Pengantin Kedua.

Pengantin Kedua.
Chapter 03


__ADS_3

"Tuan apa yang anda lakukan.." suara Jihan tercekat dengan penuh kekuatan mendorong dada telanjang Leon, sayang tenaganya tak sebanding dengan pria itu.


Leon samakin mempersempit jarak, menghimpit tubuh Jihan di antara dinding kamar. Pria itu mengeram saat hidungnya dapat menghirup arama manis mawar. Wajahnya terjatuh pada pundak kecil perempuan itu, nafas Leon kian memburu.


"Le-lepas Tuan Hill." Jihan semakin memberontak sedangkan Leon tidak menerima penolakan langsung merengkuh pinggang kecil Jihan. Mendekap perempuan itu dalam kuasanya.


Tanpa berkata apapun Leon mengangkat Jihan menuju ranjang, melempar perempuan itu ke atas kasur, Jihan tau apa yang akan terjadi pada dirinya dengan cepat perempuan itu bangkit berniat kabur sayangnya Leon berhasil menarik kakinya mendekat padanya itu.


"Tidak, tolong jangan lakukan itu, Tuan." lagi-lagi dorongan tangan kecilnya tak membuahkan hasil, kaki Jihan menendang sembarangan berniat memberi perlawanan.


"Semakin kamu memberontak semakin aku berg*irah." suara serak pria itu semakin membuat Jihan ketakutan.


Jihan tak mengindahkan peringatan Leon, ia sudah terlanjur panik hingga terus berusaha melawan pria itu lebih kuat lagi.


Leon menatap Jihan yang terus bergerak memberi perlawanan, tangan kecil itu dengan mudah ia tahan di atas kepala yang masih lengkap dengan hijabnya. Mata indah yang berkaca, hidung mancung yang kecil, bibir sehat yang mempesona. Wajah cantik Jihan semakin membuatnya matanya berkabut.


"Sangat cantik." bisik Leon sebelum ia meraih labium manis Jihan.


Pada akhirnya perlawanan Jihan sia-sia, ia mulai kehabisan tenaga hingga membuat tubuhnya lemas. Matanya terpejam erat saat tubuhnya mulai disentuh oleh tangan haram. Air matanya deras menetes saat kesuciannya direnggut oleh pria yang tak lain adalah dosennya sendiri.


Suara Leon yang tengah sibuk mengeram diatasnya semakin membuat Jihan hancur. Jihan berharap ini hanyalah mimpi buruk, sayangnya sentuhan dan suara itu melonglongkan sebuah kenyataan pahit.


Entah berapa lama waktu berputar, Jihan tak barang sekalipun membuka mata. Tubuhnya kian semakin lemah saat Leon masih tak kunjung selesai, pria gila itu terus melakukannya berulang kali hingga rasanya Jihan sebentar lagi akan mati.


Leon mengeram pada ceruk leher Jihan, tubuhnya bergetar saat ujungnya telah datang. Ia rengkuh perempuan kecil itu dalam pelukannya, terpejam ia menikmati sisa kegiatan yang sudah lama tak pernah ia rasakan.


Jihan berniat melepas belitan lengan diperutnya, ia tak memiliki sisa tenaga sedikit pun, tapi juga tak sudi terus bersentuhan dengan Leon.

__ADS_1


"Tidur Jihan.." suara itu samar terdengar saat sebelum kesadaran Jihan benar-benar hilang.


****************


Suara dering ponsel memecahkan kesunyian ditengah kamar. Kelopak mata Leon dengan perlahan terbuka, hal pertama yang ia rasakan adalah deru nafas lembut yang menerpa dadanya. Kontan ia melirik seseorang yang masih diam tanpa pergerakan, hanya nafasnya yang teratur.


Lagi-lagi suara benda pintar itu merenggut kesadaran Leon, dengan sangat pelan ia memisakan diri dari Jihan. Kepalanya berdenyut sangat parah, ia bangkit mencari dimana letak ponsel itu berbunyi sebelum suara dering membangunkan Jihan.


Ada banyak panggilan tak terjawab masuk, termasuk Khalisa dan Jack. Ponselnya berdering lagi dengan panggilan Jack dilayar utama.


"Tuan, apa terjadi sesuatu? Anda tidak bisa dihubungi sejak siang tadi." suara Jack terdengar cemas.


Siang tadi? Leon segera membuka gorden besar untuk melihat hari, benar saja bumi telah temaram. Hari telah berlalu tergantikan langit yang pekat.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" suara Jack mengintrupsi Leon dari rasa terkejutnya.


 "Ya, tolong pesankan satu set gamis. Kirim ke hotel Hilltop segera." jawab Leon saat ia mendapati pakaian Jihan yang telah teronggok kacau dilantai.


Leon menatap kearah ranjang tepat pada gulungan selimut yang membungkus tubuh Jihan.


"Satu tingkat lebih kecil dari Khalisa." jawaban dari atasannya itu membuat Jack bingung, itu artinya gamis tersebut bukan untuk Nyonya Khalisa.


"Baik. Segera saya kirim, Tuan." meski bingung ia tak punya hak untuk bertanya lebih lanjut.


Leon kembali diterpa rasa bersalah, ia telah menghianati pernikahan, ia telah menoreh luka tajam pada dua wanita secara bersamaan. Jika seandainya wanita yang ia paksa melayani hasr*t itu bukan Jihan, rasanya itu pasti akan lebih mudah. Masyarakat Washington sudah biasa melakukan hubungan badan tanpa pernikahan, tapi bagaimana dengan Jihan? Leon mengetahui betul bagaimana wanita itu menjaga diri, menutup aurat sesuai kewajiban wanita muslim. Kini wanita itu telah ia renggut kehormatannya.


Bagaimana ia harus bertanggung jawab?

__ADS_1


Ini adalah kali pertama Leon berhubungan badan selain dengan Khalisa, istri sahnya. Bagaimana bisa ia dengan menghianati wanita yang sangat ia cintai.


Pergerakan di atas ranjang menarik perhatian Leon, pria itu segera mendekat. Jihan langsung tersadar saat melihat Leon, terlebih ingatan sebelum ia menutup mata semakin mengores hatinya.


"Jangan.. Jangan mendekat." Jihan diserang ketakutan, selimut yang membalut tubuhnya segera ia cengkeram erat.


"Jihan, tenang saya tidak akan melakukan apa-apa."


"Kenyataannya kamu sudah melakukannya!" wanita itu tidak menangis tapi matanya menyiratkan kebencian yang besar.


"Baik, saya minta maaf untuk itu. Saya akan memberi kamu ruang untuk membersihkan diri, setelah itu saya harap kamu bersedia bicara dengan saya." suara Leon terdengar lebih lembut mungkin itu terjadi karna rasa bersalahnya.


Leon segera meraih kemeja miliknya dilantai, memakainya dengan cepat untuk segera memberi ruang untuk Jihan.


"Saya pergi." setelah suara pintu tertutup, Jihan tak lagi bisa menahan air matanya. Wanita itu meluruh dalam rasa sakit hatinya, tubuhnya terasa sangat remuk tapi bagian hatinya lebih parah.


Susah payah ia menyeret kakinya menuju kamar mandi. Saat membuka selimut ia langsung berhadapan dengan cermin besar yang memperlihatkan seluruh tubuhnya. Bercak ruam merah menyebar diberbagi tempat, rasanya Jihan ingin menguliti dirinya sendiri demi menghapus bekas sentuhan Leon.


Setelah hampir setengah jam berlalu, Leon kembali dengan membawa satu set gamis yang di bawa Jack. ia sendiri pun telah berganti pakaian baru yang ia dapatkan dari staf hotel.


Sebelum masuk Leon mengetuk pintu, sayangnya tidak ada respon dari dalam. Pun segera ia masuk, kamar itu sudah kembali rapi sesuai perintahnya pada room service. Ia pun sudah berpesan pada manajer room service untuk mengirim pegawai perempuan. Demi menjaga kenyamanan Jihan.


Leon duduk diatas sofa menunggu Jihan selesai dari kamar mandi. Sayang waktu terus berlalu ini sudah satu jam sejak Jihan memasuki kamar mandi. Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk Leon segera mengetuk pintu, beruntung pintu segera terbuka. Terlihat Jihan memakai bathrobe beserta handuk menutupi rambut hitamnya.


"Saya butuh baju." ucap Jihan sembari memperkecil daun pintu.


"Saya sudah membawa pakaian baru untukmu." Leon menyodorkan bag dari celah pintu.

__ADS_1


"Saya tunggu ya." lanjutnya sebelum kembali ke sofa. Ia tak tau bagaimana mengatasi rasa bersalah dalam hatinya. Bagaimana ia harus mengambil langkah pada kejadian beberapa jam yang lalu.


Istrinya tengah berjuang dari rasa sakit, tapi Leon malah berhianat dengan mahasiswanya.


__ADS_2