
Hari itu semua orang telah kembali ke rumah masing-masing, termasuk Jihan yang saat ini berada di mobil bersama Om dan Tantenya dalam perjalanan pulang.
Toni menghelah nafas panjang melirik istrinya yang masih diam sejak dari pemakaman Sarah,, sementara Jihan terlihat melamun duduk di belakang.
Entah apa yang dua wanita itu pikirkan? Pikir Toni melirik keduanya bergantian.
"Jihan!" Panggilnya memecah keheningan
Jihan pun tersadar dari lamunannya, begitu juga Nissa yang menoleh menatap suaminya.
"Iya Om?" Sahut Jihan
"Mulai hari ini kau akan tinggal bersama kami, jadi lebih baik kita kerumah mu saja untuk mengambil pakaian mu, Nak" Ucap Toni yang tetap fokus menyetir
"Bagaimana Nissa? Jihan?" Tanyanya
"Tante?" Jihan menatap Nissa
"Om Toni benar, lagi pula kau tinggal sendirian dan itu berbahaya, jika dulu Sarah sering datang menemani mu, tapi sekarang tidak mungkin lagi, Jihan" Lirih Nissa
"Baiklah kita kemasi barang-barang mu bersama" Nissa mengangguk
"Terimakasih, Tante" Jihan terharu, melihat Tante dan Omnya yang ternyata selalu memikirkan keselamatannya.
"Sama-sama sayang" Nissa tersenyum
Toni pun tersenyum melihat istrinya yang sudah bisa tersenyum.
Semoga kehadiran Jihan bisa mengobati kepedihan mu, sayang. Batin Toni
Mereka pun menuju rumah dimana Jihan tinggal, sebuah rumah yang terbilang kecil dan sederhana, tidak seperti kediaman Toni dan Nissa yang elit dan mewah.
Begitu tiba, Toni menatap rumah yang di tempati oleh Jihan tersebut,, sungguh jauh berbeda dari rumahnya.
Begitu juga Nissa yang saat ini melangkah memasuki rumah Jihan.
"Maaf, Om! Tante! Jika kurang nyaman, tapi duduk saja di sini, aku akan berkemas di kamar" Ucap Jihan yang tidak enak karena takut Om dan Tantenya merasa gerah di rumahnya.
"Rumah ini sangat manis, Jihan! Kenapa harus tidak nyaman" Balas Toni tersenyum, lalu duduk di kursi yang tersedia
"Kau mengurus rumah sendirian dengan sangat baik, Jihan! Kau pasti lelah" Gumam Nissa yang memperhatikan setiap sudut rumah
Meskipun rumah tersebut sederhana dan berada di pinggir jalan yang banyak debu berterbangan karena lalu lalang para pengendara jalan raya,, namun Jihan rajin menata dan merapikan rumahnya itu terlihat sangat bersih.
Jihan juga menyukai banyak jenis bunga, sehingga rumah itu pun terlihat sangat manis.
Nissa melangkahkan kaki menyusul Jihan di kamarnya, di lihatnya gadis itu sedang mengemas pakaiannya.
"Kau tidak perlu membawa pakaian yang lama, di rumah kau bisa memakai apa yang Sarah miliki, Jihan bawa seperlunya saja" Seru Nissa membantu
"Tidak Tante" Jihan menggeleng kepala
"Aku tidak mungkin menggunakan barang milik Sarah" Lanjutnya
__ADS_1
Karena itu pasti akan membuat Jan semakin membenci ku. Batin Jihan menghela nafas
"Kenapa tidak? Jihan, kau juga seperti putriku, bukankah aku juga seperti ibumu?" Nissa memegang tangan Jihan
Jihan pun menunduk lalu mengangguk, hal itu tidak bisa di pungkiri jika Nissa memang menyayangi Sarah dan juga dirinya, Toni dan Nissa tidak pernah membedakan antara keduanya.
"Sudah, ayo cepat kita kemaskan barang-barang mu" Nissa tersenyum mengelus rambut Jihan
Tak lama suara teriakan dari luar terdengar.
"Jihan? Nissa? Apa belum selesai?" Teriak Toni
"Iya, sebentar" Jawab Nissa
"Lihat, Om mu itu sudah mengkode,, dia tidak bisa ku tinggal walau sebentar saja" Seru Nissa tertawa kecil
"Om Toni sangat mencintai Tante" Ucap Jihan tersenyum
Toni di luar yang menunggu, menatap arah kamar.
"Berapa banyak barang yang di kemas? Kenapa lama sekali" Gerutunya
"Apa mereka mengatai aku di dalam?" Ucap Toni jenuh
Terlihat Nissa dan Jihan sudah keluar, Toni langsung berdiri.
"Sudah?" Tanya Toni, yang tercengang melihat Jihan hanya membawa satu koper
"Sudah Om" Jihan tersenyum
"Ahh itu, rahasia wanita" Pekik Nissa lalu mengajak Jihan untuk masuk ke mobil
"Toni, bawa kopernya" Teriak Nissa
"Hei, apa itu soal diriku?" Teriak Toni yang menyusul
"Oh Toni, kenapa kau jadi seperti ibu-ibu kompleks yang suka kepo saja" Cibir Nissa tertawa
Wajah Toni langsung berubah datar.
"Baiklah baik, aku diam saja" Pekik Toni cemberut
Jihan hanya tertawa kecil melihat Om dan Tantenya sedang berdebat, yang menurutnya terlihat lucu.
Tanpa basa basi Toni melajukan mobilnya menuju rumah mereka.
...💦💦...
Di sebuah apartment mewah, merupakan tempat kediaman seorang Jan Reinhard.
Pria itu meneguk segelas yang berisi wiski dan itu di lakukan berulang kali, sehingga kesadarannya mulai berkurang.
Dan perlahan air mata mengalir dari matanya yang mulai sayu akibat mabuk.
__ADS_1
"Hiks hiks hiks" Menangis terseduh-seduh
Saat ini Jan menangis sejadinya, jika saja orang lain melihatnya pasti tidak akan percaya jika pria itu si Dokter Killer? Sungguh tidak ada yang pernah melihatnya menangis, di mata orang lain Jan adalah sosok yang kejam, dingin dan tegas.
Namun siapa yang akan menduga? Jika hatinya begitu rapuh saat ini.
"Haaahhh, Sarah" Teriaknya sambil menangis
Jan menatap foto gadis yang sangat di cintainya itu, hatinya yang sangat perih membuatnya tidak berpikir jernih.
"Aku ingin bersama mu, Sarah" Lirihnya menuju balkon
Pria itu tanpa sadar menaiki tepi balkon, jika dirinya melangkah sedikit saja maka dengan cepat akan berpulang kerumah tuhan.
Dengan ketinggian yang lumayan jauh dari tanah, Jan berdiri tepat di tepi balkon.
"Aku tidak bisa hidup tanpa mu, Sarah" Ucap Jan dengan mata tertutup
Namun tiba-tiba terdapat cahaya putih dari belakang terdengar seruan bisikan.
~Jan, tidak semua hal selalu seperti yang kita inginkan~
~Terkadang rencana tidak selalu seperti yang kita harapkan, karena tuhan selalu bisa mengubahnya~
~Jika perasaan mu hancur? Kau tidak boleh terjebak di dalamnya~
~Jan, kau harus bisa bertahan~
Begitu banyak suara-suara yang terdengar dari bibir Sarah di telinga Jan.
Jan pun membuka matanya, lalu tiba-tiba sosok tangan menariknya hingga terjatuh.
GUBRAK
"Aduh, Bos" Pekik Alfat
Saat itu ternyata Jan jatuh menimpahi Alfat.
"Kau" Jan langsung berdiri
"Bos, kau berat sekali" Gerutu Alfat
"Siapa suruh kau menarik ku sampai jatuh?" Cibir Jan
"Ku pikir Bos ingin bunuh diri, siapa suruh berdiri di tepi balkon" Cibir Alfat sambil memegang bokongnya yang sakit
"Sembarangan! Aku sedang menikmati angin malam" Seru Jan lalu pergi meninggalkan Alfat sendiri
"Haih? Menikmati angin di tepi balkon?" Pekik Alfat melihat kebawah
"Dih, si Bos agak lain memang, menyeramkan" Alfat merinding
Pria muda itu pun menyusul Bosnya ke depan.
__ADS_1
Bersambung...