Pembalasan Sang Naga: Rise Of The Unbroken

Pembalasan Sang Naga: Rise Of The Unbroken
Berlayar Bersama Para Orang Buangan


__ADS_3

Malam itu, Faelan dan Rikka berakhir dengan tidur di dalam gua sambil berjaga secara bergantian. Hingga pagi tak ada keanehan yang terjadi.


“Hoaaaaamm” Faelan meregangkan kedua tangannya, ia masih mengantuk.


“Kau sudah bangun tuan. Bagaimana tidurmu?” tanya Rikka.


“Berkatmu, tidurku jadi kurang nyenyak”


“Maafkan aku tuan”


“Tidak apa-apa, Rikka. Syukurlah tidak ada terjadi sesuatu. Sepertinya penguntit itu tidak memiliki ketertarikan apapun kepada kita. Lagi pula apa yang mau dicuri dari pengelana miskin seperti kita”


“Hoaaaamm” Elysia muncul dengan selimut putih yang lembut memenuhi tubuh mungilnya, piayama putih


dengan ornamen biru muda menghiasi kedua tangannya saat ia meregangkannya dengan ekspresi polos tanpa rasa bersalah.


Padahal Faelan dan Rikka tidur tanpa alas dan selimut apapun.


“Hei, dari mana kau dapatkan selimut itu?” Tanya Faelan kesal.


“Master, duniaku adalah alam bawah sadarmu. Jadi aku bisa leluasa menciptakan apapun di dalam sana”


“Lalu bisakah kau mengirimkan setidaknya dua selimut yang sama?”


“Sayang sekali, tidak bisa master. Dunia fisik dan dimensi di alam bawah sadarmu adalah tempat yang berbeda satu sama lain. Pakaian dan selimut ini hanyalah sebuah perwujudan astral”


“Huh. Lagi pula, apa roh sepertimu juga butuh tidur?”


“Sepertinya tidak”


“Lalu kenapa kau terlihat baru bangun dari tidur pulas? Mengesalkan sekali!”


“Hihi. Aku hanya tak ingin menghilangkan sisi manusiawiku”


“Terserah lah. Rikka, kau bilang kau mendapatkan hewan buruan tadi malam?”


“Iya, tuan” Rikka lalu mengeluarkan dua ekor kelinci bertanduk putih.


Kelinci itu adalah makhluk nokturnal. Tanduk tunggal yang berada di dahinya akan memancarkan cahaya ketika berburu di malam hari. Ya, kelinci ini adalah makhluk karnivora yang biasa berburu dalam kelompok. Mereka predator yang cukup cerdik, tapi tentu saja Rikka bukanlah lawan yang seimbang bagi mereka.


“Kukira kau langsung memakannya mentah-mentah” ujar Faelan.


“Tidak, tuan. Aku sedang belajar cara makan yang beradab seperti manusia” Rikka tersenyum.


“Huh!” Elysia terlihat kesal, “Ingat ya! Tubuhmu saja yang berubah jadi manusia. Aslinya kamu itu tetap hanya seekor Goblin kotor!”


“Bilang apa kamu lintah parasit?” Rikka terlihat marah.


“Apa kau bilang dasar wanita jadi-jadian? Seharusnya kau mendapat wujud yang lebih jelek. Itu sesuai


dengan muka hijaumu!”


“Sudah sudah!” Faelan menyela, “Pagi-pagi begini sudah bertengkar. Kalian mau aku kasih hukuman tutup mulut lagi, hah?”


“Tidak, tuan. Maafkan aku!”


“Tidak, master. Maafkan aku!”


Beberapa saat kemudian.


Faelan dan Rikka  memakan daging kelinci itu dengan penuh semangat. Selain karena daging kelinci itu memiliki grade terbaik, olahan tangan Faelan juga menambah cita rasa dari daging panggang itu.


Elysia hanya menatapi dengan liur yang menetes.

__ADS_1


“Kau mau, Elysia?” Tanya Faelan.


“Tidak! Elf tidak makan daging. Lagi pula rasa lapar tidak ada pada diriku. Ini hanya sisa-sisa kenangan selera makan semasa hidupku dulu” Kini liur Elysia benar-benar mengalir dengan liar.


“Sudah, coba saja dulu sedikit!” Faelan menyodorkan daging kelinci yang masih berasap dan juicy.


“Tidak, master. Terimakasih. Aku mau masuk dulu. Ada sesuatu yang ingin kupelajari di ruang putih itu” Elysia lalu menghilang sambil menggerutu.


***


Faelan dan kawan-kawan telah berada di pelabuhan penyebrangan menuju Benua Ignaria. Atas saran Elysia, Faelan memilih sebuah kapal kecil agar mereka tidak terlalu mencolok.


“Apa gerangan yang membuat tuan bangsawan ini memilih untuk manaiki kapal rongsok seperti ini. Dari penampilanmu, kau lebih cocok untuk berada di kapal Forest Diamond” seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu masuk itu menunjuk ke arah kapal besar yang mewah, yang berada beberapa belas meter dari kapal kecil yang ia jaga.


“Tidak. Ini lebih baik untuk kami” ucap Faelan.


“Oh aku mengerti. Tuan bangsawan ini pasti ingin kabur dari kehidupan mewahnya. Berlayar bersama kekasih hati yang tak direstui oleh keluarga kerajaan” laki-laki berbadan besar dengan rambut dan janggut yang terlihat seperti sarang burung itu kini tersenyum sambil menggosokkan kedua tangannya, matanya tampak seolah ia sedang mendapatkan tangkapan besar.


Faelan menatap ke arah Rikka.


Rikka terlihat tersenyum malu-malu.


“Kau bisa bilang begitu” ungkap Faelan singkat.


“Ah. Tepat seperti dugaanku. Kalau begitu, anda membutuhkan ID Card samaran dari guild kami. Saya akan memberikan pena, jadi anda bebas menuliskan nama anda nantinya”


“Oh, itu akan sangat membantu, terimakasih”


Lelaki berjanggut tebal itu tersenyum dengan begitu lebar, “Kalau begitu, 4 koin emas untuk sepasang kekasih dengan ID samaran, dan 3 keping lagi untuk tambahan satu orang pengawal dengan barang bawaan sebanyak itu”


“Tunggu. Apa yang...” Faelan kini sadar ada seorang laki-laki yang tegap dan besar sedang berdiri di belakangnya. Wajah beruang tampak menyeringai dari atas kepalanya, itu adalah jaket dari jasad seekor beruang coklat besar yang telah diawetkan.


Rambut laki-laki itu berwarna hitam pekat dengan sorot mata yang menyala. Wajahnya terlihat masih berusia sekitar 30-an. Kedua matanya yang tampak hitam legam mengkilat di terpa matahari pagi.


“Oh ayolah, tuan muda. Bisakah kau membayarkannya untukku. Aku belum menerima gaji bulan ini. Kebaikanmu suatu saat pasti akan kubalas dengan pengabdian yang layak” ucap pria itu sambil membungkuk, sekilas senyumannya yang menyeringai tampak mengintimidasi.


“Tuan, dia memiliki bau yang sama seperti yang mengikuti kita di gua” bisik Rikka.


“Ah terserah lah. Baik aku akan membayar untuknya juga” Faelan lalu membayarkannya dengan berat hati. Ia tak mau berurusan dengan orang yang tak bisa ditanganinya sendiri.


“Baik, terimakashi tuan. Kalau nanti anda butuh bantuan, silakan panggil saya. Nama saya Flakko” ucap lelaki penjaga pintu masuk kapal, “senang berbisnis dengan anda”. Ia lalu memberikan tiga buah ID card dan sebuah pena kepada Faelan.


Faelan dan kawan-kawan lalu berjalan masuk.


Laki-laki penguntit itu lalu memikul karung cokelat besar yang terlihat sangat penuh dan berat. Sambil berjalan enteng ia berkata“Aku tak butuh semacam ID atau apalah namanya. Kau simpan saja sendiri. Aku hanya ingin segera sampai ke Ignaria”, ia lalu pergi menjauh.


***


Di dalam kapal tua yang setiap dinding kayunya selalu terdengar berderak.


Kapal itu penuh dengan orang-orang barbar yang sedang duduk dengan pakaian dari kulit hewan berbulu tebal, sambil menikmati minuman alkohol. Suasana di dalam kapal terasa begitu liar, di mana mereka sedang asyik dengan bertaruh dalam permainan adu panco. Gelak tawa dan sorakan terdengar di seluruh kapal, menciptakan atmosfer yang riuh namun bersahabat.


Di atas kapal, Faelan duduk di salah satu sudut bersama Rikka, mengamati orang-orang sekitarnya dengan hati-hati. Sebagai seorang yang tidak terlalu akrab dengan perjudian atau minuman keras, ia memutuskan untuk menjaga jarak dari permainan mereka. Namun, ruang kapal yang sempit, terpaksa membuat mereka harus duduk bersebelahan dengan laki-laki penguntit tadi.


Beberapa di antara orang barbar mulai menyanyikan lagu-lagu kegembiraan yang khas. Sementara penjaga pintu kapal tadi, dengan berani, mengajak Faelan untuk ikut serta dalam adu kekuatan fisik.


Flakko mendekat, "Hey, anak kaya! Thorak, kawanku” tunjuknya kepada seseorang dengan tubuh gempal dan lengan kakar, “Dia berani bertaruh 1 koin emas dan 50 koin perak. Mari kita lihat seberapa kuat pengawalmu itu!" serunya sambil menunjuk laki-laki penguntit yang disangkanya sebagai pengawal Faelan.


Faelan menatap ke arah laki-laki penguntit itu.


“Jangan libatkan aku dalam permainan kanak-kanakmu” ucapnya sambil bersandar dan menyilangkan tangan, mendekap pedang besarnya. Ia berbicara dengan mata tertutup.


Faelan kini menatap ke arah Rikka, “Bagaimana kalau dia yang ikut?” tunjuk Faelan.

__ADS_1


“Hah? Apa kau sudah gila? Kau menyuruh kekasihmu untuk adu panco” Flakko kaget.


Faelan tersenyum, "Ya, kau tidak salah dengar. Agar semakin seru, aku akan menaikkan taruhannya menjadi 100 keping emas. Menarik bukan?"


Pria penguntit kini mengintip dengan satu matanya, rupanya ia tertarik dengan laki-laki gila bernama Faelan itu.


Flakko tampak berdiskusi dengan teman-temannya.


Sesaat kemudian, ia kembali, “Hei, anak muda! Apa kau yakin dengan keputusanmu itu? sebentar lagi kau akan kehilangan 100 keping emas yang setara dengan 10.000 koin perak, lo”


“Lalu apa yang menahanmu dari uang sebanyak itu. Ayo kita segera mulai” senyuman Faelan kali ini tampak licik.


Beberapa saat kemudian, Thorak, laki-laki besar dengan kumis yang lebih tebal dari jenggotnya kini berada di hadapan Rikka, sesosok perempuan cantik dengan tubuh langsing dan kulit putih. Thorak tampak tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Rikka, sorot matanya begitu tajam dan meyakinkan.


Di belakang Rikka, Faelan sedang tersenyum sambil menyilangkan kedua tangan.


Si penguntit kini tampak bangkit dan menyaksikan dari jauh.


“Jangan menangis ya anak kaya. Kau sendiri yang menginginkannya” ucap Thorak sambil terbahak.


Flakko berada di tengah, siap-siap memberi aba-aba. “Baiklah, semuanya sudah siap kan? Dalam hitungan ketiga. Satu.. dua.. Tiga. Mulai!!”


Thorak langsung mengeluarkan tenaga penuhnya. Ia menarik tangan Rikka dengan sekuat-kuatnya.


Namun, Rikka tampak tak bergeming sedikitpun. Ia justru tersenyum.


Thorak sontak kaget. Ia lantas mencoba sekali lagi menjatuhkan lengan ramping Rikka.


Tapi lagi-lagi Rikka tak bergeming. Bahkan saat itu Rikka hanya menahannya, tanpa melawan, menekan balik. “Ada apa, laki-laki besar?” Tanya Rikka sambil menyeringai menantang.


“Bajingan! Wanita macam apaan kau ini? Apa kau yakin kalau kau bukan wanita jadi-jadian?” pekik Thorak sambil meringis.


Rikka sontak langsung marah. Mukanya memerah. Ia benar-benar tak terima ia disebut wanita jadi-jadian.


“Rikka! Tung..” Faelan berusaha menahan Rikka, agar si King Goblin itu tidak mengamuk.


“AKUU WANITA TULEEEN DASAR SIALAAAN!!!” Rikka berteriak begitu kencang. Dengan segenap kekuatannya ia menekan lengan Thorak hingga menghantam meja bundar itu dengan dahsyat.


Bahkan kini meja bundar itu telah remuk berkeping-keping.


Segera setelah debu mulai hilang, tampaklah Thorak sedang terbaring pingsan dengan mata terbelalak.


“Adduh!” Faelan menepuk kepalanya sambil mengernyit. Ia takut kalau-kalau ia akan tertimpa masalah.


Tiba-tiba..


“HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!” Tawa di kapal tua itu meledak. Semua laki-laki barbar itu tampak gembira dan bersorak.


“HUAHAHAHA lihatlah si Thorak sombong ini” teriak Flakko, “sepertinya usia telah melemahkannya. Sekarang kita punya juara baru. Siapa namamu, perempuan cantik dengan rambut hijau yang indah?”


“Rikka” jawab Rikka singkat sambil tersenyum.


“JUARA BARU KITA BERNAMA RIKKA, KAWAN-KAWAN” sorak Flakko, lalu diikuti dengan tepuk tangan dan


siulan yang meriah.


Falkko kini tersenyum ke arah Faelan, “Baiklah. Sungguh tidak terduga” Flakko melemparkan sebuah kantung yan berisi koin emas, “terimalah kemenanganmu anak muda”


“Hei. Tunggu. Uang sebanyak ini, apa kau yakin?” Faelan tampak berat hati menerimanya.


“Tentu uang itu sangat banyak. Tapi ini adalah konsekuensi yang harus kami terima. Atau begitulah peraturan di sini. Di kelompok ini, di guild Silverback Gorilla aturan adalah sesuatu yang sakral. Lagi pula kamilah yang sejak awal berusaha menjebakmu dengan bertanding panco dengan jawara kami. Yah sangat memalukan justru akhirnya kami yang kalah. HUAHAHAHA”


Faelan dan Rikka tersenyum simpul, salut pada prinsip guild kecil yang sederhana itu.

__ADS_1


Si penguntit sudah kembali bersandar dan tertidur. Kini ia tersenyum sambil bergumam:


“Haha. Tidak buruk juga”


__ADS_2