Pengantin Kedua.

Pengantin Kedua.
Chapter 06


__ADS_3

Jemes mengetuk pintu kamar Jihan, di tangannya terdapat nampan beserta bubur dan obat untuk putrinya. Perasaannya sungguh cemas, sudah hampir satu minggu berlalu Jihan bersikap tak biasa dan itu menimbulkan banyak pertanyaan atas apa yang sebenarnya terjadi.


"Sayang, putri Ayah.. Ayo buka pintunya sebentar." pinta Jemes lembut, ia sudah mencoba menerobos pintu putih tersebut sayangnya Jihan sengaja menguncinya dari dalam.


Tak berselang lama pintu terbuka kecil memperlihatkan wajah Jihan yang sangat pucat, bibir wanita itu kering dengan mata yang terlihat sayu.


"Jihan, apa yang terjadi?" Jemes segera masuk kedalam kamar meletakkan nampan makanan dan langsung memeriksa keadaan putrinya. Jemarinya menyentuh kening Jihan yang terasa panas.


"Aku tidak apa-apa, Ayah. Hanya tak enak badan." ucap Jihan yang mengerti kecemasan Ayahanya.


"Apanya yang baik-baik saja, jelas kamu sedang demam. Tunggu disini sebentar Ayah akan menelpon dokter." Jemes langsung bergegas tanpa mau mendengar penolakan putrinya setelah ia memastikan Jihan kembali berbaring di kasur.


Jihan terpejam merasakan tubuhnya yang terasa begitu remuk, suhu tubuhnya yang tidak normal semakin membuatnya tak nyaman. Perasaan cemas dan tekanan yang beberapa hari ini ia rasakan membuat kesehatannya menurun hingga jatuh sakit. Banyak kemungkinan yang terus mengusik ketenangan Jihan, salah satunya adalah sebab hadirnya nyawa dari insiden pel3cehan seminggu yang lalu. Bahkan hingga kini ia belum berani kembali masuk kuliah demi menghindari dosennya sendiri.


Wanita itu tak memiliki keberani bertemu dengan Leon, bagaimana pun selama ini ia cukup mengagumi pria itu sebagai dosen Muslim yang kompenten. Lalu fakta menamparnya dengan begitu keras bahwa pria itu sendiri mel3cehkannya dengan sedemi kian rupa.


Pintu kembali terbuka dengan kehadiran seorang wanita yang tak lain adalah Natali istri pertama Jemes. Wanita itu melangkah dengan cepat di sertai wajah yang terlihat memerah lantaran emosi yang meningkat.


"Bagun dasar anak tidak tau diri!" tangannya menarik selimut yang membungkus tubuh Jihan.


Natali benar-benar marah mengingat Jihan yang terus saja bermalas-malasan sedangkan dirinya harus melakukan banyak hal. Ditambah suaminya yang terus saja memanjakan anak itu semakan membuatnya kesal.


"Ibu.."


"Jangan memanggilku seperti itu, aku bukan ibumu!" sentak Natali membungkam Jihan. Memang sejak Natali tau bahwa Jemes memiliki anak dari wanita lain sikapnya berubah menjadi sangat arogant. Tak jarang Natali memaki dan menyiksa Jihan.


Jihan berusaha bangun dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Wanita muda itu menatap pada sosok ibu yang sejak dulu selalu membencinya, terlepas dari sikapnya yang sudah berusaha menuruti semua keinginan Natali, wanita baya itu tetap membencinya. Seolah Jihan adalah musuh yang harus di singkirkan.

__ADS_1


"Kau terus saja menyusahkan, aku sudah berbaik hati memberimu waktu istirahat dan sekarang kau semakin melunjak dengan hanya bermalas-malasan seperti ini."


Jihan mengela nafas, kepalanya semakin berdenyut mendengar omelan Natali. Meski ia tak pergi kuliah pekerjaan rumah tetap ia lakukan. Dimana waktu yang di beri oleh Natali?


"Aku sedang sakit, tolong beri aku waktu istirahat lebih banyak. Setelah sembuh aku akan mengerjakan semua pekerjaan rumah lagi." pinta Jihan pelan, ia berusaha menahan panggilan ibu untuk wanita itu.


Meski Natali bukan ibu kandungnya, sejak ia menginjakkan kaki di rumah Jemes, Jihan tau diri dengan menghormati Natali sebagai istri pertama Ayahnya. Maka tak lain ia juga harus mengormati Natali selayaknya seorang ibu.


Dulu Jihan enggan menganggap Natali sebagi ibunya juga, tapi Malina selaku ibu kandung Jihan, berupaya membuat putrinya tumbuh dengan kasih sayang untuk keluarganya sendiri. Posisi mereka hanya figuran dalam keluarga besar Brown, maka keduanya harus tau diri hidup bersama mereka.


"Dasar tidak tau diri!" makinya mengebu-gebu. Melihat paras cantik Jihan membuat hatinya terbakar, bagaimana tidak wajah Jihan adalah perpaduan antara Malina dan Jemes dan itu sangat jelas terlihat. Belum lagi manik anak itu bewarna senada dengan suaminya, silver pekat.


"Natali, jangan memaki Jihan. Dia sedang sakit." tegur Jemes saat ia baru saja masuk kedalam kamar.


Wanita itu menoleh pada suaminya, bisa-bisanya pria itu terus membela Jihan.


"Terus saja membela anak kesayanganmu itu!" teriaknya kesal sebelum keluar dari kamar Jihan dengan membanting pintu keras.


"Maaf kan Ibu, dia sedang emosi karna baru saja pulang dari pasar dan baju kesayangnnya tersiram air ikan." ucap Jemes berusaha menghibur Jihan.


Jihan tersenyum kecil mendengar ucapan Ayahnya, tadi ia memang sempat melihat bercak kotor pada bagian lengan baju putih Natali. Ia tak menyangka ibunya akan mendapati hal itu di pasar pagi hari. Biasanya memang Jihan yang pergi berbelanja kebutuhan rumah.


"Dokter akan segera datang, Ayah sudah memintanya untuk segera kesini. Ayo sekarang sarapan dulu, kebetulan Ayah membuat bubur dan sup kesukaanmu." Jemes meraih nampan, dan segera menyuapi Jihan.


Jemes menatap lekat wajah pucat Jihan, putrinya yang dulu sangat kecil dan bertubuh kurus kini telah menjadi sosok wanita cantik yang begitu patuh pada agamanya. Jihan mengingatkan Jemes pada Malina, wanita Asia yang telah membuatnya jatuh cinta hingga memilih menghianati istri pertamanya hingga terlahir bayi cantik yang menggemaskan bernama Revalina Jihan Mazaya.


Tapi kisah mereka tak semudah itu, Jemes terpaksa kembali ke Washington saat Malina tengah hamil berusia 7 bulan. Saat itu perusahaan milik keluarganya mengalami penurunan saham drastis hingga membuatnya harus kembali ke kota keberadaan keluarganya kandungnya. Hingga membuat Jemes terpaksa meninggalkan Malina dan membuat istri keduanya itu berjuang sendirian di Indonesia.

__ADS_1


Fakta yang lebih parah adalah Jemes kehilangan nomor Malina, hingga membuat hubungan mereka terputus. Setelah waktu berlalu hingga 12 tahun kemudian Jemes bertemu dengan Malina di Washington, tepatnya di pinggir jalan ibu Kota Amerika tersebut. Tubuh lusuh, kering dan kurus telah merubah sosok cantik itu.


Jemes ingat pertemuan pertama mereka setelah berpisah 12 tahun yang lalu, dimana Malina menangis dan memohon pada Jemes untuk bersedia menerimanya, untuk bersedia memberi kehidupan untuk putri mereka.


"Ayah.. Kenapa melamun?" tanya Jihan menarik paksa kesadaran Jemes akan masa lalunya.


Jemes mengela nafas demi mengatur perasaan bersalah dalam hatinya, " Maaf sayang, Ayah terlalu menghawatirkan kondisimu. Dimana dokter itu kenapa lama sekali?" ucapnya sembari menoleh pada daun pintu berharap Jihan tak mencecarnya dengan pertanyaan.


Jihan tentu tau sorot mata Ayahnya menyimpan banyak luka, meski ia tak tau itu di sebabkan oleh apa.


"Aku hanya butuh istirahat lebih banyak lagi, Ayah. Jangan khawatir." ucap Jihan menenangkan Jemes.


Ketukan pada pintu dontak membuat Jemes langsung bangkit membuka pintu, terlihat seorang wanita baya tersenyum sebagai sambutan.


"Dokter, kenapa lama sekali? Putriku sudah menunggumu sejak tadi. Ayo segera periksa dia." ajak Jemes pada dokter itu.


Kiran selaku dokter yang sudah lama mengenal Jemes sangat di buat terharu pada kasih sayang pria itu. Kiran sendiri pun tau bahwa kehidupan Jihan tak semudah yang terlihat. Dokter itu pun pernah merawat Malina di saat akhir hayat wanita itu.


"Hai Jihan, lama tidak bertemu." Sapa Kiran sembari menyiapkan alatnya.


"Iya dokter, aku sedang di kejar tugas kuliah." jawab Jihan pelan.


Kiran hanya tersenyum kecil, setelah memeriksa detak jantung kini tangannya menekan bagian perut Jihan. Termometer menunjukan angka lumayan tinggi.


"Jihan, tolong lain kali perhatikan pola makanmu, asam lambung yang terus meningkat bisa membuatmu mual dan merasakan perih di ulu hati. Juga jangan terlalu memforsir otakmu untuk terus berfikir." saran dokter itu sembari meresepkan obat untuk Jihan.


Jemes menatap prihatin pada putrinya, memang akhir-akhir ini Jihan terlihat malas makan dan tertekan, "Jadi Jihan sakit apa?"

__ADS_1


"Asam lambungnya naik, Jihan juga kekurangan asupan dan kurang istirahat. Itulah kenapa tubuhnya demam itu adalah peringatan untuk nona muda supaya lebih banyak istirahat." ucap dokter Kiran sembari menyelipkan candaan.


Jemes akhirnya menghela nafas lega, ia begitu khawatir pada kondisi Jihan. Bagaimana pun Malina trlah mempercayakan ia untuk menjaga buah cinta mereka.


__ADS_2