
Malam ini, Taksa sedikit terasa lelah. Sekembali dari pekerjaan membunuhnya, ia menyempatkan diri berkunjung pada salah satu hotel mewah milik bisnis keluarganya.
guyuran air shower memberikan kesan kesegaran dan kenyamanan setelah beradu otot dan otak dengan para musuhnya.
Suara deras air membuat Taksa tak mendengar suara pintu kamar presiden suite terbuka kasar.
Lampu masih terlihat remang. Taksa mengenakan handuk menutupi sebagian tubuh memukaunya.
Tepat saat kakinya melangkah keluar dari kamar mandi, tiba-tiba sebuah tangan kecil dengan napas yang terengah-engah menghampirinya.
"Siapa kamu?! Siapa yang mengirimmu?!" kalimat pertama yang keluar ketika kedua tangan kekarnya berhasil mengekang tubuh Ana.
"Tuan, Tuan, tolong selamatkan saya. Kakak saya ingin menjual saya pada bos Darwis."
Hati Taksa terkesiap mendengar suara merdu dari gadis yang berada dalam kungkungannya itu. Ia tahu jika gadis itu berkata jujur. Apalagi bias cahaya lampu balkon berhasil menyorot wajah cantik Andriana. Membuat iris mata Taksa menangkap wajah ayu Andriana.
Di luar suara keributan mulai terdengar. Deru napas Ana semakin memburu tatkala telinganya menangkap suara Galih dan Dodo di luar.
__ADS_1
Melihat eskpresi Ana, Taksa dapat menjawab jika gadis tersebut sedang ketakutan pada pemilik suara dari luar itu.
Ide gila pun mulai bermunculan. Diciumnya bibir Ana. Sontak gadis itu menggeliat berusaha menolak, namun Taksa semakin meliar menciumi bibirnya. Tanpa aba-aba atau basa basi.
Sengaja? Iya, Taksa sengaja melakukannya. Karena ia ingin membuat kesan seolah dalam ruangan itu sedang berlangsung sebuah percintaan.
Galih dan Dodo saling melempar tatapan begitu mendengar suara jeritan ciuman seorang wanita dari balik pintu kamar presiden suite.
Mereka pun segera pergi menjauh. Dan tak kembali lagi. Memastikan tak ada suara keributan lagi. Taksa menghentikan ciumannya.
"Dasar lelaki mesum!" umpat Ana mengusap bibir merah mudanya.
Lelaki itu segera menuju lemari pakaiannya.
"Mereka sudah pergi.Pulanglah!" ketusnya,dingin.
Taksa mengenakan jubah tidurnya. Sontak Ana menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia tentu tak mau menodai pandangannya yang masih murni Oh Ya Tuhan, apa dia ingin menodai mata suciku, tubuhmu terlalu seksi tuan batinnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih di sana? Pulanglah, aku mau tidur," pekiknya.
Taksa mengatur posisi tidurnya dengan terlentang di atas kasur.
Sedang Ana masih mematung di tempat semula. Taksa yang hendak merebahkan tubuh lelahnya,terkejut melihat gadis yang diusir masih tak bergeming.
"Kamu kenapa masih di sana? Pergilah! berandal itu sudah pergi!" ketusnya.
Ana langsung berjalan mendekati bibir ranjang Taksa. Gadis itu berlutut dan menakup kedua telapak tangannya. Tentu saja hal ini membuat Taksa terperanjat.
Dia memang sering melihat musuh-musuhnya mengemis untuk hidup mereka. Tapi belum pernah melihat seorang gadis belia bertekuk lutut memohon untuk kehidupannya.
"Tuan, Tuan, saya mohon. Biarkan saya ikut dengan Tuan. Saya tidak berani pulang. Kakak saya akan menjual saya lagi. Saya tidak mau masa depan saya hancur. Saya mohon Tuan selamatkan saya. Saya akan ikut Tuan kemana pun, asal jangan suruh saya pulang."
Taksa berpindah mendudukkan tubuhnya. Pikirannya kacau mendengar rengekan Ana yang terdengar Polos. Benar saja, gadis itu sama sekali tidak tahu jika ia sedang mengemis kehidupan pada malaikat maut berparas manusia itu.
"Apa kau tidak tahu,dunia ini kejam, gadis kecil. Akan sangat berbahaya jika kau ikut denganku."
__ADS_1
"Karena itulah,Tuan. Aku mempercayakan hidupku padamu. Jadikan aku apa saja,asal aku bersamamu. Pembantu boleh, pelayan kebunmu pun boleh. Atau ... apa saja, asal jangan suruh aku pulang."
Taksa menghela napas dalam. Ia mengusap dagunya, berpikir keputusan apa yang akan diberikan kepada gadis kecil ini.