Pengantin Kedua.

Pengantin Kedua.
Chapter 05


__ADS_3

Terlihat leptop menyala menampilkan cctv dua aksi manusia serakah. Leon menatap tajam pada aksi bodoh Jhon Rusell dan putrinya, "Jack, batalkan semua kerja sama dengan Rusell Ignity. Tarik semua saham yang berada di sana."


Leon tidak main-main pada penghianat seperti mereka, ia tak memiliki toleransi tinggi pada manusia serakah seperti John dan Tiffany.


"Baik Tuan, saya akan segera mengurusnya." Jack pamit untuk segera melaksanakan perintah atasannya. Jack sendiri pun sudah mengetahui apa yang terjadi pada Leon kemarin.


"Tuan, untuk dalang di balik sabotase obat Nyonya Khalisa sudah saya tahan di tempat biasanya. Anda ingin mencari tau sendiri atau saya saja?" Jack menutup tablet sembari mengangkat wajah menatap tuannya.


"Biar aku saja." Leon segera bangkit dan melangkah keluar dari ruangannya di ikuti Jack dari arah belakang.


Setiap Leon melangkah aura tegas dan penuh kepemimpinan membingkai dirinya. Menjadi putra sulung keluarga Hill bukan suatu hal yang mudah di jalani, banyak tuntutan kesempurnaan bagi calon penerus. Belum lagi tanggung jawab yang di emban begitu banyak di pikul. Leon hidup dalam tuntutan keluarga.


Satpam yang di minta Jack mengambil mobil di basement segera membuka pintu untuk Leon, di susul masuknya Jack yang mengendarai mobil tersebut. Tanpa perlu mengatakan Jack sendiri sudah tau kemana mereka akan berjalan.


Selang beberapa menit mobil itu telah sampai di area gedung tua, tempat biasanya Leon menahan para penghianat dan musuhnya. Penjaga yang melihat Tuannya datang dengan segera membuka pintu memberi jalan.


Redupnya penglihatan dan pengapnya udara di sana cukup membuat tekanan tersendiri bagi para tahanan. Belum lagi berbagai ancaman yang akan membuat mereka semakin ingin melarikan diri. Cukup menjadi tahanan seorang Leonnindas Hill mereka pasti sudah dibuat ketakutan, sebab pria itu tak main-main memberi pelajaran.


Penjaga yang berada di dekat tahanan itu langsung menyediakan kursi untuk Leon duduk, posisinya tepat pada tahanan yang terikat menyilang di antara tiang membentuk X. Tanpa di komando penjaga itu membuka penutup mulut pria yang terlihat lemas dengan beberapa lwbam di wajahnya.


"Siapa Tuanmu?" kontannya dengan suara dingin Leon penuh tekanan.

__ADS_1


Pria yang menjadi tahanan itu meludah, beruntung itu tak sampai mengenai sepatu Leon.


"Untuk apa aku mengatakan padamu jika aku akan tetap mati. Cari saja sendiri!" mengatakan kejujuran tak akan menjadi jaminan selamat dari amukan Leon, begitu juga sebaliknya. Jika ia sampai membuka mulut maka hidupnya akan berakhir di tangan Tuannya.


Leon mengangguk dengan tatapan tajam, "Kenz Dimirti, aku bisa menjamin kesejahteraan keluargamu jika itu yang kau takutkan. Aku tidak memiliki toleransi tinggi terhadap musuh. Kesempatan tidak datang dua kali."


Mendengar itu pria berdiri secara silang itu terdiam, jaminan yang di berikan Leon bukan isapan jempol. Istri dan putrinya akan menjadi buronan dari tuannya jika orang itu tau ia telah berhasil ditangkap.


"Apa kau yakin bisa melindungi keluargaku?" tanya Kenz ragu, ia tahu bagaimana koneksi orang besar di hadapannya tersebut. Tapi mengingat kuasa tuannya juga bukan hal yang mudah diremehkan.


Kenz takut sewaktu ia membongkar rahasia, istri dan putrinya menjadi korban selanjutnya. Jika pun ia harus mati itu bukan masalah saat ia bisa menjamin kehidupan keluarganya.


"Menyembunyikan keluarga kecilmu itu hanya perkara kecil. Aku tidak pernah menghianati kesepakatan." jawab Leon tenang, sedangkan Kenz pun cukup tau bahwa seorang keturunan Hill sangat menjaga perjanjian.


...****************...


Hari ini adalah 3 hari pasca insiden di hotel bersama Jihan. Leon memiliki jadwal kelas di Universitas, pun segera pria itu masuk ke dalam ruangan yang telah terisi penuh oleh mahasiswanya tersebut. Ia menatap bagian kiri sebelah jendela tempat Jihan biasanya duduk di sana, sayangnya bangku itu tetap kosong tanpa pemilik.


Leon yakin dengan absennya Jihan tidak lain karna ulahnya kemarin, ia benar-benar b*jingan. Meniduri mahasiswa sendiri hingga membuat wanita itu merasa tak lagi nyaman melanjutkan pendidikannya. Itu jelas, Jihan adalah korban pelecehan dan mana mungkin seorang korban bisa tenang saat bertemu dengan pelaku kebejatan.


Niat awal ingin bicara dalam kondisi yang lebih baik, dalam keadaan tenang. Sayangnya Jihan tak bisa ia jumpai beberapa hari ini. Nanti ia kan meminta informasi Jihan pada Jack. Ada hal penting yang harus mereka bicarakan.

__ADS_1


Setelah hampir tiga jam mengisi materi, Leon segera menutup kelas dan langsung menuju kantornya. Jadwal hari ini sangat padat, bahkan Leon harus beberapa kali melakukan meeting bersama para direksi.


Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Matahari telah berganti peran dengan rembulan. Leon masuk ke dalam rumahnya, sambutan senyum Khalisa menyirnakan lelahnya.


"Selamat datang sayang.." sambutan halus dari wanita cantik yang sangat Leon cintai.


Satu kecupan ringan menyapa pucuk kepala Khalisa, wanita itu tersenyum cantik meraih tas dan jas milik suaminya. Rutinitas ini sangat ia sukai, menyambut kedatangan Leon yang baru saja pulang dari bekerja adalah bentuk bakti yang Khalisa lakukan selama mereka menjalin pernikahan. Selama tubuhnya masih kuat menyambut maka wanita berkulit pucat itu tentu akan melakukannya dengan suka rela.


"Bagaimana keadaanmu? Ayo duduk jangan terlalu lama berdiri." ajak Leon untuk segera duduk di sofa. Tangnnya mengusap kepala Khalisa yang tertutup hijab hijau tosca dengan sayang.


"Aku sudah sangat baik, aku tidak lagi merasa nyeri dibagian dada. Jangan khawatir sebentar lagi aku pasti sembuh." ucapnya tenang seraya meletakkan kepalanya pada lengan kekar Leon.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya." Leon menciumi jemari istrinya hingga wanita itu tertawa kecil mendapati perhatian itu. Padahal Lron baru saja pulang dari bekerja, tapi suami tampannya itu sangat memperhatikan keadaannya.


"Ayo segera mandi, aku tadi membuat makan malam." ajak Khalisa menggandeng tangan suaminya.


Leon menuruti langkah Khalisa menuju lantai dua kamar mereka, sebelah tangannya bertengger rapi di pinggang ramping istrinya.


"Oh ya? Kamu masak makan malam untukku sayang?" tanya Leon sembari tersenyum kecil.


"Ya, steak dan ashed potato. Makan malam favorit suami Khalisa." jawab wanita itu tak kalah riang.

__ADS_1


Kedua kekasih itu saling melengkapi, Khalisa yang penuh kelembutan serta kesabaran berpadu dalam karakter Leon yang dingin dan tegas.


Meski pernikahan mereka telah.melewati 7 tahun lamanya, cinta kasih Leon untuk Khalisa tak pernah berubah, begitupun dengan Khalisa. Seorang keturunan bukan faktor utama bagi pernikahan mereka, Leon pun dengan jelas mengatakan bahwa bayi yang hadir dalam pernikahan mereka itu adalah hadiah Allah, sedangkan anugrah yang paling indah adalah mengikat tali suci pernikahan dengan Khalisa. Istri tercintanya.


__ADS_2