
Ana yang masih terlihat bingung hanya berdiri layaknya penonton Toh bukan urusanku. Apapun yang mereka bicarakan apa peduliku. Yang terpenting aku bekerja dengan baik dan melakukan semua pekerjaanku saja. Pikirnya.
"Hei, kamu. Kemarilah!" pinta Rainer.
Dengan ragu, Ana berjalan mendekat ke sisi lelaki renta itu
"I-iya, Kek. Ada apa?"
Rainer meraih tangan gadis belia itu. Tak lama ia menatap dalam ke retina Ana.
"Apakah kau mau menjadi Nyonya Rainer? Menikahlah denganku."
Andriana membelalak lebar. Seperti mendapat sebuah hantaman keras. Ia langsung mematung dan tak berkedip atau pun bersuara.
Taksa dan Rainer mengulum senyum. Namun melihat reaksi Ana yang percaya begitu saja. Tak bisa menahan lebih lama lagi, keduanya tergelak hebat. Bahkan suara tawa mereka menggelegar memenuhi isi ruangan.
Ana yang tadinya mematung, perlahan mencair melihat reaksi kedua lelaki di hadapannya itu.
"Tuan? Tuan Besar?"
__ADS_1
"Kamu ini, begitu saja percaya. Saya hanya bercanda."
Hahaha! Sekali lagi suara tawa lepas terdengar dari Taksa dan Kakeknya.
Sesaat Ana melirik wajah bahagia Taksa. Terpesona, itulah yang tersentik pada hati gadis belia itu. Ternyata Tuan Taksa tampan sekali kalau sedang tertawa. Duh, kenapa hatiku berdegup tidak karuan, apa aku terkena penyakit jantung, gawat! Mana aku tidak punya uang untuk berobat lagi. Sekali lagi Ana membatin.
Setelah lama bercanda gurau bersama sang Kakek. Ana dan Taksa berpamitan untuk meninggalkan lelaki tua itu di kamarnya. Di samping seorang pelayan yang sudah datang membawa makan siangnya.
Menuju sebuah lorong sudut kamar,Taksa merengut heran melirik kepada Ana yang masih menempelkan tangan di dadanya.
"Kamu kenapa,Ana?" tanyanya menoleh.
"T-Tuan Taksa, apakah saya mengidap penyakit jantung?"
Tepat saat keduanya sudah di depan kamar Taksa, baik Ana maupun Taksa berhenti dan saling melempar tatapan cemas.
"Kamu jangan ngigau,Ana," ujarnya.
"Entahlah,Tuan."
__ADS_1
"Memangnya apa yang kamu rasakan? pandanganku nggak goyang, kan? tengkuk mu nggak berat, kan?"
Taksa menyentuh sisi tubuh Ana yang ditanyakan tadi. Sontak gadis itu meraih tangan Taksa dan meletakkannya di dada.
Jelas saja,Taksa akan terperanjat. Terang saja, dia menyentuh area berbahaya pada seorang gadis. Namun untungnya,si lugu Ana, tidak memahami apa yang dia lakukan.
"K-kamu, ngapain, sih, An?"
"Loh,kok, sekarang Tuan yang gagap? Tuan kena serangan jantung juga?" tanyanya yang tidak mengerti arah pembicaraan Taksa.
Gadis tujuh belas tahun tanpa pernah merasakan perasaan cinta dengan lelaki berusia tiga puluh tahun, yang memiliki pengalaman segunung dalam hal percintaan. Membuat suasana pemahaman kedua generasi beda usia itu tak sejalan.
"Ini,loh, Tuan. Entah kenapa sejak tadi jantung saya debarannya kenceeeeng banget!"
Ana semakin menekan tangan Taksa di dadanya. Semakin terasa berbeda sentuhan Taksa. Jakut lelaki itu turun naik, menghadapi situasi tak seimbang itu.
"Oh, e, itu, kamu sebaiknya istirahat. Ini kamar saya. Kamu akan tidur di sini selama saya tidak ada. Dan tolong jaga Kakek saya selama saya pergi."
Taksa mengalihkan percakapan. Lelaki berjas hitam itu menarik tangannya dan menunjukkan kamar tempat Ana harus berada.
__ADS_1
Sangat jarang bagi seorang Taksa,ketua mafia, membiarkan orang lain memasuki kamar tidurnya. Tentu ini adalah perlakuan istimewa bagi Ana.
Kenapa? Entahlah, dia begitu mempercayakan apa yang tidak pernah ia percayakan kepada orang lain. kecuali Sandi,asisten pribadinya.