Pengantin Untuk Tuan Taksa

Pengantin Untuk Tuan Taksa
Kesepakatan antara Taksa dan Ana


__ADS_3

Malam itu,Taksa benar-benar mengizinkan Ana menginap di hotelnya. Subuh ini lelaki itu terlihat keluar dari kamar mandi dengan jubah handuknya. Sementara Ana masih terbungkus dalam selimutnya di sofa.


"Hm, dasar pemalas!" gerutunya. Lelaki itu berjalan lalu lalang di depan Ana yang terlelap. Tepat saat Taksa sudah selesai dengan penampilan terbaiknya. Jas hitam berpadu kemeja putih dengan dasi yang disenadakan dengan warna celana hitamnya, Taksa berjalan menuju sudut meja dekat jendela kamarnya.


Ana yang sudah terbangun menganga melihat pesona Taksa di hadapannya itu.


"Kamu kenapa? mulutmu menganga gitu?"


"Whoa, maaf, Tuan. Tapi saya sedang mengagumi ketampanan Tuan. Whoa para wanita di luar sana pasti tergila-gila pada anda,Tuan."


"Tapi buktinya sampai detik ini tidak ada yang mau jadi pacar saya."


"Ah,saya tidak percaya, Tuan. Masak iya, orang setampan dan se-keren ini tidak punya pacar. Tuan saja mungkin yang pemilih."


Ana menutup mulutnya. Ia terkesiap dan takut jika kata-katanya menyinggung perasaan Tuan penyelamatnya.


"Sini,ikutlah sarapan, setelah itu kamu mandi,saya akan meminta pelayan untuk menyiapkan pakaian wanita."


Suara yang terdengar hangat di telinga Ana. Untuk pertama kali,pria asing ini memberinya sebuah kenyamanan, meskipun ia tidak mengetahui watak asli lelaki itu.

__ADS_1


Tapi setidaknya dengan membiarkan ia menginap di hotel dan tidak berbuat apa-apa kepadanya,setidaknya cukup memberi kesan pada Ana jika lelaki asing ini adalah lelaki yang baik.


Selesai menghabiskan makanannya,Ana berlari ke kamar mandi dan membersihkan diri seperti permintaan Taksa kepadanya.


Benar, begitu Ana sudah berada di kamar mandi,Taksa segera meminta Alley untuk segera menyiapkan beberapa pakaian wanita.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi wanita itu untuk membeli satu stel pakaian wanita.


"Ini,Tuan pesanan anda." ucapnya membungkuk hormat kepada Taksa.


Setelah itu,lelaki itu menunggu dengan setia di pinggir jendela bertopang kaki. Ia menenggelamkan diri pada bacaan paginya. Begitu santai dan menikmati.


"Tuan,saya lupa handuk saya!"


"Ada di lemari kamar mandi,bukalah!" jawab Taksa kembali pada bacaan koran paginya.


Beberapa menit,Ana kembali dengan penampilan sempurnanya. Mata Taksa menyisir tubuh gadis itu. Dalam hati ia begitu mengagumi kecantikan yang terpancar dari aura paginya.


"Cantik juga, Bahkan Selena kalah dari gadis ini. Hm, tidak buruk." gerutu Taksa dalam hati.

__ADS_1


"Tuan, saya sudah siap."


"Baiklah, duduklah,"titah Taksa.


"Siapa nama kamu?"


"Nama saya Andriana, Tuan. Tuan bisa memanggil saya Ana. Kalau nama Tuan siapa? Supaya saya bisa menjawab kalau ada yang menanyakan tentang majikan saya."


"Panggil saja saya Tuan Taksa. Tapi jika ada yang menanyakanmu kamu siapa saya, jawab saja kamu pelayan saya. Dan sekarang kamu akan membantu saya menjaga seseorang untuk saya."


"Baik,Tuan. Asalkan Tuan jangan memulangkan saya,saya tidak mau dijual oleh kakak saya."


"Iya."


Hari itu Taksa membawa Ana ke Villa pribadinya. Villa yang terletak sangat jauh dari pinggiran kota. Bahkan Ana pun tak menghafal sudah berapa jalur yang ia lalui sejak berjam-jam lalu.


Namun saat ini hal itu tidaklah penting. Yang terpenting sekarang ia sudah selamat dari Galih, sang kakak yang hampir menjualnya pada mafia.


Tiba di sebuah gerbang besar menjulang tinggi, mulut Ana tak berhenti menganga, mengagumi mahakarya indah yang luar biasa itu.

__ADS_1


"Nih,orang yang bikin rumah pasti superpintar." Pujinya. Taksa hanya terkekeh menertawakan keudikan gadis di sampingnya itu.


__ADS_2