
Tepat saat Taksa menuntun Ana memasuki lantai Vila berornamen kayu itu, Mata gadis belia tersebut tak berhenti mengedar. Bahkan setiap sisi dari sudut ruangan itu tertangkap oleh indera penglihatannya.
"Whoa,Tuan Taksa. Villa se-gede ini, siapa yang tempati? Masak isinya pelayan semua?"
"Kamu jangan celak-celik gitu, kalau jalan lihat depan, nanti kalau kamu nabrak dinding atau tiang,kan, sakit."
Taksa menghentikan langkahnya. Ia sudah tidak tahan dengan ke-udik-kan yang dipertontonkan Ana kepadanya. Dipegangnya kedua pipi gadis itu lalu memutarnya agar fokus menatap ke depan.
Aksi Taksa sudah pasti membuat Ana terkesiap. Namun apa dayanya,ini memang kesalahan Ana yang terlalu kampungan.
Tidak berlangsung lama,keduanya melanjutkan lagi langkah mereka. Tepat pada ujung lorong kamar utama, seorang perawat wanita membungkuk hormat kepada Taksa, ketika lelaki berwajah datar itu memasuki kamar berpintu besar dan tinggi.
Kali ini,Ana hanya diam berdiri di sisi belakang Taksa. Ada pemandangan berbeda dalam ruangan itu. Seorang dokter berusia lima puluh tahun sedang duduk di tepi ranjang berkelambu indah, baru saja selesai melakukan pemeriksaan kepada pasiennya.
Pasiennya tak lain adalah Kakek Taksa. Lelaki berusia tujuh puluh satu tahun itu terbaring lemah di ranjang megahnya.
Zira kepala pelayan berwajah sangar, datang mengekori Taksa dan melaporkan perkembangan Kakeknya beberapa hari terakhir ini.
"Tuan besar sangat susah untuk makan,Tuan. Dia selalu mengatakan jika dia tidak mau makan sebelum anda datang."
__ADS_1
Bukannya menjawabi Zira, Taksa berjalan maju ke sisi ranjang dan berkomunikasi dengan dokter keluarganya,
"Bagaimana keadaan Kakek saya,Dok?"
"Oh, nak Taksa. Kakek mu baik-baik saja, tensinya normal, detak jantung juga, baik. Hanya saja, dia terlihat lemah. Pelayan bilang kalau Kakek mu mogok makan, jadi, yeah, begini hasilnya."
Taksa masih tak bersuara. Tatapannya sayu pada tubuh renta yang terbaring di atas ranjang. Tak lama sebuah helaan napas terdengar dari mulut lelaki itu.
Ia pun beringsut duduk,dan menyentuh punggung tangan Kakeknya.
Merasakan keberadaan sang Cucu,membuat lelaki tua itu membuka matanya.
"Iya,Kek. Ini aku, Taksa."
"Kamu sama siapa kemari? Selena,ya? Mana? Kenalkan ke Kakek. Kakek juga mau melihat cucu menantu Kakek."
"Ya,Kek. Nanti Taksa kenalkan. Sekarang Kakek makan dulu, ya?"
"Tidak mau. Kakek mau bertemu dengan cucu menantu Kakek."
__ADS_1
Terdengar hempasan napas kesal dari mulut Taksa. Ke-keras kepala-an sang Kakek cukup membuat emosi lelaki yang tidak mengenal kata 'sabar' itu mulai tidak merasa tidak nyaman.
Ditatapnya Ana lalu mengendikkan dagunya, meminta gadis itu untuk mendekat.
"Kakek,perkenalkan ini, Ana."
"Salam kenal, Kek. Nama saya Andriana, Kakek bisa memanggil saya, Ana."
Mata Rainer terlihat datar tatkala gadis belia itu memperkenalkan diri. Ada rasa tak suka terpancar dari makna tatapannya.
"Berapa usia kamu?" satu kalimat pertanyaan yang aneh dari lelaki tersebut, cukup membuat rasa tidak nyaman pada Taksa dan Ana.
"S-saya berumur tujuh belas tahun, Kek," jawab Ana terbata-bata.
"Hei Taksa, apa kamu tidak bisa memilih perempuan? Masak kamu suka sama anak ABG, sih? Nggak cocok!"
Taksa hanya menunduk,bukan karena kecewa atau sedih namun sedang tertawa geli mendengar ucapan sang Kakek. Ana yang masih tidak memahami bentuk interaksi antara cucu dan Kakeknya itu hanya merengut heran menjadi penonton di tengah mereka.
"Bukankah Kakek bilang, kalau yang beginian lebih asik,Kek. Nenek juga dulu lebih muda dari Kakek, kan, waktu nikah."
__ADS_1
Hahahahahaha, suara gelak tawa yang lepas begitu saja dari kedua lelaki beda generasi itu. Suasana aneh itu semakin membuat hati Ana bertanya-tanya,apa yang lucu dari perkenalan ini?