Pengantin Untuk Tuan Taksa

Pengantin Untuk Tuan Taksa
Bertahan hidup


__ADS_3

Darma harus menelan pahit kehidupan. Tatkala kehidupan yang ia jalani ini menguji hatinya. Istri yang teramat dicintainya kini telah pergi menghadap pemilik kehidupan itu.


Di atas pusaran yang masih basah itu tangis pilunya pecah meratapi kepergian orang terkasihnya.


"Ayah, Bunda mana?" tanya seorang bocah perempuan yang memeluki boneka teddybear kesayangannya.


Darma menatap getir pada gadis kecil itu. Dengan daya tangkapnya yang sempit, ia sedang menyerbunya dengan kalimat pertanyaan sederhana namun sulit menjawabnya.


"Bunda lagi bobo, sayang. Sama Tuhan. Dia udah punya rumah baru sekarang. Ana sama Ayah di sini. Suatu hari kita akan temui Bunda di rumah barunya, ya?"


"Kok,kita nggak diajak Bunda,sih, Yah?"


"Belum waktunya,sayang. Tuhan bilang, untuk sekarang Bunda dulu katanya, nanti Ana sama Ayah belakangan."


Darma meninggalkan pelataran pemakaman umum kota. Dengan jeritan hati yang meratap, lelaki itu melangkah lemah setapak demi setapak.


Malam hari, ketika Ana kecil sudah terbaring dengan boneka di pelukannya, Darma beranjak keluar, meninggalkan gadis kecil itu dengan mimpi indahnya. Lelaki bertubuh gemuk itu berjalan menuju ruang keluarganya.


Sekali lagi tangis kehilangannya pecah. Ia merindukan istri tercintanya yang sudah tinggal nama. Para pezikir yang sudah mengirimkan doa terbaik mereka, kini sudah kembali ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Tinggalah Darma dengan keheningan suasana rumah yang pekat.


Matanya tertuju pada sebuah cairan pembasmi serangga, niat mengakhiri hidupmu menyeruak dalam pikirannya. Rasa tak bisa menahan kerinduan yang teramat, membuat mata batinnya khilaf. Hingga kini ia tanpa ragu meneguk cairan beracun itu.


"Sasmi, tunggu aku. Aku nggak kuat menahan kehilangan ini," lirihnya.


Pagi itu, kampung duren kembali digemparkan dengan teriakan Ana kecil.


"Ayah!"


Ambar yang merupakan tetangga Darma, segera berlari menuju sumber suara. Wanita berumur tiga puluh itu terbelalak ketika menemukan jasad Darma sudah tak bernyawa dengan mulut berbusa.


"Mas Darma!" teriaknya.


Hari itu juga Darma dimakamkan. Sementara Ambar yang memiliki anak laki-laki memutuskan untuk mengasuh Ana.


Ana yang kini menjadi yatim piatu, harus hidup menumpang bersama keluarga Ambar,seorang janda beranak satu.


Seiring waktu Ambar pun akhirnya menyusul Darma. Kini hanya Galih, satu-satunya kakak tiri yang dimiliki Ana.

__ADS_1


Bertahan hidup di tengah kota metropolitan tanpa kedua orang tua,tentulah hal tersulit bagi bocah berusia Lima belas tahun bersama adik angkatnya yang berumur sepuluh tahun.


"Mulai sekarang,kamu akan menjadi tanggung jawab aku, Ana. Kamu nggak boleh ngebantah, mesti nurut, ya?"


"Ya, Abang."


"Bagus. Sekarang kita pergi ngamen, supaya dapat makan."


Galih membawa Ana ke jalanan. Tentu untuk mencari receh agar mereka bisa mengisi perut. Berbekal alat musik seadanya dan suara yang lembut, kedua bocah itu melantunkan lagu-lagu yang mereka hafal.


Bang Jarot,salah seorang preman dan anggota geng mafia mulai mengajarkan Galih bagaimana caranya mencopet, menipu, dan masih banyak pekerjaan kriminal lainnya.


Ana memilih tetap bersekolah. Sementara Galih memilih bekerja dengan bang Jarot untuk membiayai Ana.


"Ini makanan kita hari ini,Dik," ucapnya menyerahkan dua nasi bungkus kepada Ana.


"Waah, bang Galih banyak dapat ngamen, ya, Bang?"


"Iya,alhamdulillah hari ini rejeki kakak,lagi banjir."

__ADS_1


"Asiiik!"


Tanpa Ana ketahui dari mana asal muasal makanan itu, gadis kecil polos itu menyantap lahap makanan yang dibawa oleh Galih


__ADS_2