
Jihan memasuki pelantaran rumahnya, lampu di dalam rumah telah dimatikan. Tentu karna ini sudah memasuki tengah malam. Tubuhnya masih terasa sangat lemah, yang ingin Jihan lakukan hanya segera sampai dikamarnya.
"Baru pulang?" suara itu mengejutkan Jihan.
"Ayah? Kenapa belum tidur?" tanya Jihan saat ia melihat Jemes Brown mendekatinya. Biasanya pria itu sudah memasuk kamar dari pukul sembilan malam sedang kan sekarang jam menunjukkan pukul sebelas malam.
"Tentu saja Ayah menunggu kedatangan putri Ayah. Apa terjadi sesuatu?" meski dalam keadaan temaram Jemes dapat melihat wajah kuyu putrinya dan pakaian Jihan yang belum pernah ia lihat.
Jihan tersenyum kecil, berusaha menekan hati yang menjerit. Tidak mungkin ia menceritakan kejadian pelecehan tadi, kondisi kesehatan ayahnya sangat lemah. Jihan takut itu akan memperburuk kesehatan Jemes.
"Hanya ada masalah sedikit, Ayah. Di hotel sangat banyak tamu jadi kami belum bisa pulang lebih awal."
"Bukan kah sudah ada jadwalnya sesuai kesepakatan? Kenapa bisa kamu sampai malam seperti ini? Pihak hotel hanya akan membuat putri ayah semakin kelelahan." Jemes menuntun Jihan untuk segera duduk dikursi berniat suapya putrinya tidak semakin lelah berdiri.
Jihan meringis pelan saat bagian pinggulnya ia tekan untuk duduk, Jemes yang melihat itu semakin khawatir.
"Sayang, apa ada yang sakit?" Jemes memegang pundak kecil Jihan, raut wajahnya sangatlah khawatir.
Jihan rasanya sangat ingin menangis di pelukan Ayahnya, perasaannya kacau dan terluka. Tapi sekuat tenaga ia tetap bersikap tenang, Jemes sudah memiliki banyak beban dipundaknya. Bagaimana bisa Jihan dengan sengaja menambah beban itu.
"Aku tidak apa, Ayah. Hanya sedikit lelah."
Jemes mengusap kepala Jihan dengan lembut, "Ayah sudah memintamu untuk tidak bekerja, lihat sekarang kamu kelelahan."
Perasaan Jihan menghangat, hanya sosok Jemes yang paling peduli padanya.
"Baiklah ini sudah sangat malam, naiklah dan cepat istirahat." Jemes menuntun Jihan untuk segera masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Meski usia Jihan telah memasuki 21 tahun Jemes masih memperlakukan putrinya selayaknya seorang gadis kecil. Di mata Jemes Jihan anak gadis kecil yang begitu cemerlang.
"Bersihkan dirimu dulu, setelah itu cepat tidur. Besok pagi kamu masih harus kuliah kan?" Jemes berdiri di ambang pintu berniat menutup sekat kamar tersebut.
"Ayah.." panggilan itu menghentikan langkah Jemes, pria baya itu berbalik menatap putrinya.
"Ada apa, sayang?" tanya Jemes lembut.
"Besok aku ingin libur kuliah, boleh?" tanya Jihan ragu.
Melihat tatapan memohon itu mana mungkin Jemes abai, lagi pula Jihan bukan tipekal anak yang sering membolos di jadwal kelasnya.
"Baiklah, besok ayah yang akan meminta izin pada pihak kampus. Bagaimana?" Jihan mengangguk antusias, mata bening itu memancarkan kelegaan.
Jemes tersenyum sekali lagi mengusap pucuk kepala Jihan dengan lembut, "Selamat malam."
"Selamat malam, Ayah." pintu tertutup membawa tubuh Jihan meluruh dalam tangisannya. Ia tidak lagi mampu menahan rasa sakit, tatapan kasih sayang perlakuan lembut Ayahnya mampu mencabik hatinya yang telah terluka. Bagaimana bisa ia gagal menjaga diri, saat Jemes dengan sekuat tenaga menjaganya selama ini. Merawatnya penuh kasih menggantikan sosok ibu untuknya.
Jihan sadar Leon melakukan pelepasan berulang kali dalam rahimnya, dalam jangka waktu kurang lebih 4 jam secara intens. Di tambah Jihan berada di masa suburnya semakin membuat ia ketakutan. Sudah cukup dengan pelecehan jangan ada lagi nyawa yang hidup dari kejadian itu.
Jihan menelan dua pil sekaligus tanpa bantuan air minum, tubuhnya terasa sangat lelah. Ia perlahan berjalan pada ranjang dan merobohkan diri di sana. Hari ini berjalan dengan banyak menguras tenaga.
...****************...
Leon membuka pintu kamar, objek yang pertama kali masuk dalam penglihatannya adalah Khalisa yang tengah tertidur dengan pulas. Leon tak memiliki keberanian untuk mendekat pada wanita cantik itu, rasa bersalahnya kian melambung tinggi saat menyadari istrinya menunggu ke pelungannya hingga tertidur.
Tak ingin semakin menyita waktu, Leon pergi ke kamar mandi. Ia merasa harus mandi lagi demi menghilangankan pening di kepalanya.
__ADS_1
Guyuran shower menerpa rambut hitam pria itu, Leon terpejam meresapi dinginnya air sedetik kemudian ia membuka mata saat merasakan perih di punggungnya. Segera ia berbalik menatap cermin, benar saja di sana ada goresan yang ia yakin cakaran dari kuku Jihan.
Bagaimana cara menjelaskan pada Khalisa?
Tak ingin semakin larut dalam keresahan, Leon segera mengakhiri acara mandinya. Dengan cepat pria itu masuk kedalam walk-in closet meraih piyama senada dengan istrinya. Leon mendekat kemudian ikut merebahkan diri di samping Khalisa, ia menelusupkan tanganya dibawah leher wanita itu guna meraih posisinya dalam berpelukan.
"Sayang, maafkan aku." bisiknya pelan sembari menjatuhkan satu kecupan dalam pada kening Khalisa.
Wanita itu sempat terusik, lalu membuka mata dan menyadari Leon telah datang.
"Akhirnya kamu pulang, aku menunggumu sejak sore tadi." gumam Khalisa di dada Leon.
Bagaimana cara Leon menangani rasa bersalah ini?
"Tumben sekali kamu memakai baju? Biasanya kamu tidur tanpa menggunakannya." Khalisa mendonga menatap wajah suaminya.
Leon memang terbiasa tidur tanpa atasan. Tapi untuk saat ini itu tak mungkin ia lakukan mengingat ada bekas cakaran di punggungnya dan itu cukup terlihat dengan jelas.
"Aku cukup kedinginan setelah mandi tengah malam. Bagaimana hari ini? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Leon sembari menenggelamkan wajah Khalisa di dadanya, ia tak cukup mampu melihat wanita itu.
"Tidak ada, setelah mengganti dosis obat aku merasa lebih baik."
"Syukurlah, kamu harus mengatakan padaku apapun yang kamu rasakan." Leon bisa merasakan dingin kulit Khalisa, hingga akhirnya ia menarik selimut untuk membalut tubuh istrinya.
Memeluk Khalisa adalah hal yang paling Leon sukai, tapi sejak tadi pikirannya tak bisa menampik bersama Jihan juga suatu hal menenangkan. Seolah ia mendapatkan air di tengah gurun pasir. Bagaimana pun ia telah menahan diri hampir setengah tahun tidak pernah menyentuh istrinya lebih dari ciuman dan pelukan. Itulah mengapa Leon sangat kesusahan mengontrol diri hanya karna rangsangan obat dalam tubuhnya.
Mengingat hal itu membuat Leon terheyak saat menyadari suatu hal bahaya yang telah ia lakukan, bukan hanya melecehkan Jihan tapi ia melepaskan diri dalam tubuh wanita muda itu. Bagaimana jika nantinya ada sosol kecil yang tumbuh di raham Jihan?
__ADS_1
Leon semakin pusing, rasanya kepalanya akan segera meledak memikirkan banyak hal. Belum lagi Jihan menolak bicara padanya, wanita itu langsung pergi tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
Besok Leon akan segera menemui Jihan, banyak hal yang harus ia katakan pada wanita itu.