Penghuni Kamar Nomor 7

Penghuni Kamar Nomor 7
Part 2


__ADS_3

Setelah berpamitan, kami arahkan kaki dan koper kami keluar rumah dari rumah Tante Dita dengan perasaan cukup sedih. Ini dikarenakan, kami teringat dengan treatment Tante Dita kepada kami yang begitu luar biasa baiknya.


Kalau pun aku sukses nanti, aku pasti tidak akan pernah melupakan jasa Tante Dita kepadaku.


Tepat pukul tiga sore kami meluncur ke tempat kosan baru dengan menggunakan taksi. Tiba di Jalan Raya X, kami akhirnya turun. Masalahnya, jalan menuju kosan tak bisa dilalui kendaraan roda 4.


Kami pun akhirnya menyusuri jalan gang itu menuju ke kosan baru kami. Jaraknya tak begitu jauh dari jalan raya. Palingan sekitar 80 meteran saja. Untuk sekedar informasi, bangunan kos yang akan kami huni memang terlihat sudah lama atau tua.


Namun, kami memilih tempat kosan ini karena cocok untuk kami. Selain harganya murah, suasana yang hening, serta kebersihannya terjaga.


Trek... Trek... Trek...


"Assalamu'alaikum" kata Santi sambil mengetuk-ketuk pagar pintu besi bercat hijau dengan gembok yang menggantung di slot kunciannya.


"Wa'alaikumsalam" jawab seorang ibu-ibu yang baru saja keluar dari bangunan kos dan berjalan sedikit terhuyung-huyung sambil menghampiri kami.


"Iya neng, ada yang bisa ibu bantu?"


"Kami mau mengekos di sini. Kemarin sudah bilang sama Bu Linda" kataku.


"Ini teh Neng Santi sama Neng Mira?" kata ibu-ibu itu sambil mencoba membuka kunci gembok gerbang.


"Iya bu, kok ibu tau nama kami?" jawabku.


"Mari masuk. Bu Linda kemarin sudah bilang sama bibi. Perkenalkan, nama bibi Asih. Bibi yang setiap hari bersih-bersih di sini" katanya. Kami pun mengangguk sambil melemparkan senyum.


Bi Asih kemudian membawa kami ke ruang utama bangunan kos. Ia kemudian mempersilahkan kami untuk duduk dikursi tamu. Bi Asih kemudian meminta izin untuk ke dapur dulu.

__ADS_1


"Tunggu ya neng, bibi ke dapur dulu. Silahkan duduk dulu" katanya. "Baik bi" jawabku.


Seketika bibi langsung berbalik arah ke arah dapur. Aku pun membuka obrolan kepada Santi tentang antusiasmeku bisa mengekos di tempat ini.


"Enak ya Ti, rumahnya nyaman. Sepi dan gak berisik"


"Iya Mir. Sejuk juga hawanya di sini gak beda jauh sama bogor" kata Santi tertawa.


Tak begitu lama, Bi Asih kemudian kembali dengan dua gelas teh tawar di kedua tangannya.


"Ini neng, minum dulu"


"Terima kasih bi. Gak usah repot-repot padahal" jawab Santi.


"Enggak. Cuma air aja kok. Neng Santi sama Neng Mira asalnya dari mana kalau boleh tau?"


"Dari Bogor bi. Kalo Bi Asih?" tanyaku.


...---oOo---...


Setelah berbasa-basi, kami akhirnya izin kepada Bi Asih untuk masuk ke dalam kamar. Sebelum langkah kami mencapai anak tangga, Bi Asih memberitahu kami untuk tidak sesering mungkin keluar malam. Karena di Bandung sedang ramai tindak kejahatan jalanan.


"Iya Bi. Kami juga tidak suka keluar malam kok" kataku.


Bangunan kos yang kami tempati ini memang sebuah rumah cukup besar. Dirumah ini, terdapat 10 kamar kos. 4 kamar berada di lantai satu dan sisanya berada di lantai dua.


Setiap kamar kos sudah dilengkapi dengan kasur, lemari, dan meja belajar. Istimewanya lagi, kamar mandi juga sudah ada didalam. Cukup murah dengan kisaran harga 500 ribu per bulan.

__ADS_1


Kamar aku dan Santi saling berhadapan. Kami pun langsung membereskan barang-barang kami setelah memasuki kamar.


"Bersyukur aku teh bisa dapat kosan seperti ini Ti. Nyaman, murah, lengkap pisan pula"


"Jangan teriak-teriak atuh Mir. Enggak enak sama tetangga kamar sebelah" kata Santi mengingatkan.


"Maaf atuh. Kalau aku ngomongnya pelan, mana mungkin kedengeran sama kamu" ucapku sambil menghampiri Santi di kamarnya.


Didalam kamarnya, Santi ternyata sedang memperhatikan banyak tulisan di dinding kamar menggunakan pulpen. Ia membaca satu per satu tulisan tangan itu.


"Sini deh baca, Mir. Ini tulisannya curhatan semua. Kayaknya dulu penghuni kos disini pernah patah hati" kata Santi sambil tertawa.


"Beruntung yah, kita gak pernah jatuh cinta. Jadi gak tau rasanya patah hati tuh kayak gimana" jawabku ikut tertawa.


"Iya Mir. Bisa gak ya minta di cat ulang? Kesannya kan jadi kotor gitu"


"Coba nanti bilang ke Bi Asih"


Aku dan Santi pun mempercepat kegiatan beres-beres kamar. Karena, sebentar lagi hari sudah mulai gelap. Ditambah lagi kami juga harus mencari makanan untuk makan malam, karena perut kami sudah keroncongan.


Azan Maghrib berkumandang. Kebetulan aku dan Santi sudah selesai membereskan kamar. Kami pun mandi untuk bisa segera menunaikan salat. Baru saja mau memakai baju, Santi sudah mengetuk pintu kamarku.


"Mir... Mir... Udah selesai belum?"


"Udah, kenapa?" tanyaku sambil membukakan pintu untuk Santi.


"Katanya mau ngajak buat Sholat bareng. Aku tunggu dikamar ya"

__ADS_1


"Iya bentar, aku ambil mukena dulu"


Aku heran dengan ajakan Santi. Padahal aku tidak pernah merasa bilang kalau akan mengajak Santi untuk Sholat berjamaah. Apa mungkin aku lupa? Mungkin saja.


__ADS_2