Pembalasan Sang Naga: Rise Of The Unbroken

Pembalasan Sang Naga: Rise Of The Unbroken
Peri Bernama Mithra


__ADS_3

Sacred eyes telah selesai menganalisa.


Sub species: Peri


MagiEssence level: 6+


Health: 100


Magic power: 90


Agility: 90


Defence: 65


Magic specialist: Fire, Wind, Earth, Water


Role: Support, Priest


Status/Nama: Kekurangan informasi


“Tenanglah nona! Kami baru tiba di benua ini. Kami tidak tahu apa-apa tentangmu ataupun Kaeda” ucap


Faelan.


Mithra menatapke arah Faelan sejenak. Ia tampak seperti sedang menganalisa. “Siapa kalian?” Matanya terlihat menyala. Sepertinya ia baru saja menanamkan sihir di kedua mata merahnya.


“Namaku Faelan, dan ini adalah Rikka, pelayanku. Kami bukanlah musuh”


“Sekarang jelaskan mengapa kau memiliki energi naga dan energi high elf. Keduanya adalah sesuatu yang telah dianggap sebagai mitos, dan wanita ini memiliki bau seperti Goblin!”


“Master?!”


“Tuan?!”


“Tidak apa-apa. Nona di depan ini, yang jelas dia bukanlah musuh” Faelan menarik nafas, “Aku adalah orang yang dikaruniai kekuatan naga, dan Rikka sebenarnya adalah budakku, dia memang seorang Goblin. Apa kau percaya?”


Perempuan berambut merah itu melepaskan Faelan, “Aku percaya. Sihir lie detector (pendeteksi kebohongan) milikku mengonfirmasi kebenaran semua yang kau ucapkan. Bukankah kacamatamu itu memiliki fungsi yang serupa?”


Faelan memperbaiki letak kacamatanya, “yah semacam itu lah. Kau juga bukan seorang manusia, kan?”


“Ya, aku adalah peri. Aku rasa kacamatamu itu memberikan informasi yang cukup. Namaku Mithra. Mari


berbicara di dalam”


Segera setelah Faelan dan Rikka masuk ke gubuk itu, Mithra langsung menutup pintu dan tirai. “Jelaskan bagaimana kau bertemu dengan Kaeda? Dan apa hubunganmu dengannya?”


“Kami bertemu dengan Kaeda saat ingin menyebrang di pelabuhan. Aku sama sekali tak mengenalnya”


“Apa tujuanmu di negeri miskin tanpa hukum ini?”


“Aku ingin mencari informasi tentang seorang peri bernama Mathra. Apa kau familiar dengan nama itu?”


Mithra terdiam sesaat. “Dari mana kau dengar nama itu?” tatapannya kini serius.


“Apa kau seseorang yang dipercaya?”


“Itu tergantung keadaannya. Kalau itu menguntungkan, kenapa tidak?”


“Maksudku, kau tidak berafiliasi dengan pasukan naga iblis kan?”

__ADS_1


“BERANI SEKALI KAU BERPIKIR AKU ADA HUBUNGANNYA DENGAN PASUKAN BIADAB ITU?” Kini tubuh Mithra dipenuhi berbagai elemen sihir secara bersamaan. Tanah dan udara sekitarnya sampai bergemuruh.


“Hei hei relax! Aku hanya mau memastikannya. Dengan ini, kau mau meolongku, kan?” Faelan mengeluarkan 5 biji koin emas.


“Oh tentu, tuan!” ekspresi Mithra sontak berubah menjadi begitu manis. Ia berusaha merampas koin dari tangan Faelan.


Tapi, dengan cekatan, Faelan langsung menarik tangannya, “Aku belum mendapatkan apa yang aku mau”


“Huh. Dasar bocah egois. Ini adalah cerita yang panjang”. Lalu Mithra mulai bercerita.


Dulu sekali, Ignaria adalah sebuah benua yang kaya raya akan bahan-bahan alam yang mengandung mineral dan sihir alami. Dan ini adalah cerita ketika negeri ini masih dibawah perlindungan Naga Agung Ignatius. Tanah dan rawanya memang didominasi oleh lava, tetapi justru lahar panas itu membawa sekian banyak mineral yang membuat pepohonan menjadi subur. Pohon-pohon yang tumbuh pun bukan pohon biasa, melainkan pohon api yang dedaunannya senantiasa membara. Batang kokohnya dilimpahi oleh energi sihir api yang kuat. Hewan-hewan besar sampai kecil hidup berdampingan dalam rantai makanan yang seimbang. Para peri berambut merah adalah kaki tangan yang setia dari Ignatius, mereka mengelola benua ini sehingga tetap aman dan tentram. Pemimpin dari klan peri berambut merah adalah Mathra, sang peri kebijaksanaan.


Tetapi, semua itu berubah ketika Naga Ignatius dan naga langit yang lain tumbang. Ignaria menjadi negeri tanpa aturan. Hewan-hewan ajaibnya diburu habis-habisan, digunakan sebagai mesin perang, bahan membuat ramuan sihir, atau hanya sebagai hewan peliharaan yang eksotis. Bahkan seluruh pepohonan juga dibabat habis, kayu-kayunya diketahui merupakan penghantar sihir yang paling efektif. Sejak saat itu,


Ignaria menjadi seperti sekarang. Sebuah benua yang dijuluki benua neraka, karena semua orang bebas masuk. Dan kebanyakan dari mereka yang masuk adalah penjarah. Mereka menjarah kekayaan apapun yang tersisa. Salah satu penjarah sekaligus pemburu paling terkenal adalah Kaeda.


“Tunggu tunggu. Jadi semua barang bawaan Kaeda itu adalah hasil jarahan? Sialan!” kini Faelan tampak kesal. “Padahal kau kuat Mithra, kenapa kau tidak melawan Kaeda?”


“Hhh” hela Mithra, “Selain dia adalah penyihir MagiEssence tingkat 7, kekuatan fisiknya juga luar biasa. Tanpa energi sihir saja, dia sudah setara dengan penyihir tingkat 5”


“Hah?! Apa?!”


Baik Faelan, Rikka dan Elysia, mereka terperanjat. Sekarang mereka bersyukur telah memilih untuk tidak cari masalah dengan Kaeda.


“Lalu apakah dia orang baik?” Tanya Faelan.


“Laki-laki itu tak lebih dari sekadar perampok keji. Bahkan, ada desas desus yang mengatakan” Mithra melanjutkan paparannya, “kalau Kaeda sebenarnya setara dengan sihir Runalith tingkat 2”


“Kau rupanya tahu banyak. Apa yang kau ketahui tentang Runalith”


Mithra mengulurkan talapak tangannya.


“Aku sudah membagikan info sesuai jumlah koinmu. Untuk info selanjutnya, kau perlu memberiku 10 koin emas lagi. Total 15 koin dibayar dimuka”


“Ck! Ini!” Faelan melepaskan 15 koin di atas telapak tangan Mithra.


“Terimakasih, tuan tampan yang dermawan” ucap Mithra dengan senyum manis.


“Sekarang, katakan apa yang kau ketahui tentang Runalith”


“Sayangnya, aku tidak tahu apa-apa. Maaf hari ini saya sudah tutup. Silahkan pulang dan datang lagi lain kali” Mithra mendorong paksa Faelan dan Rikka keluar dari gubuk reotnya.


“Hei dasar perempuan sinting!” pekik Rikka.


“Tunggu dulu! Ini sama saja penipuan namanya!” Faelan berusaha melawan.


Tapi tentu saja tenaga Mithra jauh di atas mereka berdua. Sungguh badan kecilnya itu tidak sesuai dengan kekuatannya.


“Aku sudah mengatakan semua yang kau minta. Dan aku memang tak tahu apa-apa tentang Runallith selain itu adalah sihir khusus para naga. Terimakasih sudah berkunjung. Senang berbisnis dengan anda” Mithra tersenyum sesaat sebelum ia menutup pintu dengan keras. Suara belasan gembok yang mengunci lalu terdengar dari luar.


“HEI TUNGGU!” sorak Faelan, “setidaknya ganti info tentang Runalith itu dengan keberadaan relik naga Ignatius!”


Pintu itu tiba-tiba remuk, seperti dihantam dari dalam. Lalu sebuah tangan kecil melesat dengan cepat dan menarik paksa Faelan masuk ke dalam gubuk.


“Master!”


“Tuan!” Rikka berusaha mengejar dan ikut masuk.


Seketika seluruh gubuk itu seperti dipenuhi energi dari percampuran berbagai elemen yang mengamuk. Gubuk itu lalu mulai tertutup oleh dinding tanah yang tebal sehingga gubuk itu kini berubah menjadi sebuah bukit yang membara.

__ADS_1


***


Semua tampak gelap.


Ketika tersadar, Faelan dan Rikka kini dalam posisi terikat. Didepan mereka, berdiri 2 golem besar yang berbadan gempal, terbuat dari tanah liat yang membara seperti lava.


“Kau sudah bangun ternyata. Butuh seharian untuk menunggumu sadar” Mithra telah berubah wujud menjadi peri dengan empat sayap kecil merah yang terlihat seperti gabungan sayap capung dan kupu-kupu.


“DASAR WANITA JA... HMM.. HMM!!” mulut Rikka sontak terkunci. Ada sebuah akar besar yang melilit mulutnya.


“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Faelan dengan tatapan tajam.


“Mathra adalah buyutku. Baik dia, nenek, orangtua, dan seluruh klanku dibantai oleh operasi gabungan antara perampok dan pasukan naga iblis. Semua itu demi menemukan relik naga Ignatius. Aku mengatakan ini kepadamu karena toh tidak akan ada bedanya. Beberapa saat lagi aku akan membunuhmu. Aku hanya ingin mengikuti hasratku untuk menyiksa sebelum mencabut nyawamu” tatapan Mithra benar-benar terlihat kejam. Ada guratan wajah yang menunjukkan bahwa ia memiliki trauma.


“Kenapa kau berpikir aku adalah salah satu perampok itu?”


“Kau memilki hawa energi naga langit dan kegelapan. Itu semua bisa saja merupakan rampasan. Tapi, sejak awal aku sudah tahu ada yang aneh darimu. Terlebih tadi setelah aku meramalmu selagi kau pingsan. Dalam takdirmu, masa depan selalu berubah-ubah, satu hal yang tak berubah, setiap cabang takdirnya dipenuhi oleh kegelapan yang membawa kehancuran. Aku berasumsi bahwa kau sebenarnya adalah perampok pemula yang sengaja memalsukan peringkat MagiEssence demi mengincar relik Ignatius. Semua perampok harus dibasmi walaupun masih berupa tunas”


“Kenapa kau tidak berpikir aku memiliki hawa naga langit karena aku adalah anak yang diramalkan!?”


“Master?! Apa ini tidak berbahaya?”


“Tidak apa-apa Elysia!”


“Aku diberkahi kekuatan naga Argentia!” sambung Faelan.


“HAHAHAHAHA. Sudah berapa banyak pembual sepertimu yang mati di sini. Siapa juga yang akan percaya semudah itu”


“Lalu bagaimana agar kau bisa percaya?”


“Dalam ramalan para peri, sosok naga langit terakhir akan bangkit di tengah kekacauan dunia dan membentuk ulang aliansi The Unbroken. Banyak yang akan mengaku-ngaku sebagai dirinya. Meskipun ia tidak terlahir sebagai naga, dia memiliki kemampuan yang hanya bisa dilakukan oleh suku naga asli. Kalau kau bisa menunjukkan padaku sihir Runalith, maka aku akan percaya. Kalau tidak, maka aku akan langsung membunuhmu tanpa basa-basi”


“Kalau Runalith, aku masih belum bisa. Bagaimana kalau aku menunjukkan ciri naga yang lain? Sebuah sihir tanpa rapalan”


“Hmm. Baiklah! Tunjukkan sekarang!”


Dalam sesaat sebuah akar menjalar ke dalam mulut Faelan, akar itu lantas melilit lidah Faelan dengan sangat keras. “Buktikan omong kosongmu sekarang!” ucap Mithra dengan senyuman keji.


“Master?!”


“Tidak apa-apa. Mari coba itu sekarang”


“Apa ini tidak termasuk kita sedang menipunya?”


“Tidak apa-apa. Dari pada kita mati”


“Tapi kita belum pernah mencobanya sebelumnya”


“Pastikan ini berhasil. Nyawa kita adalah taruhannya”


Dalam alam bawah sadar Faelan, Elysia yang telah menjelma menjadi kesadaran kedua masternya, kini mulai merapalkan sihir.


"With the blessing of the Great Dragon Argentia, grant me strength beyond measure: Draconic Vigor!" (Artinya, Dengan berkat dari Naga Agung Argentia, anugerahkanlah kepadaku kekuatan yang tak terukur: Kekuatan Naga!)


Sebuah cahaya menyilaukan muncul dari tubuh Faelan. Dengan segera cahaya itu meluluhkan ikatan yang membelit Rikka dan dirinya.


“Apa ini cukup?” ucap Faelan sambil berdiri tenang.


Tubuh Faelan kini dilimpahi cahaya biru keemasan yang berkobar. Di belakangnya, Rikka sudah berubah wujud menjadi Goblin, berdiri siap dengan gada besarnya yang terhunus.

__ADS_1


__ADS_2