
"Hahaha" Gelak tawa seorang wanita terdengar begitu menakutkan.
"Matilah kau, Jihan!" Teriaknya dengan tatapan membunuh
CITTT BRAK!
Seorang wanita muda dengan tubuh bersimbah darah tergeletak di tengah jalan raya.
Sorak-sorak suara warga menjerit terdengar melihat tabrak lari tersebut.
Polisi dan Ambulance datang dan segera menangani korban tabrakan itu.
...💦💦...
Tepat di RSU.Hermina, yang berada di kota Medan.
Ambulance berhenti tepat di depan RS tersebut, petugas RS pun dengan sigap membantu.
"Dokter Jan!" Seru sang perawat
"Ada pasien korban tabrak lari dokter" Ucapnya setengah panik
"Baik!" Jan setengah berlari menuju ruang UGD.
Pintu ruangan terbuka, terlihat wajah cantik dan sendu yang kini terbaring lemah.
"Sarah" Lirihnya dengan suara yang nyaris tak terdengar
Jantung Jan terasa remuk melihat korban tabrak lari tersebut, yang ternyata calon istrinya sendiri.
"Dokter, Dokter Jan!" Seru para perawat memanggilnya
Jan yang masih syok pun tersadar dan bergegas menyelamatkan nyawa Sarah.
...💦💦...
...~Flashback~...
"Kak Jihan, aku pinjam bajunya ya? Aku mau keluar sebentar" Teriak Sarah dari dalam kamar Jihan
Hari itu Sarah yang sedang bermain di rumah Jihan, berniat keluar untuk pertemuan reuni.
"Buat apa Sarah? Lagian aku tidak punya pakaian yang bagus loh" Lirih Jihan menghampiri adik sepupunya itu.
"Tidak masalah Kak, cuma buat acara reuni doang,, lagian kalau aku pulang kerumah lagi kan jauh kak" Ucapnya memohon
"Kamu ini desaigner terkenal, Sarah! Nanti kamu di ejekin teman mu kalau pakai pakaian jelek" Cibir Jihan di sertai tawa
Jihan mengatakan itu karena dia sangat tau perbedaan status sosial dan ekonomi keluarganya dan keluarga Sarah.
Meskipun mereka saudara sepupu tapi kehidupan mereka jauh berbeda.
Sarah yang berpendidikan tinggi menjadi Desaigner wanita, sementara Jihan hanya tamatan SMA dan bekerja menjadi waiters di salah satu kafe di kota Medan.
"Hahaha, Kak Jihan ini ada-ada saja,, pokoknya aku pinjam baju kakak, aku sudah hampir terlambat" Pintanya dan mengambil gaun Jihan yang menurutnya manis
"Ya sudah terserah kamu sajalah" Jihan menghela nafas pelan
Setelah merasa pas Sarah pun pamit pergi.
"Aku pergi dulu ya Kak, nanti setelah di cuci aku kembalikan bajunya" Ucap Sarah tersenyum
"Itu baju sudah lama, tidak di kembalikan juga tidak masalah" Balas Jihan merapikan gaun yang di pakai Sarah
"Ya sudah, nanti aku belikan yang baru saja,, sekalian buat Kak Jihan pakai di hari pernikahan ku" Pekik Sarah tersenyum manis
"Anak manja tidak terasa mau menikah saja, Sarah! Kamu hati-hati jangan sampai terjadi apa-apa ya?" Lirih Jihan yang tiba-tiba merasa cemas
"Iya Kak, aku mengerti" Sarah mengangguk
__ADS_1
Sarah pun pergi setelah berpamitan, namun entah mengapa perasaan Jihan terus gelisah tak menentu.
"Kenapa aku khawatir begini ya? Padahal dia cuma mau pergi reuni, tapi kan Tante Nissa bilang pamali berpergian dekat hari pernikahan, aduh Sarah! Apa kamu lupa 3 hari lagi pernikahan mu" Lirih Jihan bermonolog.
...💦💦...
"Sudah berapa kali ku katakan, aku tidak bisa menikah dengan mu, Ranti! Aku mencintai Jihan" Ucapan yang keluar dari bibir seorang pria yang bernama Wahyu.
Pria itu menolak mentah ajakan dari seorang wanita di hadapannya.
"Jihan Jihan Jihan, kenapa selalu saja Jihan?" Ucap Ranti kesal
"Apa kurangnya aku dari gadis kumuh itu? Wahyu?" Tanyanya mulai berlinang air mata
"Dari segi apapun Jihan tidak bisa di bandingkan dengan mu, dan kamu tidak bisa memaksakan perasaan, Ranti!" Balas Wahyu tanpa membentak
"Baik! Kamu pasti akan menyesali perkataan mu, Yu! Aku tidak akan membiarkan siapapun mendapatkan mu" Ucap Ranti murka
Wanita itu pergi dengan amarah yang bergejolak di hatinya, akal sehatnya pun mulai tak terkendali.
Seperti kata petatah orang bisa gila karena cinta?
"Tidak, aku tidak akan membiarkan Jihan mengambil Wahyu dariku" Ranti mengepalkan tangannya.
Di saat itu juga Sarah yang mengenakan pakaian milik Jihan melintas di depan mata Ranti.
"Jihan?" Dengan mata memperhatikan
"Baguslah! Jihan, aku akan menyingkirkan mu dari hidup Wahyu selamanya" Seringai jahat di wajah Ranti
Sarah yang saat itu menyebrang jalan dan tidak mengetahui jika ada yang mengincar nyawanya dan tiba-tiba saja.
BRAAKKKK
Ranti dengan laju kencang menabrak Sarah tanpa melihat wajahnya.
...~Flashback Off~...
...💦💦...
Suara pecahan bingkai foto terjatuh dari dinding.
"Astaga!" Nissa terkejut
Wanita paruh baya itu segera mengecek asal suara yang ternyata dari ruang tamu.
"Sarah" Lirihnya dengan perasaan yang tidak enak
Nissa mengutip pecahan kaca yang jatuh di lantai.
"Ya allah, apa yang terjadi? Kenapa foto Sarah bisa terjatuh?" Pikiran buruk mulai menghampiri Nissa
Tak lama bunyi telfon rumah berdering dan menyadarkan Nissa.
"Hallo" Jawab Nissa
"Apa?" Mendengar kabar tentang putri semata wayangnya.
Nissa langsung menjatuhkan telfon dan syok.
"Papaaa" Jeritnya histeris
"Ada apa sayang?" Toni yang mendengar jeritan istrinya
"Sarah, Pa" Lirihnya menangis sejadinya
"Kenapa dengan Sarah? Nissa?" Toni mulai lemas
"Dari RS.Hermina, Hiks hiks" Nissa pun tidak bisa menjelaskan
__ADS_1
Mendengar nama RS di sebutkan, Toni pun langsung dapat menebak keadaan putrinya dan seketika dada pria paruh baya itu terasa sesak.
...💦💦...
Jan yang di juluki Dokter Killer itu, saat ini menangis terseduh di depan tubuh Sarah.
"Sarah ku" Lirihnya dengan pelupuk mata yang berlinang
"Aku tidak menyelamatkan Sarah ku, hiks hiks" Jan merutuki kebodohannya
"Untuk apa gelarku sebagai Dokter? Jika aku tidak bisa menyelamatkan kekasih ku sendiri" Bentaknya menangisi kepergian Sarah
"Hahhh, Saraaahhhh" Jeritnya menahan sesak di dada
Sementara samar-samar terdengar bisik-bisik sekitar RS yang sedang bercerita.
"Duh, kasihan ya Dokter Jan, meskipun dia Killer begitu ternyata dia cinta banget sama Nona Sarah" Ucap salah seorang perawat
"Iya, padahal pernikahannya 3 hari lagi" Perawat lain menimpali
"Dokter Jan sedang berduka, kalian justru menggosip? Dasar, sudah sana lakukan tugas kalian" Tegur Raka, yang tabiatnya juga seorang dokter.
"Maaf Dokter Raka" Semua perawat menunduk dan berlalu pergi
Raka melangkah menghampiri Jan.
"Jan, ini berkas kasus dari tabrak lari yang menimpa Sarah,, ku dapatkan dari kepolisian" Memberikan map
"Sudah ku teliti, sepertinya unsur dendam" Pekik Raka
"Dendam? Tapi Sarah ku tidak memiliki musuh, itu mustahil" Ucapnya mendengus
"Aku tidak tau pasti, tapi dengan kekuasaan mu, kau pasti bisa menyelidikinya kan?" Ucap Raka yang sangat mengenal sosok Jan
Selain menjabat sebagai dokter, Jan juga CEO ternama di kota Medan.
Jan memiliki beberapa perusahaan di bawah naungannya.
Jan pun menyuruh bodyguard untuk menyelidiki penyebab kematian Sarah.
...💦💦...
Jihan tersadar di dalam ruangan dokter merasa kaget.
"Kenapa aku ada disini?" Pikirnya
"Kau! Wanita pembunuh" Suara bas seorang pria mengejutkan Jihan
"Aku? Pembunuh?" Jihan tidak mengerti
"Ya! Kau sudah membunuh kekasih ku, SARAH" Jan menekankan nama Sarah
"Apa? Sarah meninggal?" Jihan mencerna perkataan Jan
"Tapi apa yang ku lakukan? Aku bukan pembunuh" Jihan menggeleng
"Dimana Sarah? Aku harus melihatnya" Jihan ingin beranjak namun Jan menghalangi
"Setelah membunuh? Apa kau berusaha bersimpati?" Cibir Jan dengan benci
"Apa yang kau katakan? Aku tidak membunuh siapapun, dan Sarah adalah adikku" Jelas Jihan membela diri
"Kau mengatakan dia adik mu? Lalu kenapa kau tega menghabisinya? Apa hanya karena dia adik sepupu mu?" Jan terus menyudutkan Jihan
"Tapi aku tidak melakukan apapun, Tuan" Teriak Jihan
"Kau memang tidak melakukan apapun, tapi kau penyebab kematiannya dan itu sama dengan pembunuh" Bentak Jan
"Kau wanita pembunuh" Teriak Jan dengan kebencian
__ADS_1
"Pelaku itu mengincar nyawamu, seharusnya kau yang tiada bukan Sarah!" Lagi-lagi Jan membentak
Bersambung...