
Setengah jam yang lalu sebelum Jihan sadarkan diri...
"Bos" Panggil Alfat, selaku teman sekaligus pengawal setia Jan.
"Aku sudah mendapatkan pelakunya" Ucapnya yakin
Kemampuan Alfat dalam menggali informasi tidak di ragukan lagi, dengan banyaknya mata-mata dan jaringan yang dia miliki.
Dengan hitungan menit Alfat telah mendapatkan Ranti si pelaku tabrak lari, bahkan di saat kepolisian masih mencarinya, sungguh hebat kan si Alfat?
"Dimana dia?" Mata Jan memancarkan amarah
"Aku menaruhnya di markas, Bos"
"Tapi wanita itu masih tidak mau membuka mulut" Lanjut Alfat
"Aku yang akan membuatnya buka mulut atau jika dia tetap bungkam, kita lakukan cara kasar" Jan yang amarahnya sudah di ubun-ubun
Ketika marah Jan sangat sesuai dengan julukannya, Sang Dokter Killer.
Mereka langsung menuju lokasi markas, dimana tempat Jan dan anggotanya mengeksekusi musuhnya.
Di luar jabatannya sebagai dokter, Jan adalah sosok CEO yang di takuti dan di segani, siapapun yang berani mengkhianatinya akan berakhir mengenaskan.
...💦💦...
"Si. . siapa kalian?" Ranti yang ketakutan karena dirinya di culik paksa ke tempat yang tidak dia ketahui.
"Hei! Sepertinya wanita cantik sudah sadar" Goda salah seorang teman Jan, yang bernama Yusron.
Yusron yang di suruh mengawasi Ranti dengan setia menunggu di markas.
"Siapa kau? Kenapa kalian membawa ku kesini?" Tanya Ranti dengan tangan yang masih terikat
"Kau ingin tau siapa aku? Aku Psychopath, yang akan memakan mu hidup-hidup" Yusron menakuti sambil mengelus pisau yang ada di tangannya.
Gleg, Ranti yang melihatnya menelan salivanya sendiri merasa sangat takut.
"Hahaha" Yusron terbahak melihat raut wajah Ranti yang mulai pucat
"Tenang sayang, party kita belum di mulai dan akan lebih baik jika kau mengatakan yang sebenarnya" Bisik Yusron di telinga Ranti
"Siapa kau? Apa yang sebenarnya kalian inginkan?" Ranti mulai menangis merasa hidupnya akan tiada sebentar lagi
BRAAKK
Tak lama pintu di buka dengan kuat sehingga menimbulkan suara, Yusron tersenyum kecil mengetahui jika Bosnya sudah datang.
"Apa yang kami inginkan? Tanyakan pada si Bos, sayang" Ucap Yusron
Ranti pun bergedik ngerih, entah siapa Bos yang di maksud oleh lelaki itu? Pikirnya dan kenapa dia harus di culik?
Yusron berjalan menyambut kedatangan Bosnya.
"Welcome Bos" Yusron tersenyum
"Yusron, sudah disini?" Jan menatap Alfat
"Yusron yang membantu menangkap wanita itu, Bos" Alfat menjelaskan
"Humm, kerja bagus Ron" Jan menepuk bahu Yusron
"Terimakasih Bos! Aku sudah menggodanya dan sepertinya dia sangat takut, Bos" Yusron mengatakan yang terjadi selama dia menjaga Ranti.
Jan langsung berhadapan dengan Ranti dan menatapnya dengan kemarahan.
"Apa kau tau siapa wanita yang kau bunuh?" Tanya Jan sambil memakai sarung tangan putih
"Ke. . kenapa?"
Ranti tidak mengerti kenapa pria yang tidak dia kenal, sangat marah padanya hanya karena dia membunuh seorang Jihan gadis kumuh itu.
"Dia Sarah, KEKASIHKU" Jan menekan kalimat kekasihku
Ranti pun tercengang mendengar perkataan Jan, jika dirinya telah membunuh kekasihnya.
"Apa? Tidak mungkin" Ranti menggeleng
"Katakan! Kenapa kau mengincar nyawa Sarah?" Bentak Jan menahan emosi
__ADS_1
"Ti. . tidak aku tidak mengenal Sarah" Ranti masih menggeleng kepala
"Benarkah? Apa kau pikir aku akan mempercayai mu? Pembunuh!" Ucap Jan menatap marah
"Baiklah! Jika kau tidak bicara jujur, maka jangan salahkan aku jika kau akan merasakan sakit, kau mungkin akan memohon untuk mati" Ancam Jan menatap tajam
"Alfat!" Panggil Jan
Tanpa basa-basi Alfat menggeret Ranti dan menidurkannya ke atas meja panjang, lalu mengikat kaki dan tangan wanita itu agar tidak bisa bergerak.
"Ron, lakukanlah" Ucap Alfat mengangguk
"Dengan senang hati" Yusron dengan seringai jahat
Pria muda yang tak kalah tampan itu langsung mengambil alih Ranti,, Yusron membawa kotak isinya berupa tikus-tikus hitam yang berukuran lumayan besar.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Ranti panik melihat tikus-tikus besar itu
"Bayangkan saja! Bagaimana jika mereka menikmati tubuh mu yang wangi ini, mereka pasti akan menyukainya" Bisik Yusron terdengar menakutkan
"Hah? Jangan-jangan" Ranti menangis menggeleng kepalanya berulang kali
Namun usaha wanita itu hanya sia-sia saja, karena tubuhnya tidak bisa bergerak.
"Bagaimana Bos?" Yusron melirik Jan
"Lakukan dan jangan berhenti sampai dia bicara!" Titah Jan
Jan duduk santai sambil meminum kopi di temani oleh Alfat, menatap Ranti tajam menikmati eksekusi itu.
Yusron membuka baju bagian perut Ranti dan mengolesnya dengan minyak almond.
"Lepaskan aku" Rintihnya memohon
"Melepaskan mu?" Yusron menatap Ranti yang menangis
"Maaf sayang, jika aku melepaskan mu party hari ini tidak akan menyenangkan bukan? Jadi nikmatilah" Yusron tersenyum
Pria itu membuka kotak dan keluarlah satu demi satu tikus, yang mulai menuju perut Ranti karena menyium bau minyak almond.
"Aaahhhh" Ranti meringis kesakitan, tikus mulai menggigiti perutnya
Mereka justru menikmati setiap erangan yang keluar dari bibir Ranti, ya seperti yang sudah di katakan jika ingin selamat maka bicara dengan jujur.
Maka siksaan itu tidak akan berlangsung lama, hanya Ranti lah yang enggan untuk bicara jujur.
"Cukup, Hentikan! Aku akan mengatakannya" Setelah beberapa menit kemudian
"Aku mohon hentikan ini" Lanjut Ranti yang nafasnya sudah naik turun karena menahan sakit.
"Yusron" Jan menyuruh untuk menghentikan eksekusi itu
Yusron mengambil kembali tikus-tikus ke dalam kotak dan terlihat perut Ranti sudah terluka dan berdarah akibat gigitan tikus.
"Wah, sudah ku duga mereka sangat menyukai mu, sayang" Goda Yusron menatap perut Ranti
"Bajingan!" Umpat Ranti
"Hei! Jika kau bersikap lebih patuh, aku tidak akan menjadi bajingan dan menyakiti mu" Cibir Yusron memutar bola matanya malas
Alfat pun membuka ikatan kaki Ranti, lalu menyeretnya untuk duduk di hadapan Jan.
"Cepat katakan!" Alfat mendorong Ranti dengan kasar
Sementara Yusron hanya terkekeh menyaksikan introgasi di depannya.
"Aku sama sekali tidak mengenal Sarah yang kau katakan itu, aku bersumpah" Ranti mengangguk, sementara Jan hanya menatapnya
"Aku menabraknya karena aku mengira dia adalah Jihan, tapi aku sama sekali tidak tau jika dia bukan Jihan dan dia adalah kekasih mu" Jelas Ranti
"Yang aku tau dia mengenakan gaun milik Jihan" Lanjutnya menatap Jan
"Jihan? Jadi kau ingin mengatakan kau salah target? Cih" Jan terkekeh
"Yusron, bereskan dia! Dia sudah tidak berguna" Titah Jan murka
"Dengan senang hati, Bos" Mengangguk
Yusron tersenyum mematikan menatap Ranti, itu membuat Ranti takut.
__ADS_1
"Alfat, cepat kau cari wanita yang bernama Jihan dan bawa dia ke ruangan ku, juga kau cari tau siapa dia" Titah Jan
"Aku harus kembali ke RS, aku akan mengurus jenazah Sarah" Lirih Jan
"Baik, Bos"
Tidak membutuhkan waktu lama, Alfat menyerahkan informasi tentang Jihan yang ternyata saudara sepupu Sarah,, dan menculik Jihan ke RS.Hermina dimana Jan bekerja.
...💦💦...
Suasana di RS saat itu sedang berduka, keluarga Sarah sudah datang.
"Sarahhh" Teriak Nissa menangisi jasad putrinya
"Kenapa kamu tinggali Mama, Sarah hiks hiks" Nissa tak kuat menahan tangisnya
"Sarah, putriku" Lirihnya
"Sabar sayang" Toni berusaha menenangkan sang istri
Meskipun hati pria paruh baya itu sebenarnya ikut hancur melihat jasad putrinya yang sudah pucat dan tak bergerak.
"Dia akan menikah sebentar lagi, tapi kenapa ini harus terjadi? Apa dosa yang sudah ku lakukan, Tuhan kenapa kau mengambil putriku?" Lirih Toni dengan pelupuk mata yang berlinang
Toni terduduk dan menjambak rambutnya,, Raka yang melihat itu berusaha menghibur orang tua Sarah.
"Om Toni, yang tabah ya Om, kita semua juga sangat kehilangan Sarah" Ucap Raka yang memang sudah mengenal keluarga Sarah
"Sarah wanita yang baik Om, dia tidak sombong dan suka berbagi, semua orang menyayanginya" Raka menepuk bahu Toni
"Terimakasih, Nak Raka" Lirih Toni menghela nafas
"Sama-sama Om, kita pasti akan bantu untuk pemakaman Sarah, yang sabar Om" Raka menghela nafas, merasa kasihan dengan pria paruh baya ini
...💦💦...
Sementara di ruangannya Jan masih bersiteru dengan Jihan, karena Jan masih menganggap jika Jihan lah yang bersalah dan penyebab kematian Sarah.
"Kau menyebabkan Sarah ku tiada, kau sudah menghancurkan impian ku, kau wanita pembawa sial" Bentak Jan
Segala macam kata-kata buruk di lontarkan Jan kepada Jihan, dokter tampan itu begitu murka.
Terlihat Jihan yang air matanya mulai menetes dengan deras, betapa sakit hatinya mendengar hinaan dan tuduhan yang di katakan oleh Jan.
Aku bukan pembunuh, aku tidak tau apapun, kenapa aku? Apa salah ku ya allah . Jihan dalam hati bersedih
"Kau merusak segalanya, aku sangat membenci mu! WANITA PEMBUNUH" Jan berbisik menekan kata wanita pembunuh
"Cukup" Teriak Jihan tidak sanggup mendengar perkataan Jan
"Aku bukan pembunuh, aku tidak melukai siapapun" Jihan menangis terseduh
"Seharusnya aku menikahinya, tapi semua itu hancur gara-gara kau" Teriak Jan
Jihan pun terhenyak mendengar perkataan Jan, dan dia baru menyadari jika pria di hadapannya ini adalah Dokter Jan calon suami Sarah.
Terbesit rasa kasihan di hati Jihan menatap Jan, Jihan tau betul rasanya kehilangan orang yang sangat di sayangi,, karena orang tua Jihan meninggal saat Jihan masih duduk di bangku SMP.
Namun hal itu bukan sepenuhnya kesalahan Jihan, lalu mengapa Jan terus-menerus menyalahkan Jihan?
"Tuan maafkan aku, jika menurut mu aku penyebab kematian Sarah,, tapi aku tidak bersalah, aku bukan pembunuh, aku mohon lepaskan aku! Biarkan aku pergi, Tuan" Jihan memohon
"Izinkan aku melihat Sarah, Tuan aku menyayanginya" Jihan menangis
"Hentikan air mata palsu mu itu, aku tau kau tidak bersungguh-sungguh" Seru Jan dengan dingin
"Tapi ya kau harus melihatnya dan juga menggantikannya" Jan tersenyum kecil
Jihan mengerutkan dahinya tidak memahami kata-kata Jan.
"Akan ku pastikan kau tersiksa! Setiap saat setiap detik dan setiap nafas dalam hidup mu" Ucap Jan dengan kebencian mendalam
"Kau harus menderita! Dan pernikahan ini akan membuat mu menderita"
Jan pergi meninggalkan Jihan dengan amarah yang memburu.
Mendengar pernyataan Jan, Jihan langsung terduduk lemas di lantai,, kesalahan apa yang telah di perbuatnya hingga harus menerima hukuman seperti ini.
Sarah, apa yang harus ku lakukan? Jihan menangis hatinya sangat perih.
__ADS_1
Bersambung....