
Waktu terus berputar. Membawa anak manusia pada setiap kenangan demi kenangan. Menjemput mimpi untuk menjadi nyata.
Galih tumbuh menjadi lelaki dewasa yang tampan. Namun kekerasan dunia kriminal telah membentuknya menjadi sosok yang nakal dan liar. Membunuh, berjudi, dan memeras sudah merupakan dunianya.
Hal berbeda dengan Andriana. Gadis itu di usianya yang ke tujuh belas sudah menyelesaikan pendidikan SMA-nya.
Kini ia bekerja di sebuah perusahaan ternama sebagai OB.
Hari ini, nasib sial menyapa Galih. Ia kalah di meja judi. Semua uangnya habis tandas. Ia tentu tidak mau nyawanya melayang di tangan geng Naga hitam.
"Hahaha,apa lagi taruhanmu pecundang?!" suara Derwis, pemilik rumah bordir dan judi terkenal.
"Eh ... eh ..." Galih menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
Darwis mengangkat tangannya meminta dua algojonya untuk segera memberi Galih pelajaran.
"Eits ... Et ...tunggu dul ... tunggu dulu. Bos Darwis, saya masih punya satu taruhan. Dan saya jamin bos akan menyukainya."
"Apa itu?!"
"S-saya masih punya seorang adik,masih virgine, bos. umurnya juga masih belia, boleh, tuh, buat yang sempit-sempit."
Astaga! Galih sudah tidak waras, ia malah menjajankan adiknya? Lalu buat apa dia bekerja selama ini hanya untuk memenuhi pendidikan gadis kecil itu.
Pagi itu,tidak seperti biasanya. Sikap Galih kepada Ana tidak sehangat beberapa waktu lalu. Acuh dan tidak suka. Setiap pertanyaan dan ucapan Ana hampir tak digubris oleh Galih.
__ADS_1
"Abang kenapa, sih? Salah Ana apa? kok, dicuekin gitu?"
"Abang capek! Abang bosen! Hidup kita begini- begini terus. Kamu juga kerja nggak ada perubahan. Abang pengen berubah."
"Abang ngelantur, deh. Abang kalah judi lagi, ya?"
Galih membatu, ketika tebakan adik angkatnya itu benar seribu persen. Ana berkacak pinggang. Tatapannya sudah tidak senyaman semenit yang lalu.
"Kali ini taruhannya apa,Bang?"
"Kamu."
"Hah? Ana? Kok, Ana, sih? Abang jahat!"
"Please, Ana. Kamu mau, ya? Masak kamu tega lihat mereka memutilasi Abang," melasnya.
"Abang tega! Kenapa Ana dijadikan bahan taruhan meja judi. Ana bakal jual diri gitu di depan mereka?! nggak mau!"
"Harus mau!"
"Nggak!"
"Ana!"
"Nggak mau!"
__ADS_1
"Baik, kalau gitu, Abang terpaksa menggunakan kekerasan!"
Galih pun mulai menyeret tubuh Andriana. Gadis lemah itu seketika meronta, berusaha melepaskan tangannya. Namun sayang, kekuatan Galih jauh lebih kuat dari pada tenaganya.
Tidak ingin menghadapi Ana seorangan, Galih menelpon teman sejawatnya. dan meminta Dodo membantunya membawa Ana ke bos Darwis di salah satu hotel berbintang.
Menapaki lantai bermarmer indah itu, Ana tak berhenti meronta dan mengamuk. Ia bahkan sudah tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang menonton sikap anarkisnya itu.
Sekuat tenaga Ana berusaha melepaskan diri. Namun tangan Galih dan Dodo cukup kuat untuk menahan tubuh mungilnya itu.
"Lepasin Ana,Bang! Lepasin! Lepas!"
"Udah,kamu diem! teriak lagi, Abang bunuh kamu!" hardiknya.
"Abang kenapa tega jual Ana, Ana ini adikmu, Bang."
"Cih, adik? kamu cuma anak pungut, yatim piatu yang diasuh oleh ibuku. Jadi kita bukan siapa-siapa."
"Tapi setidaknya abang kasihan sama Ana. Cuma abang satu-satunya keluarga yang Ana punya."
"Tapi satu-satunya yang menjadi keluarga Abang adalah Duit. Duit, Ana!"
Galih terus menyeret tubuh layu Ana. Hingga pada lantai paling atas, gadis itu berhasil melepaskan diri. Dengan menggigit tangan Galih dan Dodo,Ana berhasil melepaskan diri.
Galih dan Dodo pun segera berlari mengejar. Namun karena tubuhnya yang kecil dan ringan, sangat mudah bagi Ana untuk menjauh cepat dari kejaran dua lelaki itu
__ADS_1