemudian, Flakko mulai membawa puluhan kendi berisi Rum dan Anggur.
“Hei. Bocah kaya! Yang ini tidak terhitung hutang ya” Lelaki penguntit menunjukkan sebuah kendi besar kepada Faelan, “Kau sendiri yang bilang mentraktir semua orang”
“Terserah kau, pria besar” ucap Faelan sambil tersenyum.
Semua orang lalu mulai meminum minuman keras yang sudah tidak terhitung berapa kendi jumlahnya.
Semua orang tampak melebur dalam huporia. Mereka bergandengan tangan, menari dan bernyanyi.
***
Setelah berlayar selama 4 hari, kapal tua itu kini telah sampai di Benua Ignaria. Telat satu hari setengah dibandingkan Forest Diamond yang megah.
Faelan dan semua orang turun dari kapal.
“Siapa namamu tuan tampan kaya yang baik hati?” tanya lelaki penguntit.
“Faelan. Bisakah kau memilih salah satu saja untuk memujiku. Kau membuatnya menjadi tampak aneh”
“Namaku Kaeda, Aku menebak kau pasti datang ke benua ini untuk bertemu dengan Peramal Mithra”
“Kenapa kau begitu yakin?”
“Untuk apalagi seorang kaya raya ingin datang ke benua yang tak ramah ini, kecuali untuk meminta diramal akan bisnis masa depan atau jodohnya. Aku dengar Mithra adalah salah satu cenayang terbaik di seantero benua” Pria besar itu lalu berbisik, “bahkan aku dengar rumor kalau sebenarnya Mithra itu bisa menggunakan sihir. Dia mengambil keuntungan dengan memberikan ramalan dengan shirnya. Ia hanya menjadikan kliniknya sebagai kedok”
“Master, apa nama Mithra itu agak sedikit mirip dengan Mathra yang disebutkan Argentia”
“Ikuti jalan setapak ini!” tunjuk Kaeda “Baiklah, Faelan. Selamat tinggal. Aku akan mengingat nama itu. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu”
Kaeda lalu berjalan menuju arah yang berlawanan.
“Hei, Kaeda! Kau mau kemana?” teriak Faelan.
“Entahlah bocah kaya” Kaeda menjawab tanpa berbalik, “Aku hanya seorang pengelana penyendiri. Aku mengikuti instingku. Sampai jumpa kawan!” teriaknya sambil melambai, memperlihatkan punggung kekarnya yang tampak menonjol keluar dari pakaiannya.
“Dasar orang barbar” ujar Rikka.
“Memang kau tidak barbar, hah?” ucap Elysia yang tiba-tiba muncul di punggung Faelan.
“HAAAH?!” Rikka terlihat kesal.
__ADS_1
“Master. Aku akhirnya bisa menciptakan ini” Elysia menunjukkan sebuah kacamata dengan frame minimalis.
“Apa ini?” Faelan mengambil kacamata itu.
“Coba kau pakai, master”
Faelan lalu mengenakannya. Tiba-tiba sebuah pop up box yang terlihat seperti sebuah sistem dari komputer super canggih muncul di depan mata Faelan.
“Waaw” Faelan berdecak kagum. “Kau memang pintar Elysia”
“Terimakasih, master. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantumu dengan keadaanku yang sekarang. Ini adalah sebuah item sihir yang akan membantumu menganalisa segala sesuatu yang bisa kau lihat. Aku sendiri yang menjadi operator dari kacamata Sacred Eyes ini”
“Jadi, kau sudah memberinya nama. Baguslah. Bagaimana kau membuatnya?”
“Di dalam ruangan putih, ada begitu banyak skill yang ditinggalkan Argentia untukmu. Tapi karena kau masih belum mencapai tingkatan yang dibutuhkan, kau tidak bisa mengakses keseluruhannya. Jadi, dengan beberapa barang yang kita pungut di pemandian air panas, aku membuat Sacred Eyes ini sebagai wadah untuk menyederhanakan skill yang ditinggalkan Argentia sehingga kau bisa menggunakannya, master”
“Sungguh brilliant Elysia”
Rikka kini terlihat mencibir.
“Hahaha” Faelan tertawa, “Tenang Rikka. Kau juga berperan besar. Tanpamu kita akan tetap miskin sampai sekarang”
“Hiii. Terimakasih, tuan” ucap Rikka sambil tersenyum.
Faelan kini bisa melihat informasi tentang Rikka:
Sub species: King Goblin
MagiEssence level: 3+
Health: 100
Agility: 30
Defence: 70
Magic specialist: Earth, Light
Role: Tank, Front Attacker
Status/Nama:Rakko atau Rikka/ Slave (Budak)
“Elysia” Kini Faelan benar-benar terbelalak, “KAU BENAR-BENAR JENIUS!”
“Terimakasih, master!” Elysia tersenyum sambil membungkuk. “Sacred Eyes juga memungkinkan kau berbagi pandanganmu secara realtime denganku. Selama pertempuran, ini akan sangat berguna. Aku masih belum menelitinya cukup dalam, tapi peluangnya hampir tak terbatas”
“Aku tidak akan terkejut lagi”
“Sekali lagi, terimakasih atas pujiannya. Kacamata ini bukannya tanpa kelemahan. Kemampuannya mengacu pada batasan kemampuanku ketika masih hidup dulu. Yah, lagi pula ini hanya sebuah purwarupa. Aku bukanlah seorang Dwarf yang bisa membuat berbagai peralatan sihir kelas atas”
“Elysia.. Aku terima Sacred Eyes ini” Faelan membuka ikat rambutnya. Rambut panjangnya yang tak pernah dipotong selama 5 tahun lebih kini melambai di udara. Kaca mata, blazzer hitam dengan dalaman hem putih, dan rambut cokelat panjang yang terurai membuatnya semakin mempesona.
“Tunggu! Ada yang kurang” ucap Faelan. Ia lalu mengeluarkan liontin dan mengenakannya.
“Kau terlihat tampan. Kini orang-orang akan semakin sulit mengenalimu, master”
***
Negeri Ignaria, atau biasa disebut Benua Ignaria, adalah tempat yang luar biasa yang selalu berisik oleh letusan vulkanik di sepanjang jalan, di mana lava panas mengalir seperti sungai dan gunung berapi mengguntur dengan kemarahan yang tak terbendung. Tanahnya adalah sebuah daratan yang penuh bara membara, merah menyala, seolah-olah bumi itu sendiri berdenyut dengan api yang tak terkendali.
__ADS_1
Ignaria dahulu adalah wilayah dari naga langit yang kini telah tiada, Ignatius, yang disebut Flamecaller. Kenangan akan naga tersebut masih menggema di angin panas Ignaria. Saat Faelan menjelajahi benua ini lebih dalam, dia menemukan pemandangan yang mengagumkan. Tebing-tebing tinggi dari batu obsidian membingkai cakrawala, permukaannya berkilauan oleh panas dari matahari yang menyengat. Udara di sini terasa pekat dengan bau belerang dan suara dentuman gunung berapi yang memecah kesunyian, yang menyelingi raungan tak henti-hentinya dari geiser-geiser berapi yang tersebar di seluruh negeri.
Selama perjalanannya, Faelan tidak bisa menghindari perasaan bahwa dia sedang berjalan melalui dunia yang kuno dan hidup, di mana batas antara sihir dan kenyataan terasa samar. Di negeri ini yang dipenuhi oleh api abadi, dia dihadapkan pada berbagai tantangan dan bertemu dengan makhluk-makhluk yang terlahir dari nyala api, burung-burung dan hewan melata, hati mereka sekuat api yang membentuk mereka.
Setiap langkah di Ignaria membuka sisi baru dari keindahan yang megah namun berbahaya, menjadi bukti akan kekuatan unsur alam yang telah membentuknya selama ribuan tahun. Perjalanan Faelan melalui negeri keajaiban ini akan menguji keberaniannya, mengungkapkan rahasia yang terkubur di dalam kedalaman lava, dan membawanya menuju takdir yang terkait dengan warisan Ignatius the Flamecaller.
“Habis ini, kemana nih?” Faelan kini telah sampai di pertemuan dua gunung berapi. Ia berada di tengah-tengahnya, di persimpangan.
“Master. Lihat ke plang itu!”
Faelan lalu menengadah, menatap ke arah sebuah papan nama bertuliskan: Lewat sini! Jalan menuju Cenayang terbaik di dunia. 500 meter lagi.
“Tuan, apa ini tidak terlalu mencurigakan?” Rikka tampak khawatir.
“Kita ikuti saja dulu” jawab Faelan singkat.
Beberapa saat kemudian. Faelan melihat sebuah gubuk tua di ujung sebuah tebing terjal. Tepat di
depan pintu gubuk itu tertulis plang dengan tulisan tangan yang mirip seperti yang ditemuinya sebelumnya, papan nama itu bertuliskan: Cenayang terbaik ada di sini! Datanglah! Biayanya murah kok. Cuma seharga permen.
“Ayo kesana!” ujar Faelan.
Belum saja Faelan mengetuk pintu, tiba-tiba seorang gadis berambut merah keluar dari gubuk itu dengan tergesa-gesa. “Hai, tuan muda yang tampan, selamat datang di kediaman sang cenayang agung paling berbakat di benua ini. Saya adalah kepala resepsionis di... Hmmm.. atau haruskah ku panggil, nona?” ucapnya.
“Aku laki-laki” Kata Faelan singkat.
“Maafkan aku, tuan. Baiklah. Kau tampak dari kalangan bangsawan. Pasti kau datang kesini dengan membawa banyak uang. EH!! Maksudku, kau datang kesini karena ingin diramal, bukan?”
Sacred eyes: mengumpulkan informasi
“Oh. Iya, tentunya. Juga.. ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan”
“Siapa yang mengutus kalian kesini?” Tanya perempuan pendek dengan rambut merah sambil tersenyum manis.
Faelan dan Rikka saling tatap. Lalu dengan polosnya, Faelan menjawab: “Kaeda”
Sontak perempuan yang menyambutnya dengan manis itu kini tampak begitu mengintimidasi. Ia menggenggam kerah baju Faelan dengan sangat kuat.
Rikka tampak siaga. Namun, Faelan memberikannya kode tangan untuk tetap tenang.
“Bagaimana kalian kenal dengan bajingan licik itu, hah?” ucap perempuan berambut merah itu.
Sacred eyes telah selesai menganalisa.
Sub species: Peri
MagiEssence level: 6+
Health: 100
Magic power: 90
Agility: 90
Defence: 65
Magic specialist: Fire, Wind, Earth, Water
Role: Support, Priest
__ADS_1
Status/Nama: Kekurangan informasi