Pengantin Pengganti Dokter Killer

Pengantin Pengganti Dokter Killer
Jihan Melarikan Diri?


__ADS_3

Jan mendengus dan duduk di kursi panjang, pria itu meluruskan kakinya, kepalanya di gerakan ke kanan dan ke kiri agar lebih rileks.


Tak lama Yusron menghampiri, yang memang telah datang bersama dengan Alfat.


"Bos, butuh pijitan?" Tanyanya sambil membawa bungkusan berisi makanan


"Tidak, apa itu?" Jan melirik bungkusan yang di bawah oleh Yusron


"Martabak telur, kau kan suka ini Bos? Jadi sengaja ku beli" Jawabnya lalu mengambil piring di dapur


"Humm, kau benar, dulu Sarah juga sering membawanya untuk ku" Lirih Jan tersenyum kecil


Wajah pria itu pun kembali kusut,, Yusron yang melihatnya pun menghela nafas.


"Kalau tau begini, seharusnya ku bawakan rendang jengkol" Gerutunya jenuh dengan wajah datar, niatnya yang ingin menghibur justru gagal.


"Bos Bos, sampai kapan kau galau terus" Yusron menggeleng kepala


Namun itu tak terdengar oleh Jan, karena jarak dapur dan ruang tamu yang jauh.


Tak lama Alfat turun dari atap dengan perlahan sambil mengelus bokongnya yang masih sakit, karena terbentur lantai secara kuat.


"Fat, kenapa? Jalan mu sudah seperti nenek jumpo begitu?" Cibir Yusron sambil menaruh piring berisi martabak


"Ketimpa monster gunung salju" Pekik Alfat yang langsung di sambut lemparan oleh Jan.


"Kau mengatai ku?" Jan melempar bantalan kursi ke wajah Alfat


"Pffttt" Yusron terkekeh


"Dih, sakit Bos" Alfat meringis


"Siapa suruh? Mengatai aku" Pekik Jan kesal


"Fakta Bos, kau memang dingin sedingin es salju yang ngalahin dinginnya es kulkas 10 pintu" Cibir Alfat


"Hahaha" Yusron terbahak mendengar penuturan Alfat yang nyata


"Asem, sialan" Jan yang kesal melihat Yusron tertawa, langsung memasukan martabak penuh ke dalam mulutnya.


"Hmm. . mm. . Bos" Seketika berhenti tertawa dan terbata karena mulutnya penuh dan harus mengunyah


"Hah, dasar kalian" Jan dengan kesal, karena ulah kedua temannya itu


Jan memilih pergi ke kamarnya, pusing melihat dua pengawalnya yang selalu meledek dirinya.


"Bos! Martabaknya nanti habis loh" Teriak Alfat mencoba merayu


"Makan saja sekalian piringnya juga kunyah" Balas Jan emosi


"Dih, memang di kata keturunan Limbat apa" Pekik Alfat dengan wajah mengejek


"Pfftt, dasar dungu" Yusron memukul kepala Alfat, lalu beranjak pergi


"Dih, asem kau, Ron awas ya" Teriak Alfat, dan berlari menyusul


...💦💦...

__ADS_1


Malam itu Jihan memilih tinggal di kamar lain, entah kenapa dia enggan untuk tinggal di kamar Sarah.


"Jihan, kenapa sayang? Kamar Sarah itu yang terbaik di antara kamar lainnya, lalu kenapa kau ingin kamar yang lain?" Tanya Nissa heran


"Tidak apa-apa Tante, biarkan aku di kamar lain saja, jadi jika Tante atau Om Toni merindukan Sarah, kalian bisa melihat kamarnya dan merasakan keberadaannya" Lirih Jihan


"Baiklah Jihan, terserah mu saja, yang penting kau nyaman disini" Toni mengangguk


"Terimakasih, Om" Jihan menunduk hormat


"Pergilah istirahat di kamar mu, karena besok Jan akan datang menjemput mu" Ucap Toni


Hal itu sukses membuat Jihan tercengang.


"Jan? Menjemputku? Besok?" Tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri


"Iya, Jihan, Apa kau tidak ingat? Jan akan menikahimu? Dan pernikahan sebentar lagi, Jan akan mengajak mu fiting gaun pengantin" Balas Nissa tersenyum


"Ya sudah, sebaiknya kau istirahat agar tidak kelelahan" Lanjut Nissa mengelus kepala Jihan


Nissa dan Toni pun berlalu pergi ke kamar mereka sendiri, sementara Jihan berjalan gontai ke dalam kamarnya.


Pikirannya sangat kacau memikirkan hari esok akan bertemu dengan Jan lagi.


Kuatkan hati dan telinga mu, Jihan! Entah berapa banyak hinaan yang akan kau dengar dari bibir pria itu. Batin Jihan terduduk di tepi kasur


Tak lama Jihan ambruk tertidur lelap di kasurnya sampai pagi menjelang.


...💦💦...


"Hallo, Raka! Mungkin hari ini aku akan terlambat bertugas, ada hal yang harus ku tangani" Ucap Jan saat menelfon


"Oke, ku tutup dulu" Jan pun memutuskan sambungan.


Jan mengancing kemejanya dan memasang dasi, serta memakai jas berwarna biru.


Dia berniat untuk mengecek perusahaannya hari ini dan setelah itu pergi menjemput calon istrinya, siapa lagi jika bukan Jihan?


Jan langsung mengendarai mobilnya tancap gas poll.


"Yusron, atur jadwal ku di Fashion Dira" Ucapnya di telfon


Setelah mengatakan itu Jan mematikan ponselnya, lalu menuju kantornya.


Begitu tiba di kantor banyak pegawai yang menyambut datangnya bos mereka.


"Selamat pagi, Pak Jan" Sapa seorang wanita cantik, yang ternyata sekertaris Jan


"Pagi Miranda, besok sobek saja rok mu itu kalau masih begitu" Pekik Jan dengan dingin


Jan paling anti dan tidak bisa melihat wanita berpakaian minim.


"Maaf Pak, tapi ini lagi Trend Pak" Seru Miranda manyun


"Aku tidak perduli itu Trend atau pun Migren" Cibir Jan


"Pfftt" Pegawai lain yang mendengar ikut tertawa

__ADS_1


"Jika kau masih ingin menjadi sekertaris ku dan mendampingi ku di saat meeting, maka ubahlah gaya pakaian mu yang sok kebaratan itu" Seru Jan tanpa terkecuali


"Yah, Pak masa gitu, gak asik ihh" Miranda mengerucutkan bibirnya


Jan pun pergi ke ruangan pribadinya, untuk meneliti hasil laporan beberapa minggu selama dia tidak masuk kantor.


...💦💦...


Tak terasa setengah hari berlalu, Nissa dan Toni terlihat membantu para pembantu berberes rumah setelah pemakaman Sarah.


"Om! Tante!" Panggil Jihan menghampiri Om dan Tantenya


"Ada apa Jihan?" Toni menoleh


"Aku izin pergi ya Om, aku harus bekerja" Pamit Jihan


"Loh? Mau kemana Jihan? Nanti kalau Nak, Jan datang bagaimana?" Tanya Nissa


"Tante bisa mengabari ku jika dia datang, lagi pula aku sudah tidak masuk semalam" Lirih Jihan


"Baiklah, Jihan pergilah tidak masalah" Toni mengangguk


"Terimakasih, Om" Jihan tersenyum lalu menyalami keduanya


Toni menatap kepergian Jihan yang perlahan menghilang.


"Apa menurut mu? Jihan tidak mau menikah?" Gumam Toni


"Apa maksud mu?" Nissa heran


"Tidak, aku hanya mencemaskan dirinya,, kita bahkan tidak tau, bagaimana perasaannya bukan?" Seru Toni


"Toni, mungkin perasaan seperti itu belum ada di hatinya, tapi Jihan membutuhkan sosok yang bisa melindunginya, dan Jan adalah pria yang tepat" Ucap Nissa yakin


"Aku sangat yakin, Jan akan selalu menjaganya, karena Jan adalah pria yang tegas dan bertanggung jawab, semua itu terlihat bahkan saat aku melihat wajahnya pertama kali bertemu" Nissa tersenyum


"Mungkin kau benar, aku hanya terlalu gelisah, karena Jihan tidak memiliki siapapun selain kita" Lirih Toni mengangguk


Tin Tin Tin!!


Suara klekson mobil mengejutkan keduanya, Toni dan Nissa berlalu keluar rumah.


Terlihat Jan keluar dari mobilnya.


"Hallo Om! Tante!" Sapa Jan tersenyum


"Nak, Jan" Nissa tersenyum, begitu juga Toni


"Umm, bukankah aku sudah memberi kabar sebelumnya? Aku tidak ingin jika terlalu terburu-buru, jadi hari ini aku berniat mengajak Jihan untuk mencoba gaun" Ucap Jan


"Iya Nak, kau benar" Ucap Toni


"Tapi, Jihan sudah pergi" Lanjut Toni menghela nafas


"Apa?" Sepontan meninggikan suaranya


"Maksudnya, pergi kemana?" Ucap Jan kaku

__ADS_1


Dia tidak mungkin melarikan diri kan? Batin Jan


Bersambung....


__ADS_2