Pengantin Kedua.

Pengantin Kedua.
Chapter 02


__ADS_3

Mobil tesla putih milik Leon berhenti di depan gedung hotel, pria itu keluar dengan setelan jas formal berwarna navy. Leon melempar kunci mobilnya pada penjaga basement untuk membawa mobilnya ke lantai parkir.


Postur tubuh atletis itu mengundang tatapan memuja dari para wanita, mereka bahkan dengan niat hati mengeluarkan ponselnya untuk membidik kedatangan sang Presdir Hillton Group tersebut. Leon sendiri sudah sangat biasa mendapat reaksi berlebihan dari kebanyakan perempuan.


Leon melangkah santai menuju ruang reservasi meeting. Pelayan yang melihat kedatangan Leon segera membuka pintu yang di dalamnya sudah terisi oleh dua orang.


Alis Leon terangkat saat mendapati seorang wanita melempar tersenyum kecil padanya.


Tuan Rusell segera berdiri menyambut kedatangan Leon, "Selamat datang, Tuan Hill." sapanya ramah sembari mengulurkan tangan.


Leon menjabat tangan dihadapannya, "Ya, maaf membuat Tuan Rusell menunggu."


Tuan Rusell tersenyum ramah, "Sama sekali tak apa, Tuan Hill. Perkenalkan ini adalah putri sulung saya."


Wanita yang diperkenalkan itu mengulurkan tangan, tak lupa senyum masih membingkai di wajahnya yang cantik, "Tiffany Rusell."


"Leonnindas Hill." jika bukan karna formalitas menghargai Tuan Rusell, Leon benar-benar malas berhubungan dengan wanita yang sangat terlihat tertarik padanya.


"Mari segera kita mulai." ucap Leon dengan tegas, pria itu bukanlah seorang penganggiran. Setiap detik yang berjalan sangat lah berharga bagi seorang Leonnindas Hill.


"Sesuai penawaran saya sebelumnya, benang sutra yang anda minta akan kami kirim sesuai harga yang sudah kami cantumkan di surat perjanjian."


Leon mengingat nominal yang terbilang sangat murah untuk harga benang sutra biasanya, ia sudah berkecimpung dalam indrusti takstil sejak lama. Bagaimana bisa harga harga yang tercantum tak masuk akal.


"Anda menjual dengan sangat murah jauh dari harga pematok biasanya, Tuan Rusell. Bagaimana anda menjelaskan hal tersebut?" tentu Leon tak akan dengan dengan gamblang menerima tawaran tak masuk akal, meski ia akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda tetap saja ia harus berhati-hati, jelas ada maksud terselubung.


Tiffany semakin jatuh dalam pesona Leon, pria itu terlihat sangat memukau saat dalam keadaan serius seperti ini. Tidak ada celah untuk bisa mengelabui pria tampan itu.

__ADS_1


"Kami memiliki banyak pemasukan dari para petani dengan kualitas terbaik, Tuan Hill. Anda tak perlu khawatir atas keuntungan yang saya tawarkan ini, saya murni hanya ingin menjalin kerja sama dengan Hillton Group." Tuan Rusell dengan pelan menjelaskan maksud dari tawarannya.


Leon mengangguk paham, "Naik kan harga sesuai dengan kualitas produk, saya tidak menjalin kerja sama hanya untuk keuntungan pribadi." sangat jelas apa yang mereka inginkan adalah menjilat.


Tuan Rusell dan putrinya terkejut saat maksud terselubunganya diketahui dengan tepat, jelas ia memberi harga murah demi mengambil hati Leon. Bagaimana bisa pria itu malah menolak keuntungan besar di depan matanya sendiri.


"Jika anda keberatan saya bisa mencari pengekspos dari perusahan lain, harga yang anda tawar benar-benar tak masuk akal." Tuan Rusell menjadi panik saat Leon berniat mencari perusahaan lain, bisa bekerja sama dengan perusahan Hillton Group adalah keuntungan besar bagi perusahaannya yang terbilang sangat jauh dibawah Hillton Group. Nama perusahaannya juga bisa naik dengan sangat cepat jika berhasil bergabung dengan perusahaan milik Leon. Jelas ia tak akan melepaskan ladang dollar dihadapannya.


"Baiklah, Tuan Hill. untuk harganya saya menjatuhkan nominal normal." jika ia berhasil kerja sama dengan Hillton Group ia yakin ada banyak kesempatan untuk mendekatkan putrinya dengan Presdir kaya raya tersebut.


Leon tersenyum puas, ia bukan lah orang bodoh yang begitu mudah terjebak oleh keuntungan tak masuk akal. Jika ia termasuk orang serakah tentu ia sudah bangkrut sejak dulu, penawaran keuntungan diluar nalar seperti ini sudah sering ia temui.


****************


Jihan keluar dari balik pintu, pakaiannya pun telah berganti dengan seragam room service, rok span hitam panjang membalut bagian bawahnya sedangkan untuk bagian atas ia memakai kemeja putih, sesuai dengan prosedur pihak hotel. Jihan merasa beruntung ditengah kota Washington yang mayoritas nonmuslim ia masih bisa diterima bekerja dengan pakaian tertutup. Kebanyakan dari para pengusaha menolak dengan tegas seorang wanita yang berpakaian tertutup, terlebih jika harus memakai pakaian longgar dan panjang. Menurut mereka pakaian wanita muslim hanya akan membatasi ruang gerak cepat.


Dengan hanya bermodalkan surat kelulusan SMA ditambah hanya kerja part time, Jihan merasa sangat bersyukur meski hanya menjadi room service ia merasa itu sudah cukup. Mengingat latar belakangnya yang belum memiliki gelar sarjana, pemilik hotel Hilltop ini sangat lah bermurah hati mau merekrut karyawan tanpa gelar sarjana. Persyaratan yang mereka berikan hanyalah bersikap disiplin dan bekerja sungguh-sungguh. Bukan kah pemilik hotel tempat Jihan bekerja ini sangat lah baik.


"Ada apa, Leny?"


"Tadi kami mendapat perintah dari manajer untuk segera menyiapkan lantai Presdir, Tuan Hill akan singgah. Tolong kamu gantikan aku pergi bersama Mark dan Bella. Aku sedang mengantar pesanan kamar lain." Jihan melihat troly yang dipegang temannya itu, kemudian mengangguk setuju.


"Baiklah aku akan pergi."


Leny tersenyum, "Terimakasih, segera lah menyusul mereka." kemudian ia menatap punggung Jihan dengan pandangan yang sulit diartikan.


Bagaimana bisa Jihan tanpa menaruh curiga langsung bergegas pergi begitu saja, padahal semua orang yang bekerja di hotel itu tau bahwa lantai paling atas tidak bisa di naiki orang sembarangan, terlebih itu hanya seorang Jihan sang pekerja part time.

__ADS_1


Pintu lift terbuka Jihan melangkah pada satu pintu yang terlihat mewah, selama hampir satu tahun ia bekerja disana, ini kali pertama ia menginjakkan kaki dilantai marmer yang begitu luas. Lantai paling atas hotel Hilltop memang di khususkan hanya untuk Presdir, mengingat hotel ini lah yang paling dekat dengan kantor pusat Hillton Group memudahkan jika sang tuan ingin beristirahat.


Saat ingin membuka pintu Jihan dibuat kebingungan lantaran pintu beasar itu memiliki fitur kode akses yang tentunya ia tidak tahu kode apa yang harus ia masuk kan. Harusnya jika kedua temannya ada di lama sana pintu besar ini tidak perlu di kunci.


Di tengah kebingunannya pintu lift berdeting pertanda seseorang datang, sontak Jihan menoleh dan ia dibuat terkejut saat mendapati Leon berjalan kerahnya dengan raut wajah yang memerah.


Jihan segera mendekat saat mengetahui ada yang salah pada presdir sekaligus dosennya itu. Jihan meraih lengan Leon saat pria itu hampir terjatuh.


"Apa yang terjadi?" meski kebingungan Jihan tetap memapah Leon sampai depan pintu kamar.


Tubuh Leon terasa sangat panas, tangannya dengan tergesa melepas dasi yang masih tersimpul dipangkal lehernya. Ada sesuatu yang membuatnya tak bisa mengontrol diri.


"Bantu aku." Leon dengan cepat membawa Jihan masuk kedalam ruangan.


Jihan sangat gugup saat berada dalam ruangan yang ternyata hanya terisi mereka berdua. Ditambah dengan Leon yang kini telah menarik lengannya menuju kamar.


"Tolong setel bathtub dengan air dingin." perintahnya mendorong bahu Jihan kedalam kamar mandi. Jihan melangkah dengan ragu kedalam kamar mandi, haruskah ia yang menyiapkan air untuk pria itu?


Leon berkali-kali mendesis, nafasnya memburu beserta keringat telah membasahi dahinya. ia benar-benar kesulitan mengontrol diri.


Jelas ia di jebak dengan obat per*ngs*ng!


"Rusell si*lan!" Leon melepas jas beserta kemejanya, suhu kamar sudah ia naik kan tetap saja tak bisa memberi hawa dingin.


"Tuan Hill, saya sudah-" suara Jihan terhenti saat ia tak sengaja melihat punggung lebar Leon yang sangat kokoh. Instingnya langsung memberi sinyal peringatan bahwa pria itu dalam kondisi yang berbahaya, ia harus segera keluar dari tempat ini.


"Anda sudah bisa memakai kamar mandinya, Tuan Hill. Saya permisi." lanjutnya segera melewati Leon yang masih bergeming dalam posisinya.

__ADS_1


Sayangnya belum sempat Jihan keluar dari kamar pria itu sudah menahan pergelangan tangannya. Menahan tubuh Jihan pada dinding, mengikis jarak diantara keduanya.


"Tuan apa yang andalakukan.." Jihan dengan penuh kekuatan mendorong dada telanjang Leon, sayang tenaganya tak sebanding dengan pria itu.


__ADS_2