Penghuni Kamar Nomor 7

Penghuni Kamar Nomor 7
Part 3


__ADS_3

Hai, sorry jarang up soalnya akhir-akhir ini sibuk ngurusin sekolah and buat kalian yang lagi PTS tetap semangat ya...


...---oOo---...


"Assalamu'alaikum warahmatullah. Assalamu'alaikum warahmatullah" suara salam Santi mengakhiri Shalat berjamaah kami.


"Aku ke kamar dulu ya Ti, mau naruh mukena dulu" kataku.


Santi yang tengah khusyuk berdoa hanya mengangguk saja. Saat aku melipat mukenaku, terdengar sayup-sayup suara Santi tengah melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.


Aku menunggu Santi sambil rebahan dikasur. Hingga kumandang azan Isya, Santi tak juga mengetuk pintu kamarku. Jangan-jangan dia ketiduran?


Aku yang sudah tak kuat menahan lapar akhirnya masuk kedalam kamar Santi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ternyata, Santi tengah menunaikan Shalat Isya. Aku pun kembali ke kamarku untuk mengambil mukena dan ikut menyusul menunaikan Shalat Isya. Kebetulan aku juga belum batal.


"Mir, cari makan yuk" ajak Santi.


"Sebentar, aku pakai kerudung dulu" jawabku.


Aku dan Santi kemudian turun ke lantai satu. Anehnya, aku tidak melihat penghuni kosan lainnya, kecuali Bi Asih yang sedang duduk santai diteras rumah.


"Bi, kok sepi yah? Pada kemana emang penghuni kosan yang lain?"


"Eh neng Mira. Iya neng, kalau Neng Ratna sama Neng Ayu lagi pulang kampung. Kalau Teh Siska biasanya pulang malem" ujar Bi Asih.


"Kalau yang lainnya?" tanya Santi.


"Gak ada lagi, disini cuma lima orang. Itu teh udah termasuk Neng Mira sama Neng Santi"


"Oiya Bi, kalau tembok kamar dicat ulang bisa gak?"

__ADS_1


"Tembok kamar yang mana?"


"Kamar saya Bi, kamar nomor 7. Kalau boleh besok mau dicat ulang soalnya keliatan kotor"


"Nanti Bibi bilang dulu sama Bu Linda"


"Oke Bi. Yaudah, Mira sama Santi cari makan dulu ya" ucapku meminta izin.


Kemudian kami berdua membeli makanan disebuah warung nasi tak jauh dari kosan. Kami meminta kepada penjual untuk membungkus makanan yang telah kami beli.


Setelah membayar, kami akhirnya pulang. Bi Asih masih duduk diteras. Saat kami akan masuk ke dalam kamar, Bi Asih pamit untuk pulang. Ia akan kembali besok pagi untuk membersihkan kosan kami.


"Bibi pulang dulu ya" pamit Bi Asih.


"Iya Bi, Terima kasih"


Bi Asih kemudian pulang kerumah setelah mengunci pintu gerbang. Kami pun pergi kearah dapur untuk mengambil piring dan sendok yang memang sudah disiapkan oleh pemilik kos untuk para penghuni.


"Iya juga. Tapi, kalau penghuni lainnya udah pada selesai liburan, kayaknya bakal rame deh" jawabku.


Kami berdua akhirnya menyantap makanan yang sudah kami beli dikamar Santi.


Baru setengah makanan aku lahap, tiba-tiba aku cegukan. Aku kemudian bergegas untuk mengambil air putih di lantai satu.


"Aku nitip ya Mir" pintar Santi.


"Oke"


Saat aku menuangkan air ke dalam gelas, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki dari ruang depan. Aku pun langsung menoleh. Ternyata ada seorang perempuan cantik yang tengah berjalan ke arah tangga dan menuju lantai dua dengan mengenakan daster berwarna biru.

__ADS_1


"Malam Teh, saya penghuni baru disini. Salam kenal" ucapku menyapa perempuan tersebut.


Perempuan cantik itu tidak bergeming sedikit pun. Ia hanya melemparkan senyum dan mengangguk padaku. Aku membatin, mungkin perempuan itu adalah Teh Siska, yang diceritakan Bibi.


Setelah menutup pintu, aku kemudian kembali menuju ke kamar Santi. Saat melanjutkan makan, aku bercerita kepada Santi bahwa ada penghuni kosan yang sudah pulang.


"Ti, tadi ada penghuni kosan yang udah pulang. Kayaknya itu Teh Siska deh. Kamarnya juga dilantai dua sama kaya kita"


"Tapi kok aku ga denger ada yang buka pintu kamar dilantai dua ini?"


"Mungkin kamu fokus makan, jadi ga denger"


"Bisa jadi" ucap Santi tertawa kecil.


Setelah selesai makan, aku dan Santi kemudian mengobrol mengenai persiapan mengikuti tes tertulis SMNPTN. Kebetulan, pintu kamar Santi hanya tertutup setengah.


Sehingga saat ada yang lewat didepan pintu kamar, pasti kamu akan bisa melihatnya. Termasuk perempuan tadi yang baru saja lewat dan melirik kami yang tengah asik mengobrol didalam kamar.


"Malam Teh" Santi menyapanya. Perempuan itu mengangguk lalu berjalan kearah kamar 9 dan 10.


"Bukannya kamu bilang dia udah keatas duluan waktu kamu ambil minum Mir?"


"Iya Ti, mungkin dia kebawah lagi" kataku.


"Tapi kalau tadi kebawah, kita berdua pasti liat dia. Orang pintunya gak ditutup rapat" kata Santi sedikit keheranan. Aku pun meminta Santi untuk tidak berpikir macam-macam. Aku lantas mengalihkan topik pembicaraan.


"Kamu kalau ga diterima di PTN gimana dong?"


"Yaudah, mau gimana lagi. Mau di PTN atau di PTS, yang penting mah sama-sama kuliah"

__ADS_1


"Iya sih, tapi yang penting kita harus ngasih yang terbaik buat orang tua kita. Dan lulus dengan nilai yang bagus"


__ADS_2