Pembalasan Sang Naga: Rise Of The Unbroken

Pembalasan Sang Naga: Rise Of The Unbroken
Phoenix Penjaga Relik Ignatius


__ADS_3

"With the blessing of the Great Dragon Argentia, grant me strength beyond measure: Draconic Vigor!" (Artinya, Dengan berkat dari Naga Agung Argentia, anugerahkanlah kepadaku kekuatan yang tak terukur: Kekuatan Naga!)


Sebuah cahaya menyilaukan muncul dari tubuh Faelan. Dengan segera cahaya itu meluluhkan ikatan yang membelit Rikka dan dirinya.


“Apa ini cukup?” ucap Faelan sambil berdiri tenang.


Tubuh Faelan kini dilimpahi cahaya biru keemasan yang berkobar. Di belakangnya, Rikka sudah berubah wujud menjadi Goblin, berdiri siap dengan gada besarnya yang terhunus.


Faelan benar-benar telah berubah menjadi orang yang berbeda. Aura yang muncul darinya sungguh tidak sesuai dengan umurnya yang masih tegolong sangat muda. raut wajahnya seolah terlihat bijak dengan tatapan tajam yang tegas.


Faelan memberikan isyarat kepada Rikka agar tidak menyerang Mithra yang kini tampak terbelalak dan bergetar. Sambil tersenyum, sang lelaki dalam ramalan berkata, “Apa sekarang kau sudah percaya?”


Tubuh Mithra sontak bergetar. Dilimpahi rasa haru dan rasa bersalah sekaligus, kepada lelaki yang telah lama ditunggu kedatangannya oleh ia dan sukunya. Ia langsung memasukkan sayapnya, berdebam di lantai dan membungkuk di depan Faelan, sambil berlinang air mata ia berkata, “Maafkan diri ini yang begitu lancang dan sombong. Aku Mithra Labouf, keturunan langsung dari penyihir agung Mathra siap mengabdikan seluruh hidup kepada sang juru selamat”


Faelan tersenyum puas, dalam hati ia berkata, “Syukurlah itu berhasil, Elysia”


“Iya,master. Aku juga sempat kuatir tadi”


“Tuan, apa kita harus memaafkannya begitu saja?” Rikka tampak masih sangat kesal.


“Tidak apa-apa Rikka. Lagipula itu bukan yang terpenting sekarang” Faelan lalu beralih kepada Mithra, “Berdirilah! Apa yang membuatmu begitu yakin? Aku hanya menggunakan sihir tanpa rapalan”


Mithra berdiri dengan malu-malu, “Aku sudah yakin sepenuhnya. Maaf kalau tadi aku sempat meragukan sang juru selamat. Selain, menggunakan sihir tanpa rapalan, sang penyelamat baru saja menggunakan Runalith tahap satu, padahal dari energi sihir, sang penyelamat baru mencapai MagiEssence tahap 5+”


APA??!


Faelan dan Elysia sama-sama kaget.


Faelan kini sadar ia baru saja menggunakan sihir yang jauh di atas kemampuannya. Sontak ia langsung panik. Kini ia baru sadar bahwa ada cairan panas yang mulai memenuhi tenggorokannya. Itu seperti terasa muntahan yang menyeruak naik dari perut dan dada.


Faelan tak bisa menahannya. Ia batuk hebat, memuntahkan darah segar yang ternyata juga mengalir dari mata, hidung, dan telinga.


“Master??! Ughh!!” Elysia merasakan sakit kepala yang teramat hebat.


“Tuan, kau tidak apa-apa?” Rikka melepaskan gada besarnya dan menyambar tubuh Faelan yang kini tampak begitu ringkih dan lemah.


“Restore Health!” Mithra memulihkan Faelan. “Sekali lagi maafkan aku. Ini semua terjadi gara-gara aku”. Peri berambut merah itu kini benar-benar tampak menyesal. Kepalanya bahkan ia hantamkan dengan sangat keras ke arah lantai saat bersujud meminta maaf.


Atmosfer tiba-tiba terasa hening. Hanya kekuatiran yang menggelantung di jidad msing-masing orang.

__ADS_1


“HAHAHAHAHAHA” Faelan tiba-tiba tertawa keras sekali.


Mithra dan Rikka tampak bingung.


“Rikka” ucap Faelan sambil masih memegangi perut, “Entah ini lucu atau tidak, tapi menurutku suara lembutmu sungguh tak cocok dengan penampilan Goblinmu”


“Pffftt...” Mithra menutup mulut dengan kedua tangan. Berusaha untuk tidak ikut terpancing tertawa.


“HAHAHAHAHAHAHA”


Semuanya lantas tertawa.


Termasuk Rikka yang tampak malu-malu dan akhirnya kembali ke wujud manusianya.


***


Malam itu Mithra mengajak Faelan dan Rikka menyantap hidangan khas benua Ignaria.


“Daging kadal api ini adalah salah satu makanan langka di sini. Akhir-akhir ini, populasi mereka menjadi terancam punah karena maraknya perburuan liar. Syukurnya aku memelihara beberapa di ruang bawah tanah ini. Anggap ini sebagai permintaan maafku” ucap Mithra sambil menghidangkan beberapa ekor kadal panggang gemuk di depan Faelan dan Rikka.


Meskipun kadal itu hanya dibumbui dengan garam, tapi Faelan bisa merasakan betapa daging kadal itu sangat empuk dan manis.


“Pelan-pelan Rikka! Gaya makanmu itu tak cocok dengan penampilanmu” Faelan tersenyum.


“Hahaha” Mithra tertawa, “syukurlah kalau kalian menyukainya. Makanlah sampai kenyang. Yah aku tahu aku tidak bisa menghidangkan roti atau sup. Itu terlalu mahal.. Ups! Maksudku... Keadaan di sini sangat tidak ramah”


Rikka dan Faelan tidak mendengar Mithra. mereka sedang khusyuk menyantap daging segar yang berasap.


“Ini saja sudah luar biasa enak. Sungguh!” Faelan mengunyah dan menelannya cepat-cepat. Sepertinya ia tak mau kalah lahap dengan Rikka.


Mithra tersenyum, “Setelah ini, segeralah istirahat. Kalian butuh makan yang banyak dan istirahat yang cukup. Besok pagi tak akan mudah, sebab aku akan mengantarkanmu ke tempat itu”


“Ke tempat relik Ignatius?”


“Iya. Sang juru selamat harus mengumpulkan setiap relik sebelum memulai perjalanan untuk memurnikan dunia”


__


Pagi telah tiba.

__ADS_1


Saat itu Faelan sedang mengikuti Mithra menapak turun ratusan anak tangga, menuju ruang bawah tanah.


“Relik naga Ignatius dilindungi oleh Phoenix. Di dunia ini burung suci itu hanya tinggal beberapa. Tapi, Elder Phoenix hanya ada satu” Papar Mithra.


“Lantas apa bedanya?” tanya Faelan.


“Elder Phoenix adalah burung spesial. Ia adalah Alfa dari setiap burung Phoenix dan burung api lainnya. Kecerdasannya bukan main. Satu-satunya yang bisa berbicara layaknya manusia. Kau akan segera tahu setelah masuk” Mithra menunjuk sebuah pintu batu yang menjulang tinggi.


Dari pintu batu tersebut, tampak begitu banyak ukiran yang sekilas ukirannya tampak sama dengan ukiran di gua yang menuju dunia para naga. Hanya saja, naga di sana terlihat memiliki struktur tubuh dan kepala yang berbeda. Kepala naga itu terlihat lebih lancip dan sayap-sayapnya terbentuk dari ukiran yang nampak seperti api yang berkobar.


Mithra menerangkan bahwa ukiran naga itu adalah naga Ignatius. Di antara kedua kaki depan Ignatius terdapat sebuah lingkaran yang tampak seperti bolongan yang cukup dalam, sehingga ujung dari bolongan itu hampir terlihat hitam sempurna.


Faelan merasa tidak asing dengan ukiran itu. Sekilas, itu mirip dengan ukiran naga Argentia. Hanya saja, tubuhnya terlihat lebih kecil.


“Seharusnya, hanya kau dan pelayanmu yang boleh masuk” papar Mithra, “sebab nanti sang elder Phoenix akan menguji kelayakanmu. Tetapi..” kini Mithra tampak kuatir.


“Ada apa?” kejar Faelan.


“Semoga saja ini hanya firasatku” Mithra mulai merapalkan sihir pembuka segel gerbang.


Sebuah cahaya melesat naik dan berputar di antara tubuh mungil Mithra. Tubuh perinya seperti terselubung dalam lingkaran cahaya merah itu. Lantas lingkaran itu kini mulai berubah menjadi bola api yang dipadatkan, dari dalamnya tampak api merah yang berkobar.


Wuuuusss!


Bola api itu kini melesat menuju bola batu yang berada di tengah-tengah ukiran lingkaran yang dijaga naga Ignatius.


Gerbang itu kini mulai terbuka. Getaran dari dinding batu yang menjulang tinggi terasa seperti gempa bumi yang dahsyat.


Beberapa saat kemudian gerbang itu pun terbuka lebar. Tampaklah sebuah gua dengan langit-langit tinggi yang terukir di atasnya batu-batu bercahaya yang terlihat seperti bintang-bintang yang berkedip bergiliran. Ada juga kumpulan bebatuan bercahaya lebih redup yang tampak seperti sungai langit. Seolah langit-langit gua itu adalah miniatur dari langit tinggi, tempat tingal para naga langit.


Atmosfer dungeon itu sangat terasa berbeda, seperti sebuah tempat yang benar-benar terpisah dari dunia luar. Gua luas itu memiliki ekosistemnya sendiri.


“Selamat datang di dungeon Ignatius” ujar Mithra sambil membungkuk dan meregangkan tangan ke arah pintu masuk, seolah sedang mempersilakan Faelan dan Rikka.


Mereka kini telah tiba di dalam dungeon. Gerbang batu pun tertutup sehingga batu-batu sihir di atas kepala merka kini tampak menyala lebih terang dari sebelumnya. Bebatuan redup yang membentuk sungai langit kini bersinar amat terang. Sungai itu tampak memanjang dengan bebatuan yang seakan cahayanya berjalan menuju lorong yang lebih dalam lagi. Dungeon Ignatius sedang menuntun mereka ke tempat relik yang mereka cari-cari.


“Tuan Faelan, kau harus melewati ujiannya sendiri. Yang boleh ikut bersammu hanya pelayan saja. Phoenix akan menguji kelayakan sang anak yang telah diramalkan” ujar Mithra.


“Kau sudah pernah mengatakannya tadi. Lantas kenapa kau ikut berjalan bersama kami?” Tanya Rikka ketus. Rupanya ia masih marah karena ia dan tuannya diperlakukan dengan keji kemarin.

__ADS_1


“Aku hanya akan mengawasi” Tatapan Mithra tampak berbeda. Jauh di dalam hati, ia tengah membatin. Elder Phoenix adalah hewan suci yang sangat sensitif terhadap sihir kegelapan. Kalau tidak berhati-hati, ujian ini bisa-bisa berubah menjadi pembantaian, dan satu-satunya laki-laki yang menanggung beban dunia akan menghilang untuk selamanya, terbunuh oleh Elder Phoenix yang seharusnya membantu sang pahlawan. Faelan, dia adalah anak yang aneh. Tidak ada dalam manuskrip ramalan manapun yang menyebutkan bahwa sang juru selamat akan dikaruniai dengan sihir kegelapan. Bunda Mathra, bimbinglah aku...


__ADS_2