
Washington, Amerika Serikat. 09:05 Am
Perempuan itu menatap jam tangannya dengan cemas, ia terlambat masuk kelas dosen killer. Ini adalah hari pertama masuk setelah libur panjang dan ia datang dengan terlambat. Satu menit saja di hitung dengan sangat disiplin oleh dosen yang tak lain adalah cucu pertama pemilik Universitas tersebut. Perjalanan yang ia tempuh dari rumah sampai ke kampus memakan waktu sekitar 30 menit memakai bus, sayangnya ia memang menaiki bus keberangkatan kedua. Pagi tadi ia di sibukkan dengan tugas rumah yang diberikan oleh ibu tirinya.
Jihan membuka pintu secara perlahan berharap dosen yang tengah menghadap proyektor itu tak menyadari kedatangannya, sayangnya itu hanyalah mimpi. Dosen itu menatap datar kearahnya.
"Sembilan menit, ketidak disiplinan bukan muridku. Silahkan keluar dari kelas." suara Leon kental oleh aura dominant, menatap pada satu objek perempuan berhijab lilac yang kini terdiam cemas.
Siapa yang tak mengenal Leonnindas Hill, pria tampan berdarah Amerika itu memiliki nama yang harum. Selain karna latar belakang keluarganya yang begitu tinggi, Leon adalah pemilik Hillton Group membuat ia semakin di gemari banyak perempuan baik dari kalangan artist, sosialita dan para ibu-ibu pengusaha yang berniat menjodohkannya dengan putri mereka, sayangnya status Leon telah resmi menikah dengan seorang desainer terkenal. Khalisa Adams, wanita yang di gadang-gadang memiliki keberuntungan dari langit karna telah berhasil memikat keturunan utama keluarga Hill.
"Maaf Mister saya-"
"Silahkan keluar, Jihan Mazaya." potong Leon membuat beberapa murid menunduk takut pada aura kelam pria tampan tersebut.
Jihan mendongak menatap pada wajah datar dosennya, ia sempat tak percaya bahwa pria itu menyebut namanya dengan benar. Hidupnya tak terlalu menonjol meski namanya harum dalam nilai stabil para dosen. Jihan masih tak menyangka dosen killer itu melafalkan namanya dengan tepat. Tersadar ia langsung keluar dari kelas saat mendapati beberapa mahasiswa menatap jengah padanya.
Hidup Jihan tak sesederhana penampilannya, ia hanya seorang anak yang terlahir dari pernikahan yang tak terdaftar. Memiliki dua orang saudara dari istri pertama ayahnya. Ibunya meninggal saat ia baru memasuki usia 14 tahun, tepat pada hari ulang tahunnya, Malina- ibu Jihan dinyatakan meninggal usai memakan apel hijau kesukaannya, entah apa yang sebenarnya terjadi, meski sangat sulit dipercaya Jihan tak bisa menyampaikan kejanggalannya, ia hanya anak gadis remaja yang sama sekali tak punya wewenang menyelidiki kasus ibunya lebih lanjut. Dari situ lah kehidupan Jihan mulai begoncang bagai perahu kecil dalam laut samudra.
****************
__ADS_1
Jihan menyuapkan sepotong roti yang ia simpan dalam ranselnya, segelas susu vanilla yang ia pesan di kantin turut menemani acara sarapannya. Perempuan itu hanya mengunyah secara perlahan seolah mengulur kegiatan demi membunuh bosan. Tangan kirinya memegang buku tebal. Sejak ia kecil demi meraih beasiswa ia harus mempelajari banyak buku untuku mempermudah seleksi, terbukti sejak ia menginjak usia remaja ia berhasil meraih beasiswa murid berprestasi.
"Jihan, Mr. Hill memanggilmu untuk segera keruangannya." suara pria teman kelasnya mengintrupsi kegiatan membacanya, belum sempat ia membuka suara pria itu langsung pergi.
Jihan segera menyimpan buku-bukunya kemudian melangkah menuju ruangan khusus milik dosen killer tersebut. Dalam setiap langkahnya tak sedikit orang-orang menatapnya aneh, mayoritas penduduk Washington memeluk agama Kristen. Dari survei yang Jihan ketahui dari web resmi 78,5 % penduduk di benua Amerika penganut agama Kristen ada juga beberapa agama lain. Ada pun penduduk beragama Islam kurang lebih hanya 2,75 juta jiwa. Maka tak heran beberapa orang masih merasa aneh saat mendapati perempuan berhijab seperti Jihan.
Jihan mengetuk pintu sebelum masuk, kebanyakan dosen hanya meminta mahasiswanya untuk mengetuk pintu sebagai tanda sebelum memasuki ruangan. Jihan melangkah lebih dalam tanpa menutup rapat daun pintu.
"Ada yang bisa saya bantu Mister?" tanya Jihan sopan.
Leon melirik sebantar pada Jihan kemudian berganti pada pintu yang dibiarkan terbuka, "Tutup pintunya dengan rapat."
Jihan menoleh kebelakang, "Maaf Mister boleh kah pintunya tetap terbuka, itu hanya sedikit."
"Apa yang membuatmu terlambat di jam kelas saya?" Jihan menghela nafas lega saat pria matang itu tak lagi mempermasalhkan pintu.
"Saya tertinggal bus rute satu Mister, maaf atas keterlambatan saya."
Leon membaca laporan nilai Jihan, ia tak menemukan kecacatan dalam nilai tersebut. Bahkan untuk absensi pun hanya terisi kurang dari lima. Catatan buruk pun sama sekali tak ia dapati, yang artinya Jihan baru pertama kali melakukan kesalahan dan itu adalah terlambat 9 menit di jam kelasnya.
__ADS_1
Leon mendongak pada perempuan yang masih berdiri di depan mejanya "Baik, jangan ulangi kesalahanmu atau nilaimu akan cacat."
Jihan mengangguk sembari tersenyum sopan, "Baik Mister."
"Pelajari buku ini, lusa kamu akan saya tes langsung." pria itu menyodorkan buku tebal yang tak lain adalah mata pelajaran tadi.
Jihan dengan senang hati menerima buku tersebut, mempelajari dan menghafal buku bukan perkara sulit untuknya. Leon semakin merasa Jihan berbeda dari lainnya, kebanyakan mahasiswa akan mengeluh saat di minta mempelajari buku tapi perempuan lilac itu malah tersenyum senang.
"Baik Mister, jika sudah selesai bisa saya undur diri?" Leon mengangguk mempersilahkan Jihan untuk pergi.
Ponsel Leon berdering, panggilan dari Jack-asisten kantornya.
"Ada apa Jack?"
"Saya hanya ingin mengingatkan, anda memiliki janji makan siang bersama Mr. Rusell di hotel, Tuan." Jack mengingatkan atasannya, makan siang yang sudah di atur untuk membahas mengenai kerja sama Hillton Group dengan perusahan takstil milik keluarga Rusell.
Leon melirik jam tangannya, "Ya, aku akan segera pergi. Bagaimana dengan dokter Melly, sudah kamu selidiki?" lanjutnya.
"Sudah, Tuan. Dokter Melly bersih, dia tak ada sangkut pautnya dengan obat yang di konsumsi, Nyonya Khalisa. Saya akan mencari lebih detail lagi."
__ADS_1
"Pasti kan kamu mendapatkan dalangnya." sorot mata Leon menyiratkan amarah yang terpendam, seseorang dengan sengaja menukar obat milik istrinya dengan salah satu obat keras. Tentu Khalisa yang memang memiliki riawayat jantung langsung mengalami penurunan drastis pada kesehatannya.
Khalisa Adams, seorang wanita muslim yang telah Leon persunting menjadi istrinya selama 7 tahun terakhir. Sosok wanita yang membuat seorang Leonnindas Hill berani mengambil keputusan untuk memeluk agama Islam, mempelajari Al-qur'an dengan tekun demi membuktikan bahwa ia sangat bersungguh-sungguh meminang wanita cantik tersebut. Kini wanita kecintaannya tengah berjuang melawan sakit jantung, 4 tahun setelah pernikahan Khalisa baru mengetahui bahwa ia memiliki kerusakan pada jantungnya. Kejadian itu cukup memukul kejiwaan Khalisa, sedang Leon tak luput dari rasa khawatir tapi pria itu juga berjanji pada istrinya ia akan mencari cara untuk bisa menyembuhkannya.