
Sorry kalo logat Sunda nya ga jelas. Soalnya author bukan orang Sunda.
...---oOo---...
Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba kami mendengar suara pintu gerbang terbuka. Kami pikir bahwa itu adalah Bi Asih. Namun, tak lama pintu depan juga ikut diketuk.
"Bi.. Bi Asih... Bukain pintu dong" terdengar suara perempuan memanggil Bi Asih.
Aku dan Mira yang mendengar suara perempuan itu sedikit kebingungan.
"Jangan-jangan itu salah satu penghuni kos lainnya yang sudah selesai liburan dari kampung Mir"
"Aku lupa ngambil kunci pintunya Ti, pasti dia gak bisa buka kunci dari luar" kataku.
Aku dan Mira bergegas menuju ke lantai bawah untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka, aku dan Mira cukup kaget melihat wajah perempuan tadi. Wajahnya mirip dengan perempuan yang tadi sempat bertemu dengan kami berdua didalam rumah.
"Hai, kalian siapa? Mana Bi Asih?"
"S-saya Mira teh. Dan ini Santi, kami penghuni baru kosan ini" kataku yang masih sedikit syok.
__ADS_1
"Aku Siska. Salam kenal yah. Oiya, nanti kalau kunci pintu depan, kuncinya dicabut ya. Soalnya aku selalu pulang malem" kata dia sambil berjalan melewati kami untuk menuju ke kamarnya.
"Mir, kamar dia dilantai bawah. Yang dilantai atas tadi siapa?" tanya Santi kepadaku. Aku hanya menggelengkan kepala. "Teh Siska, tunggu sebentar" kataku berlari menuju ke kamarnya.
"Loh? Kalian kenapa? Kaya dikejar setan aja" kata Teh Siska.
"Itu teh, bisa temenin kita dilantai atas gak?" ucap Santi.
"Boleh, bentar ya. Aku ganti baju dulu" katanya.
Kami punya menunggu Teh Siska tepat didepan pintu kamarnya. Kami yang setengah ketakutan saling berpegangan tangan. Dan pandangan kami hanya mengarah pada satu titik, yaitu kamar Teh Siska.
"Kalau boleh tau, kalian dari mana?" tanya Teh Siska kepada kami sambil berjalan mengarah ke anak tangga.
"Kami dari bogor teh, kalau Teteh sendiri?"
"Aku mah dari Cililin tau?"
Kami yang tak tau daerah itu hanya menggelengkan kepala. Obrolan kami terhenti saat Santi membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Silakan masuk teh" ucap Santi.
"Kamu disini? Ini bekas kamar sahabatku dulu. Novi" kata Teh Siska.
"Emangnya Teh Novi kemana? Kok kamarnya dikosongin?" tanyaku.
"Panjang ceritanya. Kapan-kapan aku ceritain" ucapnya.
Kami pun akhirnya larut dalam obrolan hingga lupa waktu. Kami pun tadinya berusaha menceritakan kejadian janggal yang kami alami. Namun, kami kurang yakin. Khawatirnya, justru Teh Siska malah yang ketakutan. Akhirnya kejadian itu kami simpan berdua.
Jam menunjukkan pukul satu malam. Teh Siska yang kebetulan sudah mengantuk, pamit untuk kembali ke kamar. Ia harus bangun pagi untuk kembali bekerja. Teh Siska sendiri bekerja disalah satu hotel yang ada di daerah Setiabudi.
"Aku balik ke kamar dulu ya. Udah ngantuk nih. Besok lagi ngobrolnya. Semoga kalian betah" ucapnya.
"Iya teh, makasih udah mau nemenin" kataku.
Setelah Teh Siska kembali ke kamarnya, aku pun juga ikut kembali ke kamar. Aku mencoba menepis kejadian ganjil yang menimpa kami berdua dan akhirnya tidur pulas. Aku sendiri tak mau mengingat-ingat kejadian itu lagi.
...---oOo---...
__ADS_1
Pendek dulu wkwk, author males ngetik and buat yang lagi puasa semangat yah. jangan sampe bolong. author juga minta maaf kalo ada salah kata/apapun. kalo ada yang typo ingetin yah. See you next chapter