Pengantin Pengganti Dokter Killer

Pengantin Pengganti Dokter Killer
Menikahi Jihan?


__ADS_3

Setelah hatinya terasa lebih baik, Jihan datang kerumah keluarga Sarah.


Terlihat sudah banyak orang-orang datang untuk berbela sungkawa, Jihan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah yang terbilang mewah itu.


Di ruangan tamu Nissa masih menangisi jasad putrinya yang sudah terbaring kaku tertutup kain putih.


"Tante Nissa" Lirih Jihan pelan


"Jihan" Seru Nissa, dan juga Toni bersamaan yang juga ada menemani istrinya


"Hiks hiks" Jihan langsung menangis


"Om! Tante!" Jihan berlari memeluk Toni dan Nissa


"Maafkan aku, aku memang pembawa sial di keluarga ini" Ucap Jihan terisak


"Seharusnya aku melarang Sarah agar tidak pergi" Lanjutnya sambil menangis tersedu


"Ini salahku, Om! Tante!" Lirih Jihan


"Tidak sayang, ini bukan kesalahan mu" Nissa menggeleng kepala


"Meski kita menginginkan Sarah kembali, namun jika tuhan berkehendak lain kita tidak bisa berkata apapun" Ucap Nissa mengusap air mata Jihan


"Yang Tante Nissa katakan itu benar, Jihan! Kita tidak bisa menyalahkan takdir, nak" Toni mengangguk


"Tapi. . ." Jihan masih merasa bersalah


"Sssttt! Jihan, tinggal lah bersama kita dan temani Tante Nissa ya?" Pinta Toni


"Om tidak ingin, Tante Nissa kesepian, Jihan!" Lanjutnya


Sementara Nissa kembali meratapi kepergian Sarah dan memeluk jasad putrinya.


Jihan yang tadinya ragu, namun saat melihat Nissa yang begitu sedih, hatinya tidak tega dan ingin menghibur wanita yang dia anggap seperti ibu kandungya itu.

__ADS_1


"Baiklah Om" Jihan mengangguk


"Jihan, pergilah ke kamar Sarah dan bersihkan dirimu, kita akan memakamkan Sarah" Toni menepuk bahu Jihan


Jihan pun mengangguk dan pergi ke belakang untuk merapikan dirinya, namun saat berbalik Jan sudah berdiri di belakangnya sehingga netra keduanya bertemu.


Jihan sedikit terkejut dan langsung menunduk, takut jika melihat mata Jan berlama-lama,, suara teriakan Jan yang mengatakan dirinya sebagai pembunuh masih terdengar jelas di telinga Jihan.


"Maaf Tuan! Permisi" Jihan hendak melewati Jan


Namun Jan menahan tangan Jihan.


"Ternyata kau memiliki keberanian untuk datang? Ingat, kau harus membayar harga yang mahal atas kematian calon istriku!" Bisik Jan tepat di telinga Jihan


Jihan termenung mendengar perkataan Jan, sementara Jan sudah pergi untuk melihat Sarah terakhir kali.


Jihan berbalik menatap Jan yang kini menangisi kepergian Sarah, sungguh Jihan menyesal di dalam hatinya, kenapa dia tidak bisa mencegah Sarah untuk pergi? Pikirnya mulai menangis lagi.


Mungkin kau benar, aku memang pembawa sial. Batin Jihan


Wanita itu berlari ke kamar Sarah, terduduk di depan pintu dan menangis.


Di pandangnya foto Sarah dan di peluk erat di dalam dekapannya, sungguh Jihan sangat menyayangi gadis itu.


Bagi Jihan, Sarah sudah seperti adik kandungnya sendiri dan kerap berbagi suka dan duka bersama, namun sepertinya saat ini kepergian Sarah membawa derita bagi Jihan.


...💦💦...


Pemakaman selesai, semua orang ikut mendoakan dan satu persatu orang pergi, hanya tersisa keluarga yang di tinggalkan.


Nissa masih memeluk papan nisan putrinya itu, berat rasanya untuk meninggalkan.


Begitu juga dengan Jan, yang masih belum bisa menerima kepergian Sarah.


"Bos, kita turut berduka cita" Ucap Alfat yang turut hadir menemaninya

__ADS_1


"Yang kuat Bos, ikhlaskan kepergiannya" Yusron menepuk bahu Jan, yang juga ikut memakamkan Sarah


Sementara Jan hanya terdiam menatap makam Sarah yang masih basah.


"Kalian pergilah! Tinggalkan aku sendiri" Lirih Jan


Alfat dan Yusron pun menghela nafas dan pergi dari pemakaman, sementara Nissa dan Toni masih di temani oleh Jihan.


"Sayang, sudahlah ayo kita pulang" Ajak Toni kepada istrinya


"Aku masih ingin bersama Sarah" Nissa masih saja menangis


"Sarah sudah bahagia di surga, Sayang! Dan dia pasti tidak ingin melihat mu bersedih seperti ini" Bujuk Toni agar istrinya tenang


"Toni, bagaimana dengan pernikahannya? Hiks hiks" Nissa menangis di dada bidang suaminya


Saat itu Toni melihat Jan yang masih setia di samping nisan Sarah, dan tak di pungkiri jika Jan pasti mendengar ucapan Nissa.


"Nak, Jan!" Lirih Toni


"Kami tau, mungkin ini berat untuk di terima, tapi pernikahan. . ." Belum sempat Toni menyelesaikan


"Aku akan menikahi Jihan! Pernikahan akan tetap terlaksana" Ucap Jan menyelah


Jan berdiri menatap Toni dan Nissa.


"Sarah pernah mengatakan, tidak ada wanita yang lebih baik dari Jihan" Ucap Jan menatap Jihan


Mendengar itu Jihan terkejut dan juga Toni begitu juga Nissa.


"Nak, apa keputusan sudah benar? Kau yakin?" Toni tidak ingin salah mengambil langkah


Sama seperti halnya Sarah, Toni juga menyayangi Jihan seperti anak mereka sendiri, karena itu Toni memikirkan perasaan Jihan.


"Tentu saja, karena Sarah menyukainya, aku akan menikahinya" Seru Jan tanpa ragu

__ADS_1


Aku tau, pernikahan yang kau ajukan hanya atas dasar kebencian mu yang mendalam padaku, Dokter Jan. Batin Jihan merasa sedih


Bersambung....


__ADS_2